Featured Post

[Review] Game of Thrones (season 6)

Setelah setahun, GoT kembali di season 6. Sebenarnya gw juga ga begitu nunggu2 sih, karena lagi asik ngikutin serial yg lain (The Flash...

Showing posts with label fiksi. Show all posts
Showing posts with label fiksi. Show all posts

Tuesday, April 15, 2014

Keluarga untuk Vania

Vania mengerjapkan matanya. Terbangun di tengah malam. Dia masih bergelung di atas sofa, tapi kali ini sudah ada selimut yang menyelubunginya. Pasti tadi Papa dengan pengertiannya membawakan selimut dari kamar, dan bukannya membangunkan dan menyuruhnya pindah ke dalam. Kalaupun dibangunkan, biasanya Vania bakal enggan untuk beranjak dari sana. Euforia setelah seminggu ini bergulat dengan soal-soal UN, Vania yang menemukan kembali kebebasannya memang berniat untuk menghabiskan malam dengan menonton beberapa koleksi DVD filmnya di ruang tengah.

Tidak ada suara bising dari TV. Pasti Papa juga sudah mematikannya tadi. Sunyi. Lamat-lamat hanya terdengar suara Papa dari kamarnya. Mungkin sedang menelpon. Vania tidak bisa mendengarkan dengan jelas suara Papanya, dan dia pun masih mengantuk. Dia kembali memejamkan mata dan terlelap.

Wednesday, September 11, 2013

Jangan Panggil Saya ‘Pak’

Sudah jam 11 malam, hujan masih turun dengan deras di luar, dan Armand masih terjaga, memeriksa satu persatu lembar ulangan murid-muridnya. Dia sudah menghabiskan kopinya sejak dua jam yang lalu, tapi rasa kantuk lambat laun mulai merasukinya. Tak mengapa, dia sudah terbiasa tertidur di meja kerjanya.

Dering ponsel di atas meja membuatnya kembali terjaga. Sebuah nomor tak dikenal terpampang di layarnya. Dengan ragu Armand mengangkatnya.

“Halo?”

“Pak Armand?” suara seorang wanita samar-samar terdengar.

“Iya, ini siapa ya?”

“Shireen, Pak. Saya di bawah. Bapak bisa turun sebentar?”

Sambungan telpon terputus. Armand yang masih setengah sadar berusaha memproses semua informasi ini. Shireen? Oh, Shireen dari kelas 3 IPA 3, salah satu muridnya di sekolah. Beberapa orang muridnya memang pernah menjenguknya sewaktu dia sakit, Shireen salah satunya. Tapi kenapa dia ada di sini malam-malam?

Kemudian dia teringat kalau saat itu masih hujan, dan Shireen bilang dia ada di bawah, berarti di depan rumah susun tempatnya tinggal. Ya ampun, dia pasti kehujanan.

Armand bergegas keluar dari flatnya yang berada di lantai 3 dan menuju ke lantai dasar, lalu membuka pintu depan. Shireen sedang bersandar di salah satu pilar, memeluk dirinya sendiri yang menggigil kedinginan. Seragam putih abu-abunya basah kuyup.

Armand langsung melepas jaketnya dan memakaikannya pada Shireen, lalu dia meraih bahunya dan menuntunnya ke flatnya. Tidak ada waktu untuk ragu-ragu mengambil keputusan. Anak ini bisa sakit kalau dibiarkan kedinginan di luar.

Hampir tengah malam, dan kelihatannya para penghuni rusun lain sudah terlelap. Entahlah, mungkin lebih baik begitu, ketimbang dia harus repot menjelaskan tentang keadaan Shireen, karena dia sendiri pun tidak tahu kenapa gadis ini datang ke rumahnya selarut itu.

Setibanya di flat miliknya, Armand segera menutup pintu, membantu Shireen melepas sepatu, lalu membawanya duduk di sofa. Dia pergi ke dapur untuk mengambil segelas air, dan memberikannya pada gadis itu. Shireen meminumnya dalam sekali teguk.

Armand duduk di sampingnya, menunggunya bicara, tapi gadis itu hanya diam saja. Armand memandangi wajah Shireen, mencoba mengorek ingatannya tentang muridnya itu. Shireen termasuk anak yang cukup cerdas. Nilai ulangan matematikanya yang terakhir, yang baru saja dia periksa, 90. Dia aktif dalam pelajaran, sering mengajukan diri untuk menjawab pertanyaan. Dia selalu tersenyum ketika berhasil menjawab pertanyaan. Manis sekali. Dan dia cantik...

Bayangan Shireen yang menggigil di depan rumah susun beberapa menit yang lalu melintas. Pakaiannya yang basah melekat pada tubuhnya yang ramping, memperlihatkan warna kulit tubuhnya dan pakaian dalamnya...

Stop! Armand menggelengkan kepalanya, mencoba mengusir pikiran aneh tadi. Shireen masih diam, wajahnya menunduk, tangannya memeluk erat-erat jaket Armand yang dikenakannya. Armand baru menyadari bau alkohol dari wajah Shireen.

“Shireen? Hei, ada masalah apa?” tanya Armand.

Shireen tak menjawab. Armand hanya bisa menduga-duga. Gadis ini keluyuran hingga tengah malam, mabuk, dan bukannya pulang ke rumahnya, malah mendatangi rumah gurunya. Mungkin masalah dengan pacarnya, atau dengan orangtuanya, atau keduanya, atau masalah-masalah lain yang tak dia ketahui.

Akhirnya Armand bertanya lagi, “Shireen, kenapa kamu datang ke sini? Orangtuamu nanti kuatir lho kalo kamu ga pulang.”

Shireen menggeleng lemah, dan akhirnya bicara.

“Pak Armand pernah bilang, kalau kami ada kesulitan, kami bisa datang ke Bapak.”

Armand tak mampu berkata apa-apa. Sewaktu dia mengatakan itu ke murid-muridnya, yang dia maksud adalah kesulitan dalam hal pelajaran, jika ada soal-soal yang tak mereka mengerti. Armand menghela napas.

“Apa yang bisa saya bantu?” tanyanya.

“Saya mau tidur saja, Pak. Capek.”

Armand mengangguk. Dia membantu Shireen berdiri dan menuntunnya ke dalam kamarnya. Dia mendudukkan Shireen di atas tempat tidur, dan melepas jaket yang dikenakannya. Pakaian Shireen masih basah, dan membuat kulit tubuhnya terekspos. Buru-buru Armand mengalihkan pandangannya, dan menghampiri lemari bajunya.

“Kamu tidur di sini aja, saya di sofa depan. Kita bicara lagi besok pagi. Tapi kamu ganti baju dulu ya, soalnya baju kamu basah, nanti kamu sakit. Pake salah satu kaos-”

“Pak Armand?” sahut Shireen memutus ocehan Armand.

Armand menoleh, dan tanpa diduganya, Shireen melompat ke arahnya, menubruknya hingga terdesak ke lemari. Tangannya memeluk leher Armand, wajahnya mendekat, dan bibirnya menubruk bibir Armand. Gadis itu menciumnya dengan beringas.

 “Saya... saya jatuh cinta dengan Pak Armand,” ucapnya, sebelum kembali mencium mulut gurunya itu.

Armand tak bisa berpikir jernih. Otaknya serasa jungkir balik. Bagaimana ini? Shireen adalah muridnya dan dia adalah gurunya. Semua ini salah, pikirnya.

Tapi...

Dia hanyalah seorang guru muda berusia 25 tahun yang belum genap setahun mengajar di sekolah Shireen, dan Shireen adalah seorang gadis berusia 17 tahun yang sangat menarik. Dia laki-laki, dan Shireen perempuan.

Armand menyerah. Dia membalas ciuman Shireen. Lidah mereka bertemu. Armand meraih tubuh Shireen, merasakan kulit tubuhnya di balik pakaian seragamnya yang basah, dan membaringkannya di atas ranjang. Dia mulai membuka kancing baju Shireen, satu persatu.

...

Setengah jam kemudian.

Shireen menyandarkan kepalanya pada dada Armand. Tubuh mereka yang basah oleh keringat saling bersentuhan tanpa penghalang apa pun. Pakaian Armand, seragam Shireen, dan pakaian dalam mereka berserakan di sekitar ranjang yang mereka tiduri bersama.

“Pak Armand...” sahut Shireen dengan lirih.

“Ssst... Jangan panggil saya ‘Pak’. Saat ini saya bukan guru kamu,” ujar Armand sambil membelai rambut Shireen. Dia menengadahkan wajah Shireen, dan mencium dahi gadis itu.

“Saat ini aku adalah kekasihmu.”


-OoO-

Sunday, June 02, 2013

Late K

Flight pertama di Senin pagi, dengan maskapai terbaik di dunia saat ini, dari Singapore ke Jakarta. Penerbangan yang biasanya eksklusif dan sepi. Dan aku sudah mendapat tempat duduk yang cukup bagus di baris nomor tiga. However...

Selagi aku sedang duduk dengan nyaman di kursi pinggir dan menunggu pesawat mengudara, wanita ini datang. Wanita tinggi, cantik, berpenampilan modis, dan kesempurnaan lain yang bisa dimiliki seorang wanita yang bisa membuat para pria jatuh hati padanya. Satu-satunya hal yang membatalkan kesempurnaannya adalah ketika dia mulai membuka mulutnya, dan memperdengarkan suara judesnya.

“Excuse me, can I sit on this side?”

Aku mengambil tiket dari saku jaketku dan membacanya. 3C. Aku sudah berada di kursi yang tepat, di pinggir. Aku menunjukkan tiketku padanya, tapi dia mengabaikannya, dan memberi isyarat padaku untuk pindah ke sisi jendela.

Ah, sial. Wanita ini jenis yang menyulitkan, dan aku tidak ingin mencari gara-gara dengannya. Dengan patuh, aku berdiri dan bergeser ke kursi sebelah, di dekat jendela.

And she didn’t even say thanks!

Kemudian selama penerbangan, otomatis wanita ini membatasi ruang gerakku. Aku hanya memesan segelas kopi hangat, karena aku kuatir wanita ini akan rewel kalau pramugari berulang kali menyodorkan pesananku di depan wajahnya. Aku juga tidak bisa pergi ke belakang kabin, sekedar untuk mencari udara segar, karena aku sungguh-sungguh enggan meminta wanita ini untuk memberiku jalan. Tidak dengan posisinya yang duduk menyilangkan kaki, memberi isyarat no untuk siapapun lewat.

Dalam kondisi ini, hanya ada satu hal yang bisa kulakukan. Mengambil tabletku dan memainkan game-game yang ada di dalamnya. Jadilah selama hampir dua jam penerbangan ini, kebanyakan waktuku dihabiskan untuk Sudoku atau Chess.

Aneh juga karena penerbangan dengan maskapai ini biasanya tidak molor seperti sekarang. Seharusnya hanya memakan waktu satu jam. Dan lihat akibatnya pada wanita ini. Dia semakin terlihat berbahaya, dengan sikapnya yang tak bisa diam dan gelisah itu. Aku pun semakin merasa tak nyaman.

Ketika pesawat akhirnya mendarat, wanita itu dengan buru-buru berdiri, dan kepalanya terbentur bagasi.

“Are you okay, maam?” tanya si pramugari. Dan wanita ini menjawabnya dengan judes. Aku geleng-geleng kepala, dan tersenyum pada si pramugari.

Setelah turun dan menunggu koperku di conveyer belt, wanita menyebalkan itu masih ada di sana, masih terlihat berbahaya seperti halnya di dalam pesawat tadi.

Oh no, she’s looking at me. Quick, Sudoku.

Aku pun kembali berkutat dengan tabletku. Setidaknya hingga wanita itu kemudian pergi, bersama beberapa orang lain yang aku tidak peduli apa urusan mereka dengannya.

Blink! Aplikasi chat muncul, dan membawa pesan dari seseorang yang jauh lebih menyenangkan dari wanita tadi.

“Hey, where are you? I’m already done here.”

Segera kujawab, “Still waiting my luggage, oh wait, there it is. I’ll meet you there.”

Segera kuraih koper coklatku, dan bergegas pergi meninggalkan kerumunan orang di tempat ini. Langkah demi langkahku mengantarkanku ke toilet terlebih dahulu, yang terletak di sisi yang mengarah ke luar terminal.

Di dekat lorong menuju toilet, yang dibatasi oleh dinding transparan dengan pemandangan landasan terbang dan pesawat-pesawat yang memenuhinya, ada seorang wanita yang berdiri di sana, menghadap ke luar dan menikmati pemandangan. Pramugari di pesawat tadi.

Mendengar langkahku yang semakin dekat, dia menoleh. Aku tak sempat tersenyum. Kutinggalkan koper cokelatku.

Kuraih punggungnya, kutempelkan wajahku padanya, dan bibirnya pun menyatu denganku. Kucium dia dalam-dalam.

...

Aku sudah mencocokkan jadwal penerbanganku dan jadwal dia bertugas. Aku tidak sempat bertemu dengannya selama di Singapura, karena dia justru sedang berada di London. Ketika dia memberitahuku bahwa setelah penerbangan dari London, dia akan langsung bertugas kembali untuk penerbangan ke Jakarta, aku pun segera memesan tiket.

Bisa kau bayangkan betapa sulitnya menemui seorang pramugari? Senantiasa terbang dari satu tempat ke tempat lain, apalagi untuk maskapai internasional sebesar ini. Tak hanya berkutat dengan kota atau negara berbeda, tapi bahkan benua. Sudah satu bulan sejak kami terakhir bertemu. Dan seharusnya aku bisa melampiaskan kerinduanku padanya di atas pesawat, tapi keberadaan wanita sial itu merusaknya.

Seharusnya aku bisa lebih leluasa menyerap wangi parfumnya ketika dia menghampiriku dan mengantarkan pesananku. Mungkin aku bisa memberinya kecupan singkat. Atau aku bisa pergi ke belakang dan berbicara dengannya di sana. Tapi tidak, aku mesti bersabar dan menunggu sedikit lebih lama. Begitu juga ketika pesawat mendarat dan para penumpang berhamburan keluar. Dia masih harus menyelesaikan beberapa tugasnya untuk penerbangan ini, sebelum akhirnya benar-benar bebas untuk menemuiku.

So, here we are.

Bibir kami saling terkunci, mata terpejam. Aku bisa mendengar desah napas kami yang saling memburu, aku bisa mencium wangi rambutnya yang memabukkan, dan aku bisa merasakan wajah dan mulutnya yang hangat.

My love, the most beautiful woman for me.

Aku melepaskan kecupanku dan membuka mata, memandangi wajahnya yang sumringah.

“I wanted to kiss you since we were on the plane.”
“I know. I know,” ujarnya sambil tertawa.

Aku memeluknya semakin erat, dan kembali melumat bibirnya dengan bergairah. Aku tak ingin berhenti atau melepaskannya. Kami sudah menunggu cukup lama untuk saling melepas rindu, dan keterlambatan ini harus dibayar tuntas.

-end-

taken from flashfict WangiMS here:
Seperti sekarang, Elena bersebelahan dengan lelaki ganteng yang selama penerbangan hanya sibuk memainkan gadgetnya, membosankan. Tapi tetap saja ganteng.
 

Friday, September 14, 2012

Bantu Aku Membencinya

Selepas magrib, dengan tergesa-gesa aku melompati anak tangga di stasiun Gambir ini. Bukan untuk mengejar kereta, meskipun dalam lima menit akan segera muncul kereta ke arah Bogor. Bukan. Fatma memintaku untuk bertemu, ingin melaporkan sesuatu katanya.

Aku berusaha melepaskan diri dari kerumunan orang-orang yang sedang menunggu di peron, dan menuju bagian di ujung selatan, di bagian yang tak beratap yang biasanya digunakan oleh penumpang wanita, atau juga oleh para perokok yang ingin memenuhi kebutuhan paru-paru mereka akan nikotin. Tidak banyak orang yang berada di sana malam ini.

Disana Fatma sedang berdiri, bersandar pada pagar pembatas, entah sedang menatap Monas atau jalan yang penuh dengan warna-warni lampu kendaraan. Sudah dua bulan sejak terakhir kita bertemu, dia masih tampak mengagumkan seperti biasanya, dengan rambut sebahu yang dibiarkan terurai, dan coat hitamnya. Hanya mungkin ekspresi wajahnya saja yang terlihat murung.

"Hai," sapaku.

"Hai, Don. Thank you, for coming."

Senyumnya masih terlihat mempesona, meskipun di balik senyuman yang lemah itu tercermin kesedihan pemiliknya.

"Jadi, ada masalah apa?"

Fatma menarik napasnya, mengumpulkan kekuatan untuk mulai bercerita.

"Kamu tau ga, udah seminggu ini aku putus sama Ilham?"

Oh, jadi ternyata benar ya.

"Enggak. Tapi aku udah denger rumor tentang itu sih."

Sengaja aku tidak menanyakan lebih lanjut. Dia tidak suka diberondong pertanyaan. Aku hanya menunggu, karena nanti juga dia akan bercerita sendiri.

"Dia dipindahin ke luar negeri. Saat ini sih ke Singapur, tapi nanti dia bakal sering berpindah-pindah tempat, bisa di Asia, ke Eropa atau kemanapun. Nomaden."

Wait, what is he again? A spy?

"Dia bilang mungkin akan sulit buat kita kalau dia ga pernah menetap di suatu tempat. Dia juga ga mau aku ikut dia, karena mungkin bisa berbahaya, buatku."

Must be a spy.

"Aku juga ga bisa membantah. Yang dikatakannya benar. Aku ga bisa ngelepasin kehidupanku disini begitu aja."

Kuperhatikan air mata mulai mengembang di ujung matanya.

"Sudah seminggu lebih, dan aku belum bisa bangkit, Don. Mestinya aku bisa ngelupain dia segera, nyari sifat buruknya yang bisa kubenci, biar semua perasaan ini cepat reda, tapi ga berhasil."

Ketika dia mulai menangis, segera kuraih punggungnya untuk merangkulnya, membiarkan dia menumpahkan kesedihannya hingga habis semua. Dia tidak suka menunjukkan kelemahannya ke orang lain, aku tahu itu.

Beberapa menit berlalu, dua kereta melintas dalam periode itu, dan Fatma pun melepaskan pelukanku. Matanya masih basah seusai menangis tadi.

"Biasanya aku ga pernah punya masalah dengan yang lainnya sewaktu putus. Selalu ada kejelekan mereka yang bisa kujadikan contoh, dan kuingat dalam-dalam supaya aku membenci mereka, dan setelahnya semua beres tak bersisa. Tapi yang ini lain, Ilham berbeda. Kami sudah punya rencana di kemudian hari. Aku punya rencana. Ga gampang untuk ngebuang semua rencana itu ke tempat sampah."

Aku menatapnya lekat-lekat.

"Kenapa mesti membenci dia?" tanyaku sambil tersenyum.

"Supaya aku bisa ngelupain dia."

"Tapi kenapa mesti ngelupain dia?"

Dia tidak menjawab, dan balik memandangku dengan heran. Meminta penjelasan lebih lanjut dariku.

"Kalo emang ga ada yang bisa dibenci dari dia, kenapa mesti dicari-cari kejelekannya? Dan kalopun ada, kenapa kamu mesti benci dia? Mungkin kamu ga perlu membencinya."

"Then, how do I get over him?"

"Biarin aja. Biarkan semuanya mengalir. Kalo kamu masih cinta banget sama dia, biarin aja perasaan itu tetap ada. Mungkin juga kamu bisa menghasilkan sesuatu dari itu, bikin buku atau apa kek. Lalu, ga usah ditungguin, nanti kalo emang sudah waktunya, mereka juga bakal ilang sendiri kok. Mungkin ga bener-bener ilang seluruhnya, tapi cukup buat kamu untuk bisa ngelanjutin hidup kamu yang luar biasa itu."

Perlahan senyumnya mengembang, dan dia tertawa.

"Kamu ini ya, kok sekarang pinter ngomong sih?"

"Hasil dari pengalaman, dan observasi perilaku orang-orang. Kira-kira begitu."

"So, basically, I don't have to do anything to forget him?"

"Right. Semakin kamu ingin melupakan dia, malah semakin sulit untuk melupakan dia. Natural aja. Tau gak, waktu dulu kamu nolak aku, aku juga ga benci kamu abis itu. I mean, I tried, but I just can't."

"Oh ya? Jadi kamu dulu sempet benci sama aku?" tanyanya sambil tertawa.

"Kamu dengerin aku ngomong ga sih? Hih."

Jatuh cinta, patah hati, kemudian menunggu untuk jatuh cinta lagi. Mungkin patah hati lagi, mungkin juga tidak. Seperti itu kan urutannya?

Suara pengumuman dari pihak stasiun menyebutkan kereta tujuan Bogor berikutnya akan tiba. Kuperhatikan wajah Fatma yang sudah tampak segar dan bersemangat, berbeda sewaktu tadi aku pertama melihatnya.

"Udah oke kan? Naik kereta yang ini?"

Dia mengangguk. Di balik senyumannya, dia mengucapkan terimakasih tanpa suara.

~
Bantu aku membencimu
Ku terlalu mencintaimu
Dirimu begitu berarti untukku

Inspired by La Luna - Selepas Kau Pergi.
untuk #30HariLagukuBercerita

Wednesday, September 12, 2012

Becoming You

Tengah malam. Kobaran api. Sebuah cottage terpencil di pinggir danau. Alunan simfoni Beethoven no. 7 yang mendayu-dayu. Dan seorang manusia. Aku.


Duduk dengan santai di meja makan, menikmati segelas sampagne sembari mendengarkan nada-nada menyayat hati, seolah tidak mempedulikan keadaan rumah yang sedang dilahap api.

Tidak ada siapapun di sekitar rumah ini. Tidak akan ada yang berusaha menolong dalam waktu dekat. Tidak perlu terburu-buru.

Awalnya aku sempat berpikir untuk menggunakan kebocoran gas, tapi aku tidak yakin seberapa cepat ledakannya akan menelanku, jadi pada akhirnya kuputuskan untuk menggunakan cara tradisional. Gasoline. Hanya di permukaan luar, sehingga memberiku waktu yang cukup untuk menikmati momen ini.

Ketika gelasku mulai kosong, kuisi lagi dari botol sampagne yang terletak di meja, di samping segelas lain yang juga terisi minuman yang sama.
I am expecting a guest.

Api mulai menjalar ke dalam ruangan, melahap dinding dan segala sesuatu. Aku masih menunggu dengan sabar. Kalau perkiraanku tepat, dia pasti akan datang sebentar lagi.

Api makin membesar, panasnya sudah tak tertahankan lagi. Aku tetap tak beranjak dari kursiku. Toh tidak ada pengaruhnya. Kalaupun ingin melarikan diri, sudah tidak sempat.

Kemudian dia datang. Dalam wujud manusia, dengan wajah sama seperti yang pernah kutemui bertahun-tahun silam.

"Hello. I've been waiting for you."

Bosan. Seperti itulah kira-kira ekspresi wajahnya.

"Drink?" Kucoba menawarinya minuman yang ada di atas meja. Dia tidak menanggapi.

"Why are you doing this again? I hate wasting my time to save impatient man like you."

"I'm not asking you to save me."

Perlahan aku mengambil pistol yang berada di atas meja, dan mengarahkannya ke kepala tamuku itu.

"I want to kill you."

Bersamaan dengan bunyi pistol yang meledak, sebutir peluru melesat menembus kepalanya.

--

Seolah ada benteng tak terlihat, kobaran api hanya berkumpul mengelilingi kami, tanpa bisa merangsek masuk. Peluru tadi menembus kepalanya, tanpa menimbulkan bekas apa-apa.

"What makes you think you can kill me?"

Kuturunkan lagi pistolku.

"We've met before, so I know a little about you."

"Really? Like what?"

"I know that you're tired, and you're bored. Having this job for a long long time."

Malaikat Maut. Dia menyeringai padaku.

"And what happen after you kill me?"

"I will take your job, and hopefully, do it better than you."

"This is a curse, you know that."

"Not always a curse. Besides, we can always hope there's a crazy person like me as a replacement."

Seringainya semakin lebar. Dia tertawa. Betapa mengerikannya tawa si pencabut nyawa. Kemudian setelah selesai, dia memandangiku.

"Do it."

Sekali lagi, kuarahkan pistolku ke kepalanya, dan kutarik pelatuknya.

Setelahnya, api dengan cepat melahap semuanya.

Pada pagi harinya, rumah ini akan ditemukan dalam keadaan hangus, dan sesosok mayat akan ditemukan di dapur. Mayat yang kelak akan dikenali identitasnya, yaitu aku.

Sementara aku melayang di atas reruntuhannya, menyaksikannya untuk terakhir kali, sebelum melesat pergi.

Ada banyak nyawa manusia yang mesti kuambil.

-end-

"MENANTANG MAUT. Saat teracung pistolku ke arah kepala malaikat pencabut nyawa" - rayfarahsoraya

Friday, August 17, 2012

Pada Suatu Mimpi

Aku bermimpi.

Dalam mimpiku, kami adalah minoritas di sebuah negeri. Aku lupa mencari tahu apa nama negeri ini, atau di masa apa aku berada.

Ketika aku berada di kuil bersama teman-temanku yang lain, kami dikejutkan dengan suara bising dari luar. Beberapa orang berada di luar kuil kami, berteriak memanggil kami keluar, kemudian mulai melontarkan beberapa kalimat hinaan, lalu melempari kuil kami dengan tomat, telur, dan benda-benda busuk lainnya, sebelum akhirnya berganti dengan batu.

Aku takut. Aku menoleh pada guruku, bertanya. Aku tak dapat mendengar atau mengingat ucapannya, tapi berdasarkan ingatanku tentang dunia nyata, aku paham alasannya. Kami berbeda dengan mereka. Mereka mayoritas, kami minoritas. Hal itu sudah cukup untuk membenarkan tindakan mereka. Sesederhana itu.

Padahal kami tidak mengganggu mereka. Meskipun kami tinggal bersama mereka, kuil kami sengaja diletakkan di pinggiran kota, untuk menghindari persaingan dengan mereka. Kegiatan kami pun hanya seminggu sekali. Kami tidak pernah lancang memasuki wilayah mereka dan menyebarkan kepercayaan kami.

Padahal kulit kami sama dengan mereka, bahasa yang kami gunakan juga sama.
Kita sama-sama merdeka menurut hukum, tapi hanya mereka yang bisa menikmati kemerdekaan itu.

Besoknya kami memperbaiki lagi kuil yang rusak karena aksi mereka. Hanya untuk kemudian dirusak lagi pada kesempatan berikutnya. Kali ini beberapa temanku terkena lemparan batunya. Mereka terluka. Aku semakin ketakutan.

Dalam benakku, yang lagi-lagi bercampur dengan ingatan dunia nyataku, hanya tinggal menunggu waktu sebelum situasi memburuk, dan korban berjatuhan dari pihak kami.

Kulit kami sama dengan mereka, bahasa yang kami gunakan juga sama. Hal itu memberiku ide. Kukatakan pada guru. Aku ingin berhenti. Aku tidak ingin jadi minoritas. Aku ingin jadi bagian dari mereka saja.

Tidakkah kau percaya dengan Tuhan, bahwa pertolongannya akan datang? Guruku bertanya. Aku percaya, jawabku, tapi aku juga masih ingin hidup.

Dengan segera aku pun mengganti kepercayaanku. Kurasakan perbedaan yang besar. Tidak ada lagi tekanan, tidak ada lagi gangguan. Bebas. Sangat bebas sehingga meskipun aku tidak pernah melakukan kewajiban di kepercayaan baruku, tidak ada yang meneriakiku. Aku tetap mengingat Tuhan, dan berdoa untuk teman-temanku supaya situasi ini cepat mereda, dan mereka mendapatkan kemerdekaannya kembali, sehingga aku pun bisa kembali pada mereka.

Guru-guru kami yang paham hukum atau sejenisnya tentu saja berjuang agar pemerintah membantu melindungi mereka. Aku pun optimis. Mereka yang meneror kami juga, sebenarnya hanya bagian kecil dari mayoritas, bukan melambangkan sikap mayoritas secara umum. Kami pasti akan mendapatkan hak kami kembali.

Nyatanya tidak. Sepertinya aku salah mengatur setting mimpiku kali ini. Pemerintah di alam ini sama menyebalkannya dengan dunia nyata. Mereka tuli dan bodoh.

Hingga para perusuh itu semakin beringas. Tak cukup dengan melempar batu, kali ini mereka bertindak keterlaluan. Mereka membakar kuil kami, mengusir teman-temanku yang berlarian keluar.

Dan aku hanya menyaksikan saja dari jauh. Nyaman dengan status baruku.

Ah, sudahlah. Aku tidak ingin meneruskan mimpi yang tidak mengenakkan ini. Lebih baik aku terbangun saja.


Tapi tunggu. Bukankah ini mimpi? Seharusnya aku bisa melakukan apapun yang kusuka kan?


Jadi keesokan harinya, ketika mereka, para perusuh itu, sedang mengadakan rapat di markasnya, aku menyelinap ke sana, dan mengunci ruang rapat mereka dari luar. Kemudian aku menyirami seluruh bangunan markas mereka dengan bensin. Barulah aku menyalakan api.

Dari jarak yang aman, aku memandangi kobaran api di hadapanku, yang menelan bangunan itu dan seisinya, para perusuh itu.

Terbakarlah. Terbakarlah hingga habis.

Kemudian aku terbangun.

-end-


#WriterChallenge tema 3: Merdeka

Wednesday, August 08, 2012

Sepertinya Anda Sedang Tidak Beruntung Malam Ini

Lewat tengah malam, beberapa menit menjelang jam 2 pagi. Di saat kebanyakan orang sedang terlelap di tempat tidurnya yang hangat, masih tersisa segelintir manusia yang berkeliaran di jalanan, seperti halnya denganku. Wajar saja, mereka pasti lelah dan butuh beristirahat untuk mengulang rutinitas yang sama di pagi harinya. Karena itulah, aku bisa mengemudikan mobil ini dengan santai, dengan kecepatan sedang, sembari menyetel beberapa lagu untuk membuatku terjaga.

"Mulai terasa lelah aku bertahan
Terlalu lama kau terdiam
Terlalu lama kau meredam cinta"

Di waktu-waktu seperti ini, apalagi dengan suasana yang terlampau hening, mengendarai kendaraan seorang diri sebenarnya cukup merisaukan. Tidak terlalu aman. Ancaman bisa datang dalam berbagai bentuk. Sudah banyak cerita yang beredar tentang penampakan mahluk halus yang ditemui orang-orang ketika berkendara di malam hari. Belum lagi aksi kriminal yang kerap terjadi, seperti perampokan dan penodongan. Untungnya, hal-hal itu tidak membuatku gentar. Aku dalam keadaan sadar sepenuhnya, tidak ikut-ikutan menenggak alkohol pada pertemuan tadi. Aku lebih memilih menikmatinya sendiri setibanya di rumah nanti.

"Bawa ku pergi dari ini
Di tempat kau berpaling
Dan bila ku pergi dari ini
Akankah kau kembali?"

Kenikmatanku mendengarkan lagu ini terputus oleh suara sirine yang muncul begitu saja. Kuperhatikan dua mobil polisi melaju dari belakang mobilku. Sesaat kemudian, mereka menyusulku dan memberi tanda padaku untuk berhenti.

Dengan patuh kupinggirkan mobilku dan mematikan mesinnya. Hmm, sepertinya aku tidak melanggar batas kecepatan atau lampu merah dan sejenisnya.

Dua orang petugas keluar dari salah satu mobil patroli, disusul dengan dua petugas dari mobil satunya. Keempat petugas itu sekarang mengelilingi mobilku, memastikan agar aku tak bisa melarikan diri. Salah satu petugas menghampiriku dan menyapa.

“Selamat malam, Pak.”

“Selamat malam. Ada masalah apa, Pak?”

“Kami sedang melakukan pemeriksaan rutin. Boleh saya liat SIMnya?”

Tanpa banyak tanya, kuturuti permintaannya. Dia memeriksa sejenak, kemudian mengembalikannya padaku.

“Maaf Pak, bisa buka pintu bagasinya? Kami ingin memeriksa mobil Anda.”

Lagi-lagi, tanpa banyak tanya, kulakukan hal itu.

“Mohon Anda keluar sebentar selama kami melakukan pemeriksaan.“

Baiklah. Aku pun beranjak keluar dari mobil dan menunggu di pinggir jalan, bersama seorang petugas yang mengawalku. Tiga orang lainnya bergegas menggeledah seisi mobilku.

I know. I heard about them before.

Selain mahluk halus dan rampok, aku lupa menambahkan jenis gangguan keamanan yang mungkin terjadi di dini hari seperti ini. Oknum polisi. Aku pernah mendengar berita tentang pengendara yang dijebak oleh beberapa oknum dengan dalih razia narkoba. Mereka akan menemukan beberapa obat-obatan dan menuduh bahwa itu adalah narkoba, kemudian mengintimidasi korban, yang berujung pada keluarnya sejumlah uang dalam jumlah besar.

Aku menghela napas. Seseorang sedang tidak beruntung malam ini. Bagaimana mungkin kita bisa menerka kejadian buruk apa yang bakal menimpa kita? Semua dapat terjadi seketika. Tak terkecuali malam ini.

Dan betullah.

“Ketemu!” teriak salah seorang petugas.

Tak berapa lama, salah satu dari mereka menunjukkan hasil ‘temuannya’, dua kantong bubuk putih dan beberapa pil.

Dengan tegas dia berkata, “Kami percaya ini adalah obat-obatan terlarang. Anda harus ikut ke kantor polisi untuk diperiksa lebih lanjut.”

“Apa Anda yakin?” tanyaku dengan tenang.

“JANGAN MEMBANTAH!” salah seorang membentakku.

“Obat-obatan itu bukan milik saya.” Kataku lagi dengan tenang.

“Saya bilang jangan bantah! Ngerti gak sih?!”

Aku menghela napas. I was simply giving them a chance to save themselves.

“Hmmm...” aku menggumam, pandanganku menerawang.

“HEH! Malah bengong! Ayo, cepat ikut kami!”

Aku menatap keempat petugas itu bergantian dengan sedih.

“Aku sedang berpikir...” jawabku perlahan.

Terngiang kembali beberapa kalimat di lagu tadi.

"Tak selamanya ku mengalah
Tak selamanya ku diam"

Keempat petugas itu mengelilingiku, cukup dekat sehingga tidak memungkinkanku untuk lari.

“Aku sedang berpikir, siapa di antara kalian yang akan kubiarkan hidup lebih lama.”

Mereka terlihat heran. Bagus.

Dengan cepat kuhantamkan siku kananku pada petugas di sampingku, ke arah wajahnya. Seketika dia meringis kesakitan.

Aku tidak berhenti sampai di situ. Kuarahkan tinjuku ke petugas nomor dua, ke ulu hatinya. Menyusul petugas nomor tiga dan empat.

Dalam hitungan detik, aku berhasil melumpuhkan mereka semua. Keempatnya berusaha berdiri sambil menahan sakit akibat seranganku barusan.

Ketika salah seorang berusaha meraih pistol di pinggangnya, dengan sigap aku meraih pistol dari balik jasku.

DOR!

Suara letusan itu adalah yang pertama terdengar malam ini. Petugas nomor satu, sebutir peluru bersarang di kepalanya. Dia tak akan bangun lagi.

DOR! DOR!

Petugas nomor dua dan petugas nomor tiga menyusul petugas nomor satu beberapa saat kemudian.

Aku berpaling pada petugas yang tersisa, yang tadi menunjukkan hasil ‘temuannya’ dari mobilku.

DOR! Kutembak pahanya.

“Uwaaaargh!!” jeritnya.

75% pekerjaanku selesai malam ini. Hanya tinggal penyelesaian akhir. Kuhampiri petugas nomor empat yang sibuk memegangi kakinya yang terus mengucurkan darah.

 “Aku tidak suka membuang-buang amunisiku. Karena itulah, aku menembak mereka tepat di kepala. Sedangkan untukmu, aku membuat pengecualian. You see, aku ingin mengatakan beberapa hal sebelum kau mati, lalu kau bisa menyampaikannya pada rekan-rekanmu di alam sana.”

“Aku sudah beberapa kali mendengar kejadian seperti ini, dimana kalian, polisi-polisi korup berulah. As much as it disgusts me, I don’t give a damn about it. Sampai malam ini, ketika aku bertemu langsung dengan kalian.”

Petugas itu merintih. “Kami hanya melakukannya karena kami membutuhkan tambahan penghasilan.”

“Please... you don’t have to explain. Aku paham. Hanya dengan satu kali penggerabekan, kalian bisa mendapat banyak uang, dan siapa tahu, promosi jabatan. Tapi tentunya kalian juga mesti paham kalau jenis usaha sampingan ini berisiko. Kadang-kadang kalian beruntung, mendapatkan mangsa yang empuk, dan terkadang... kalian tidak beruntung. Nah, malam ini... bukanlah malam keberuntungan kalian. Kalian memilih orang yang salah sebagai mangsa kalian.”

Kutempelkan ujung pistolku ke dahinya.

Dia mulai menangis dan memohon. “Tolong, jangan bunuh saya! Saya punya istri dan dua anak di rumah.”

“Kau seharusnya memikirkan tentang mereka sebelum memulai usaha sampinganmu ini.”

DOR!

Letusan kelima, yang terakhir di malam ini, mengantarkan petugas korup itu ke alam sana.

*

Beberapa menit kemudian, aku sudah kembali mengemudikan mobilku, melintasi jalanan yang masih sepi. Lebih sepi tanpa kehadiran empat jiwa yang baru saja kubuat melayang.

Kemudian, tanpa bisa kutahan-tahan lagi, aku pun tertawa sekeras-kerasnya.

Oh, this is fun. I should do this more often, batinku.

~

Diambil dari lagu Peterpan – Dilema Besar
Juga berdasarkan kekecewaan atas insiden-insiden serupa yang terjadi.

Wednesday, June 27, 2012

Mungkin (Takkan) Ada Lagi

Drowning. Tenggelam. Sudah sekian lama aku membayangkan dan bermimpi tentang tenggelam, melayang-layang di kedalaman laut, breathless, menunggu sesuatu terjadi. Di dalam laut, kubayangkan situasinya begitu tenang, tidak ada suara bising seperti halnya di daratan. Momen yang menenangkan. Aku pun diam saja, memasrahkan diri untuk jatuh semakin dalam ke dasar la-

Dug. Eka menyikutku dari samping. Dari balik masker divingnya dia memberi isyarat padaku untuk mengikutinya naik ke atas. Right. Kita bukan sedang tenggelam di sini, tapi menyelam.

*

Seminggu yang lalu, sewaktu aku sedang menyantap Nasi Goreng Ikan Teri di kantin, Eka tiba-tiba datang dan memberikan penawaran.

“Lu mau gak ikut sama gw ke Raja Ampat tiga hari lagi? Gw menang undian berhadiah jalan-jalan ke sana. Buat dua orang.”

Setelah memulihkan diri dari kejutan yang membuatku tersedak itu, aku mencoba mencerna ajakannya dengan cermat.

“Lho, kenapa gak ngajak Bram?”

Sambil melirik kiri kanan, dia berbisik.

“Gw baru putus kemaren ama dia. Tapi jangan cerita ke siapa-siapa ya.”

“Putus kenapa?”

“Auk ah. Nyebelin pokoknya.”

Sad, really, another breakup. Pasti tadinya dia mau pergi sama Bram, mereka kan sama-sama suka traveling.

“Trus kenapa gak ngajak Irma atau Fani?”

“Kalo ngajak mereka, nanti mereka bakal tau kalo gw baru putus. Gengsi gw.”

Terus ke gw ga gengsi, gitu? Aneh-aneh aja ni cewek. Eh, tapi Raja Ampat kan...

“Raja Ampat itu bukannya yang di Papua itu, yang udah kayak surga gitu pemandangannya?”

Eka mengangguk.

“Bukannya mahal banget ya ke sana? Gw baca-baca, bisa 8 juta sampe 20 juta seorangnya.”

Eka mengangguk lagi.

“Jadi, mau gak?”

“YA MAU LAHHH! Gratisan gini masa ditolak?”

Kuperkirakan untuk orang yang sudah bekerja saja, mungkin butuh waktu lama untuk menabung supaya bisa pergi ke Raja Ampat, apalagi kami yang masih kuliah ini. Jadi, meskipun aku tidak terlalu hobi traveling, yang seperti ini mana boleh dilewatkan. Mungkin tidak ada kesempatan seperti ini lagi. Bless you, Eka, yang sudah menang undian dan ehm, karena sudah putus dengan Bram, sehingga malah aku yang diajak. Okay, sedikit merasa bersalah karena berbahagia di atas kesedihan orang lain.

*

Setelah melalui perjalanan yang melelahkan, termasuk penerbangan dari Jakarta ke Sorong, yang juga menjadi pengalaman terbang pertamaku, dan kapal dari Sorong, akhirnya kami pun tiba di Waigeo, salah satu pulau besar yang menjadi inti dari kepulauan Raja Ampat. Bersama-sama dengan belasan orang lain yang juga menjadi pemenang undian berhadiah yang diadakan sebuah majalah ternama di bidang lingkungan.

Ternyata bukan sekedar undian berhadiah, karena sebelum terpilih peserta mesti menulis essay berkaitan dengan travel di wilayah nusantara. Barulah setelah itu panitia lomba memilih 7 tulisan untuk menjadi pemenang, dimana Eka-lah salah satunya.



Setelah mengelilingi pantai dan menyaksikan pemandangan luar biasa, layaknya surga yang jatuh ke bumi, begitulah istilahnya, dan beristirahat semalam, keesokan paginya, kami dijadwalkan untuk snorkling di sekitar Waigeo. Waduh. Segera aku berbicara sembunyi-sembunyi dengan Eka.

“Gw boleh ga ikut acara nyelamnya gak? Jadi cuma nonton aja.”

“Kenapa emangnya?”

“Udah lama banget soalnya sejak gw terakhir kali nyebur ke kolam renang. Waktu SMP. Gw ga yakin bisa berenang ato engga.”

Mendengar kata-kataku, Eka melotot, kemudian mencengkram kedua bahuku dan menatapku dengan tajam.

“Gilang. Denger ya, gw udah ngajak lu jauh-jauh ke tempat ini, gratis pula, dimana harusnya gw bisa pergi sama Bram dan mesra-mesraan sama dia, tapi batal karena dia ternyata brengsek. Enam hari kita di Raja Ampat, dan tiap hari bakal ada acara nyelamnya, dan lu mau bilang kalo lu ga mau ikut nyelam, trus gw mesti nyelam sendiri, gitu? Jangan harap!”

Aku menelan ludah. Menyeramkan sekali Eka yang sedang marah campur curhat seperti ini.

“Lagian nyelam itu ga susah, kan ada peralatannya. Kalo ada apa-apa juga pasti bakal gw tolong. Jangan ada alasan lu ga ikut.”

Adakah pilihan lain, selain menuruti keinginannya? Kalau maksud pilihan lain itu berarti menyatakan perang ke Eka, sepertinya tidak. Lagipula, kita sedang berada di tempat terindah di permukaan planet ini, baik di atas, maupun di bawah perairannya terdapat pemandangan yang luar biasa. Kesempatan ini mungkin cuma datang sekali dalam seumur hidup, buatku.

*

Setelah melihat Eka dan yang lainnya terjun dari atas kapal, giliranku pun tiba. Dengan mantap, aku menyusul mereka menceburkan diri ke perairan Raja Ampat ini. Ini adalah hari kedua kami menyelam. Kemarin, selama satu jam penyelaman Eka mengajariku tentang apa saja yang harus kulakukan selama di air. Ha, siapa sangka, ternyata tidak terlalu sulit buatku. Dalam setengah jam, aku pun terbiasa dengan situasi ini.

Setelah masuk ke dalam air, dia sudah menunggu untuk membawaku lagi ke terumbu karang yang kemarin kita tengok, dan menjelajahinya lebih lama. Kami pun turun semakin dalam, menyelami keindahan surga dunia ini.

Aku bertanya-tanya, dengan dalamnya laut ini, dengan masker yang menutupi wajah, bisakah dia membaca gerak bibirku dan menerka kalimat apa yang akan kuucapkan. Yang sudah kupendam sekian lama, sejak bertahun-tahun aku berteman dengannya.

I like you, a lot.



-end-


* #15HariNgeblogFF hari ke-15.

Saturday, June 23, 2012

#12 Memori Tentangmu



Selepas mengantarkan serombongan turis Australia kembali ke hotelnya, aku beristirahat sejenak di samping salah satu arca di Pura Besakih ini. Saat akhir pekan, aku mengambil pekerjaan tambahan sebagai guide untuk turis-turis yang mampir ke sini. Dengan Bahasa Inggris yang lebih bagus daripada guide-guide lokal di Bali, aku bisa memperoleh lebih banyak turis, dan otomatis bayaran yang lebih tinggi. Dan ketika memasuki masa libur sekolah, aku bisa menjadi guide setiap hari, mengisi masa liburanku sebagai guru di salah satu SMA di pulau Dewata ini.

Saat itulah wanita itu datang. Linda. Jauh-jauh dari Jakarta, pasti ingin membicarakan sesuatu, permasalahan lain yang dihadapinya.

“Kali ini ada masalah apa, Lin?”

“Suamiku berniat menceraikanku.”

“Kenapa?”

“Dia mengira aku berselingkuh.”

Aku menarik napas dalam-dalam. Lagi-lagi persoalan serupa.

“Melihat perilakumu, aku percaya hal itu memang benar terjadi. Biar kutebak, awalnya kamu bercanda dengannya, terlalu sering, kemudian merayu, dan berikutnya, pertemuan dalam frekuensi yang cukup sering, lalu kalian berselingkuh. Siapa kali ini?”

Linda tidak menjawab, mestilah yang kukatakan tadi benar atau setidaknya mendekati. Bertahun-tahun aku mengenalnya, kebiasaan buruknya tidak berubah. Terlalu akrab dengan teman-teman prianya, sehingga hubungannya selalu kandas. Tak sekali-dua kali aku mengingatkannya untuk berhati-hati, karena dia bermain-main dengan api. Kukira setelah dia menikah, dia akan lebih menjaga sikapnya, untuk menghormati suaminya. Ternyata tidak.



“Pah...” suara kecil itu memecah lamunanku.

Seorang anak perempuan berusia 8 tahun berlari mendekatiku dan merangkulku.

“Tante Linda.”

Kemudian dia menghampiri Linda dan merangkulnya juga. Linda terlihat senang bertemu dengan Asami, putriku yang manis ini. Kadangkala dia berkunjung ketika liburan dan mengajak Asami bermain, karena itulah Asami akrab dengannya.

“Asami,” panggilku. “Papa lagi mau bicara penting sama Tante Linda. Asami pulang ke rumah dulu aja ya, main sama Bli Wahyu.”

Asami tampak merengut, tapi dia tak pernah membantah perintahku. Setelah merangkul kami sekali lagi, dia pun pergi.

Linda memandangi kepergian Asami dengan sedih.

“What a beautiful girl she is. Kamu sudah melakukan kerja yang bagus, dengan membesarkannya seorang diri.”

Aku diam saja, tak mau mengomentari ucapannya.

“Kamu tahu, Bayu... Laki-laki itu, aku mendekatinya, karena dia mirip denganmu.”

“Hentikan, Linda. Yang terjadi di antara kita sudah lama berakhir. Kamu sendiri yang pergi dariku. Jangan membawa-bawa memori masa lalu. Yang terjadi sudah terjadi, tak ada yang bisa diubah.”

“Tapi, Bayu, mungkin ini ide yang bagus. Setelah perceraian ini, aku bisa bersama denganmu, dan bersama-sama kita akan membesarkan Asami.”

“Linda, jangan teruskan. Aku tidak berminat. Asami memang membutuhkan ibu, dan cepat atau lambat aku akan mencari ibu yang baik untuknya. Jadi jangan coba-coba bertingkah seperti ini untuk mendapatkan putriku.”

“SHE’S MY DAUGHTER TOO!” Tangisnya pun pecah.



Dengan susah payah, aku berusaha menahan amarahku.

“Kamu, jangan berani-beraninya datang kemari dan mengaku sebagai ibunya! Kamu meninggalkan dia setelah melahirkannya, dan menyerahkannya padaku begitu saja! Kemana saja kamu di saat dia membutuhkan seorang ibu! Kau seharusnya berada di sana bersamaku untuk menjaganya, menenangkannya ketika dia menangis di tengah malam, menggantikan popoknya, dan bukannya pergi, dan baru kembali bertahun-tahun kemudian untuk bertingkah sebagai ibu yang baik.”

Aku bisa merasakan wajahku yang panas setelah mengeluarkan semua emosiku barusan, tak peduli dengan Linda yang terus menangis, menyesali kesalahannya di masa lalu.

Delapan tahun yang lalu, di pulau ini, aku menungguinya sampai dia melahirkan Asami. Putri kami. Kemudian hanya seminggu setelahnya, sewaktu tubuhnya sudah pulih, dia langsung kabur, meninggalkan semua tanggung jawabnya sebagai seorang ibu.

Dengan tangis yang memilukan, dia berkata dengan terbata-bata. “Pilihan apa yang kupunya? I am your sister!”

.........

Betul, Papa dan Mama pasti tak akan bisa menerima hal ini dengan baik. Linda mengungsi ke Bali segera setelah perutnya semakin terlihat besar. Aku menyusulnya sebulan sebelum dia melahirkan. Kami tidak pernah memberitahu mereka tentang hal ini, tentang kehamilannya, tentang hubungan terlarang yang kami lakukan. Aku mengusulkan padanya untuk tetap bertahan bersamaku dan mengurus Asami, tanpa perlu memberitahu orangtua kami. Dia belum siap untuk hidup seperti itu dan menerima pandangan sinis dari orang-orang yang menghakimi kami.

“You had a chance to be a good mother, and you threw it away.”

Aku bangkit dan berjalan meninggalkannya yang masih terisak.

“Kamu gagal sebagai ibu, dan gagal sebagai istri. Sebelum kamu memperbaiki perilakumu dan belajar untuk menerima segala sesuatunya, kamu tak akan pernah mendapatkan kebahagiaan yang kamu cari. Sampai saat itu terwujud, stay away from me and my daughter.”


-end-

#11 Sasirangan

 "Kunikmati rindu yang datang membunuhku..."

Alunan lagu yang merdu dari Last Child tadi dengan semena-mena dicabut dengan paksa dariku. Orang paling menyebalkan ini pelakunya.

“Bangun woi! Udah jam setengah delapan nih. Anterin gw belanja, sekarang!”

Perkenalkan. Wanita jahat ini adalah Erika, kakakku. Kenapa kubilang jahat, bagaimana tidak, selagi adiknya masih pengen tidur-tiduran di Sabtu pagi, dia malah menyuruhku jadi supirnya hari ini.

“Ntar aja kenapa, biar belanjanya sama Mama. Daripada lu ngerusuhin gw kayak gini?”

“Ga usah banyak bacot. Cepetan! Gw tunggu di bawah, sepuluh menit lu harus turun.”

Yang lebih menyebalkan adalah aku menurutinya. Segera aku mandi kilat dan berganti baju dan menyusulnya ke depan hotel. Tidak ada gunanya berdebat dengannya, karena bila aku melaporkannya pada Papa atau Mama, mereka pasti akan menyuruhku memaklumi kakakku dan menuruti keinginannya.

Segera setelah aku membawa mobil sewaan dan mengangkut tuan putri ini, aku menanyakan tujuan kami. Aku tidak kenal daerah ini, dan jadinya hanya membiarkan dia mengarahkanku ke suatu kawasan pertokoan alias tempat belanja di Banjarmasin ini. Setelah sejam lebih berkeliling dan menghabiskan uang untuk belanja beraneka barang, berikutnya kami mengunjungi sebuah toko batik lokal.

“Gw mau ngasih oleh-oleh Sasirangan buat temen-temen kantor.”

“Sasangiran apaan tuh?”

“Sasirangan, tau! Batik khas Banjarmasin.”

Mulailah dia berkeliling, mengamati, memilih-milih kebaya bermotif Sasirangan yang hendak dibelinya. Aku cuma melihat-lihat sekilas tanpa minat. Tapi tak urung terpikirkan olehku seorang Mila. Ah, boleh juga kali ya kalo aku ngasih dia kebaya ini sewaktu pulang ke Surabaya nanti. Tapi kayaknya kebaya terlalu mencolok, apa syal aja ya?

Selagi aku sibuk melamun, tiba-tiba Erika mencengkram bahuku dan berlindung di balik punggungku.

“Kenapa?”

Dia tidak menjawab dan langsung menyerahkan keranjang belanjaannya padaku. Juga beberapa helai uang lima puluhan.

“Bayarin ya, gw tunggu di mobil.” Lho, aku memberikan pandangan bertanya. “Udah, bayarin aja. Kalo perlu, sekalian beliin satu ato dua buat pacarlu tuh.”

Ah, oke. No questions asked. Beginilah nasib adik yang tertindas, gampang sekali disogok. Mudah-mudahan aku nanti tidak jadi pejabat, bisa gawat kalau kebiasaan gampang disogok ini dipelihara.

*

Setibanya di mobil, aku hanya memandangi kakakku yang tiba-tiba murung, berbeda sekali dengan image nenek sihir yang biasa ditunjukkannya.



Kami pun menuju tempat selanjutnya, yaitu Pasar Terapung di Barito. Dalam beberapa menit, kami sudah berada di tengah-tengah sungai yang lumayan sepi. Maklumlah, sudah jam 11 siang, sedangkan pasar ini biasanya hanya ramai di pagi hari. Hanya ada beberapa perahu yang berkeliaran, kuperkirakan mereka adalah orang-orang yang sedang berlibur ke Banjarmasin seperti halnya keluarga kami.

Kuperhatikan kakakku yang masih terlihat murung.

“Yang tadi itu kenapa? Kok tiba-tiba kabur?”

Dia menoleh ke tempat lain, tidak mau ekspresi wajahnya terbaca olehku.

“Gak papa. Cuma ngeliat orang yang dikenal tadi.”

“Trus kenapa gak nyapa? Oh, mantanlu ya? Mantan yang mana?” tanyaku usil.

Aku berhasil membuatnya lepas dari kemurungannya. Dia berbalik dan memukul tanganku dengan kesal.

“Udah diem deh. Bukan urusanlu tauk.”

“Nanti gw laporin sama Mama tentang mantan-mantanlu baru tau rasa deh.”

“Eh jangan, jangan. Ampun, Baginda Ferdi. Jangan lapor Mama yah, ntar jatah bonus voucher makan gw bakal rajin gw setor deh.”

Seperti biasa, aku lemah terhadap gratifikasi seperti ini. Memalukan.

Beberapa menit berlalu, dan aku hanya mendayung setengah hati, sekedar untuk menghabiskan waktu sewa perahu yang 2 jam ini. Kakakku kembali duduk merenung, sambil memandangi perahu-perahu lain yang berseliweran di sekitar kami. Kemudian barulah momentum itu terjadi.

“Erika!”

Sebuah suara memanggil nama kakakku dari samping kami. Seorang laki-laki, mendayung perahunya untuk mendekat. Kakakku tertegun, seakan kehilangan kata-kata.

“Hasan...”

Dengan suara tertahan, dia menyebut nama laki-laki itu.

Aku memandangi perubahan sikap kakakku yang tadinya murung, mendadak berseri. Tak bisa terbantahkan, dia senang sekali bertemu dengan orang ini. Begitupun dengan Hasan.



Apa boleh buat.

Di toko batik tadi, begitu aku membayar di kasir, laki-laki ini, bertanya dari balik meja kasir padaku. Sepertinya dialah pemilik toko ini.

“Kamu kenal perempuan tadi?” Kuasumsikan dia merujuk pada Erika.

“Iya, dia kakakku.”

Bisa kulihat kecemasan itu hilang dari wajahnya. Dia pun langsung membeberkan semuanya. Bahwa dia dan Erika berpisah selepas mereka lulus SMA. Erika ingin melanjutkan kuliah bersamanya, tapi Hasan memilih untuk pulang ke Kalimantan untuk melanjutkan usaha ayahnya yang terancam bangkrut.

Aku tak tahu, kalau kakakku pernah seperti itu, punya orang spesial di hatinya.

Sebelum meninggalkan toko, kubilang pada Hasan, “Habis ini kami mau pergi ke Barito. Susul aja kalo Mas mau.”

And here he is.

Kuperhatikan mereka berdua yang saling memandang penuh cinta. Dan tak peduli seberapa besar rasa ingin tahuku untuk mendengarkan apa yang akan mereka bicarakan, kurasa ini bukan urusanku.

Jadi kupasang earphone iPodku, dan kembali melanjutkan alunan lagu yang terputus tadi pagi.


-end-

Thursday, June 21, 2012

#10 Aku Kembali

Surabaya. Sudah lima tahun aku tidak pulang ke rumah Ayah. Karena dia menikah lagi, itulah penyebabnya. Aku tidak menginginkan adanya seorang ibu baru, apalagi di saat ibuku masih segar bugar. Tapi begitulah yang terjadi akibat perceraian. Di saat ibuku kukuh untuk menghidupi dirinya sendiri tanpa mencari pasangan hidup yang baru, Ayah memutuskan untuk menikah lagi, dengan seorang janda yang beranak satu malah. Aku tidak menghadiri pernikahan kedua Ayahku empat tahun yang lalu, dan tidak pernah menginjakkan kaki di rumahnya hingga sekarang.

Selama lima tahun ini, aku memilih tinggal di tempat kosku di Jogja, dan hanya pulang ke rumah Ibuku di Solo beberapa minggu sekali. Ibu pun sebenarnya menginginkanku untuk berdamai dengan Ayah, terlepas dari perceraian mereka. Beberapa kali dia memintaku untuk pulang ke rumah Ayah, tapi aku selalu menolak.

Kemudian minggu lalu, sewaktu aku pergi ke Tawangmangu dan bertemu dengan seorang wanita paruh baya yang kakinya terkilir, barulah aku tergugah. Wanita itu sudah terpisah dengan suaminya yang tak diketahui keberadaannya selama bertahun-tahun. Sementara aku, yang jelas-jelas tahu dimana rumah Ayahku berada, malah menolak bertemu ke sana. Aku malu pada diriku sendiri.

*

Di depan rumah ayahku, aku tertegun sejenak sebelum memutuskan untuk memencet bel. Selain cat yang diperbarui, tidak ada perubahan pada rumah ini. Tak berapa lama, seseorang keluar dari dalam rumah. Seorang anak perempuan.

“Mas Ario ya?” tanyanya sambil tersenyum.

Aku mengiyakan, sambil menerka apakah anak ini adalah anak dari istri Ayah. Di dalam, aku disambut oleh Bulek Yati, istri ayahku. Dia orang yang ramah, meskipun aku tidak tahu berapa lama keramahan itu bertahan. Mudah-mudahan bukan cuma sekedar berbasa-basi saja. Bulek Yati hendak memanggil Ayah yang sedang membaca koran di belakang. Kubilang tak usah, biar aku saja yang mendatanginya.

“Pak, Ario pulang, Pak.”

Aku membungkuk dan mencium tangannya. Ayah tidak bicara apa-apa, tapi bisa kurasakan kebahagiaannya melihat putra satu-satunya sudah kembali.
Ayah memperkenalkan seisi rumah padaku. Setelah memperkenalkan lagi Bulek Yati, dia memperkenalkan anak perempuan tadi sebagai Mila, anak Bulek Yati yang sekarang sudah kelas 3 SMA. Juga adik kecil berusia 3 tahun yang diberi nama Laras. Adik-adik tiriku.

Sesudah beristirahat sejenak dan meletakkan ranselku di kamar tamu yang baru dibuat (kamar lamaku sekarang ditempati Mila), sore harinya aku menanyakan sepedaku yang dulu pada Ayah. Mau jalan-jalan sebentar, kataku. Ayah menyuruhku mengajak Mila juga. Mungkin dikiranya aku bakal nyasar, atau mungkin, kabur entah kemana.



Kangen juga aku bersepeda di jalanan Surabaya ini, apalagi sore-sore begini udaranya sejuk. Kami terus mengayuh hingga sampai di area Old Town, dimana bangunan-bangunan tua berada. Aku mengajak Mila untuk beristirahat dan mampir di salah satu warung tenda di sekitar situ.

Selagi aku meminum es tehku, Mila tiba-tiba saja bertanya.

“Mas Ario ga suka sama kami ya?”

“Eh, kenapa bertanya seperti itu?”

“Habisnya sejak Mama nikah sama Bapak, Mas Ario ga pernah mau datang.”

Aku berpikir keras, berusaha menyusun jawaban yang bisa diterimanya.

“Waktu itu memang aku ga setuju dengan keputusan Bapak. Sekarang aku sudah bisa menerimanya.”

“Padahal aku seneng lho Mas, waktu tahu kalo bakal punya kakak laki-laki. Kayaknya seru aja.”

Hmmm, betul. Aku pun merasa senang karena setelah sekian lama menjadi anak tunggal, sekarang naik pangkat menjadi seorang kakak.

“Mas Ario di sini sampai kapan?”

“Lusa sudah mesti balik lagi ke Jogja.”

Mila terlihat kecewa.

“Nanti kalo libur Lebaran, aku pulang ke sini lagi kok. Sabar aja,” hiburku.

Aku teringat akan kompas pemberian wanita yang kutemui di Tawangmangu. Aku akan memberikannya pada Mila besok sebelum berangkat lagi ke Jogja. Dia orang yang tepat untuk menerimanya.


-end-


*datar banget perasaan -.- bodo lah, kapan2 dibenerin kalo sempet

#9 Genggaman Tangan

 

Air terjun Tawangmangu. Tidak tahu kenapa tiba-tiba aku ingin berada di tempat ini, mungkin karena ingin membangkitkan kembali memori tentang pertemuanku dengannya di Niagara, yang sudah lama sekali terjadi. How long has it been? A decade?

Tentunya Tawangmangu tak bisa disamakan dengan Niagara yang merupakan air terjun terbesar di planet ini. Waktu itu setelah sekian lama berkelana, kami tertarik untuk mengunjungi tempat itu, ingin melihat sendiri tempat yang disebut-sebut sebagai salah satu fenomena alam paling menakjubkan di dunia, meskipun bagi kami masih ada lokasi-lokasi air terjun lain yang lebih fantastis, yang sayangnya keberadaannya sudah tak ada lagi di muka bumi ini.

Sekali lagi aku berbaur dengan orang-orang, menggunakan bahasa negeri ini yang baru saja kupelajari. Aku tidak begitu mengikuti perkembangan politik atau situasi di negeri atau tempat-tempat yang kukunjungi, karena memang itu tidak ada urusannya denganku. Mungkin Rafael peduli, karena memang dia tertarik dengan perubahan perilaku manusia dari masa ke masa. Aku tidak. Aku lebih suka menikmati pemandangan dan lingkungan planet ini, yang indah-indah dan menakjubkan, seperti halnya air terjun Tawangmangu ini.

Untuk dapat menemui dan merasakan derasnya hempasan air terjun ini, ada ribuan anak tangga yang mesti kuturuni. Dalam keadaan biasa tentunya aku tak perlu melakukan hal merepotkan ini, hanya tinggal melesat dan tiba di bawah sana, tapi dalam wujud manusiaku, aku mesti bersikap seperti halnya mereka, menuruni anak tangga satu demi satu.

Hingga kemudian aku terkilir di salah satu anak tangga. Jantung di dalam ragaku berdebar-debar sementara tubuhku oleng, menunggu untuk terjatuh berguling-guling di hadapan ratusan anak tangga yang masih tersisa. Hei, Rafael, kita belum pernah membahas apa yang terjadi seandainya kita mengalami cedera yang parah dengan tubuh ini. Apakah kita akan kembali pulih, atau mesti merasakan rasa sakitnya, secara fisik?

Saat aku pasrah akan apa yang terjadi, kurasakan tanganku ditarik dari belakang. Tubuhku pun tertahan dan tak sampai jatuh. Perlahan aku memulihkan keseimbanganku dan menoleh ke arah orang yang sudah menggenggam tanganku dan menyelamatkanku barusan. Seorang anak muda.

“Thank you, young man.”

Kucoba berdiri dengan kedua kakiku, tapi kurasakan kaki sebelah kanan, kaki yang tadi terkilir, tak bisa kugunakan dengan baik.

Anak muda tadi tak tinggal diam, dan menawarkan bantuan.

“Here, let me help”

Akhirnya dia membantuku berjalan menuruni beberapa anak tangga, ke pondok terdekat, yang biasanya digunakan orang-orang yang hendak beristirahat sejenak. Dengan hati-hati dia membantuku duduk. Kemudian dengan sigap dia memeriksa kakiku yang terkilir.

“Bagaimana, parah ya nak?” tanyaku padanya, sekaligus mengkonfirmasi bahwa aku bisa menggunakan bahasanya.

“Lumayan, Bu. Kelihatannya harus segera diurut. Di tempat ini semestinya ada tukang urut yang bisa membantu kalau-kalau ada pengunjung yang cedera seperti yang Ibu alami. Saya panggil dulu ya, Bu.”

“Tidak usah. Saya ada nomornya, nanti tinggal saya panggil. Maaf, apa kamu punya air minum?”

Dia bergegas membuka tas ranselnya, dan mengeluarkan sebotol air, dan membantuku meminumnya.

“Thank you. Kalau tadi kamu tidak menolong, entah bagaimana jadinya.”

“Sudah semestinya sesama manusia kita saling menolong, Bu.”

Saling menolong. Ah, coba kau berada di sini, Rafael, dan saksikan sendiri dengan matamu bahwa masih banyak orang-orang baik seperti anak muda ini yang mau repot-repot menolong ibu-ibu separuh baya yang tidak dikenalnya. Mungkin kau tidak akan terlalu sinis dengan mereka.

“Ngomong-ngomong, Ibu kenapa sendirian? Perjalanan naik dan turun tangga ini mungkin terlalu riskan kalau dilakukan sendirian.”

Kupandangi air terjun yang hanya belasan meter saja letaknya dari kami, dan teringat akan Rafael.

“Tidak ada pilihan, Nak. Satu-satunya orang yang seharusnya menemaniku, sudah terpisah denganku sejak bertahun-tahun yang lalu.”

“Suami Ibu?”

“Semacam itulah.”

“Lalu kenapa Ibu membahayakan diri sendiri dengan datang ke tempat ini sendirian?”

“Karena aku rindu dengannya. Air terjun ini, mengingatkanku ketika masih bersamanya.”

Aku memandangi anak muda itu. Sewaktu dia menggenggam tanganku supaya tak terjatuh tadi, aku bisa melihat isi pikirannya. Dia orang yang baik, meskipun ada suatu masalah yang sedang membebaninya. Mungkin dia bisa membantuku.

“Nak, bolehkah aku meminta tolong sekali lagi?”

Aku mengeluarkan sebuah kompas dari tasku, dan menyerahkannya pada anak muda itu. Dia terlihat heran.

“Kompas itu adalah milik Rafael, suamiku. Aku tahu dia masih hidup, hanya saja tak tahu dimana keberadaannya.”

Dia memandangi kompas itu dan tulisan-tulisan aneh di permukaannya dengan heran.

“Ibu ingin saya mencarinya?”

Aku tersenyum.

“Tentu saja tidak. Hal itu terlampau sulit. Aku memberikannya padamu, agar nanti kamu bisa memberikannya pada orang lain. Orang yang kamu percaya, yang kamu yakin orang yang tepat untuk menerimanya, untuk kemudian diberikan lagi pada orang lain, dan seterusnya. Jika keberuntungan berpihak pada kami, maka kompas itu suatu saat akan datang padanya. Saat itulah, dia akan tahu kalau aku baik-baik saja, dan kami bisa bertemu kembali.”

Dia meresapi kata-kataku dengan heran, tapi pada akhirnya dia menggangguk, pertanda menyanggupi permintaanku.

“Kamu sedang terburu-buru, ya? Pergilah kalau begitu. Setelah ini aku akan langsung memanggil tukang urut supaya datang.”

Setelah berpamitan, anak muda itu pergi. Aku memperhatikannya sampai dia benar-benar sudah menghilang. Kakiku yang terkilir tadi sudah tak terasa sakit lagi.

Nah, Rafael, sekarang aku hanya bisa menunggu, dan menyerahkan semuanya pada anak manusia itu, agar pesanku bisa sampai padamu.


-end-

Wednesday, June 20, 2012

#7 Biru, Jatuh Hati



Panas. Dan ramai. Apanya yang menyenangkan dari Pantai Pangandaran ini? Barangkali aku salah memilih waktu untuk datang ke tempat ini, tapi mana kutahu kalau hari ini ada lima bis berjejer di tempat parkir yang mengangkut murid-murid SD? Mestinya aku bisa menikmati liburanku yang tenang dan berharap inspirasiku kembali muncul, dan bukannya menyaksikan anak-anak SD yang berlarian di sepanjang pantai, seakan-akan merekalah pemilik tempat ini.

Bukan hanya karena sedang mengalami writer’s block, tapi psikiaterku juga menyarankan agar aku menghirup udara segar, yang berasal dari lautan kalau bisa. Hubungannya apa? Katanya biar stresku segera sembuh. Hah, siapa yang stres? (Oh tidak, bahkan aku sudah dalam tahap denial, artinya aku benar-benar stres saat ini).

Biarlah, biarkan anak-anak itu bersenang-senang. Aku juga akan mencoba bersenang-senang dengan caraku sendiri, duduk bermalas-malasan di bawah pohon yang rindang ini, sambil membaca buku, menikmati hembusan angin sepoi-sepoi, sambil tertidur barangkali.

Tidak sadar sudah berapa lama aku tertidur, sampai seorang wanita memanggilku.

“Mas, bisa minta tolong?”

Siapa itu, bidadarikah?

Oh, bukan. Seorang wanita berkaos biru rupanya.

“Maaf mas, saya ibu guru yang mendampingi anak-anak ini. Mas liat anak-anak yang tadi main di dekat sini nggak?”

Aku menggeleng, karena sedari tadi aku memang tertidur. Bu Guru itu terlihat cemas.

“Mari saya bantu mencari mereka, mbak.”

(Lho iya kan, ibu guru itu terlihat masih muda, makanya kupanggil mbak).

Kami pun bersama-sama menyusuri pelosok pantai di dekat tempatku tadi tertidur, mencari anak-anak itu. Berapa orang tadi ya, lupa. Sepertinya dia tidak bilang.

Jangan salahkan aku kalau aku tidak terlalu konsentrasi dalam mencari. Parfum yang digunakan ibu guru ini wangi sekali. Hebat, padahal di tengah terik seperti ini, tapi aromanya masih bertahan hingga sekarang.

Tak berapa lama, kami menyerah. Ibu guru kembali ke rombongannya, aku mengikuti, siapa tahu ada yang bisa kubantu. Untungnya begitu tiba di sana, anak-anak itu sudah kembali. Lengkap semua. Setelah berterimakasih sebagai ucapan basa-basi, ibu guru itu pun membawa anak-anak itu ke dalam bis.

Aku menyaksikan kepergian rombongan anak-anak SD dan ibu guru itu. Sayang ya, kalau lebih lama lagi aku bisa bersama-sama ibu guru itu, mungkin aku bakal jatuh hati padanya. Pada wanita berkaos biru itu. Biru adalah warna kesukaanku.

Akan lebih spesial seandainya hanya ibu guru itu saja yang memakai kaos berwarna biru, sayangnya anak-anak itu juga memakai kaos yang sama, bertuliskan SD Mentari di punggungnya. Ternyata kaos khusus untuk peserta piknik.

Yah, setidaknya kemunculan ibu guru itu memberiku inspirasi untuk menulis cerita selanjutnya. Aku akan menulis sesuatu tentang hal yang cukup memberi kesan ini, meskipun sedikit.

Aku akan menulis cerita tentang anak-anak yang hilang sewaktu piknik di pantai, dan dimakan oleh penunggu pantai yang berkedok sebagai salah satu turis yang sedang berlibur.

(on a second thought, jangan, batalkan, batalkan. Cerita macam apa itu? Baiklah, kita kembali lagi ke awal. Mandeg. Tak ada ide.)


-end-

*cerita yang gak jelas, err

#5 Sepanjang Jalan Braga



Sewaktu Weni mengajakku pergi ke pameran buku di Landmark Braga, aku langsung bersemangat. Setelah beberapa hari selalu gagal mendapat kesempatan untuk berduaan dengannya, akhirnya hari ini hal itu bakal terwujud. Setidaknya itulah yang kuharapkan.

Karena itulah, bisa dibayangkan betapa kecewanya hati ini ketika pada akhirnya kami bertemu di depan lokasi pameran, bahwa dia tidak datang sendiri. Kami janjian untuk bertemu langsung di sana, karena Weni mesti ikut les bahasa Prancis sampai jam 4 sore. Ternyata dia membawa salah seorang temannya. Seketika rencana yang sudah kususun matang batal semua.

Selama sejam berada di sana, aku hanya mengikuti mereka, berusaha menjaga mood agar tidak terlihat terlalu cemberut. Weni dan temannya, Mia dengan tekun menelusuri penjuru Landmark, berkeliling dari satu stand ke stand lainnya. Membeli beberapa buku novel yang sedang diobral murah, juga sempat tertarik untuk membeli beberapa buku pelajaran bahasa Prancis, sebelum memutuskan kalau buku paket dari CCF sudah terbilang lengkap dan memadai. Aku yang sebenarnya tidak begitu tertarik dengan buku, tidak membeli apa-apa.

Sesudahnya Weni pulang dengan dijemput ayah ibunya yang sedang datang ke Bandung, untuk pergi ke Lembang. Aku tentu saja tidak diajak. Alih-alih, Weni menyuruhku untuk menemani Mia pulang. Lengkap sudahlah kegagalan ini.

Jadi, sepanjang jalan Braga, dengan terpaksa aku berjalan menemani Mia pulang, hingga ke persimpangan dimana angkot tujuan Dipati Ukur melintas. Yang membuatku semakin sebal adalah sewaktu aku hendak menyalakan rokokku, Mia langsung protes.

“Gie, kalo kamu mau ngedeketin Weni, mending kamu stop deh ngerokoknya. Banyak cewek yang ga suka cowok yang ngerokok. Termasuk Weni.”

Kok jadi dia yang ngomentarin, sih? Apa urusannya? Kusimpan kekesalanku dalam hati, tidak enak kalo mesti bertengkar dengan Mia, mengingat dia adalah temannya Weni.

Perjalanan ini pun semakin bertambah lama, ketika di depan sebuah bangunan putih, Mia berhenti dan mulai mengambil gambar dengan kamera sakunya. Terpaksa aku harus menungguinya hingga dia puas.

“Gie, minta tolong dong. Fotoin aku.”

Mia pun berdiri di samping pintu bangunan, atau rumah, entahlah, bernomor 35 itu. Sementara aku bersiap-siap dengan kameranya. Sudahlah, cepat foto dia lalu lanjutkan perjalanan, buat apa berlama-lama...

Sebentar.

Dengan seksama aku memperhatikan Weni dari balik kamera. Senyumnya, parasnya, rambut sebahunya.

Aku baru sadar, sepanjang sore hingga malam ini, baru kali inilah aku benar-benar memandang langsung ke arahnya. Cantik. Cantik sekali.

“Hei, sudah belum?” tanyanya mengingatkan.

Dengan alasan gambarnya buram, kubidik lagi dan kuambil gambarnya berkali-kali. Untuk memastikan kalau aku tidak salah lihat.

Sesi pemotretan selesai. Perjalanan berlanjut, dengan pikiranku yang tiba-tiba dipenuhi pertanyaan tentang Mia yang sekarang berjalan di sampingku.

Mia. Bukankah dia anak unit sebelah, unit fotografi? Iya, sepertinya beberapa kali aku pernah melihatnya mondar-mandir di depan unit sepeda. Iya, yang waktu itu pernah bawain kue ke anak-anak sepeda, kan? Masa sih itu dia?

Seketika aku menjadi gugup, sekaligus senang.

Aku jatuh hati.


-end-

Tuesday, June 19, 2012

#8 Ramai

“Ga, abis ini kita jalan-jalan lagi ya, liat-liat cinderamata.”

“Nath, tadi sesiangan kan kita udah muter-muter sampe bosen. Masa sekarang lagi? Lagian ini kan udah malem.”

“Tapi yang tadi kan baru sedikit, masih ada beberapa gift shop yang belom kita samperin. Ayolah Arga, mumpung kita di Malioboro. Jarang-jarang kan?”

“Ga besok lagi aja? Mending kita balik ke hotel. Aku udah capek banget hari ini.”

...

Telingaku masih menyimak obrolan pasangan di depanku, meskipun suara pengamen jalanan masih setia menghibur orang-orang yang sedang menyantap makan malamnya di warung lesehan ini.

Laki-laki itu akan menuruti permintaan si perempuan pada akhirnya. I know that.

Karena itulah, ketika akhirnya mereka beranjak pergi, aku tidak terburu-buru menyusul mereka. Aku tahu ke arah mana mereka akan pergi. Kuseruput kuah soto ayam ini hingga habis, juga teh hangatnya.

Dua menit setelah pasangan itu pergi, giliranku yang beranjak meninggalkan warung lesehan ini. Dengan memperhitungkan waktu yang terbuang untuk berdebat tentang apa yang akan mereka lakukan, aku tak ketinggalan terlalu jauh dari mereka. Kuikuti mereka sebentar, sebelum aku mempercepat jalanku untuk mengejar mereka.

“Hei!”

Kedua orang itu menoleh padaku, kaget karena tiba-tiba ada orang tak dikenal yang memanggil mereka.

“Sepertinya ada barang kalian yang ketinggalan di warung tadi. Pemiliknya mencari kalian.”

Setelah berpandangan sejenak, mereka pun mengucapkan terima kasih, dan berbalik ke warung lesehan tadi. Sedikit bingung, begitulah ekspresi wajah mereka. Biarlah.

Waktu yang dibutuhkan kedua orang itu untuk kembali ke warung tadi, untuk kemudian mendapati bahwa tidak ada barang mereka yang tertinggal di sana, dan kemudian kembali melanjutkan perjalanan mereka, melewati jalan ini lagi, dan kemudian tiba di titik itu, tempat yang juga akan kutuju sekarang, intinya, tiga menit.


Tiga menit sudah cukup buat mereka. Buatku juga. Sesampainya di persimpangan jalan besar yang saat ini cukup lengang, aku berhenti. Menunggu, di depan bangunan yang kelihatannya merupakan sebuah bank.

10:25. Menunggu. Dua orang itu akan tiba di sini dalam dua menit.

Dalam 30 detik, sebuah mobil akan melaju dengan kecepatan tinggi, kehilangan keseimbangan, dan menubruk mereka. Harusnya.

Oh, there it is. Mobil sedan hijau. Di ujung sana, mendekat kemari, berlari, melesat seperti peluru.

Tidak ada orang lain yang sedang berada di dekatku. I wonder. Apa yang akan terjadi jika aku tetap berdiri di sini dan membiarkan mobil itu menabrakku. Kemungkinan dia hanya akan menembus ragaku, seperti angin, kosong. Menarik, tapi rasanya tidak perlu aku menambah masalah di tempat ini dengan memberikan orang-orang pemandangan yang lebih ganjil.

Tiga detik. Mobil itu menderu kencang, oleng, dan berbelok ke arahku.

Huff... What a thought.

Dengan tenang, aku bergeser ke kiri.

DHUARR!!

Mobil itu menghantam salah satu pilar bangunan bank, hanya beberapa senti dari tempatku berdiri. Bagian depannya seketika rangsek, kepulan asap segera menyelubunginya.

Kelihatannya ada suara teriakan dari beberapa orang di seberang jalan sana. Seketika orang-orang pun bermunculan.

Tanpa melirik ke dalam mobil, aku berteriak ke orang-orang yang mendekat.

“Cepat panggil ambulans!”

Aku tidak peduli siapa di antara mereka yang akhirnya melakukan panggilan. Pengemudi itu sudah tidak akan bisa diselamatkan. He deserve it. Drunk. Mengemudi dalam keadaan mabuk dan membahayakan orang lain, menyebabkan kematian dua orang tak bersalah yang kebetulan sedang berjalan kaki di sekitar tempat ini.

I’ve seen it. Everything.

Selagi kerumunan orang yang mengerubungi lokasi kecelakaan ini makin ramai, perlahan aku meninggalkan mereka, tanpa seorang pun yang memperhatikan.

Dua orang tadi, pasangan yang sudah kuselamatkan nyawanya, baru saja muncul. Mereka tampak heran dengan kegemparan yang terjadi malam ini. Mereka akan bergegas untuk bergabung dengan kerumunan tadi untuk melihat apa yang sebenarnya tadi. Mungkin juga akan menyadari nasib berbeda yang bisa saja mereka alami, dengan delay sekian menit tadi.

Aku memandangi mereka sekilas, kemudian berlalu. Meninggalkan tempat ini. Meninggalkan keramaian yang tiba-tiba muncul di malam ini.



-end-

Monday, June 18, 2012

#4 Kerudung Merah


Semua berawal dari suatu pagi dimana seorang penduduk yang baru saja terbangun memandang ke arah danau, dan di antara kabut tebal yang menutupi Danau Toba waktu itu, dia melihat sesuatu berwarna merah di kejauhan. Dia tidak terlalu menanggapi dengan serius waktu itu karena mungkin saja itu cuma salah lihat, apalagi dia masih dalam keadaan mengantuk. Ketika kemudian beberapa orang tetangganya juga mengatakan hal serupa, barulah desa itu tertarik untuk membahasnya lebih lanjut. Sesuatu yang merah itu, menurut mereka yang menyaksikan, menyerupai sesosok manusia, di tengah danau, di atas sebuah perahu. Sosok itu menghilang dengan sendirinya ketika kabut yang menyelimutinya berangsur-angsur lenyap.

Keesokan harinya, para penduduk kembali melihat penampakan itu. Di tengah-tengah kabut, terlihat seorang gadis berkerudung merah, sendirian di atas perahu kecil. Perahu itu tidak tampak akan menuju ke suatu tempat, melainkan hanya diam saja di tengah-tengah danau. Beberapa penduduk mengayuh perahunya untuk menghampiri gadis itu. Sesampainya di tempat dimana kira-kira sosok itu berada, mereka tak berhasil menemukannya. Mungkin juga karena kabut yang begitu tebal, tapi seberapa keras usaha mereka mencari, mereka tetap tidak menemukan gadis berkerudung merah itu.

Berita ini kemudian menjadi gempar, dan merebak ke penjuru Tarutung*. Semakin banyak penduduk, dan juga orang luar yang berusaha menyaksikan penampakan itu yang terkadang muncul di pagi hari, seperti biasa disertai kabut tebal yang menyelubunginya. Komunikasi juga dilakukan dengan penduduk di Samosir, untuk mencari tahu keberadaan gadis berkerudung merah itu, barangkali dia berasal dari sana. Hasilnya nihil. Kalau hanya sekedar perempuan yang memiliki kerudung berwarna merah, tentunya mereka menemukan beberapa di antaranya, tapi bukan perempuan yang pagi-pagi buta berada sendirian di tengah danau, dan menghilang begitu saja begitu kabut reda.

*

Snasavatnet, Nord-Trøndelag, Norwegia.

Seorang pria mendayung perahunya ke tengah danau, dimana sebuah perahu seakan sudah menunggunya di sana. Dia memanggil orang yang ada di atas perahu itu, seorang gadis dengan kerudung merah yang menutupi rambut pirangnya.

“Evelyn, hei!”

Evelyn, gadis yang dimaksud, tidak menjawab. Pandangannya kosong, seakan tidak memperhatikan sekelilingnya. Pria itu melompat ke perahu si gadis, dan menepuk pipinya. Gadis itu terkesiap, dan seperti baru saja dibangunkan, kesadarannya segera pulih. Dilihatnya pria yang ada di sebelahnya.

“Pappa...”

“Sudah kubilang, jangan terlalu sering mendayung ke tengah danau sendirian. Dan kenapa dengan kerudung merah itu?”

“Aku sedang ingin memakainya saja, supaya mirip dengan cerita Red Riding Hood itu. Ayah, tahukah kau, sudah beberapa hari ini, aku bermimpi dan melihat tempat-tempat lain yang asing, seakan-akan aku berada di sana.”

“Cukup, Evelyn. Liburan sudah usai. Kita mesti pulang ke Oslo.”

Evelyn dan ayahnya mendayung kembali perahu mereka ke tepi danau, dimana cottage mereka berada. Segera sesudahnya, mereka meninggalkan danau itu dan pergi ke Oslo. Evelyn sempat membahas mimpinya yang luar biasa itu pada ayahnya, tapi keesokan harinya hal itu pun terlupakan begitu saja, seperti halnya mimpi-mimpi lain pada umumnya.

Sedangkan di Danau Toba sana, gadis berkerudung merah itu tak pernah terlihat kembali, sementara para penduduk masih bertanya-tanya tentang fenomena yang terjadi seminggu terakhir itu. Misteri itu pun menguap begitu saja tanpa ada penjelasan.


-end-


*cerita yang aneh
* Snasavatnet adalah salah satu danau terbesar di Norwegia.

Sunday, June 17, 2012

#6 Sehangat Serabi Solo


Jam setengah tujuh. Malas sekali rasanya untuk meninggalkan tempat tidur ini. Padahal ada acara yang mesti kami hadiri nanti jam sembilan, dan sudah setengah jam aku terbangun, hanya mendekam di balik selimut, melamun. Ketika sudah terlalu lama waktu terbuang untuk melamun, kesimpulan pun tercapai. Keputusanku sudah bulat.

Solo. Tepatnya di rumah Yana, salah satu sepupuku yang tinggal di sini. Aku dan Arga tiba dari Jakarta dengan penerbangan malam. Ketimbang mencari hotel, aku lebih memilih menginap di rumah kerabatku, untuk menghemat biaya. Ada acara pernikahan yang mesti kami hadiri pagi ini.

Aku keluar dari kamar, dan mencari Arga. Tidak ada. Kutanya pada Yana, rupanya Arga sudah keluar sejak subuh tadi, jogging katanya. Kukirim pesan padanya lewat ponselku.

“Lagi dimana?”
“Pasar Klewer, lagi makan serabi. Kamu nyusul aja.”

Pasar Kelewer letaknya tidak begitu jauh dari rumah Yana, hanya sekitar lima menit dengan berjalan kaki. Setelah berganti kaos, tanpa mandi, aku langsung meluncur keluar menuju pasar itu.

Di antara ramainya suasana pasar di Sabtu pagi, kutemukan Arga yang tampak tenang melahap serabinya. Dia menyodorkan sepiring berisi lima serabi segera setelah aku mengambil tempat di sampingnya.

Hmm, rasa serabi Solo ini masih sama seperti dulu, khas, sedikit berbeda dengan surabi imut yang kucicipi sewaktu mengunjungi Bandung. Keduanya sama-sama enak tentunya.

Setelah melahap 3 potong serabi, barulah kuutarakan maksudku.

“Ga, aku gak jadi dateng ke sana, ke pernikahannya Irfan dan Tari.”

Inilah hal yang sudah menjadi bahan pikiranku selama seminggu terakhir ini, bukan, tepatnya sejak pertama kali undangan itu sampai padaku akhir bulan lalu.

“Oke.” Arga berkomentar singkat.

Pada saat ini, aku mengharapkan Arga melihatku dengan tatapan terkejut dan menanyakan alasanku membatalkan rencana. Tapi dia tampak santai saja, seakan tidak terjadi apa-apa. Hal ini sedikit membuatku kesal. Kupukul bahunya supaya dia menoleh padaku, melupakan serabi-serabi yang sedang dimakannya.

“Nath, sejak awal aku sudah memperkirakan hal seperti ini bakal terjadi. Gak gampang untuk hadir ke acara nikahannya mantan, apalagi kalau dia nikahnya dengan orang yang bikin kalian dulu putus.”

“Lalu kenapa kamu gak ngingetin aku? Daripada kayak gini, kita udah jauh-jauh dateng ke Solo, siap-siap dateng ke sana sebagai pasangan, tapi ujung-ujungnya malah gak jadi. Kamu bisa ngajak aku untuk membatalkan rencana ini sejak awal.”

Sambil tersenyum, dia menjawab, “Nath, kamu kayak ga kenal sifatmu sendiri aja. Kalau aku larang kamu dateng, kamu pasti bakal nolak, dan mati-matian ingin membuktikan kalau kamu gak akan terpengaruh sama mereka, dan tetap datang.”

Arga kemudian melanjutkan, “Kadang, kita mesti menempuh perjalanan yang jauh, untuk mengetahui apa yang sebenarnya kita inginkan. Atau dalam hal ini, yang tidak kita inginkan.”

Aku terdiam dan membenarkan dalam hati semua ucapan Arga barusan. Kusantap lagi serabi-serabi lezat yang masih hangat ini. Padahal bukan hanya aku saja yang mesti bergelut dengan konflik batin ini. Semestinya dia juga.

Irfan dan Tari adalah teman-teman kami semasa kuliah. Irfan memutuskanku karena dia dan Tari, diam-diam menjalin hubungan. Padahal Tari waktu itu masih punya pacar, Arga. Entahlah apa sebenarnya tujuan awalku menghadiri pernikahan mereka. Untuk menunjukkan bahwa kami baik-baik saja, dan bahkan bisa berbahagia setelah bertahun-tahun setelah segala perselisihan itu?

“Lalu sekarang gimana? Masa kita langsung balik ke Jakarta lagi?” tanyaku.

“Ya enggak lah. Masih banyak yang bisa kita lakukan. Kita bisa ke Jogja.”

Jogja, hmm, ide yang bagus.


-end-

530 kata.

*akhirnya nulis yg normal

Saturday, June 16, 2012

[FF Ninelights] Bertaruh Dangdut

Punya pacar yang juga suka bola itu tidak selalu menguntungkan. Apalagi pada saat ajang Euro seperti sekarang. Hampir setiap harinya, kami bertaruh menebak pemenang sebuah pertandingan. Yang kalah, traktir yang menang keesokan harinya. Boleh percaya boleh tidak, persentase kemenangan Nina mencapai 70%. Inilah yang kusebut tidak selalu menguntungkan.

Karena jenuh, Nina mengusulkan hal baru. “Yang kalah mesti nyanyi dangdut.” Padahal tidak ada di antara kami berdua yang menggemari lagu dangdut.

“Deal. Kamu Inggris, aku Swedia.”

Malamnya, selagi pertandingan Inggris vs Swedia berlangsung, kami siaga dengan handphone masing-masing, saling berkomunikasi.

1-0  Inggris unggul.
“Yesss, aku bakal menang!” sahut Nina.
“Masih babak pertama, masih banyak waktu,” balasku.

1-1  Swedia menyamakan kedudukan.
“Tuh kan.”

1-2  Swedia berbalik unggul.
Di depan TV, aku sampai berteriak kegirangan.
“Nin, siap-siap nyanyi dangdut ya, hahaha!”
“Ugh :(”

2-2  Inggris kembali menyamakan kedudukan.
“Yeaah. Ga jadi kalah.”
“Hmm. Btw Nin, kalau hasilnya seri, nanti gimana?”
“Ya apa boleh buat. Kalo biasanya kita makan bayar sendiri-sendiri, kali ini, sepertinya, kalau seri lho, kita mesti nyanyi dangdutnya sama-sama.”
Oh, baiklah. Sepertinya tidak ada masalah. Setidaknya kalau sama-sama, malunya bisa sedikit berku-
GOL!

3-2  Inggris memimpin.
“Horeeeeee!!!” teriak Nina di seberang sana.

Hingga pertandingan berakhir, Inggris tetap keluar sebagai pemenang. Aku pun pasrah, dan mempersiapkan diri.

Jadi, di hadapan teman-teman kami yang juga ikut karaoke malam ini, dengan enggan aku memilih lagu dangdut yang paling kuingat waktu kecil: Ikke Nurjanah – Terlena.

Aku pun mulai menyanyi, sambil memandangi Nina yang tersenyum lebar menahan tawa.

“Masih terngiang di telingaku, bisik cintamu”



Jumlah kata: 248
Footnote:
15 Juni 2012, pertandingan penyisihan grup D Euro 2012, Inggris vs Swedia 3-2


Tulisan ini diikutsertakan untuk Lomba FF Ninelight

Thursday, June 14, 2012

#3 Jingga di Ujung Senja



Seorang wanita berlari kencang menyusuri Jembatan Ampera ini. Seperti hendak mengejar sesuatu yang sangat penting, begitulah menurut pengamatanku. Dan kurasa aku pernah melihat wajahnya. Kulihat lagi laki-laki yang tadi bersamanya, dia terlihat sedikit bingung.

Kuhampiri dia.

“Ada apa, kak? Kenapa wanita itu lari?” tanyaku.

Dia mengangkat bahu. “Entahlah. Dia memberiku nomor teleponnya, tapi aku tidak tahu nomor ini masuk daerah mana.”

“Boleh kulihat?”

Dia menunjukkan secarik kertas yang bertuliskan sederetan angka. 085... Hmm, rasanya aku pernah melihat kode nomor telepon yang seperti ini. Nomor telepon versi lama.

“Sepertinya aku pernah melihat dia, tapi tidak ingat namanya. Kakak tahu?”

“Namanya Karla.”

Karla, Karla... Aku berpikir sejenak.

Ah, nomor itu, lalu Karla. Aku ingat. Tapi jika perkiraanku benar, apa kiranya yang dilakukannya di sini?

*

Keesokan sorenya, masih di tengah-tengah Festival Sriwijaya yang tengah berlangsung, tanpa diduga aku melihatnya lagi. Karla. Dia tampak sibuk mencari-cari seseorang, dugaanku pastilah laki-laki yang kemarin bersamanya.

Aku pun menghampiri dan menyapanya.

“Hai.”

Dia menatapku dengan ragu.

“Kamu mau cari laki-laki yang kemarin kan?”

“Darimana kamu tahu?” tanyanya dengan curiga. Mungkin dia merasa kuatir bahwa aku adalah saingannya dalam mendapatkan laki-laki itu.

“Aku bicara dengannya setelah kamu pergi kemarin.”

Dia makin merasa curiga.

“Apa betul kamu Karla Faradian, putri dari Profesor Faradian itu?”

Dia tersentak kaget. Aku tersenyum dan menjelaskan.

“Kamu dan ayahmu sangat terkenal di masa kami. Kalian adalah orang yang sudah berjasa dalam mengembangkan mesin waktu.”

Perlahan, Karla terlihat lebih tenang.

“Betulkah? Saat ini penelitian kami masih pada tahap awal. Tidak ada orang lain yang mengetahuinya selain aku dan ayahku.”

“Itu karena kalian akan berhasil, dan mesin waktu yang kalian ciptakan akan berkembang semakin canggih.”

“Siapa kamu ini?”

“Aku Tammy. Sama sepertimu, aku juga penjelajah waktu. Aku datang dari masa depan, puluhan tahun setelah masa kalian.”

Karla terhenyak.

*

“Jadi, apa yang ingin kamu lakukan pada Dharma?” tanyaku ke Karla.

Kami sedang berdiri, bersandar di pinggir Jembatan Ampera, sambil memandangi pemandangan karnaval mobil hias yang sedang melintas.

“Kemarin aku memberinya nomor yang salah. Aku malah memberi nomor hape di tahun 2012, dan bukannya nomor teleponku di masa ini, tahun 1991.”

“Lalu? Kamu berharap dia akan menelponmu?”

“Tentu saja.”

“Karla, apa kamu tidak sadar, di masa ini, kamu mungkin masih balita. Ada perbedaan 20 tahun dari masa ini dengan masamu.”

“Ah, sial. Kamu benar, Tammy. Bagaimana mungkin aku bisa melupakan hal penting seperti ini?”

“Jangan kuatir. Kalau kamu memang jatuh cinta padanya, kamu bisa tinggal saja di sini dan tak perlu kembali lagi,” jawabku. “Tapi tentu saja, sebaiknya lakukan itu setelah mesin waktunya berhasil kalian sempurnakan.”

Karla hanya tertawa mendengar saranku. Dia terlihat senang. Aku pun turut senang, karena bisa bertemu dengan sesama penjelajah waktu, apalagi orang yang dimaksud adalah orang yang sangat kukagumi.

“Apa yang kau lakukan di sini, Karla? Di tempat ini dan di masa ini?”

Karla merenung sejenak.

“Ada alasan tertentu. Personal.”

Dia tersenyum dan balik bertanya, “Bagaimana denganmu?”

Aku memandangi matahari yang sedang terbenam di ujung sana. Warnanya yang kemerahan bercampur jingga membuatku merasa damai.

“Ibuku sering mengajakku ke sini, ke jembatan ini, sewaktu aku kecil. Kami akan menunggu senja tiba dan menyaksikannya hingga malam benar-benar menggantikannya. Aku datang ke masa ini untuk mengingat kembali momen berharga itu. Terlebih lagi, ibuku pernah mengatakan tentang festival ini, sesuatu hal yang sebenarnya ingin dia saksikan, tapi di masa kami festival seperti ini sudah tidak diadakan lagi. Jembatan Ampera ini pun sudah lama dirobohkan.”

Dengan hati-hati, Karla bertanya, “Ibumu, apakah dia sudah...”

“Ya, dia sudah pergi sebelum aku sempat membawanya ke masa ini dengan mesin waktu.”

Kami pun hanya diam memandangi pemandangan merah di langit sana, berusaha menikmati setiap detik keindahannya. Karena untuk tujuan inilah, aku jauh-jauh berkelana ke masa ini, untuk menuntaskan keinginan ibuku yang tak sempat terpenuhi. Ibu...

*

“Ah, waktuku hampir habis! Aku harus segera kembali selagi mesin waktuku masih berfungsi.”

“Aku bisa mengantarmu pulang dengan mesin waktu milikku, Karla. Apa kau lupa, mesin waktu kami sudah jauh lebih hebat dari milikku?”

“Betulkah? Artinya, kita tidak perlu buru-buru pulang. Ayo, aku ingin mencari Dharma lagi.”

-end-


* ngelanjutin FF @rayfarahsoraya di chemistryofray

#2 Pagi Kuning Keemasan



Jam di dinding masih menunjukkan pukul 4 pagi ketika aku mendengar suara ketukan pintu. Aku sudah terbiasa bangun pagi, sehingga aku langsung terjaga dan berjalan menuju pintu. Seorang laki-laki berkaos polo berdiri di depan pintu, sambil tersenyum.

Dia mencoba menyapa seramah mungkin. “Permisi Pak, maaf mengganggu pagi-pagi buta begini.”

“Maaf, ada keperluan apa ya?” tanyaku.

“Begini pak, saya baru tiba di Belitung tadi malam, dan jam 9 nanti saya sudah harus berangkat lagi ke Kuala Lumpur.”

Aku menunggu.

“Saya ingin menyaksikan matahari terbit. Dari atas mercusuar ini. Kalau Bapak mengijinkan.”

Aku mempertimbangkan sejenak. Sebagai penjaga mercusuar ini, harusnya aku menjaga peraturan yang menyebutkan bahwa mercusuar baru dibuka setelah jam 8 pagi. Memang tidak jarang ada wisatawan yang ingin menyaksikan sunrise di pulau Lengkuas ini. Menurut mereka, pulau yang sudah seperti surga ini belumlah lengkap tanpa pemandangan terbitnya matahari. Biasanya mereka mendirikan tenda dan bermalam di pantai, bukannya mengetuk pintu mercusuar di pagi buta seperti ini.

Ditambah lagi, ada sesuatu firasat yang kurasakan tentang orang ini. Sesuatu yang mencurigakan.

“Saya bisa membayar tambahan biaya karena sudah merepotkan Bapak.”

Dengan halus aku menolak. “Maaf, saya tidak menerima uang tambahan.”

Aku membuka pintu lebih lebar.

“Silahkan, saya juga akan menemani Anda menyaksikan pemandangan dari atas.”

Laki-laki itu mendelikkan alisnya sedikit, sedikit heran mungkin kenapa akhirnya aku mempersilahkannya masuk. Setelah kunyalakan lampu; agak berbahaya menaiki tangga dalam keadaan gelap; aku memandunya dengan menaiki tangga terlebih dahulu dan memberi isyarat padanya agar mengikutiku.

300 lebih anak tangga, setara dengan 19 lantai, itulah kira-kira gambaran dari mercusuar yang sudah dibangun sejak abad 19 ini. Butuh waktu sekitar 20 menit untuk orang normal untuk mendaki setinggi itu. Untungnya aku sudah terbiasa melakukan olahraga dan aktivitas fisik dulu, sehingga kondisiku tetap fit. Karena itulah, aku berusaha menyembunyikan kekagumanku ketika kami tiba di lantai paling atas, tempat observasi.

Laki-laki itu tidak terlihat lelah, sedangkan aku sedikit terengah-engah setelah perjuangan barusan. Aku bergegas mengambil segelas air dari galon yang disediakan, dan menenggaknya sampai habis.

“Anda mau teh hangat? Saya bisa buatkan sekaligus.”

“Oh, boleh, jika tidak merepotkan.”

“Sama sekali tidak,” jawabku.

Beberapa menit kemudian, kami berdiri memandangi pemandangan di luar, sambil menyesap teh hangat masing-masing.

“Perahu Anda ada di sebelah mana?” tanyaku.

“Di pantai belakang sana. Susah juga mencari pemilik perahu yang mau mendayung di pagi buta ini demi seorang turis asing. Karena itu, saya dan teman saya mendayung sendiri perahu ini kemari.”

“Teman Anda tidak ikut naik ke atas sini?”

“Dia lebih suka menyaksikan dari bawah.”

Sekitar sepuluh menit kemudian, matahari pun muncul, seakan bangun dari tidurnya, bersinar keemasan, yang kemudian menerangi seluruh bagian pulau ini. Membawa cahaya dan kehangatan pada setiap orang yang menunggu saat fajar tiba.

“Beautiful, isn’t it?” kata laki-laki itu.

Aku mengangguk.

“Selama Bapak bekerja di mercusuar ini, pastilah sudah sering mengamati pemandangan indah ini setiap harinya.”

“Pada awal-awal saya bekerja, saya suka menyaksikannya. Kemudian karena sudah terbiasa, saya jadi tidak terlalu antusias lagi. Saya sudah jarang naik ke atas sini dan menunggu matahari terbit.”

“Saya iri dengan Bapak. Pekerjaan kami tidak memungkinkan kami untuk menikmati suasana pagi hari seperti ini sesering yang kami inginkan. Karena itulah, saat langka seperti ini tidak boleh saya lewatkan.”

Dia meletakkan cangkir tehnya di atas pagar balkon mercusuar.

“Kalau saya jadi Bapak, mungkin saya pun akan betah berada di sini, menikmati pemandangan indah surga ini setiap harinya. Bukan begitu, Erlangga?”

Hening. Perlahan kuletakkan cangkir tehku. Beberapa kali kuhirup udara segar.

“Jadi akhirnya kalian berhasil menemukanku. What took you so long?”

Dia tersenyum kecil.

“Actually, they haven’t. Tapi jika saya boleh berkomentar, usaha Anda patut diacungi jempol. Setelah insiden meledaknya fasilitas di Jayawijaya itu, Anda berhasil menghilang selama lebih dari setengah tahun, datang ke pulau ini, dan bekerja sebagai penjaga mercusuar. Bahkan kami pun menemui kesulitan untuk menemukan Anda, Erlangga. Walaupun kami mesti berjuang keras untuk mendahului mereka.”

Aku mencoba bersikap setenang mungkin. “Mereka? Kalian bukan dari CIA atau sejenisnya?”

“Bukan. Kita punya musuh yang sama, Erlangga. Organisasi kami, dan Anda, punya tujuan yang sama. Menghancurkan penelitian berbahaya yang dilakukan mereka. Dan kami tidak berniat menahan Anda. Kami berharap Anda mau bekerja bersama kami, memberikan keahlian yang Anda miliki sebagai ilmuwan genetika untuk membongkar kebusukan mereka.”

Aku tidak menjawab. Informasi ini terlalu banyak untukku.

Sudah setengah jam sejak matahari muncul. Laki-laki itu pun beranjak pergi.

“Seperti yang saya bilang, jam 9 nanti saya mesti pergi ke Kuala Lumpur. Anda bisa memilih untuk ikut dengan kami, Erlangga. Jikapun tidak, saya mesti tetap memberitahu Anda kalau mereka akan tiba di sini tiga hari lagi untuk menangkap Anda. Semoga berhasil.”

Laki-laki itu pun menuruni tangga, meninggalkanku sendiri di atas mercusuar ini. Rumahku selama empat bulan terakhir. Kucoba menikmati lagi sisa-sisa pemandangan fajar yang hampir hilang, yang mungkin tak akan pernah kusaksikan lagi setelahnya.

Damn it.

Tanpa buang waktu, aku pun meloncati anak tangga, berusaha menyusul laki-laki itu sebelum dia berangkat meninggalkan pulau ini.


-end-


* semacam melanjutkan postingan blossomandbatman waktu itu