Featured Post

[Review] Game of Thrones (season 6)

Setelah setahun, GoT kembali di season 6. Sebenarnya gw juga ga begitu nunggu2 sih, karena lagi asik ngikutin serial yg lain (The Flash...

Showing posts with label #15harimenulisdiblog. Show all posts
Showing posts with label #15harimenulisdiblog. Show all posts

Friday, October 14, 2011

i make my own quotes

Daripada aku nyari2 orang terkenal seperti Nietzche buat dapet quote2 yg berhubungan sama hidupku, mending aku bikin quote sendiri aja deh..

Jreng, yg di atas barusan bisa dijadikan sebagai quote lho. But seriously, ini quote2 yg pernah kutulis di twitter, dan biasanya kufavoritin sendiri.


"Don't regret what you've done, unless you think it's wrong. Have some dignity."
Ini menjadi semacam prinsip utama dalam hidupku, seperti halnya slogan blog ini:
"Live your life with pride and dignity, no matter what kind of life that is."


"People can't look perfect all the time, but there are times when we look best."

Awalnya sih ini panduan untuk nyantumin avatar kita. Pilih foto kita yg bagus2 aja, yg jelek2 jgn dipake sebagai avatar. Tapi lebih dalam, ini untuk mengingatkan bahwa penampilan dan wajah seseorang bukanlah segalanya, meskipun biasanya darisanalah kita tertarik dengan seseorang.


"Dear love, I don't expect you exist for me, and I don't intend to look for you. But if you think I'm wrong, then come and find me."
*bukan penggalauan, tapi sikap*

"Because trying will lead to expectation, and expectation will lead to disappointment."

Lengkapnya mungkin bisa ditambahin di depannya: "Stop trying so hard."

Yang ini mungkin ga cocok diterapkan ke orang lain, tapi buatku cocok. Ini khusus diterapkan untuk masalah, ehem, cinta. Jangan berusaha terlalu keras, ga usah maksa-maksain, karena nanti ujung2nya akan punya harapan berlebih, dan harapan berlebih seringkali akan berakhir dengan kekecewaan yang besar pula. Kalo bisa sih, sejak awal, hilangkan aja ekspektasi atau keinginannya, biar hidup lebih damai dan tenang.
Tapi tentu saja, kemungkinan besar, yg seperti ini ga cocok diterapkan ke orang-orang.



Terakhir, kalimat singkat ini,
"I know."

Pernahkah kita ngasihtau orang sesuatu, trus dia merespons dengan "I know."? Tentunya rasanya beda2 tergantung dari bagaimana ekspresi orang tsb waktu bilang "I know". Inget memorable quote dari Star Wars, waktu Leia bilang ke Han Solo, "I love you." si Han jawabnya "I know." Cool banget kan?




PS: Have you notice, that I always use the phrase "I know" in each post in this series of #15harimenulisdiblog, from #3 to #15?

Thursday, October 13, 2011

janji

Pembicaraan sewaktu makan siang, beberapa tahun yang lalu

"Eh, bikin janji yuk, 10 tahun dari sekarang, kalo kita berdua masih single, kita nikah aja ya, daripada seumur hidup ga laku-laku. Gimana?"
"Haaaah... Janji macam apa ini? Aku kan ga berminat menikah."
"Tapi aku mau, jadi kalo nanti aku belom dapet2, kamu yang tanggung jawab ya?"
"Oke, fine."

Dan kami pun berjabat tangan untuk meresmikan perjanjian itu.

Sejak kenal kamu sewaktu aku mulai kuliah, dengan segera kita menjadi teman baik. Lucu sebenarnya, karena pertemuan kita terjadi karena pacarmu waktu itu adalah kakak dari pacarku. Jadi waktu itu, kita itu semacam saudara ipar.

Pembicaraan sewaktu makan siang tadi terjadi hampir setahun setelahnya, sewaktu kita berdua sama-sama single, putus dari pacar-pacar kita yang kakak beradik itu. Tapi kita sudah telanjur menganggap masing-masing sebagai saudara, sehingga pacaran di antara kita itu haram hukumnya.

Setelah itu, kamu beberapa kali pacaran dengan orang lain. Sementara aku juga sempat beberapa kali melakukan pendekatan, tapi tidak ada yang benar-benar berhasil. Kita sudah jarang bertemu, tapi kita tetap sering ngobrol lewat telpon atau chat lewat ym.

Lima tahun setelah kita membuat perjanjian, toh kita bertemu lagi, dalam keadaan single. Kita sama-sama menertawakan keadaan masing-masing.

"Ah, toh masih ada lima tahun lagi untuk berusaha."
"Iya, setelah itu aku yang mesti terperangkap sama kamu."

Sempat-sempatnya kita menertawakan hal itu.

Butuh waktu setahun setelahnya bagiku untuk memastikan hal itu. Bahwa aku mencintaimu. Itu sebabnya semua pendekatanku ke cewek-cewek lain tidak ada yang berhasil, karena aku tidak pernah benar-benar bisa mencintai mereka tanpa bayang-bayangmu di pikiranku.

Aku pun tahu sejak setahun lalu, kamu hanya sekali berpacaran, dan sekarang sudah putus lagi. Mestinya ini kesempatanku untuk menyatakan perasaanku padamu. Tapi aku ingat tentang perjanjian kita. Artinya, 4 tahun lagi, jika kita masih single, kita toh akan menikah. Aku menahan diri.


....or at least I tried. Tiga hari setelahnya, aku mendatangimu. Aku terlalu tegang hingga tak sempat berbasa-basi.

"I know it hasn't been 10 years, but... I love you."
Anehnya kamu tidak kaget.
"Do you have any idea how long I've been waiting for you to say that?"
Aku tak bisa berkata apa-apa.

Rupanya sejak kita membuat perjanjian itu, sebenarnya kamu sudah merasakan sesuatu padaku, tapi, seperti itulah caramu menyampaikannya. Membuat perjanjian itu untuk menutupinya. Itu sebabnya semua hubunganmu selalu berakhir. Dan diam-diam, kamu pun menunggu 10 tahun itu tiba, seraya mengharapkanku datang lebih awal.

"I was such a fool."
"Not anymore."

Kami pun berciuman.





*dongeng ini, completely fictional. Semoga bisa menyenangkan pembaca. Pesan moral: buatlah janji seperti itu dengan orang yang kamu sukai. Siapa tahu manjur.*




"Now what? We still have four years to get married."
"Will you wait that long?"
"No."
"Yeah, I thought so."


Wednesday, October 12, 2011

rumah terkutuk

Rumah itu rumah biasa yang memiliki 2 lantai, terletak di sebuah gang, di antara rumah-rumah lainnya. Keluarga yang menghuninya terdiri dari sepasang suami istri dan anak mereka yang berumur 8 tahun. Dari sinilah cerita dimulai.

Suasana rumah yang tadinya datar-datar saja, berubah drastis pada suatu malam. Sang suami menemukan buku harian istrinya, membacanya, dan mengetahui bahwa istrinya mencintai orang lain. Dibakar rasa cemburu yang berlebih, sang suami murka. Ketika istrinya pulang, tanpa ampun, dia memukulinya, dan dalam puncak amarahnya, sang istri pun tewas. Belum puas, sang suami juga menenggelamkan anaknya di bak mandi. Kemudian dia pergi, membawa mayat istrinya dalam bungkusan plastik.

Rumah itu pun tak berpenghuni lagi.

Setelah sekitar 2 tahun, pengelola bangunan kemudian berhasil merapikan rumah itu, dan menjualnya ke keluarga lain. Penghuni kali ini juga keluarga biasa, dengan satu anak remaja. Lima bulan setelah mereka tinggal, mereka semua hilang. Penyebabnya adalah anak kecil yang mengeong seperti kucing, dan wanita berambut panjang berbaju putih yang merangkak turun melewati tangga. Mereka adalah anak dan istri yang 2 tahun lalu dibunuh oleh si suami. Mereka adalah penghuni rumah itu sebelumnya.

Tahun demi tahun berganti. Beberapa kali rumah itu mendapat penghuni baru. Kesemuanya selalu mengalami nasib yang sama. Beberapa bulan setelah mereka menempati rumah itu, mereka tewas, atau menghilang. Kutukan rumah itu terus berlangsung.

Akhirnya suatu saat, setelah berpuluh orang menjadi korban kutukan rumah itu, seseorang mampu berpikir logis. Dia menghubungi kepolisian, dan memberikan usul.
"I know how to end the curse. We have to burn that house."
Dia berhasil. Rumah itu pun dibakar sampai habis.
Dan berakhirlah riwayat rumah itu.




*berdasarkan film Ju-On.





Beberapa minggu setelah rumah itu musnah, beberapa orang mengaku melihat hantu wanita berambut panjang itu (dan anaknya), di beberapa tempat di daerah itu. Kutukan belum berakhir.

Tuesday, October 11, 2011

thank you

Dua tahun kita bersama, kamu sudah memberiku banyak kenangan indah
Dua tahun kita bersama, kamu mengajariku bagaimana cara mencintai seseorang
Dua tahun kita bersama, kamu membuatku menjadi manusia yang lebih baik

Thank you, thank you so much.

Kemudian kamu mengajakku menemui orangtuamu
Kamu ingin aku menikahimu
Saat itulah baru aku tersadar,
aku terlalu jauh masuk ke dalam hatimu
Aku menolak permintaanmu
Aku tidak bisa menikah denganmu

-Why not?
It's not gonna work. I know it. I'm not gonna be a good husband for you.
-Yes you will.
No, I won't. You deserve someone better.

Dan dengan berat hati, kita pun berpisah.
Kita tak pernah bertemu lagi sesudahnya
Meskipun sesekali aku mengawasimu dari kejauhan
Hingga aku yakin bahwa kamu baik-baik saja tanpaku


I'm sorry dear, and thank you... for everything.
I will always love you.












Setelah dua minggu menenangkan diri, kutelpon sebuah nomor yang sudah lama tak kuhubungi.

- Who is this?
This is No. 19, sir.
- Nineteen? I thought you're retired.
I've decided to return. Any assignment?
- Of course. How long can you get here?
Immediately, sir.

Kubuka lemari pakaian, dan kuambil pistol yang tersembunyi di sela-sela pakaian.
Masih berfungsi.

Damn, I miss killing people.

Monday, October 10, 2011

kamu dan aku, di tengah hujan

Waktu kamu bilang ingin hujan-hujanan, aku pun menyanggupi. Sore itu sebelum pulang, kita duduk di kantin, memandangi langit yang mendung, menunggu hujan turun. Sementara orang-orang justru bergegas pulang sebelum hujan itu tiba.

Kamu dan aku, duduk berdampingan, berbagi earphone untuk mendengarkan lagu dari iPodmu. Kamu yang sebelah kiri, aku sebelah kanan.

Kemudian, aku pun merasakannya.
"It's coming. Three minutes from now."
"Wow, how did you know that?"
"I can hear it, I can feel it. I know when it's coming."
"That's quite amazing."
"I don't know. It just feels natural to me."

Kamu dan aku, masih duduk berdampingan, iPod sudah dimatikan, dan kita berkonsentrasi menunggu saat itu tiba. Samar-samar terdengar suara gemuruh dari kejauhan. Seiring suaranya yang semakin keras, butir-butir hujan pun berjatuhan dengan derasnya. Aku pun berdiri, menarik tanganmu dan membawamu pergi menyambut guyuran hujan di depan sana.

Kamu dan aku, kita berlari di tengah hujan yang deras itu.
Dan ketika kita lelah, kita pun berjalan saja,
masih di tengah hujan, bergandengan tangan.
Kita tersenyum dan tertawa seperti anak kecil.
Kita tak mempedulikan sekujur badan dan pakaian yang basah kuyup.
Biarlah, biar kita menikmati hujan ini selagi kita bisa

Kamu dan aku, kita bernyanyi di tengah hujan

Aku selalu bahagia saat hujan turun
karena aku dapat mengenangmu untukku sendiri
Aku bisa tersenyum sepanjang hari
karena hujan pernah menahanmu disini untukku


(Utopia - Hujan)




Besoknya, kamu terkena demam dan harus beristirahat di rumah. Aku yang sudah terbiasa dengan hujan, tidak kenapa-napa.

Sunday, October 09, 2011

dariku untuknya

Ulang tahunnya akan jatuh hari Minggu nanti, 3 hari dari sekarang. Dan aku sudah menyiapkan hadiah untuknya. Dua pasang sepatu, dikemas dalam sebuah kotak yang dibungkus kertas kado yang manis. Hadiah yang kucari sesorean tadi bersama dua orang teman. Setelah membeli sepatu pertama, aku melihat ada sepatu bagus di toko lain. Daripada nanti kecewa karena melewatkan kesempatan itu, aku beli juga sepatu yang kedua itu sekalian. Sepatu-sepatu ini tidaklah mahal, harganya di bawah 50 ribu, karena aku tidak mau memberikan sesuatu yang terlalu mahal sehingga nantinya dia merasa bersalah.

Pada waktu kembali ke unit malam harinya, kutitipkan kado yg sudah terbungkus rapi itu ke temanku yang tadi ikut membantu mencari. Karena aku tahu, dia masih ada disana. Aku tidak mau dia memergokiku membawa bungkusan kado besar, dan bertanya, "Itu apa?" Jangan. Ketika dia sudah pulang, barulah kado itu kuambil dari temanku dan kusimpan di lokerku.

Di hari minggu siang, di ulang tahunnya itu, siangnya aku datang lagi ke kampus, ke unit, untuk menyelesaikan urusan ini. Tentunya aku juga sudah mengirim sms dan menelponnya tadi malam, beberapa menit setelah jam 12 malam untuk mengucapkan selamat ulang tahun. Kuselipkan di kado untuknya, amplop berisi tulisan testimonial dariku untuknya, kemudian di luarnya kutulis buat (namanya). Kado itu kutinggalkan di lokerku, kukunci, tapi kuncinya kubiarkan berada di sana, supaya dia bisa langsung membukanya.

Langkah penutup, kukirim email padanya, isinya singkat.
"buka loker gw di unit. just take it."
Kemudian di forum, di thread selamat ulang tahun untuknya, kutulis pesan juga, dibalik spoiler tag, 
"cek email."

Dan aku sudah menggunakan berbagai macam fasilitas untuk menyampaikan pesan padanya, mulai dari sms, telpon, penggunaan loker, email, dan forum juga. Aku tersenyum membayangkannya.



Beberapa hari yang lalu, padahal batin ini berdebat.
Why do you have to make all this trouble to give her a present? She didn't give you anything last week, and it's your birthday.
- I know she didn't give me anything. But it doesn't matter. This might be my only chance to give her a birthday present. I might not see her again next year. So I'm gonna do it now.



Sure enough, that was the only time I gave her a birthday present. I didn't regret it, and it still remain as one of my favorite memories with her.






Besoknya, di hari Senin, kuperiksa lokerku. Kosong. Dia sudah mengambilnya. Aku tersenyum.

Saturday, October 08, 2011

jendela itu pun tertutup rapat

Lima tahun yang lalu, jendela yang tadinya tertutup itu, perlahan membuka
Minggu demi minggu, jendela itu semakin terbuka lebar
Sampai akhirnya jendela itu terbuka sepenuhnya
Membuat segala sesuatu dengan leluasa hilir mudik menyeberanginya

Setelah beberapa bulan, jendela itu perlahan mulai menutup
Dan tidak butuh waktu lama, hingga jendela itu hanya terbuka sedikit saja
Sampai akhirnya suatu saat, jendela itu pun tertutup rapat
Tidak ada yang bisa masuk dan keluar

Jendela itu masih tertutup hingga sekarang
Tidak hanya tertutup, jendela itu juga dipalang dengan kayu
sehingga tidak memungkinkan untuk dibuka kembali





I'm not sure the window will open again, but I know it would take some divine intervention to make it happen.





Beberapa tahun kemudian, cuaca sedemikian buruknya
Petir menyambar-nyambar, berusaha menghancurkan penghalang di jendela itu
Gagal.

Friday, October 07, 2011

untunglah pesan itu belum sampai padanya

Sewaktu kuliah dulu, aku sempat melakukan satu kesalahan fatal: jatuh cinta dengan pacar teman sendiri. Keduanya padahal teman baikku, dan seringkali kita pergi bersama-sama, berempat, dengan seorang teman lagi. Waktu itu pengalaman cintaku masih kurang, dan pengendalian emosi masih belum ada sama sekali. Jadinya aku kerap tersiksa, karena perasaan cemburu yg tidak pada tempatnya.

Dan pernah hal itu mencapai puncaknya. Aku ga inget persisnya gimana, tapi Rani (nama samarannya) kayaknya nyuekin aku dari pagi. Aku sapa ga dibales, dan tampangnya bosen gitu. Aku jadi agak kesel, dan ditambah lagi dengan sifatku yg agak parah, yg menganggap sesuatu terlalu serius, atau mungkin juga karena sudah beberapa hari aku merasa dicuekin sama dia, kemarahan sampai pada puncaknya.

Kutulis di sebuah kertas dengan huruf kapital:
WE'RE NO LONGER FRIENDS. I DON'T WANT TO TALK TO YOU EVER AGAIN.
Kertas itu kemudian kulipat2, lalu aku temui temenku yg satu lagi, Dimas (juga nama samarannya) yang kosannya deket sama kosan Rani. Kubilang ke dia
"Dim, nitip ini dong, kasihin ke Rani, jangan dibaca ya."
"Oh, oke"
Dia ga nanya macem-macem.

Aku nitipin pesan lewat Dimas itu siang2. Sekitar jam 3, aku sms Dimas, nanyain udah dikasih apa belom pesannya. Dia bilang belom sempet ke kosannya Rani, ntar katanya, mau nyuci dulu. Yaudah. Kemudian sesorean itu aku tenggelam memikirkan kemungkinan2 yang akan terjadi setelah pesan itu dibaca sama Rani. Memperkirakan reaksinya, dan menyiapkan respon apa yg mesti kulakukan kalo itu terjadi.

Dan sore pun tiba, waktunya berbuka (waktu itu lagi bulan Ramadhan). Aku masih di kampus, nunggu jatah makanan buka gratis yg suka ada di kampus. Pas mau pulang, masih di sekitar kampus, tanpa disangka, aku ketemu mereka, Rani dan pacarnya yg juga temenku. Dia keliatan lagi seneng, dan moodnya bagus banget.

"Hei, ikut yuk."
Dan dia nyapa, ngajakin makan bareng.
Now, I know I already told myself that I would never speak to her again, but I just can't resist it, not after she gave me a nice greeting.
"Engga, gw mau pulang aja."

Dan mereka pun berlalu, sementara aku masih disana, berjalan dengan gontai, dan batin pun bergejolak.
Dasar bodoh. WHAT WERE YOU THINKING?! Masa aku mau ngorbanin persahabatanku dengan mereka hanya karena prasangka2 tolol yg belum terbukti benar?

Untung aku masih bisa berpikir cepat. Kutelpon Dimas, nanyain lagi udah dikasih belom kertas berisi pesan tadi siang,
"Belom, ini gw bentar lagi mau ke tempat dia."
"Jangan, Dim. Batalin. Buang aja kertasnya, apa robek2 gitu."
"Lho emangnya kenapa?"
"Lu baca aja sendiri kalo mau, pokoknya jangan kasih ke dia ya..."

Setelah itu aku pun lega, untunglah pesan itu belum sampai padanya. Aku terselamatkan.

Kami tetap berteman dekat selama setahun kedepan, sebelum akhirnya masing-masing punya kesibukan lain, dan terpisah.

*kali ini dengan berat hati mesti saya jelaskan kalo ini bukan fiktif.

Sometimes I wonder. I never spoke about my feelings to her, but does she ever know that I was once in love with her? Somehow I think she knew, or at least consider that possibility. Bukankah ada yg pernah bilang: cewek pasti tau kalo ada cowok yg suka padanya. Entahlah.

Thursday, October 06, 2011

sini aku ajarin

Beberapa hari yang lalu, sekali-kalinya aku dapet kesempatan untuk main ke rumahnya Dian, temen kuliah. Ngerjain tugas kelompok. Bertiga sebenarnya, tapi temen kita yg satu lagi pergi duluan karena ada urusan, jadilah tinggal kita berdua saja di rumahnya. Tugasnya akhirnya selesai, jam setengah 2.

Eh Gus, makan yuk. Udah laper kan?
-Banget.
Yuk, ke kantin deket sini.
-Lho emangnya di sini ga ada makanan?
Cuma nasi, ga ada lauknya.
-Tapi di kulkas tadi ada telor.
Iya, tapi ga ada yg masak. Pembantu lagi mudik.
-Kamu aja gitu ga bisa?
Aku.... aku.... ga bisa.
-Ga bisa apa?
Masak.
-Tapi cuma telor lho...
Iya, ga bisa.
Aku melongo.
-Masa sih kamu ga bisa masak? Sama sekali?
Aku ga pernah nyentuh dapur sama sekali.
Aku melongo lagi.
-Ini tidak bisa dibiarkan. Dian, kamu cewek, sudah 21 tahun. Mau jadi apa kamu kalo ga bisa masak?
Dian menunduk.
-Sudah, sudah. Sini aku ajarin cara bikin telor yang gampang.
Kamu bisa masak?
-Bisa dong. Sebagai orang yang mempersiapkan diri untuk tidak menikah, memasak itu salah satu skill dasar yang mesti dimiliki.
Wow, bisa masak apa aja?
-Yah, standar banget sih. Masak mie, telor, telor campur mie, dan nasi goreng.
Eh itu udah lumayan sih.
-I know. Tapi kita kembali ke inti masalah. Ayo ke dapur!

Dan selama setengah jam berikutnya, aku mengajari dia cara bikin telor dadar. Jadi, aku sekalian praktek, dan dia nyontoh aku. Mulai dari ambil mangkok, ambil telor, pecahin telornya. *Dia panik karena telornya langsung pecah berantakan. 3 telor pecah sia-sia sebelum akhirnya dia bisa mecahin telor yang ke-4 dengan sempurna.*

Trus ambil bawang merah, ambil pisau, ambil tatakan, dan mulai ngiris bawang. *Dia mencoba mengikuti, tapi karena tampaknya dia bakal ngiris jarinya sendiri, tugas ngiris bawangnya aku ambil alih sekalian.*
Kemudian campurin irisan bawang merahnya ama adonan telor, trus diaduk2 pake sendok. *Yang ini keliatannya dia ga ada masalah*

Sampai waktu menggoreng pun aku terus pantau dan bimbing dia biar hasilnya bagus.



Kami pun duduk di meja, berhadapan, dengan sepiring nasi dan telor dadar hasil masakan kami, plus saos yang diratain ke telurnya.

-Sudah siap, mencoba masakanmu sendiri untuk yg pertama kalinya?
Siap.

Dan sewaktu dia menelan suapan pertama, kulihat wajahnya berbinar ceria. Aku ikut tersenyum senang. Kami berhasil. It's a start.





*ah maaf, sepertinya saya harus mengklarifikasi terlebih dahulu kalo cerita ini fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama, yakinlah, saya memang sengaja menggunakan nama Dian untuk tokoh ini. Sungkem sama @harigelita dan @DianOnno karena sudah make nama Dian*







epilog.
-Sepertinya kita perlu sering-sering masak bareng seperti ini lagi deh. Biar kamu bisa masak. Dan aku juga mau belajar masak yg laen-laen sih, jadi biar kita sama-sama belajar. Menurut kamu gimana?
Ehm, boleh.
katanya sambil tersenyum malu. :))

Wednesday, October 05, 2011

Anak itu.

1993

Anak itu duduk di sebuah ayunan sendirian.
Umurnya baru 7 tahun. Sejam sudah berlalu sejak waktu pulang sekolah, tapi dia tidak pulang ke rumahnya.

Dia datang ke sebuah TK tempatnya dulu, yang letaknya agak jauh dari sekolahnya.
Dia datang ke sana, bukan karena tempat itu memberinya banyak kenangan menyenangkan. Dia datang ke sana karena saat itu tidak ada orang di sana.

Anak itu duduk di sebuah ayunan sendirian.
Tangannya menggenggam sebongkah kecil batu. Dia menggenggamnya erat-erat.
Anak itu lapar. Tapi dia belum mau pulang. Dia masih ingin berada di sana.

Anak itu masih duduk di sebuah ayunan di TK itu.
Dia memandangi kumpulan awan di atas sana, yang untuk sementara menutupi matahari, yang membuatnya mampu memandangi langit saat ini.

Dia tidak mengerti. Dia kesal. Dia marah. Dan dia menangis.

Dia tidak mengerti kenapa dunia begitu jahat padanya. Dia tidak mengerti kenapa orang-orang yang disebutnya teman sering mengejeknya. Dia tidak mengerti kenapa mereka jahat padanya.

Anak itu sudah tidak menangis. Tapi dia masih tidak mengerti. Dan dia masih kesal dan marah.

Kemudian semilir angin yang berhembus membuatnya merasa nyaman. Sejuk.

Dia memejamkan mata. Dan tertidur.

......................................................




"I know that everything must have been difficult for you right now, but have a faith. You're gonna survive this. You're gonna be fine."

Anak itu tidak mengerti sedikitpun apa yang dikatakan orang ini. Dia juga tidak pernah melihat orang ini sebelumnya. Dia hanya memandanginya tanpa berkata apa-apa.





.......................................................

Anak itu terbangun.

Dia masih duduk di sebuah ayunan di TK itu.
Tangannya sudah tidak lagi menggenggam bongkahan batu.
Dia masih sendirian di sana. Dia masih lapar.

Tapi dia sudah tidak kesal. Dia sudah tidak marah.

Hari sudah sore.
Dia harus segera pulang.
Ibunya pasti sudah menunggunya di rumah.

Tuesday, October 04, 2011

not completely gone

Selasa, malam
- We should definitely meet!
Agree. Kapan ya?
- Hmm, nanti ya aku cari waktu yg tepat. Kukabari besok.
Oke :))
Rabu
Dia belum muncul dan ngasihtau kapan mau ketemuan.
Cek profilnya. Last update kemaren.

Kamis
Masih belum ada.
Cek profilnya lagi. Last update hari Selasa.
Hmm, kemana ya orangnya? Aku mulai kuatir.

Jumat, malam
- Haiiii
Kamuu, kok ngilang sih?
- Aduh maaf, kemaren2 ada masalah, ga sempet online bahkan.
Jadi, kapan kita bisa ketemu?
- Yeah, ummm, about that... I'm afraid that it would be very difficult for you to see me. I'm leaving this town. In fact, I already am.
Yah, kok mendadak?
- Begitulah. Tapi jangan kuatir, kita masih bisa terus kontak seperti sekarang kok.
:(( Sedih ga bisa ketemu kamu
- Cup cup. Tanpa ketemu pun, aku tahu kamu cantik :)
Ah :)

Oke, maybe I can't see him, but he's still with me. That would be enough.







*seandainya bagian ini sudah cukup, mungkin kita tidak perlu berpikir macam-macam ya? Karena...

Jumat sore, beberapa jam sebelumnya...

Si gadis berjalan menyusuri pepohonan menuju rumahnya, sambil bersenandung kecil. Tentunya dia tak sadar, bahwa, 500 meter darinya, seorang laki-laki memperhatikannya.
"Cantik. You are... so pretty," batinnya. Dia tersenyum.




*apakah ini sebuah twist? mungkin. tapi... harap bersabar dulu. Kita mundur lagi beberapa hari sebelumnya.

Selasa, malam.

Ide bahwa sebentar lagi dia akan dapat bertemu dengan gadis yang disukainya, membuatnya senang bukan kepalang. Dia pun pulang mengendarai motornya dengan bahagia. Terlalu bahagia mungkin, karena di tikungan yang tajam itu, dia tidak sempat memperhatikan truk yang melaju, agak lambat sebenarnya. Tapi impact dari tubrukan motornya ketika menghantam truk itu, sudah cukup untuk mengantarnya ke alam lain. Dia tewas seketika.


*ah, I know.

Monday, October 03, 2011

Abaikan yang Lain

@abaikan_01 blablabla
@selebtwit_01 blablabla
@abaikan_02 blablabla
@abaikan_01 blablabla
@dia mimpi semalem kok indah banget ya :)
@abaikan_03 blablabla
@abaikan_02 blablabla
@selebtwit_02 blablabla
@selebtwit_01 blablabla
@aku @dia oya? memangnya ada aku di mimpimu ya? #eaaaa
@abaikan_04 blablabla
@selebtwit_03 blablabla
@abaikan_01 blablabla
@dia @aku ah, kamu tau aja :)
@abaikan_03 blablabla
@selebtwit_02 blablabla
@abaikan_04 blablabla
@selebtwit_03 blablabla
@aku @dia cerita dong, kayak gimana mimpinya :3
@selebtwit_04 blablabla
@selebtwit_01 blablabla
@abaikan_02 blablabla
@abaikan_03 blablabla

Akuilah, suatu saat, pasti kita pernah mengalami yg seperti ini. When you really like someone, nothing else seems matters on your timeline. Only him/her. I know.

~aku, salah satu nama terabaikan di timelinemu.

Sunday, October 02, 2011

skenario alternatif minggu lalu

Halo... Nisa ya?
Iya.
Wah, aku tadi ga yakin ini kamu. Kamu kan ga termasuk klub ini ya?
Memang engga sih. Aku cuma numpang nongkrong di sini, hehe.
Oh. Em, aku sebenarnya lagi nunggu temen sih. Boleh numpang duduk disini ga?
Loh aku kan juga numpang disini. Silahkan aja.

dan aku pun duduk di kursi sebelahnya.

Kamu... tidak segila yang kubayangkan.
Tau darimana?
Buktinya kamu bisa bersikap normal kalo sepi begini.
Maksudku, tau darimana kalo aku gila?
Aku sering baca tulisan kamu.
Oya, menurutmu gimana?
Menurutku, kamu itu, meskipun gila, dan pervert, tapi pinter minta ampun dan berbakat pula.
Ah, cuma bagian gila dan pervert doang yang bener kali, hahaha
Nggak, aku udah pernah baca waktu itu, waktu kamu ngomongin teori Heisenberg. Juga istilah-istilah yang kamu pake sewaktu kamu lagi gila-gilaan.
Ah, kamu terlalu muji.
Mungkin. Ngomong-ngomong, di bawah tadi ada piano lho nganggur. Kamu mau maen gak?
Emangnya boleh ya?
Gapapa, biar aku yang urus nanti.
Oke.

Percakapan semifiktif, yang kuharapkan terjadi minggu lalu.

Eh bentar, kamu belum nyebutin nama kamu.
I know. Nanti ya..

yg barusan epilog.