Featured Post

[Review] Game of Thrones (season 6)

Setelah setahun, GoT kembali di season 6. Sebenarnya gw juga ga begitu nunggu2 sih, karena lagi asik ngikutin serial yg lain (The Flash...

Showing posts with label #14. Show all posts
Showing posts with label #14. Show all posts

Wednesday, January 25, 2012

Ini Bukan Judul Terakhir

Ini hari pertama aku magang di kantor ini. Seperti yang biasanya terjadi, di awal kedatanganku, supervisor-ku memperkenalkanku ke orang-orang yang bekerja di ruangan yang sama denganku. Dan seperti biasanya juga, aku tidak pernah ingat nama-nama mereka, karena terlalu banyak orang yang berjabat tangan waktu itu. Ah, sudahlah, pokoknya aku mau bekerja sebaik-baiknya aja, biar makin menambah pengalaman.

Menjelang siang, ketika mataku masih sibuk memandangi monitor, tiba-tiba seorang cowok nongol di depan kubikelku.

“Halo, anak baru ya? Kenalan, dong. Namaku Joni.“ cerocos mas ganteng itu.

“Aku Vio. Salam kenal, Mas Joni.” jawabku sambil bersalaman dengannya.

“Udah mau jam istirahat nih, Vio. Kamu ga makan siang?”

“Sebentar lagi, Mas Joni.”

“Sudah, makan bareng aku aja ya, kamu kan belum tau kantin di tempat ini. Biar kukasihtau makanan apa aja yang enak dan murah.”

Entah kenapa aku mengiyakan. Mungkin karena sudah lama tak ada laki-laki yang dekat denganku, makanya begitu ada satu yang muncul, aku langsung merasa senang.

Mas Joni ternyata orangnya ramah, dan lucu. Dia sepertinya punya banyak stok cerita lucu yang tak henti-hentinya membuatku tertawa. Setelah makan siang itu, aku pun add akun YM dia, dan sisa hari itu malah kuhabiskan untuk chatting dengan Mas Joni.

Besok-besoknya pun kami jadi rutin makan siang bareng di kantin kantor. Aku dan Mas Joni makin deket aja, dan kayaknya aku pun jadi suka sama dia. Akhirnya kami janjian hari Jumat besok setelah pulang kantor untuk nonton di 21 berdua terus lanjut makan malam. Hatiku pun berbunga-bunga beberapa hari terakhir ini.

Hari Kamis siang, setelah makan siang, aku dan Mas Joni kembali ke kubikel kami masing-masing, karena dia sebenarnya masuk di departemen lain dan beda ruangan denganku. Tak berapa lama, orang di kubikel sebelah menyapaku.

“Hai, kamu Vio ya, yang baru magang di sini? Kenalkan, namaku Tasya.” sapa kakak cantik berjilbab itu.

“Salam kenal, Mbak Tasya. Kok baru keliatan hari ini?”

“Iya, kemaren-kemaren aku masih cuti honeymoon. Ngomong-ngomong, kulihat kamu deket sama Joni ya?” tanyanya dengan ramah.

Aku tersipu malu. “Iya mbak. Mas Joni tuh emang orangnya baik dan lucu ya.”

Ekspresi wajah Mbak Tasya berubah menjadi serius.

“Vio, aku mau kasih tau aja ya. Joni itu sudah terkenal di kantor ini sebagai penakluk anak magang unyu, seperti kamu ini. Hampir setiap ada anak magang baru di sini, dia akan coba deketin. Lalu kalo masa magangnya sudah selesai, ya biasanya udah selesai aja.”

Aku menatap Mbak Tasya lama.

“Aku bukannya jelekin Joni ya, tapi aku sebenernya kasian ama dia. Setiap anak baru dia deketin, tapi entah apakah ada yang bener-bener dia cinta atau enggak.”

Perasaanku pun campur aduk mendengar cerita Mbak Tasya. Padahal aku baru mulai suka dengan Mas Joni, setelah sekian lama tak merasakan yang seperti ini pada laki-laki lain. Ga taunya, dia sama aja dengan yang lain, playboy! Aku pun jadi kesel sendiri. Sejak itu aku pun memutuskan kontak dengan Mas Joni. Ajakan chattingnya lewat YM kucuekin.

Ketika Jumat sore Mas Joni datang ke kubikelku untuk menepati janji nontonnya, kubilang padanya dengan tegas.

“Mas Joni, aku udah denger cerita tentang Mas. Ternyata Mas Joni cuma seorang playboy yang deketin semua anak baru yang magang di sini kan? Maaf Mas, aku ga berminat jadi koleksi piala Mas Joni. Mendingan cari orang lain aja, dan jangan coba-coba deketin aku lagi! Aku ga sudi!”

Mas Joni sampai terbengong mendengar kemarahanku. Orang-orang di ruangan juga beberapa ada yang menengok ke arah kami, tapi aku tak mempedulikannya dan langsung bergegas pulang.

Mas Joni, ternyata kamu ga lebih baik dari laki-laki lain. Ga lebih baik dari mantanku yang brengsek itu, yang kudapati selingkuh dengan cewek lain. Pedih hati ini.

~

Hari Senin paginya, begitu aku sampai di kubikelku, Mas Joni datang, bersama dengan setangkai bunga mawar.

“Ada apa lagi, Mas Joni?” sahutku dengan ketus.

“Vio, aku minta maaf kalo citraku ga terlalu bagus buatmu. Memang, selama ini aku selalu berusaha deketin anak baru untuk menjaga citraku itu. Tapi aku sudah capek dengan itu semua. Aku mau berusaha menghapus imej itu. Aku beneran suka sama kamu.”

Mas Joni pun pergi setelah menaruh mawar itu di mejaku.

“Hmm, ga biasanya Joni bersikap seperti ini. Apa dia sudah berubah ya?” bahkan Mbak Tasya pun berkomentar dari sebelahku.

Aku ngeliatin mawar itu. Cuma setangkai. Tapi buat apa banyak-banyak kan? Justru yang setangkai ini mungkin menandakan kalau dia hanya mau fokus ke satu orang. Aku malah jadi melamun seharian. Hubunganku dengan Mas Joni praktis berakhir hari Kamis kemaren, tapi... apa mesti berakhir begini saja? Kalau diibaratkan buku, apakah kisahku dan Mas Joni sudah langsung memasuki bab terakhir, atau...

Tidak. Masih terlalu cepat. Aku baru kenal Mas Joni seminggu. Kalau memang nanti terbukti dia bertingkah seperti playboy, aku bisa berhenti di sana. Ini bukan bab yang terakhir. Masih ada judul baru di bab berikutnya.

Sorenya aku mendatangi meja Mas Joni, yang cukup kaget melihatku datang.

“Mas Joni, aku ga mau terburu-buru memutuskan, makanya aku mau kenal Mas Joni lebih dekat lagi. Ajakan nonton dan makan malam yang kemaren masih berlaku kan, Mas Joni?”

Kulihat Mas Joni pun tersenyum.

“Tentu aja masih, Vio.”

-END-


===============
author's note:
Ini kelanjutan dari kisah Joni buatan @plut0saurus, tapi dari sudut pandang ceweknya.
Versi Joni-nya bisa dibaca di blossomandbatman

Thursday, October 13, 2011

janji

Pembicaraan sewaktu makan siang, beberapa tahun yang lalu

"Eh, bikin janji yuk, 10 tahun dari sekarang, kalo kita berdua masih single, kita nikah aja ya, daripada seumur hidup ga laku-laku. Gimana?"
"Haaaah... Janji macam apa ini? Aku kan ga berminat menikah."
"Tapi aku mau, jadi kalo nanti aku belom dapet2, kamu yang tanggung jawab ya?"
"Oke, fine."

Dan kami pun berjabat tangan untuk meresmikan perjanjian itu.

Sejak kenal kamu sewaktu aku mulai kuliah, dengan segera kita menjadi teman baik. Lucu sebenarnya, karena pertemuan kita terjadi karena pacarmu waktu itu adalah kakak dari pacarku. Jadi waktu itu, kita itu semacam saudara ipar.

Pembicaraan sewaktu makan siang tadi terjadi hampir setahun setelahnya, sewaktu kita berdua sama-sama single, putus dari pacar-pacar kita yang kakak beradik itu. Tapi kita sudah telanjur menganggap masing-masing sebagai saudara, sehingga pacaran di antara kita itu haram hukumnya.

Setelah itu, kamu beberapa kali pacaran dengan orang lain. Sementara aku juga sempat beberapa kali melakukan pendekatan, tapi tidak ada yang benar-benar berhasil. Kita sudah jarang bertemu, tapi kita tetap sering ngobrol lewat telpon atau chat lewat ym.

Lima tahun setelah kita membuat perjanjian, toh kita bertemu lagi, dalam keadaan single. Kita sama-sama menertawakan keadaan masing-masing.

"Ah, toh masih ada lima tahun lagi untuk berusaha."
"Iya, setelah itu aku yang mesti terperangkap sama kamu."

Sempat-sempatnya kita menertawakan hal itu.

Butuh waktu setahun setelahnya bagiku untuk memastikan hal itu. Bahwa aku mencintaimu. Itu sebabnya semua pendekatanku ke cewek-cewek lain tidak ada yang berhasil, karena aku tidak pernah benar-benar bisa mencintai mereka tanpa bayang-bayangmu di pikiranku.

Aku pun tahu sejak setahun lalu, kamu hanya sekali berpacaran, dan sekarang sudah putus lagi. Mestinya ini kesempatanku untuk menyatakan perasaanku padamu. Tapi aku ingat tentang perjanjian kita. Artinya, 4 tahun lagi, jika kita masih single, kita toh akan menikah. Aku menahan diri.


....or at least I tried. Tiga hari setelahnya, aku mendatangimu. Aku terlalu tegang hingga tak sempat berbasa-basi.

"I know it hasn't been 10 years, but... I love you."
Anehnya kamu tidak kaget.
"Do you have any idea how long I've been waiting for you to say that?"
Aku tak bisa berkata apa-apa.

Rupanya sejak kita membuat perjanjian itu, sebenarnya kamu sudah merasakan sesuatu padaku, tapi, seperti itulah caramu menyampaikannya. Membuat perjanjian itu untuk menutupinya. Itu sebabnya semua hubunganmu selalu berakhir. Dan diam-diam, kamu pun menunggu 10 tahun itu tiba, seraya mengharapkanku datang lebih awal.

"I was such a fool."
"Not anymore."

Kami pun berciuman.





*dongeng ini, completely fictional. Semoga bisa menyenangkan pembaca. Pesan moral: buatlah janji seperti itu dengan orang yang kamu sukai. Siapa tahu manjur.*




"Now what? We still have four years to get married."
"Will you wait that long?"
"No."
"Yeah, I thought so."