Featured Post

[Review] Game of Thrones (season 6)

Setelah setahun, GoT kembali di season 6. Sebenarnya gw juga ga begitu nunggu2 sih, karena lagi asik ngikutin serial yg lain (The Flash...

Showing posts with label film. Show all posts
Showing posts with label film. Show all posts

Saturday, February 07, 2015

Cameos in The Raid 2

Minggu lalu baru nonton ulang The Raid 2. Mau bikin review plotnya, tapi mending baca sendiri aja di wikipedia. Yg mau gw sorot adalah para pemerannya, yang selain diisi Iko Uwais, juga diisi aktor2 papan atas Indonesia, dan beberapa bintang tamu top dari Jepang. Yang ga kalah menarik, The Raid 2 ini banyak cameo-nya. Masih inget istrinya Prakoso? Itu cuma salah satunya.

Mari disebut satu-satu.


Iko Uwais sebagai Rama/Yudha (nama samaran)
Ga usah mempermasalahkan aktingnya Iko, yg ga jelek sih, tapi yg lebih menonjol dari dia emang kemampuan dewanya waktu beraksi membasmi markasnya geng Bejo sendirian.

Thursday, January 01, 2015

My 2014 in Cinema

Sempet bikin rekap nonton film di tahun 2012, sekarang bikin lagi deh. Lebih mudah, karena bisa bikin list di letterbox, ketimbang di gomiso yg pasti kelelep sama entry yg baru, dan toh gomiso nya sendiri udah ga operasional lagi. Film-film yg gw tonton di bioskop tahun 2014 lalu bisa dilihat di list letterbox ini.

Awal2 2014, terutama di Januari, ga ada film yg bener2 menarik untuk ditonton di bioskop. Apalagi... udah ga ada promo morning show di blitz, jadi kalo ke bioskop dan bayar 40rb sayang aja gitu.

Film pertama yg gw tonton adalah Killers, film fenomenal kolaborasi Indonesia dan Jepang yg menghadirkan aktor2 ternama dua negara ini, dengan bintang utama Oka Antara dan Kazuki Kitamura, sebagai serial killer sadis yg hobi merekam aksi pembunuhannya dan kemudian menyebarkannya secara online. Gw nonton di pertengahan Februari di Margo Platinum. Sebenarnya pengen ikutan nobarnya di Blitz GI, tapi waktu itu udah keabisan tempat, jadinya nonton sendiri aja.

Berikutnya gw nonton adalah dua bulan kemudian, di awal April. Saat itu gw mengambil strategi maraton film di tempat yg tiketnya murah, yaitu di blitz Teras Kota. Ya jauh sih, berangkatnya aja kalo naek kereta dan angkot ke sana bisa nyampe 3 jam. Berangkat pagi, pulang malem. Beuh. Film yg menjadi target utama nonton adalah The Raid 2, film yg udah ditunggu2 kehadirannya sejak gw liat trailernya yg keren abis di akhir tahun sebelumnya. Tapi bukan itu yg pertama gw tonton. Melainkan Captain America: The Winter Soldier. Ga disangka, sekuel ini keren juga, karena banyak aksi laganya, seakan ga mau kalah ama The Raid. Dan emang, kata sutradaranya, adegan laganya sedikit banyak turut dipengaruhi sama The Raid. Setelah jeda, baru nonton The Raid 2: Berandal. Masih melanjutkan kolaborasi antara Indonesia dan Jepang (soalnya produsernya sama sih, jadi sekalian aja), juga ada Oka Antara dan Kazuki yg main, sebagai pendukung. Iko Uwais dibikin sebagai superhero di film ini, ngelabrak markas mafia yg isinya ratusan orang sendirian, dan berhadapan sama para assasin kelas wahid, juga sendirian. Sadiss. Tapi rada ga masuk akal sih emang.

Acara maraton di blitz Teko berikutnya adalah bulan Mei. Pertama nonton The Amazing Spider-Man 2, yg sudah memasuki minggu kedua penayangannya. Trus berikutnya Godzilla, yg lagi ngehits waktu itu. Dan film ketiganya gw pilih film lokal aja, Marmut Merah Jambu, yg ga disangka menyenangkan juga.

Di akhir Mei, ke Blitz GI untuk pertama kalinya tahun ini, untuk nonton X-Men: Days of Future Past. Karena pengen nyobain promo Kakao Card yg buy 1 get 1, beli 1 tiket dapet untuk berdua. Nontonnya sama kakak gw, tapi malem mulainya, dan baru selesai jam setengah 10.

Maraton berikutnya di pertengahan Juni. Pertama nonton Maleficent, trus lanjut Edge of Tomorrow, film keren yg untungnya masih diputer. Dan yg terakhir, sorenya, nonton Viva JKT48. Udah memasuki seminggu penayangan, dan udah sepi aja. Yah nasib sih, emang ga laris2 banget filmnya, tapi cukup menghibur karena ayana ikut main di sana.

Masih di bulan yg sama, di akhir Juni, 2 minggu sesudahnya, maraton lagi di Teko, sebelum masuk bulan puasa. Ya wajar lah, namanya bioskop lagi rame dengan film2 summer boxoffice. Film pertama: How to Train Your Dragon 2. FIlm kedua: The Fault in Our Stars. Akhirnya versi film adaptasinya keluar juga, dan ga mengecewakan. Film ketiga: Transformers: Age of Extinction. Walaupun ga ada Shia, makin ga jelas dan pusing nontonnya.

Memasuki Juli dan bulan puasa, strategi nonton film berubah. Sebabnya adalah Blitz mengeluarkan promo baru lagi bernama Selasa Hemat, jadi kalo nonton di hari Selasa tiketnya lebih murah. Kalo di GI, yg biasanya 40rb, jadi 25rb. Holaa, waktunya kembali ke GI kalo gitu, daripada jauh2 ke Teko. Film yg gw tonton sebagai percobaan promo ini adalah Dawn of the Planet of the Apes.

Setelah itu, memasuki Lebaran, dan agak lama juga sebelum nonton lagi. Guardians of the Galaxy, di akhir Agustus. Penayangan di Indonesia baru tanggal 20, sementara aslinya dari awal Agustus. Gw ikut nobar sama NontonJKT, pengen nyoba aja. Yg kemudian menjadi satu-satunya nobar dengan mereka. Bagus sih sebenarnya, cuma ga begitu ngaruh, karena pas nonton, samping kiri kanan tetep aja ga kenal dan mending nonton sendiri aja kalo gitu. Dan terutama gw ga mau nobar ama mereka lagi karena waktu bagian credit masih muter, udah pada turun dan foto2 di depan, smentara prinsip gw mesti nonton sampe akhir. Yap.

Awal September, sempet nonton film sebelum masuk kantor. Satu film aja. Lucy, filmnya Luc Besson yg main Scarlet Johansson. Lalu di pertengahan September, nonton lagi ke GI. Pertama nonton Rurouni Kenshin: Kyoto Inferno. Ya walopun orang2 suka, gw yg fanboy manganya ga begitu terkesan, soalnya plotnya ga rapi. Abis itu nonton Malam Minggu Miko Movie, malemnya. Wah kok jadi rajin nonton filmnya radit, haha. Tapi emang ini bagus sih, dan karena gw udah nonton Malam Minggu Miko komplit dari youtube. Beberapa hari kemudian, nonton di Cinemaxx, bioskop baru yg buka di Plaza Semanggi. Gw sempet ikut kuis dan dapet tiket gratis untuk 2 orang, yg akhirnya cuma dipake sendiri. Nonton The Maze Runner. Ke lokasinya di Plangi rada bingung, sempet muter2 sebelum nemu Cinemaxxnya dmana. Kalo yg di FX (kemudian buka cabang juga disana) lebih jelas lokasinya.

Akhir Oktober, setelah mamak meninggal. Kembali nonton film lagi di bioskop. FIlm pertama yg gw tonton, The Judge, bikin nangis, karena kondisinya mirip2 sama gw. Tentang hubungan anak dan orangtuanya. Setelah itu, film keduanya, The Disappearance of Eleanor Rigby. Ga tau juga kenapa pengen nonton itu, pengen nyoba aja, dan jadinya ngantuk. Film ketiga, Rurouni Kenshin: The Legend Ends. Masih sama komentarnya, ga terkesan dengan plotnya yg amburadul.

Dua minggu kemudian kembali ke Blitz, untuk nonton Interstellar, another Chris Nolan's masterpiece. Tapi sebelumnya nonton Big Hero 6. Pas nonton Interstellar, merinding karena sound effectnya yg menggelegar, yg getarannya terasa banget. The best lah pokoknya, sampe gw masih gemeteran sehabis nonton.

Dan akhirnya di bulan Desember. Pertengahan Desember, nonton Stand By Me: Doraemon, film terlaris Blitz tahun ini. Kemudian malem lanjut nonton Supernova: Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh, bareng temen. Minggu depannya gw nonton lagi. Kali ini filmya The Hobbit: Battle of Five Armies. Akhirnya bener2 merasa kalo film ini harusnya dibikin satu film aja. Dan setelahnya, Pendekar Tongkat Emas, film silat terobosan baru, menampilkan bintang2 papan atas seperti Reza Rahadian, Nicolas Saputra, dan Christine Hakim. Bagus. Dan itu film terakhir yg gw liat di bioskop.

Total ada 29 film yg gw tonton di bioskop tahun lalu. Tahun 2015 ini, gatau apakah bakal masih rajin ke bioskop. Selama promo Selasa Hemat masih ada, ga ada salahnya sih. Film taun ini yg gw tunggu2 mungkin adalah The Avengers: Age of Ultron, yg tayang bulan Mei kalo ga salah.

Ohiya. Film terbaik tahun 2014 yg gw tonton, menurut gw adalah...
INTERSTELLAR.
abis itu Guardians of the Galaxy deh.


Sekian.

-OoO-

Sunday, September 14, 2014

[Review] Snowpiercer (2013)


"We control the engine, we control the world."

Snowpiercer adalah salah satu film thriller/dystopian future terbaik yg gw tonton taun lalu di blitz. Dan karena sekarang udah nonton ulang, pengen lanjutin dengan reviewnya.

Flashback singkat di awal film menjelaskan bahwa di tahun 2014, untuk mengatasi ancaman global warming, digunakanlah zat buatan CW7 yg dapat mendinginkan temperatur global. Tapi.. ternyata kebablasan dan akibatnya bumi tertutup es dan salju, dengan kata lain, ice age. Seluruh permukaan membeku, dan umat manusia di ambang kemusnahan. Cuma satu hal yang bertahan, yaitu kereta supercanggih yg dikembangkan oleh Wilford Industries, kereta panjang yang jalurnya melintasi penjuru dunia. Kereta inilah yang menjadi 'bahtera Nuh', tempat para survivor bertahan hidup sementara dunia luar tertutup es. Masalahnya adalah, berbeda dengan bahtera Nuh yang dipimpin oleh nabi, atau bahtera yg di film 2012, di sini lebih ekstrim keadaannya, karena para survivor diperlakukan berbeda, berdasarkan sistem kelas. Orang2 yg kaya dan membayar ditempatkan di bagian depan kereta, dengan perlakuan yg baik. Sedangkan kebanyakan sisanya yg gratisan dan numpang, ditempatkan di bagian paling belakang, berdesak-desakan di gerbong yg kumuh, dengan perlakuan buruk. Dikasih makanan seadanya, udah kayak penjara aja lah. Situasi inilah yang membuat mereka merencanakan pemberontakan untuk mengambil alih kereta, untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik.


Thursday, February 13, 2014

[Review Film] Killers (2014)


Warning: Review ini mungkin mengandung spoiler, tapi cuma sampe pertengahan cerita doang kok.

Killers bercerita tentang dua orang yg berada di dua negara yg berbeda. Nomura (Kazuki Kitamura) di Jepang, dan Bayu (Oka Antara) di Jakarta, Indonesia.

Nomura adalah, yah, dari awal langsung ditunjukin kalo dia adalah seorang pembunuh, korbannya sejauh ini semuanya cewek, dan dia ngerekam aksi pembunuhannya itu dengan kamera di ruangan khusus di rumahnya, dan kemudian videonya diupload ke situs entah apa. (semacam Youtube khusus video2 sadis. Heran kenapa situs kayak gini ga dibredel. Gilak lah kalo beneran ada)

Bayu, tadinya adalah jurnalis berbakat, yg karirnya hancur karena berusaha mengekspos kasus KDRT yg melibatkan politikus Dharma (Ray Sahetapy), dan gagal. Karena itu juga, dia pergi dan tinggal terpisah dari istrinya, Dina (Luna Maya) dan anaknya, Elly. Entah sejak kapan atau tau darimana, Bayu ngeliat situs tadi yg nunjukin video pembunuhannya Nomura. Ini yg menjadi penghubung antara kedua orang ini pada awalnya.

Ya mungkin Bayu nemu situs itu dan nonton isinya (mungkin juga merinding ngeliatnya), tapi waktu itu dia belom ada kepikiran apa-apa buat jadi pembunuh. He needs some trigger. Dan datanglah kejadian itu. Suatu malem waktu dia naik taksi, ternyata dia dirampok sama supir taksi gadungan dan rekannya. Mereka bawa pistol. Bayu tadinya bakal jadi korban, tapi dia ngotot dan ngelawan, and with some luck, yg mati adalah si penodongnya. (dan Bayu dapet pistol gratis). Inilah trigger yg dimaksud. Bayu baru saja melakukan pembunuhan pertamanya (walaupun sebenarnya self-defense), dan ingin meniru yg diliatnya di situs tadi, dia merekam saat2 kematian si penodongnya. Lalu nguplot ke situs yg sama.

Nomura tentu saja ngeliat video itu. Yg di pikirannya mungkin kira2 seperti ini. Wah, ada temen. Masih nubi pula. Hal ini bikin dia semangat dan tertarik (karena mungkin baru kali ini nemu orang yg sama kyk dia). Dia pun langsung ngajak Bayu chatting, dan ngasih semacam komentar dan saran tentang kerja Bayu (sebagai pembunuh), sebagai orang yg lebih expert. Walaupun skill dan experiencenya beda, ada persamaan di antara mereka. Ada kesenangan yg Bayu dapat ketika dia membunuh orang.
It makes you feel better. kata Nomura.

Bayu pun memulai rencana dan menetapkan targetnya, yaitu Dharma, si politikus bejat itu. Jadilah dia merintis dirinya menjadi seorang pembunuh.

-OoO-

Yg tadi itu baru seperlimanya cerita. Berikutnya bakal ditunjukin usaha Bayu ngebunuh juru bicaranya Dharma (Epy Kusnandar) dengan cara yg amatir kalo menurut Nomura, tapi entah bagaimana begitu direkam, hasil akhirnya bagus. Bahkan mungkin lebih bagus dari Nomura. Iya, korban Nomura selama ini cewek semua. Begitu ada laki-laki yg ngehajar dia di jalan, dia menemukan tantangan baru, memperluas target sasarannya.

Mari menganalisa Bayu dan Nomura. Bayu lebih waras ketimbang Nomura, meskipun kadang dia jadi rada gila dalam keadaan stress ato waktu bunuh orang. Tapi dia milih targetnya dengan tujuan tertentu, balas dendam. Sedangkan Nomura emang sakit beneran. Milih targetnya random, pokoknya asal nemu aja. Ada latar belakang Nomura yg menceritakan kakak perempuannya yg udah mati. Ga begitu jelas sih, apakah dia udah sakit dari dulu ato sejak kematian kakaknya..

Filmnya cukup banyak adegan sadisnya, as expected. Tapi herannya ada jg beberapa adegan yg bikin penonton pada ketawa (tapi gw ga ikut ketawa), misalnya waktu Bayu yg air liurnya netes2 (ato ingus), dan waktu rencananya kacau dan dia keliatan panik. Ah ya, rencana kacau. Bayu yg masih amatir dalam urusan membunuh wajar aja kalo rencananya ga berjalan. Yg aneh adalah Nomura pun mengalaminya juga, rencananya kacau.

Filmnya juga panjang. 136 menit. Penonton sebelah gw aja nyeletuk, ini kapan abisnya yak. Pokoknya ikutin terus sampe abis untuk dapet endingnya yg what the hell.

Rating: 9/10.

Liat trailernya: https://www.youtube.com/watch?v=BIO6BbkeBc8
 

Wednesday, October 16, 2013

[Review Film] Tinker Tailor Soldier Spy (2011)


Director: Tomas Alfredson
Cast: Gary Oldman,
Benedict Cumberbatch, Colin Firth, Tom Hardy, John Hurt, Toby Jones, Mark Strong.
Durasi: 127 menit

Plot:

Sebuah operasi dinas rahasia Inggris ("Circus") di Hungaria mengalami kegagalan. Salah satu agen top mereka, Jim Prideaux (Mark Strong) kedoknya ketahuan, lalu tertembak oleh agen Soviet
 dan diasumsikan mati. Karena kegagalan ini, kepala Circus, "Control" (John Hurt) dan wakilnya, George Smiley (Gary Oldman) diberhentikan.

Yang menjadi soal adalah, misi ke Hungaria itu bertujuan untuk mendapatkan identitas pengkhianat pada Circus. Ada pengkhianat yang berperan sebagai agen ganda dan membocorkan informasi ke Karla, agen top pemimpin KGB. Parahnya, pengkhianat itu merupakan anggota papan atas Circus, salah satu dari Percy Alleline (Toby Jones), Roy Bland, Toby Esterhase  dan Bill Haydon (Colin Firth).

Setelah Control diberhentikan, Alleline dan rekan-rekannya memimpin Circus, dan mereka memiliki fokus utama pada Operation Witchcraft, dimana mereka memiliki sumber informasi terpercaya dari Soviet, Polyakov, yang berlindung di salah satu safe house di London. Atas dasar ini, mereka berani untuk membuka kerjasama dengan intelijen Amerika, dan saling berbagi informasi.

Under Secretary Lacon, ajudan menteri yang menangani urusan intelijen, mendapat telpon dari salah satu agen level bawah Circus, Ricki Tarr (Tom Hardy). Ricki mengatakan bahwa ada mata-mata di tubuh CIrcus. Kecurigaan serupa juga pernah dilontarkan Control, yg menyebabkan masalah ini mesti dianggap serius.

Lacon akhirnya meminta Smiley untuk melakukan investigasi atas masalah ini, mencari kebenaran tentang adanya mata-mata di Circus. Smiley merekrut Peter Guillam (Cumberbatch) dan pensiunan agen Mendel untuk membantu investigasinya.

Dan seterusnya, penyelidikan mereka dimulai dengan orang2 yg diberhentikan dari Circus tak lama setelah Control diberhentikan. Kemudian Ricki Tarr yang muncul dan menceritakan kisahnya di Istanbul. Ricki yang mestinya kembali, memperpanjang masa tinggalnya demi mengejar kemungkinan informan Soviet untuk membelot, wanita cantik bernama Irina. Dari Irina-lah dia memperoleh info tentang adanya mata-mata di Circus. Kemudian Jim Prideaux yg disangka sudah mati, ternyata masih hidup. Setelah ditahan Soviet dan diinterogasi, Jim dikembalikan secara diam-diam dan setelahnya dinonaktifkan dan kemudian menjadi guru.

Informasi yang dikumpulkan Smiley menghasilkan kesimpulan bahwa Karla menyusupkan Polyakov untuk memberikan informasi rahasia tentang Soviet, untuk memancing intelijen Amerika. Semua ini dimungkinkan karena info bernilai emas yg dikira intelijen Inggris dan Amerika, sebenarnya hanya info yg tidak terlalu berharga. Lalu siapakah mata-mata di tubuh CIrcus? Jawabannya ada di akhir.


Komentar:
Melihat deretan para pemainnya, jelas aja ini jadi film wajib tonton. Yg main aktor2 terbaik Inggris. Mulai dari Gary Oldman, Colin Firth, Mark Strong, Cumberbatch, Tom Hardy. Lainnya yg juga terkenal diantaranya Toby Jones, Ciaran Hinds (yg jadi Roy Bland), Stephen Graham yg jadi salah satu agen yg diberhentikan. Simon McBurney yg jadi Lacon, gw juga inget dia pernah main di The Golden Compass jadi anggota Magisterium. Bahkan aktor2 luarnya gw juga kenal. Konstantin Khabensky yg jadi Polyakov, adalah bintang utama trilogi Daywatch, film vampir Rusia. Svetlana Kodchenkova yg jadi Irina, baru2 ini juga jadi Viper di film Wolverine. Dan di film ini, Svetlana keliatan cantik banget. Sutradaranya juga ga main2. Tomas Alfredson adalah sutradara Let the Right One In, film vampir Swedia yg keren itu.

Meski begitu, proporsi aktingnya memang lebih banyak pada Gary Oldman, baru abis itu yg lainnya. John Hurt, Mark Strong, Cumberbatch, dan Hardy yg tampil masing-masing punya momennya sendiri yang bersinar. Colin Firth ga terlalu, tapi dia menjadi penting karena dialah yg menjadi mata-mata. Kalau ada yg kurang dikembangkan, mungkin karakternya Ciaran Hinds yg ga begitu dibahas.

Ceritanya berjalan dengan tempo yg agak lambat, tapi di beberapa bagian cukup menegangkan dan seru, apalagi kalo nemu petunjuk. Yg bikin gw kagum dari film ini adalah, sering scene2 singkat yg ga terlalu jelas maksudnya apa, tapi setelah ditonton ulang ternyata menggambarkan hal-hal penting. Kayak misalnya scene Alleline ke kantor intelijen Amerika. Scenenya singkat, tapi menggambarkan maksud kerjasama antar intelijen kedua negara. Pokoknya kalo nonton sekali biasanya kelewat, dan mesti nonton ulang.

Kemudian ada scene2 yg unik, tapi ga tau artinya apa. Ada. Kayak misalnya waktu di mobil, Guilam yg sibuk ngusir lalat, atau waktu Jim Prideaux yg lagi ngajar nemu burung dari cerobong asap, dan dengan gerakan luar biasa nyabet tuh burung pake penggaris kayu.

Bagian yg paling gw suka itu waktu flashback Ricki Tarr sampe dia ketemu Irina. Bagian dramanya sih ya, si Ricki jatuh cinta sama Irina, sampe bela-belain ke Perancis buat bantu rencananya Smiley. Padahal Irina-nya udah mati, ditembak sama agen Soviet, bersamaan waktu mereka interogasi Jim. Bagian penutupnya yg diiringin lagu La Mer juga asyik. Lagunya bertolak belakang ama suasana scenenya yg suram. Katanya wiki sih, lagu itu kira2 lagu favoritnya Smiley.

Rating: 8.5/10.

Monday, October 14, 2013

[Review] Film Pilihan 2011

Dua minggu terakhir gw nonton film2 tahun 2011. Beberapa ada yg udah pernah liat di tv kabel di kantor, tapi ga ditonton penuh dari awal sampe akhir. Dipilih 10 judul yg pengen gw tonton, dan sebenarnya masih ada lagi judul2 lain yg pengen ditonton, tapi untuk saat ini, film2 ini aja yg didahulukan.

1. Sucker Punch


Film arahan Zack Snyder, yg kemudian nanganin Man of Steel di tahun 2013 ini, isinya tentang seorang gadis (Emily Browning) yang dikirim ayah tirinya yg jahat ke mental institution (not exactly rumah sakit jiwa). Ayah tirinya berkomplot dengan salah satu petugas disana, supaya si cewek ini dilobotomi. Si cewek ga tinggal diam, dan berusaha untuk kabur dari sana, tapi ga diceritain terang-terangan, karena cerita beralih menjadi dunia imajiner si cewek yg merepresentasikan dunia nyatanya, dimana dia merupakan seorang penari yg bekerja di rumah hiburan. Dan adegan2 aksi lawan robot dan monster yg gw lihat di trailer, merupakan imajinasi di layer yg lebih dalam. Pertarungan dan misi melawan monster2 itu merupakan perumpamaan dari usaha yg dilakukan si cewek dan teman-teman barunya di sana untuk kabur.

Film ini punya style yg keren. Plus, ada Jena Malone, salah satu aktris favorit gw.  Rating: 8/10.

2. Insidious


Filmnya James Wan, yg tahun ini menghentak dengan The Conjuring (dan Insidious: Chapter 2). Makanya, penting banget buat nonton film ini, yg mungkin bisa menjadi cult di kemudian hari. Ceritanya diawali dengan si Patrick Wilson dan Rose Byrne yg pindah rumah, kemudian diganggu hantu disana, dan anak mereka ada yg tiba2 koma sampe 3 bulan. Mereka kemudian  pindah rumah lagi, tapi masih tetep diganggu hantu. Setelah panggil Elise, paranormal buat ngusir hantu, barulah diketahui permasalahannya, yaitu kemampuan si anak dalam astral projection, yg menyebabkan jiwanya tersesat dan mesti kembali ke raganya.

Asli, film ini keren banget. Menegangkan dari awal, dan sound-nya bener2 mantep, merinding banget. Sama kayak The Conjuring. Gw bilang, si James Wan ini emang ahli bikin film dengan genre ini. Rating: 9/10.

3. Pirates of the Caribbean: On Stranger Tides


Film keempat serial Jack Sparrow, kali ini directornya Rob Marshall, yg biasanya bikin film musikal. Tanpa karakternya Orlando Bloom sama Keira Knightley, gw tadinya ngerasa film ini ga seru, dan kurang lah.
Ceritanya, Jack Sparrow (Johnny Depp) ketemu dengan cinta lamanya, si Penelope Cruz, dan kemudian ikut serta dalam kapalnya Blackbeard (Ian McShane) untuk nyari Fountain of Youth, yg katanya bisa memberikan keabadian. Petualangan mereka juga melibatkan Barbossa (Geoffrey Rush) yg ingin balas dendam ke Blackbeard, mermaid, dan armada Spanyol yg juga mencari fountain of youth.

Menurut gw, ceritanya ga terlalu nendang. Penelope Cruz menurut gw ga jelas perannya, ga gitu bagus. Gw lebih tertarik sama subplot mermaid dan si pendeta muda yg saling jatuh cinta. Rating: 8/10.

4. Transformers: Dark of the Moon


Di film ketiga yg sedikit ngutak-atik sejarah tentang pendaratan di bulan, ceritanya misi apollo 11 itu dikarenakan NASA mendeteksi adanya pesawat alien di bulan. Tak lain tak bukan adalah The Ark, pesawat dari Cybertron, planetnya Autobots dan Decepticon. Decepticon berhasil mancing Autobots, sehingga akhirnnya mereka tahu tentang Ark yg dirahasiakan oleh pemerintah USA. Mereka pergi ke bulan dan bawa pulang Pillars, semacam perangkat transporter, dan Sentinel Prime, Autobots yg tertidur lelap dalam misinya membawa Ark. Sentinel kemudian berkhianat dan diketahui bekerja sama dengan Megatron. Dengan pilar di tangan, mereka membuka portal ke Cybertron dan mendatangkan armada robot untuk menginvasi bumi.

Well, ceritanya lumayan sih. Dan karakternya Optimus makin tangguh. Lihat di bagian akhir, ketika dia tanpa ampun membunuh Megatron dan Sentinel. Yg gw ga suka adalah karakter Sam yg makin lebay, dan joke2 ga penting yg ngerusak filmnya dan kesannya ga serius. Dan tentang Rosie Huntington-Whiteley yg gantiin Megan Fox, well, tugas dia emang bukan akting, tapi buat lenggak lenggok pamerin tubuhnya. Rating: 7,5/10.

5. Captain America: The First Avenger


Akhirnya nonton juga. Ga lengkap rasanya udah nonton The Avengers tapi belom nonton Captain America. Ceritanya Steve Rogers (Chris Evans) yg badannya kurus kecil itu maksa banget pengen jadi tentara tapi selalu ga diterima. Sampe kemudian dia diterima untuk proyek eksperimen super soldier. Rogers terpilih karena terlepas dari masalah fisik, dia punya kepribadian yg sangat terpuji. Leadership, setia kawan, gentleman, semua ada di dia. Setelah disuntik dan jadi Captain America, dia ga langsung terjun ke perang, tapi jadi bahan kampanye senator. Tapi akhirnya kesempatan dia tiba, dan dia berhasil nyelamatin para tawanan dari markas HYDRA. Dan seterusnya, mereka memburu Hydra, Captain bertarung dengan Red Skull, dan pesawatnya crash di es.

Solid film. Bagus. Rating: 8,5/10.

6. The Twilight Saga: Breaking Dawn - Part 1


Film ini jadi salah satu pilihan, karena gw udah nonton yg Part 2, jadi Part 1 jangan dibiarin lama-lama. Ceritanya cukup datar sih, sampe pertengahan. Bella nikah sama Edward, trus bulan madu. Yah, PG13 ke atas lah. Lalu masalah dimulai ketika Bella hamil, dan perutnya cepet banget membesar, dan fisik Bella melemah karena si bayi nyedot energinya. Ditambah-tambahin masalah dengan pack wolvesnya Sam yg pengen bunuh si bayi karena mengira bayi itu berbahaya.

Yah, lumayan lah. Rating: 7/10.

7. Hugo


Salah satu film unggulan Oscar. Sutradara: Martin Scorsese. Hugo Cabret (Asa Butterfield) tinggal di stasiun, tugasnya maintenance jam di sana. Dia juga punya misi memperbaiki automaton (semacam robot) peninggalan ayahnya, karenanya dia mencuri komponen2 dari tokonya Papa Georges (Ben Kingsley). Nah, dari ketekunan Hugo inilah, kemudian terkuak rahasia. Automaton itu adalah buatan Georges, yang kemudian diketahui adalah sutradara andal yang sudah membuat ratusan film, tapi sekarang berhenti. Hugo, dibantu dengan cucu Georges, Isabel (Chloe Moretz), berusaha membangkitkan Papa Georges untuk kembali menjadi pembuat film.

Keren dan bikin terharu. Karakter2 pendukungnya semua bekerja sama demi papa Georges. Rating: 9/10.

8. Mission Impossible: Ghost Protocol


Salah satu misi IMF mengalami kegagalan karena agen mereka dibunuh oleh assassin. Paket berisi kode nuklir Rusia pun terancam jatuh pada Cobalt (Michael Nyqvist), teroris yg menyamar jadi ahli nuklir Rusia. Ethan Hunt (Tom Cruise) pun dipanggil untuk mengatasi masalah ini dengan timnya yg sekarang, Jane (Paula Patton) dan Benji (Simon Pegg), dan kemudian dibantu oleh Brandt (Jeremy Renner). Usaha mereka di ambang kegagalan, karena ulah Cobalt, mereka dituduh meledakkan Kremlin. Ghost Protocol diberlakukan, IMF dibubarkan dan operasi mereka ga diakui. Lebih gawat, Sekretaris IMF terbunuh. Sementara mereka mesti mencegah Cobalt yg berupaya meluncurkan nuklir Rusia yg akan memancing perang nuklir dengan US.

Keren dan seru banget. Meskipun rada mustahil, karena kali ini misi mereka makin sulit, dan mereka 99% di ambang kegagalan, rudal udah diluncurin. Pokoknya serba tipis lah keberuntungan mereka. Rating: 8,5/10.

9. Tinker Tailor Soldier Spy


Ada mole di dinas rahasia Inggris, dan berada di level atas. George Smiley (Gary Oldman), yang baru saja diberhentikan dari Circus akibat ada misi yg gagal di Hungaria, diminta untuk menyelidiki permasalahan ini. Fakta-fakta digali, dan diketahuilah motif-motif yang beredar, dan siapa mole itu.

Film khas British, dan isinya aktor2 ternama Inggris. Keren. Jadi favorit gw sekarang. Nanti perlu dibikin review sendiri kayaknya. Rating: 8,5/10.

10. The Artist


Film yang memenangkan Oscar sebagai Best Picture 2011. Menceritakan tentang dunia film. George Valentin (Jean Dujardin) adalah aktor silent film yg sedang berada di masa jayanya. Dia bertemu dengan Peppy Miller (Berenice Bejo) yg merintis karier di dunia film. Dimulai dari ekstra, karier Peppy semakin meningkat, dan dia menjadi bintang utama di setiap filmnya. Sementara, George karirnya meredup seiring meredupnya silent film yg tergantikan oleh talkies (film dengan suara dan dialog). Situasi yang kontras antara George dan Peppy yang berusaha membantu George. Kemunduran ini sampe menyebabkan George bangkrut dan mencoba bunuh diri. Hingga Peppy berhasil mencegahnya, dan mengajak George kembali ke dunia film, menerima perkembangan.

Nuansanya bener2 film jadul, black and white, dan silent pula. Silent film yang bercerita tentang berakhirnya masa silent film. Ada semacam ironi dalam film ini. Bagus, tapi gw ngerasa ini pas sebagai film terbaik. Rating: 8,5/10.

Sampai bertemu di review selanjutnya. (kalo ada)

Tuesday, February 26, 2013

[Review Film] Argo (2012)

“This is what I do. I get people out. And I've never left anyone behind.”


Director: Ben Affleck
Cast: Ben Affleck,
Bryan Cranston, Alan Arkin, John Goodman

Plot:

Tahun 1979, sewaktu gejolak politik di Iran menjadi-jadi, demo yang rusuh di kedubes AS di Iran diserbu massa yang menuntut agar Amerika mengembalikan Reza Pahlevi (shah sebelumnya) supaya bisa diadili dan dihukum. Orang2 kedutaan tidak melawan karena menghindari perang terbuka antar dua negara, dan sibuk melenyapkan semua dokumen-dokumen penting. Kedutaan pun dikuasai oleh para demonstran, militan, entah apa sebutannya. Pokoknya rusuh. Semua orang kedutaan ditahan dan dijadikan sandera sampai tuntutan mereka supaya shah terdahulu dikembalikan. Tidak semua, karena 6 orang berhasil keluar sebelum massa menguasai bangunan kedutaan.

Enam orang ini mencari perlindungan dan bersembunyi di rumah dubes Canada yang luar biasa baik hati, meskipun beresiko mendapat hukuman mati jika ketahuan menyembunyikan mereka. Di saat pemerintah AS masih mencari solusi untuk 50 lebih sandera di kedutaan, urusan 6 orang ini mereka kesampingkan. Dua bulan kemudian baru mereka mulai memikirkan strategi untuk mengeluarkan 6 orang itu dari Iran, dengan opsi2 mulai dari bersepeda hingga ke perbatasan luar Iran, sampai menyamar menjadi guru. Semuanya terbukti ga cukup kuat, hingga kemudian Tony Mendez (Affleck), salah satu agen CIA spesialis eksfiltrasi mengajukan usul yg agak aneh. Dia berencana membebaskan mereka dengan strategi membuat film science fiction yg mirip2 Star Wars, supaya bisa masuk ke Iran kemudian membawa 6 orang itu pergi sebagai kru filmnya. Argo adalah judul film bohongan itu.

Mendez pun meminta bantuan orang2 Hollywood, seorang ahli make up (Goodman) dan produser (Arkin) untuk membuat film itu seolah-olah benar-benar dibuat, sampai bikin press conference, membuat srip betulan, sampe menyusun aktor2 beneran untuk maen filmnya, semua supaya dia bisa masuk ke Iran sebagai executive producer yang ingin melakukan syuting di Iran sebagai salah satu lokasi eksotis di Timur Tengah.

Setibanya di Iran, ujian demi ujian pun dihadapi oleh Mendez agar operasi penyelamatannya berhasil. Keamanan dan birokrasi di Iran yang berlapis-lapis mesti mereka lalui. Di grup 6 orang itu pun, rencananya tidak sepenuhnya disambut baik. Salah satu orang kedutaan misalnya, Joe Stafford, menjadi orang yang skeptis dengan rencana Mendez dan sungkan untuk mengikutinya.

Hanya dua hari Mendez di sana, keesokannya mereka pun berangkat ke bandara untuk meninggalkan Iran. Dengan tingkat ketegangan yang luar biasa, satu demi satu halangan bermunculan, mulai dari tidak disetujuinya misi oleh pusat, penjagaan dan interogasi di imigrasi bandara yang sulit, hingga kejaran dari militer Iran yang mengetahui kedok mereka dan berusaha mengejar pesawat mereka di menit-menit akhir. Pada akhirnya mereka berhasil meninggalkan Iran dengan selamat.

Sebagai penutup, kredit untuk keberhasilan operasi ini diberikan pada pihak Canada saja, terutama keberanian dubesnya yg sudah memberikan tempat perlindungan utk mereka. Diceritakan peran CIA dan AS disembunyikan, untuk menghindari tindakan retaliasi militer Iran.

Komentar:

Sebelumnya perlu dijelaskan kalau film ini adalah dramatisasi dari operasi penyelamatan yang sebenarnya. Tidak 100 persen akurat, bahkan boleh dibilang banyak hal yang diada-adakan demi kepentingan cerita. Yang menurut gw ga masalah sih, karena berhasil membuat ceritanya menjadi menegangkan dan seru.

Aslinya, keadaan mereka ga segawat itu, ga sedepressed itu. Ga ada pemeriksaan yang berlebihan di bandara, apalagi militer yg ngejar2 pesawat di menit akhir. Semua itu hanya drama supaya ceritanya menegangkan. Juga ada komplain tentang peran Canada yang dikecilkan. Well, kalo menurut gw ini masalah sudut pandang aja sih, karena film ini kan mengambil pendekatan dari strateginya Tony Mendez yang pake alasan bikin film boongan berjudul Argo. Di film lain, mungkin ada yg ngambil sudut pandang dubes Canada yang ngasih perlindungan utk 6 orang itu.

Karakter-karakternya juga oke, masing-masing melakukan tugasnya dengan baik. Ya Ben Affleck, John Goodman, Alan Arkin. Bryan Cranston juga, yg jadi atasannya Mendez, di waktu-waktu krusial dia ngotot supaya pusat ngasih bantuan ke Mendez untuk masalah tiket pesawat dsb. Sedangkan dari 6 orang yg bermasalah itu, yang paling mencuri perhatian itu karakter Joe Stafford. Dari awal dia jadi orang yg skeptis, mempertanyakan tindakan Mendez. Memang fungsinya kayaknya sengaja sebagai balancer, biar ga lancar2 aja semua nurut, mesti ada satu yg ga setuju. Tapi hebatnya, sewaktu mereka tertahan di bagian imigrasi bandara, dia yang paling gesit ngasih penjelasan ke para penjaga, berimprovisasi dengan bahasa Farsi yg dikuasainya sehingga membuat mereka lengah. Karakternya Mendez juga, digambarkan sebagai orang yg berintegritas. Sewaktu dikasihtau kalo operasinya dibatalin ama pusat, dia sempet stres, antara mesti ninggalin 6 orang itu. Tapi dia berkeras, kalo ini adalah tanggung jawabnya, dan dia tetap melanjutkan misi, meski tanpa dukungan dari pusat.

Of course, semua itu bagian dari dramatisasi. Yang berhasil membuat film ini menarik untuk ditonton. Hasilnya adalah penghargaan Best Picture untuk Oscar, juga utk Golden Globes dan BAFTA. Sedikit ganjil karena meskipun menang di Best Picture, Affleck bahkan ga dapet nominasi utk Best Director. Entah, mungkin pihak Academy yg udah antipati ama dia sejak dulu (sama seperti kasusnya Jim Carrey), tapi biarlah, yg penting filmnya diakui sebagai yg terbaik tahun ini.

Btw, dibahas juga Argo itu maksudnya apa, apakah Argonaut, yang kemudian ditanggepin ama karakternya Alan Arkin yg udah bosen denger pertanyaan itu, "Argo Fuck Yourself". Ternyata jadi catchphrase film ini.

myRating: 9/10.

suasana di rumah kedubes ketiga Mendez memaparkan rencananya

Mendez yang stres ketika misinya dinyatakan batal oleh pusat

suasana pemeriksaan di bandara

Wednesday, January 09, 2013

[Review Film] Rurouni Kenshin (2012)



Director: Keishi Otomo
Cast:
Takeru Sato
Emi Takei

Kemunculan live action dari manga/anime yg dulu jadi favorit banget gw ini ga disangka-sangka emang. Tiba2 denger kalo di Jepang tayang filmnya. Yah mungkin bagusnya begitu, daripada telanjur denger kabarnya, trus berharap, dan ga taunya lama jadinya. (Hear that, Evangelion). Tapi seperti halnya yang terjadi dengan adaptasi dari manga/novel ke film, pastinya berbeda dengan aslinya. Seberapa besar bedanya? Gw coba deskripsikan plotnya (sedetail mungkin). SPOILER alert.

Plot:

Pada era Bakumatsu (zaman kekacauan sebelum era Meiji di Jepang), nama Hitokiri Battosai (Batosai si Pembantai) menjadi legenda di antara para samurai. Ketika perang berakhir, Battosai meninggalkan pedangnya dan memutuskan untuk tidak membunuh orang lagi. Pada bagian ini juga ditampilkan Hajime Saito, samurai dari pihak lawan yang mulanya hendak menantang Battosai. Seorang pendekar yang selamat dari perang menemukan pedang itu dan mengambilnya. (dia yang kemudian kita kenal sebagai Jine Udo)

Kenshin Himura

Belasan tahun kemudian, di era Meiji yang 'damai', pengusaha kaya Kanryu Takeda, memiliki rencana licik untuk memproduksi opium besar-besaran dan mengeruk keuntungan darinya. Uang yang kemudian digunakan untuk membeli senjata dan kekuasaan. Kanryu memiliki banyak anak buah, salah satunya adalah Jine, yang berkeliaran membunuh banyak orang, mulai dari polisi, hingga anak2 buah Kanryu yang lain. Jine yang haus darah seakan menggantikan peran Battosai, membantai mengatasnamakan Battosai dari dojo Kamiya Kasshin. Megumi Takani, yang meramu opium untuk Kanryu, melarikan diri ke polisi, dan karenanya Jine membantai seisi kantor polisi.

Sementara Battosai yang asli sekarang menjadi pengembara, dan bertemu Kaoru Kamiya, putri pewaris dojo yang namanya dicemarkan Battosai palsu. Setelah pertemuan singkatnya, Battosai menyelamatkan Kaoru yang sedang berkonfrontasi dengan Jine. Jine melecehkan prinsip Kamiya Kasshin yang menggunakan pedang (kayu) untuk melindungi orang lain. Tak disangka, Battosai juga memiliki prinsip yang mendukung, yaitu dengan menggunakan pedang bermata terbalik (Sakabatou), dimana bagian tajamnya ada di sisi bagian dalam.

Kaoru Kamiya

Kaoru membawa Battosai, yang memperkenalkan dirinya dengan nama Kenshin Himura ke dojonya untuk tinggal sementara. Rombongan samurai anak buah Kanryu datang dan hendak merubuhkan dan mengambil alih dojo Kamiya untuk kepentingan Kanryu, tapi Kenshin berhasil mengalahkan mereka semua tanpa ada yang terbunuh. Polisi datang dan Kenshin malah menyerahkan diri untuk ditahan.

Di dalam penjara (dimana Sanosuke Sagara juga ada), Saito yang sekarang menjadi polisi mendatangi Kenshin dan membawanya menemui Aritomo Yamagata, dulu salah satu atasan Kenshin yang sekarang menjadi menteri. Pak Yamagata menjelaskan tentang rencana jahat Kanryu untuk menyebarkan opium dan membuat masyarakat runtuh karena ketagihan. Dia meminta bantuan Kenshin untuk bergabung dengannya menjadi salah satu panglimanya, tapi Kenshin menolak. Saito yang tak puas berusaha memancing Kenshin agar menggunakan pedangnya, tapi Kenshin bertahan pada sikapnya dan pergi.

Kanryu Takeda

Kaoru datang menjemput Kenshin untuk kembali ke dojonya. Juga tinggal di dojo itu adalah Yahiko Myojin, bocah satu-satunya murid Kaoru, dan Megumi yang meminta tempat untuk sembunyi. Ketika mereka berempat makan di restoran, Kanryu datang dan menawari Kenshin untuk menjadi bodyguardnya, dengan iming2 uang yang banyak. Kenshin jelas menolak, apalagi Kanryu menghinanya. Sanosuke malah muncul dan menantang Kenshin, supaya Kanryu merekrutnya. Dengan pedangnya yang besar, Sano tak mampu menyentuh Kenshin sedikit pun, dan kemudian setuju dengannya bahwa menjadi anak buah Kanryu adalah hal yang tidak pantas.

Jine berulah lagi. Menyaksikan korban2 pembantaiannya, Kenshin teringat sewaktu dia masih menjadi pembantai. Ada seorang pria (Kyoshiro Sato) yang berkali-kali bangkit biarpun Kenshin sudah menebasnya. Orang dengan semangat pantang mati itulah yang sudah menorehkan salah satu bekas luka di pipinya.

Jine Udo

Kanryu menjalankan rencananya mencemari air konsumsi penduduk dan membuat orang2 keracunan. Megumi menunjukkan skillnya sebagai dokter dan berusaha keras menyembuhkan mereka. Terkuaklah bahwa Megumi merupakan keturunan keluarga dokter terkenal, yang menjadi satu-satunya yang tersisa setelah perang. Tak lama setelahnya, Megumi menyerahkan diri ke Kanryu, tapi usahanya untuk membunuh Kanryu gagal percuma.

Kenshin pun membulatkan niat untuk menghentikan ulah Kanryu dan mendatangi markasnya bersama Sano. Berdua mereka mengatasi puluhan ronin anak buah Kanryu tanpa kesulitan. Di dalam rumah Kanryu, mereka berdua masing-masing bertarung dengan lawan-lawannya. Lawan Sano (yg seharusnya Shikijo) menggunakan tangan kosong, sedangkan lawan Kenshin (yg seharusnya Hannya) adalah orang bertopeng yang menggunakan pistol dan kodachi (pedang pendek). (oke, karakter2 ini yang buat gw mengganggu banget, entar dibahas lah).

Sanosuke Sagara

Setelah melewati lawan-lawannya, Kenshin dan Sano berhadapan dengan Kanryu dan gatling gun-nya. Dengan bantuan Saito yang ikut muncul, Kenshin melumpuhkan Kanryu dan membebaskan Megumi, yang meminta Kenshin untuk segera menyelamatkan Kaoru yang diculik Jine.

Dengan kekuatan semacam hipnotis yang dimilikinya, Jine membuat Kaoru lumpuh, tak bisa bergerak. Satu-satunya jalan untuk membebaskannya adalah dengan membunuh Jine. Dengan cara inilah Jine memaksa Kenshin untuk kembali menjadi pembantai. Melihat Kaoru yang tersiksa, amarah Kenshin meningkat dan naluri pembantainya muncul. Tapi di saat dia hendak membunuh Jine, Kaoru berhasil melepaskan diri dari hipnotis Jine dan menyadarkan Kenshin. Dia pun tidak jadi membunuh Jine, dan hanya mematahkan tangannya agar tak bisa menggunakan pedang. Jine yang kalah, menikam perutnya sendiri dengan tangan kirinya.

Hajime Saito

Ketika tersadar di dojonya, Kaoru yang cemas berusaha mencari Kenshin, kuatir kalau Kenshin sudah pergi mengembara lagi. Kenshin masih ada di sana, memutuskan untuk tinggal dengannya sementara.

--

Komentar:

Secara visual, Rurouni Kenshin keren. Banyak pemandangan yang indah, setting di era Meiji juga cukup pas. Lalu dari tampilan karakter2nya, lumayan sih. Yang jadi Kenshin mirip banget ama di manga/anime, juara pokoknya. Sehingga menyisakan kekurangan di karakter2 lainnya. Kaoru, Megumi, Jine tampilan karakternya oke, mirip. Saito yang diperanin Eguchi Yosuke (dulu sering nonton dorama, boi) tampangnya kurang jahat. Kanryu juga ga mirip, Sano juga, ga setajam di manga. Itu masalah tampilan.

Masalah cerita/plot. Boleh gw bilang, kacau. Bukan kacau yang baik sih. Gw ga tau gimana reaksi orang2 yg ga familiar ama cerita manganya, ya tapi kalo dipikir2 kalo ga baca manganya mungkin juga ga tertarik buat nonton ya. Komen gw ini sebagai orang yg udah baca manganya komplit dari vol 1 sampe 28 tamat.

Plot yang disajikan di live action ini mengambil banyak elemen dari hampir semua plot/arc di manganya, dicampur aduk. Menurut gw ini ga bagus. Utamanya dia mengkombinasikan plot Kanryu, yg mestinya juga menyertakan Aoshi dan Oniwabanshu disana sebagai anak buahnya Kanryu, dan plot Jine yang aslinya muncul sebelum plot Kanryu. Selain itu di tengah2nya juga disisipkan plot Battosai palsu dari dojo Kamiya, plot Sanosuke diselipin dikit banget (maksa). Sempat ada plot flashback Kenshin, dan Dan juga termasuk dosa besar adalah memasukkan Saito ke dalam cerita ini, padahal aslinya dia baru muncul kemudian, setelah plot2 ini selesai. Jadilah Saito perannya cuma semacam tempelan, sekali doang sih ngeluarin jurus Gatotsunya.

Ya namanya film, mesti beda ama cerita aslinya. Tapi buat gw yang udah baca, aneh rasanya ngeliat Jine, Kanryu dan Saito muncul bersamaan. Mau yang lebih kacau? Anak buahnya Kanryu. Semua aja dimasukin jadi anak buahnya, ya gerombolan samurai lah, Jine lah, juga dua orang mencurigakan yang menjadi pengganti Oniwabanshu. Secara penampilan, dua orang ini adalah Banjin Inui dan Gein (baca di wiki), yang aslinya merupakan anak buah Enishi di arc Enishi yang muncul di akhir manga. Dan dua karakter ini mengganggu gw banget sampe mesti dibahas satu-satu.

Banjin yang jadi lawan Sano ini, menggantikan peran Shikijo, anggota Oniwabanshu yg harusnya jadi lawannya. Tapi entah kenapa, di karakter ini juga terselip sedikit kepribadian Anji, biksu jahat yg juga pernah jadi lawannya Sano. Jadi 3 karakter dikompositkan jadi 1. Masih mending. Coba yang satunya lagi.

Gein, masih pake topeng
Gein sesudah lepas topeng

Gein, yang memakai topeng tengkorak, menggantikan peran Hannya, anggota Oniwabanshu yang juga memakai topeng. Makanya gw sampe salah ngira kalo itu Hannya. Tapi begitu dia ngelepas topengnya dan mulai bertarung dengan Kenshin, keluarlah elemen2 dari karakter lainnya. Muka aslinya ga jelek kayak Gein, tapi lumayan ganteng, dengan rambut putih dan bekas2 luka di pipi. Ngingetin siapa ya, ohiya, Enishi Yukishiro. Lalu sewaktu ngeluarin jurus, awalnya konsisten ama Gein, pake kawat2 gitu. Tapi begitu pake pistol, setelah gw cermati, mirip sama tangan kanannya Enishi, Wu. Dan begitu dia pake kodachi, meh, jelas2 ini maksudnya memasukkan Aoshi sebagai bagian dari karakternya. Nah diitung tuh, ada 5 karakter yang dikompositkan jadi satu.

Dan ada karakter baru, 3 asisten Kanryu yang make baju putih, berkacamata, dan kipas2. Asli ga guna dan ga jelas banget maksud keberadaan mereka.

Plot yang campur aduk ini juga memunculkan Jine yang menjadi lawan terakhir Kenshin. Jadi secara kronologi aslinya, dari Jine, maju ke Kanryu trus balik lagi ke Jine. Mestinya mereka fokus ke salah satu plot, musuhnya satu tapi plotnya sesuai. Gitu sih pendapat gw.

Kemudian jurus-jurusnya, kayaknya selain jurus Kenshin, yg lainnya ga disebutin. Bahkan terkadang ga ada nama jurusnya, misalnya Sano, dia bertarung asal aja, bahkan sampe lempar telor. Duh.

Anyway, usaha untuk mengadaptasi ke live action ini patut diapresiasi dan didukung, apalagi kalo misalnya nanti mau dibikin sekuel, lawan Shishio :D. Selain konsisten dengan genrenya, film ini juga tak lupa menyisipkan beberapa kata-kata mutiara dari manga.

"Pedang adalah senjata, dan ilmu pedang adalah teknik untuk membunuh."
lalu Kaoru yg berkata "Aku tidak peduli dan tidak kenal dengan Battosai. Yang kutahu adalah Kenshin si pengembara yang baik hati"
dan di akhir hidupnya, Jine berkata pada Kenshin, "Sampai kapan kau mampu bertahan dengan prinsipmu itu, aku akan menyaksikannya dari neraka."

Rating saya: 7.5/10

Friday, January 04, 2013

(My) 2012 in Cinema

Jadi setelah ngubek2 arsip Twournal, gw berhasil menghitung berapa kali gw ke bioskop di tahun 2012 ini. Karena biasanya tiap gw nonton gw ngetwit tentang film itu sesudahnya. Hasilnya adalah 29 kali, gw nonton film di bioskop. Beberapa ada yg sehari nonton 2 film. Jelas ini meningkat pesat dibanding tahun sebelumnya. Di 2011 kayaknya gw cuma berapa kali, mungkin 3 atau 4 ke bioskopnya, ke PIM, trus nyobain ke Metropole Cikini. Sedangkan tahun ini, selain mencoba ke bioskop2 lain yg kemudian jadi langganan, ada pengalaman berbeda ketika menonton. Rinciannya sebagai berikut.

Di awal Januari, abis taun baru, di waktu jam kerja belom selesai, gw cabut duluan buat ngejar nonton Sherlock Holmes: A Game of Shadow di Djakarta XXI yang lumayan deket dari kantor. Jalan cepet kesana, bisa ngejar yg jam 4 lewat. Meskipun suasananya lumayan bagus, Djakarta XXI hanya punya 2 studio, jadi ya ga banyak variasi film yg disajikan.

Februari, nonton Chronicle sendiri di PIM, setelah sebelumnya ketemuan ama dian. Sukses menjadi distraksi otak, paling tidak selama beberapa jam. Setelahnya, gw berusaha menghindari untuk dateng ke PIM. Dengan armada bis Debora yg jalannya ogah-ogahan kecuali kalo udah di tol, perjalanan ke PIM bisa jadi melelahkan dan berpotensi telat. Lagipula, dalam perkembangan selanjutnya, tiket bioskop di PIM jadi yg termahal di penjuru Jakarta. *huealah, hiperbol deh.

Di bulan Maret, iseng2 gw menang kuisnya flickmagazine di suatu jumat malem waktu gw di kantor. Dapet tiket buat nonton bareng film Thailand Fabulous 30. Tapi waktu nontonnya besok paginya dong. Walhasil, yang mestinya tiketnya utk 2 orang gw pake sendiri aja. Tapi manfaatnya bagi gw adalah, gw menginjakkan kaki di GI (Grand Indonesia) dan memperkenalkan gw ke Blitz. Masih dengan semangat menjelajahi tempat baru, di akhir Maret, gw yg waktu itu udah temenan sama adit_adit meminta rekomendasi buat nonton di Botani, mall milik IPB. Pertama kalinya gw ke sana, gw langsung double aja nontonnya. Yg pertama nonton The Raid, film actionnya Iko Uwais yang udah jadi buah berita di Hollywood, kemudian The Hunger Games, yang juga lagi hot-hotnya waktu itu. Memuaskan juga, Botani XXInya. Dengan akses yg lebih mudah dijangkau (kereta+angkot), lebih cepet dibanding PIM, dan kualitas lebih bagus dibanding Detos.

Gw baru pergi ke bioskop lagi di bulan Mei. Tempatnya di Botani lagi. Kali itu rencananya nonton ama adit, utk The Avengers dan Modus Anomali. Apa boleh buat, Modus udah ga tayang, jadinya nonton Avengers saja. Yang memaksa gw untuk nonton Modus Anomali minggu depannya di Margo Platinum. Salah satu film yang berkesan utk gw. Lalu entah sesudahnya, diajak nonton di Djakarta XXI sma temen kantor. Tapi udah malem banget, jam 21.30 coba! Filmnya Jason Statham, Safe. Dalam kondisi biasa di siang hari aja gw suka ngantuk, apalagi udah larut gitu, jadinya sepanjang film gw jatuh bangun antara ngantuk dan ketiduran, ga nangkep ceritanya gimana. Untung itu nontonnya dibayarin, meskipun jadinya mubazir. Kemudian di akhir Mei, setelah rapat paginya dan nunggu jadwal masuk di sore hari, gw ngajak temen2 kantor nonton dulu di GI. Padahal selain nobar film Thailand waktu itu, gw belom kesana lagi. Mana langsung nontonnya yang 3D pula kali itu, Men In Black 3. Sempet pesimis dengan nonton 3d, tapi hasilnya ternyata di luar dugaan gw puas banget. Sehingga berikut2nya keterusan pengen nontonnya 3d di blitz.

Minggu depannya, udah masuk Juni, kembali gw ke Blitz untuk menonton film terbaik tahun ini menurut gw. Film yg paling berkesan. Prometheus. Alien stuff. 3D pula. For information, tiket 3D di blitz waktu itu (nomad) masih 35rb, dan yg biasa 30. Kalo sekarang sih udah naek 5rb. Abis itu sempet ke Botani lagi buat nonton Brave, film animasi Pixar yg katanya bagus, lanjut Abraham Lincoln: Vampire Hunter. Sayang gw lagi ngantuk berat waktu nonton kedua film ini dan melewatkan sebagian plotnya.

Juli, puncaknya summer movies. Tentunya pilih tempat terbaik buat nontonnya, di Blitz GI lagi. Dalam dua kesempatan terpisah, The Amazing Spider-Man, dan The Dark Knight Rises. Waktu TDKR udah masuk bulan Ramadan. Dan kalo biasanya gw selalu nonton 3D di Blitz, begitu TDKR yg ga menyediakan 3D, dapet studionya yg versi stadium, gede kapasitasnya.

Agustus. Setelah Lebaran, sehari setelah balik dari kampung, ke GI, nonton Perahu Kertas (1) berdua ama Rara. Cukup mendadak, direncanain kemarennya. Soalnya gw males baca convo rencana2 orang2 mau nobar, tapi banyak yg ga pas lah waktunya, yaudah mending berdua aja. ga usah ajak2 yg laen. Abis itu masih tetep di Blitz dan nonton ulang TDKR sendiri. Sebabnya gw masih belom puas nonton yg pertama, belom ngerti banget isi filmnya. Sayangnya, gw ga ngerti deh tuh, kenapa file film yg diputer kyknya bukan kualitas GI, tapi kualitas XXI. Ga setajem aslinya. Minggu berikutnya nonton The Expendables 2. Berhubung ga tayang di Blitz, gw nontonnya ke Botani XXI.

Di bulan September, nontonnya terpusat di seminggu waktu Pilkada DKI. Hari Selasanya gw nonton film Korea, The Thieves yg keren itu, dan lanjut Resident Evil Retribution. Dan Jumat sorenya nonton film drama Korea, Architecture bareng adit dan iip.

Memasuki bulan Oktober, experience dalam menontonnya berbeda. Beda, karena sekarang seringnya nonton berdua sama pacar, hihi. Our first date setelah jadian, nonton Perahu Kertas 2 di PIM. Sayang itu Minggu, dan penuh banget yg nonton, jadinya kita kebagian di baris2 depan.*deleted* Anyway, karena harga tiket yg juga mahal (50rb kalo hari libur di PIM), disepakati utk acara berikutnya jangan di PIM. Minggu depannya gw kembali ke Margo Platinum utk nonton Looper, film time travelnya JGL yg keren. Alasan sama, film ga tayang di Blitz. Abis itu lanjut Dredd, remake film taun 90an dengan nuansa yg lebih kelam.

Berhubung waktu availablenya pacar terbatas banget, berarti nontonnya mesti yg deket2 tempatnya aja. Karena itulah awal November gw nyobain pergi ke Teras Kota BSD, buat survey lokasi dan Blitznya yg kataya harga tiketnya lebih murah. Emang bener sih, harga tiketnya lebih murah 10rb ketimbang GI. Misal, film biasa di GI (sekarang) 35rb, di Teko 25rb. Of course kalo diitung biaya ongkosnya, ya jadinya sama aja. Nonton Skyfall di Blitz Teko siang2, dan sorenya sekalian nyobain naek kereta dari stasiun Rawa Buntu (yg kayaknya paling deket ke Teko) ke Tanah Abang. Berikutnya, tiap kali gw ke Teko, gw naeknya kereta aja. Minggu depannya kita nonton, tapi bukan di Teko, melainkan di Bintaro Mall. Tetep naek kereta, dan bahkan lebih deket dari stasiun Pondok Ranji, tinggal jalan 15 menit aja. Nonton Jakarta Hati di XXInya, dan *deleted* Masih di bulan November, gw sempetin sekali lagi nonton di Blitz GI, Wreck It Ralph. Keren, film animasi paling keren tahun ini.

Desember, tiga kali nonton, ketiganya sama rara. Pertama waktu yg tadinya buat kumpul2 di Teko, tapi yg dateng cuma mbak wangi, mbak indah, gw, rara, sama rina. Nonton Life of Pi sorenya. Dua minggu kemudian, karena kangen, kembali ketemu di bintaro dan nonton 5cm. Selain itu, karena sewaktu di teko suasananya agak kaku, bad mood, kali ini utk bayar utang momen yg hilang waktu itu. *deleted* Dan akhirnya, di penghujung tahun, our last date. Ga ada berantem2an, ngambek2an. Fokus supaya momen terakhir ini bener2 menyenangkan. Juga ga peduli kalo pulangnya malem banget. Dipikir2 jam 10 sampe rumah ga parah2 banget sih. Rencana awal adalah nonton The Hobbit, karena durasinya 3 jam, jadi biar bisa lama disana. Opsi berikutnya adalah Habibie Ainun. Tapi berhubung hari Minggu itu yg nonton dua film itu bejibun banget, dan jadinya malah ga nyaman, jadinya pilih nonton Jack Reacher, yg relatif lebih dikit. Ga mengecewakan banget, soalnya filmnya seru dan keren. Dan kita masih norak aja dong :p Sengaja milih duduk di lajur kiri, bukan di tengah. Soalnya kosong, bisa puas pacaran disana :p Anyway, itu acara nonton terakhir kita, di tahun ini, dan seterusnya. Fun dan menyenangkan :) yang membuat gw mesti membiasakan diri lagi untuk nonton film sendiri di kesempatan2 berikutnya.

Di antara film2 yg ditonton tahun 2012 ini, favorit nomer satu gw adalah Prometheus, berikutnya Modus Anomali, lalu The Thieves. Film2 kayak TDKR, Avengers, Hunger Games juga asik, apalagi film2 yg nontonnya berdua sama pacar.

Monday, October 15, 2012

[Review Film] Perahu Kertas 2


Director: Hanung Bramantyo

Cast:
Maudy Ayunda
Adipati Dolken
Reza Rahadian

Plot:
Ceritanya dimulai lagi sejak Kugy ketemu Keenan di acara nikahannya Eko dan Noni. Masing2 yg udah punya pacar baru, Kugy dengan Remi, dan Keenan dengan Luhde, biar bagaimana seneng luar biasa karena akhirnya bisa dipertemukan lagi. Sejak itu mereka pun jadi deket lagi, ngelanjutin kerjasama mereka dalam nulis dongeng dan gambar ilustrasinya. Kedekatan yang bikin pihak lainnya merasa dikesampingkan, terutama Remi yang rada2 posesif, begitu kuatirnya kalo ga ada kabar dari Kugy berapa jam aja.

Hingga momen2 yg menentukan terjadi. Remi ketemu dengan Keenan, dan Kugy ketemu Luhde, kemudian masing2 menyadari hubungan yg lainnya. Kemudian Remi ngasih Kugy cincin, secara informal mengajukan tunangan. Kugy yg bingung karena belom bisa nentuin sikapnya, sempet ngumpet di rumah kakaknya, hingga akhirnya Keenan datang. Meskipun mengakui perasaannya ke Kugy, Keenan bilang kalo momen utk mereka sudah lewat, dan bahwa Kugy mestinya menerima Remi.

Sekilas kelihatannya keadaannya stabil. Tapi tidak. Remi kemudian sadar kalau di hati Kugy selalu ada bayang-bayang Keenan, dan karenanya dia pun melepaskan Kugy. Begitu juga dengan Luhde, dia menyuruh Keenan pergi karena hati Keenan tidak untuknya, or semacam itulah. Dan, eng ing eng, di epilog meskipun ga ditunjukin secara eksplisit, Kugy pun akhirnya bersama Keenan.

Komennnn:

Hmmm, gimana ya, meskipun endingnya sesuai dengan yg kita harapkan (dan sesuai buku tentunya), bagian kedua ini memang kurang dari yg pertama. Kurang adanya momen2 yg menyentuh. Mungkin karena porsinya diabisin semua ama Kugy Keenan Remi (Luhde juga, meskipun ga sebanyak yg 3 tadi). Hampir ga ada bagian tentang persahabatan dengan Eko dan Noni. Padahal bagian itu yg di film pertama bikin saya terharu berkali-kali.

Salah satu momen utama yg bikin sedih mungkin waktu Kugy terombang-ambing perasaannya, dan kemudian Keenan datang menyusul ke tempatnya Karel. Sayang, adegan yg kalo di buku saya bayanginnya keren banget itu, di film jadi agak gimana gitu. Karakter Karelnya sih, biasa aja, padahal saya bayanginnya kalo di buku itu dia berwibawa banget.

Lalu, lalu lalu, ini nih, concern setelah liat endingnya. Dugaan saya benar ternyata seputar tokoh tambahan, yaitu Siska dan Banyu.

Waktu itu saya pernah bikin semacam komen seputar nasib2 tokoh pendukung seperti Remi dan Luhde yg ga dikasih decent ending, di sini. Nah, jelaslah, banyak juga yg berpikiran seperti itu. Makanya karakter Siska dan Banyu dimunculkan. Tujuannya apa, sebagai plan B bagi Remi dan Luhde biar mereka mendapat decent ending, ga ditelantarkan begitu aja di akhir cerita.

Tapinya, rada aneh juga menurut saya. Kesannya terlalu ngebut, yaiya gitu, abis putus dari Kugy, Keenan langsung jalan bareng Siska? Agak maksa, mungkin mestinya dibikin tersirat aja, mengarah ke sana, tapi yg ga buru2, ato kalo mau, pas berapa bulan kemudian gitu. Ada ending yg munculin Wanda (pacarnya Keenan yg dulu itu lho) dengan pacar barunya. Naah itu baru masuk akal, karena rentang waktunya udah agak lama dari sejak dia putus dengan Keenan.

Dan kemudian, satu yg menurut saya bad influence dari film ini, yg dinyatakan dengan ucapan Luhde "Hati itu bukan memilih, tapi dipilih" atau sejenisnya. Sodara-sodara, beneran ini falsafah yg menyesatkan. Coba ya. Kugy dan Remi itu aslinya udah cocok2 aja, begitupun Keenan dan Luhde. Keduanya udah bisa nerima pasangannya yg sekarang. Lalu kenapaaaa mesti dibawa2 lagi masa lalu? Nyebut2 hati memilih dipilih lah. Yakalo berdasarkan falsafah ini, ga ada kesempatan dong buat jadian ama yg baru, terus aja gitu stuck ama masa lalunya karena masih ada di hatinya.

Dalam kehidupan nyata, masalah hati dipilih itu juga menyesatkan kan. Orang2 move on dari masa lalunya, ketemu dengan orang yg baru, lalu mulai hubungan yg baru. Meskipun masih ada bayang2 orang sebelumnya, waktu akan membuat mereka mengatasi hal itu, dan settle dengan pasangan barunya. Tsahh, macam ahli aja gw, haha.

Rating saya: 7.5/10. Kalo yg pertama barangkali 8.5/10


Btw kurang suka ama posternya. Aneh aja ngeliatnya, kesannya jadi film komedi2 gitu, padahal ini drama lho yg banyak adegan mengharukannya.

Wednesday, October 10, 2012

[Review Film] Our Town (2007)


Prelude:

Jadi ceritanya gw lagi liat2 salah satu film Taiwan di RED, salah satu channel tv kabel yg khusus nayangin film2 Asia. Filmnya Would You Still Love Me kalo ga salah, yg mana ceritanya gw ga tau apaan, soalnya cuma ngeliatin pemeran ceweknya doang yg cakep. Lalu pas di iklan liatlah iklan film Korea yg menarik banget. Judulnya Our Town. Dari trailer iklan itu, disebutin a gifted killer meet natural born killer, atau semacam itulah. Wow, another Korean thriller movie. Pasti bagus nih. Karena itulah gw tonton lagi yg siaran ulangnya.

Plot? Hmm, karena biasanya gw beberin plotnya detail banget, kali ini gw coba ulas dengan cara lain.

Years ago, seorang anak kecil hidup bersama ibunya. Ibu yg cuek-cuekan sama anaknya, berprofesi rentenir, dan hampir tiap hari membawa pacar2nya ke rumah, dan menyuruh anaknya diam. Si anak dalam hati membenci ibunya yang despicable itu. (susah nyari padanan bahasa Indonesia yg bagus)

Lalu ada dua orang anak, beberapa tahun lebih tua dari anak tadi, yg berteman baik, hampir seperti saudara. Orangtua Gyeong-ju punya pabrik furnitur, dan dia sering mengajak Jae-shin, temannya itu mampir ke rumahnya.

Kemudian rentetan peristiwa terjadi di masa itu, mencemari sifat baik anak2 itu, dan menyebabkan permasalahan yang terjadi di kemudian hari.

Ayah Gyeong-ju yg pemabuk menghina Jae-shin yg yatim piatu. Hal itu cukup untuk membuat Jae-shin kesal dan kembali setelahnya untuk membakar rumah mereka. Tak terduga, ayah Gyeong-ju muncul, dan Jae-shin sempat berkelahi dengannya, membuatnya pingsan.

Kejadian itu membuat rumah itu terbakar, dan ayah-ibu Gyeong-ju tewas. Gyeong-ju sendiri yang sebenarnya berada di sana, menyelamatkan dirinya sendiri sementara ibunya masih berusaha menyelamatkan ayahnya. Kejadian ini membuatnya merasa bersalah. Juga demikian dengan Jae-shin yang keesokan paginya mendapati bahwa tak hanya rumah yg terbakar, tapi orangtua teman baiknya juga.

Kejadian yang membawa ke kejadian berikutnya. Setelah kebakaran itu, aset2 pabrik gyeong-ju diambil alih oleh wanita rentenir tadi. Gyeong-ju mengira wanita itu turut bertanggung jawab atas kematian ibunya, karena itulah dia membunuh wanita rentenir itu. Wanita yg merupakan ibu dari Hyo-i. Dan Hyo-i menyaksikan kejadian itu. Setelahnya dia terliaht memelintir kepala kucing peliharaannya.

Ketiga anak itu, Gyeong-ju, Jae-shin, dan Hyo-i kemudian sempat berada dalam satu lingkungan yg sama, di panti asuhan (karena Gyeong-ju dan Hyo-i kehilangan orangtuanya, menyusul Jae-shin yg sudah lebih dulu orphan). Di tengah2 bully oleh teman2 seumurannya, Gyeong-ju berperan sebagai kakak Hyo-i dan melindunginya, hingga Hyo-i memanggilnya 'guru'. Ironis, karena Gyeong-ju tidak menyadari kalau anak itu adalah anak dari wanita yang dibunuhnya.

Benih dari peristiwa2 kriminal yang terjadi kemudian.

Pembunuhan berantai, dimana korbannya selalu wanita, dengan modus yang sama.

Gyeong-ju sekarang menjadi penulis yg kesulitan membayar uang sewa rumahnya. Dia menulis cerita kriminal, dengan detail yg akurat, termasuk tingkat kekerasannya. Semua detail yang muncul karena pengalamannya membunuh di waktu kecil. Tak hanya itu, otaknya pun menjadi sangat imaginatif, dalam satu adegan dia membayangkan pembunuhan sepasang orang lewat secara mendetail, yg dilakukan sendiri olehnya. Pertikaian dengan nyonya pemilik rumah yg menagih uang sewa dan menghina orangtuanya, membuatnya melakukan pembunuhan lagi, dan menyamarkannya sebagai copy cat dari pembunuhan berantai yg sedang terjadi.

Jae-shin, yang dulunya anak bandel, menjadi polisi, pangkat letnan, yg menangani kasus pembunuhan berantai ini. Terlepas dari statusnya sebagai orang luar (bukan polisi), Jae-shin sering bertemu dan minum2 bersama Gyeong-ju, sembari menceritakan kasusnya. Hingga kemudian dia menyadari bahwa Gyeong-ju kemungkinan besar adalah pelakunya. Jae-shin menolak untuk menahannya, karena merasa bertanggung jawab telah membuat Gyeong-ju menjadi pembunuh. Tapi kemudian dia pun paham kalau ada pembunuh yang asli, pelaku dari pembunuhan berantai ini.

Hyo-i. Thanks to Gyeong-ju yang membunuh ibunya (yg sebenarnya membuatnya senang), kemudian menjadi pelindungnya di panti, Hyo-i mencontoh Gyeong-ju. Dia pun mulai membunuh. Jika dibandingkan dengan Gyeong-ju, Hyo-i lebih gila. Psikopat sejati. Dan dia cerdas, lebih cerdas ketimbang Gyeong-ju dan Jae-shin. Dia berbaur dan membuka toko.

Kemudian mereka bertiga bertemu pada klimaks cerita.

Gila. Satu lagi film thriller Korea yang membuat gw mikir keras. Bukan sekedar pembunuhan berantai, tapi juga latar belakang dan tiga tokoh utama yang kuat, masing2 punya ceritanya sendiri yang saling berkaitan. Dalem banget pokoknya, apalagi kalo udah bagian flashback. Sedih dan ngeri nontonnya.

Disini kita juga bisa liat dengan jelas gimana psikopat yg sebenarnya itu, si Hyo-i. Yang dengan mudahnya membunuh anjing peliharaannya, karena anjing itu memakan jatah makanan Hyo-i. Bagaimana dia bersikap sebagai anak muda yg sopan dan rajin membantu orang lain. Bagaimana dengan tenangnya dia menyamar sebagai wartawan dan menyelinap ke markas polisi. Bagaimana dia dengan sengaja memberikan banyak petunjuk untuk dipecahkan. He wants to be caught, but he's not gonna make it easy.

Karakter Gyeong-ju menimbulkan simpati. Tadinya gw kira emang dia pembunuhnya lho, termasuk adegan bunuh orang yg lagi parkir mobil di jalan malem2. Ga taunya cuma bayangin. Dia juga, karena pernah membunuh orang, jadi paham cara berpikir pembunuh. Meski masih terlambat, dengan cepat dia bisa menyimpulkan siapa korban yg sebenarnya menjadi sasaran di pembunuhan berantai. Iya, pembunuhan berantai yg mirip pembunuhan ABC-nya Agatha Christie, hanya ada satu korban saja yg sebenarnya diincar. Yang lain hanya melengkapi.

Kemudian teringat kata-kata Gyeong-ju ke Jae-shin: "You want to catch the killer, you gotta think outside the box, think like them."

Rating: 9/10.

Sunday, October 07, 2012

[Review Film] Prometheus (2012)



Director: Ridley Scott
Cast:
Noomi Rapace
Michael Fassbender
Charlize Theron
Idris Elba
Logan Marshall-Green


(Rada telat banget yak gw baru mau ngomongin review buat Prometheus sekarang.)

Plot:

Hmmm.
Alien dateng di jaman dahulu, dan menjadi pendahulu manusia.
Ellie dan Charlie nemu lukisan di gua, dengan starmap yg sama dengan penemuan di lokasi2 lain.
Mereka berangkat, lengkap dengan anggota tim yg lain dengan kapal Prometheus, ke lokasi yg dimaksud, entah di galaksi apa. Tiba di sebuah bulan, dimana diduga the Engineer berada.
Penjelajahan ke gua. Mendapati para Engineer sudah mati. Kembali ke pesawat, mendapati dna mereka sama dengan manusia. Leluhur.
David si android bawa semacam black liquid, dicampur ke minumannya Charlie.
Nyusul Fifield dan Milburn yg ketinggalan di gua, tapi mereka udah mati diserang mahluk kecil2 aneh. Charlie kondisi kritis, karena terinfeksi black liquid.
Vickers melarang Charlie masuk kapal, Charlie sengaja bunuh diri dengan dibakar Vickers.
Ellie tiba2 hamil, hasil infeksi Charlie yg nular ke dia. Susah payah masuk ke medpod dan ngeluarin mahluk asing dari perutnya.
Weyland muncul, sengaja dalam kondisi stasis, siap untuk ketemu the Engineer yg ternyata masih ada satu yg hidup.
Mereka kembali lagi ke gua. David bangunin the Engineer dan coba bicara dengan bahasanya.
Engineer malah nyabut kepala David dan membunuh semua anggota tim. Ellie kabur.
Gua yg dimaksud ternyata pesawatnya the Engineer, siap berangkat ke bumi membawa wabah2 monster.
Ellie minta Janek buat menghentikan pesawat Engineer. Janek nubrukin Prometheus dan menggagalkan pesawat Engineer.
Pesawatnya jatuh, menimpa Vickers.
Ellie pergi ke lifepod milik Vickers, mendapati mahluk yg dikeluarin di perutnya udah jadi monster berukuran besar. Engineer juga datang memburunya. Ellie memancingnya dan mengumpankannya ke monster.
David minta bantuan Ellie, karena dia bisa mengendarai pesawat Engineer.
Ellie minta David untuk membawa mereka, bukan ke bumi, tapi ke planet asal the Engineer.
-the end-

komen:
Let's see, let's see. Ini film yang paling berkesan buat gw di tahun 2012. Apa ya yg mau dibahas?

Creation
Sesaat setelah nonton, komen gw waktu itu adalah: be careful with what you created. Dalam film ini, ada beberapa yg merupakan hasil ciptaan. Manusia, android, dan monster alien.
1) The Engineer yang menjadi pendahulu manusia (atau ada juga yg menyebutnya menciptakan manusia, please ga usah dimaknai secara literal). Itu beribu-ribu tahun yg lalu, dan kemudian sekarang mereka malah ingin memusnahkan manusia. Kenapa? Ellie tentu saja ingin tahu kenapa mereka mengubah pikiran. Apa tujuan mereka, apakah mereka hanya sekedar giant evil gods? (istilah dari The Cabin in the Woods) Yang pasti sifat jahat Engineer ini membuat Ellie kehilangan respek, dan dia pun dengan bersusah payah berhasil menjebak Engineer yg tersisa ke kematiannya.
2) The Engineer juga menciptakan eksperimen berupa tabung2 berisi cairan hitam, yang seperti dikatakan Janek, senjata biologis, yg hendak dipakai untuk memusnahkan manusia. Tapi lihat hasilnya, malah mereka sendiri yang terbunuh oleh monster yg mereka ciptakan.
3) David, the Android, diciptakan oleh manusia, dlm hal ini Weyland Corp. Waktu gw bilang hati2 dengan ciptaan kita, artinya juga adalah, perlakukan mereka dengan baik. Lihat David. Dia menuruti perintah Mr Weyland, tapi apakah dalam pikiran AI-nya dia tidak ingin bebas, free, dari pengaruh Weyland? Yang jelas David  terpancing oleh sikap meremehkan yang ditunjukkan Charlie, dan karenanya tanpa ragu menjadikan Charlie korban percobaannya dengan cairan hitam itu.

Belief
Quote dari Ellie. "That's what I choose to believe."
Begitupun dengan film ini. Film yg bagi sebagian orang kontroversial, karena memberikan ide kalau manusia diciptakan oleh alien, bertentangan dengan kepercayaan yg selama ini kita anut. Apa iya? Pertama, ini film science-fiction. Meskipun memang ide manusia diciptakan alien berasal dari pemikiran2 "what if" para ilmuwan, itu masih sebatas teori2 belaka. Ridley Scott hanya melangkah lebih jauh dengan mengembangkan teori itu menjadi cerita yang seru dan menegangkan. Dan kembali lagi ke Ellie, yg dihadapkan pada situasi alien. Dia tetap percaya pada Tuhan, karena itu adalah "what she choose to believe".

Lagipula, dalam film ini, alien2 itu lebih sebagai pendahulu, semacam manusia purba, bukan pencipta. Yg gw tangkep, dna2 mereka menyatu dengan dna2 manusia purba sehingga berevolusi menjadi manusia yg sekarang. Nah. Lalu, dalam satu scene dibahas juga. "(if) they created us, but who created them?" Nah, masih ada Sang Pencipta yg juga menciptakan alien2 itu.

Tapi sudahlah, film mestinya hanya sebagai hiburan, juga untuk memperluas pikiran kita, ga mesti dipercaya sepenuhnya. Kita sudah dewasa, tau apa yg mesti dipercaya.

Human Arrogance vs Robot
Memperpanjang penjelasan seputar David. Sejak awal mereka ketemu, entah kenapa Charlie bersikap sinis ke David, dan dengan segera mereka menjadi semacam rival Why? Insecure, sentimen terhadap robot? Apapun alasannya, sikap itu sudah mengorbankan nyawanya. David is like, the smartest being on the ship. Satu-satunya hal yang mencegahnya mengambil alih pesawat adalah dia sudah diprogram untuk mematuhi perintah Weyland. Dia hanya butuh diperlakukan dengan baik, paling tidak setara, sebagai teman. Mengingatkan kita akan dunia Harry Potter, dengan Kreacher. Lihat yg terjadi sewaktu Kreacher diperlakukan buruk, liat hal2 apa yg bisa dia lakukan (menyebabkan kematian Sirius), dan lihat bedanya sewaktu dia diperlakukan dengan baik. See?
Treat him good, and David will be your best friend.

Afterall, dari yg gw baca di wiki sih, karakter David ini banyak dapet sambutan positif dari para kritikus. Such a complex character for a robot. Robot yg katanya ga  bisa merasakan emosi, nyatanya dia dibekali hal semacam itu yg bisa membuat dia iri, envy, jealous, dan sedikit jahat. Ah well, bygones. Setelah Engineer mengobrak-abrik Weyland dan kru lainnya, persaingan itu pun jadi tak berarti. Yang tersisa cuma Ellie dan David, yg mesti bekerja sama kalau tetap ingin melanjutkan perjalanan mereka ke planet Engineer. *sequel*

Rating saya: 9.5/10

keren yah pesawatnya..

David yg takjub mendapati teknologi Engineer yg sangat maju

Engineer ini lagi nyoba nyalain pesawatnya... buat nyerbu bumi.


Btw biar ga serius2 amat, coba ini liat parodinya di Youtube, persembahan dari HISHE dotcom. How Prometheus Should Have Ended. Nanti bisa ngetawain hal2 bodoh yg masih ada di film ini.

Sunday, September 23, 2012

Blitz Week

Bukannya apa-apa sih, tapi dalam minggu ini, gw udah dua kali ke Blitz, yaitu Selasa dan Jumat, buat nonton 3 film. Yg pertama nonton sendiri, yg kedua bareng temen.

Selasa itu, karena masuknya malem dan masih jam 10, jadinya pagi itu gw tidur dulu sampe siang, baru abis itu ke Blitz menjelang sore, untuk nonton The Thieves, salah satu film Korea yang keren abis. Ini karena kemaren2 sempet diomongin ama om pipis dan kak rahne, katanya bagus gitu. Penasaran gw cari2 info, ternyata tentang heist2 gitu, mirip Oceans Eleven barangkali ya.

Jadilah gw beli tiket untuk nonton The Thieves yg jam 16.15, sekalian beli tiket untuk film berikutnya, Resident Evil: Retribution yg jam 19.30. Perkiraan selesai nonton Evil jam 9an, baru abis itu ke kantor naek bis trans.


The Thieves. Keren. Ceritanya tentang sekelompok pencuri, yg masing2 punya skill khusus, jadi ada pembagian tugasnya, dapat ajakan untuk misi besar dari Macau Park, seorang pencuri ahli. Sebuah ajakan yang mencurigakan, karena dahulu Macau Park pernah berselisih paham dengan Popeye, pemimpin mereka. Toh akhirnya mereka tetap menyanggupi ajakan itu, dengan mempersiapkan siasat untuk membalas Macau Park.

Selain Korean gang, Macau Park juga merekrut kelompok pencuri CIna, yang menggunakan metode yang lebih keras, yaitu senjata, dan lebih merupakan merampok ketimbang mencuri. Mereka pun mengikuti misi ini, juga dengan agenda lain. Semakin rumit karena di dalam satu geng pun, beberapa anggota memiliki tujuan sendiri2 yang berbeda, intinya adalah bagaimana mendapatkan target, yaitu berlian berharga, untuk dirinya sendiri.

Ketika misi akhirnya dilakukan, situasi pun kacau balau, situasi saling tusuk dari belakang dilancarkan Macau Park dan anggota yg lain. Twist demi twist tersaji, siapa sebenarnya yang berkhianat dibeberkan, membuat penonton seperti saya berbalik mendukung karakter lain. Dan tentu saja, lawan tangguh yang terkenal misterius, yang kemunculannya membuat saya terpukau, karena dengan tenang dan mudahnya dia melumpuhkan semua lawan-lawannya, termasuk armada polisi yang sudah mengepung mereka.

Seru abis pokoknya.

Selesai film itu jam setengah 7 lebih. Tadinya gw mau makan dulu, tapi malah gajadi dan yaudah nunggu jam setengah 8 aja. Resident Evil. Padahal ga terlalu ngefans sih, tapi udah telanjur nonton film sebelumnya, Afterlife, waktu itu di bioskop di Ciwalk, jadi semacam keharusan gini.


Resident Evil: Retribution. Sayangnya pas nonton ini keliatannya saya udah agak ngantuk, agak kurang fokus. Tapi pas adegan berantem2nya masih inget sih. Intinya Alice yg waktu itu di kapal diserang ama pasukan Umbrella Corp, yg anehnya dipimpin ama rekannya dulu, Jill Valentine yg dikendalikan musuh. Alice tertangkap, dan ditahan di markas Umbrella di bawah lautan.

Yang anehnya, si Albert Whisker yg jadi musuh di film sebelumnya, kali ini malah nawarin bantuan buat ngebebasin Alice, dan ngirim beberapa orang (Leon siapa gitu, juga karakternya Boris Kodjoe, juga Kevin Durand, yah ga apal gw nama-namanya) buat bebasin Alice. Mereka pun mesti kabur sambil ngelawan monster-monster, dan juga pasukan yg tadinya temen2 mereka, Jill Valentine, dan Rain (karakternya Michelle Rodriguez dari film yg pertama).

Oiya, opening Retribution ini, seperti yg ada di trailernya, ngasih kesan kalo Alice ada di lingkungan yg damai, punya keluarga, suaminya si Oded Fehr itu, dan punya anak perempuan. Yg meranin Aryana Engineer kl ga salah, yg waktu itu maen di Orphan. Uniknya, mirip seperti Orphan, karakter anak ini juga tuna rungu. Lalu opening sebelum itu juga ga kalah keren, jadi adegannya dibalik gitu, dimundurin, dari Alice yg nyebur ke laut, gerakannya direverse ke sewaktu dia ngelawan pasukan Umbrella sampe sebelum pesawat2 musuhnya dateng.

Rada-rada aneh aja, tiba2 tokoh2nya switching side gitu, ada yg jahat jadi baek etc. Dan makin ga abis-abis aja. Ini udah film kelima dan belum ada penyelesaian yg tuntas. Masih bakal ada lanjutannya ini. Haduhh.

Okeh. Sebelum film The Thieves mulai, ada trailer tentang beberapa film, salah satunya tentang Architecture 101. Film Korea, Yg menarik perhatian gw sih pemeran ceweknya cakep banget. Dan kebetulan aja malemnya adit ngomongin film itu. Gw nyamber aja, mau ikut nonton ceritanya. Dan jadilah direncanakan untuk nonton film Architecture itu hari Jumat sore, pas pulang kerja, bareng adit dan iip.

Padahal Jumat itu, seperti Sabtu, gw abis pulang pagi, dan belom sempet tidur sampe setelah Jumatan. Mana mata udah rada sakit. Kemungkinan karena kemarennya begadang. Makanya sempet bilang ga bisa janji jadi ikut. Akhirnya tidur dulu, dan baru kebangun menjelang jam 4, dimana gw mesti buru2 berangkat biar dapet kereta dan nyampe di waktu yg direncanakan. Karena udah ditungguin di stasiun Depok ama adit, yg transit dulu. Meski ga dapet kereta yg jam 16.40 itu, naek yg jam 5 ternyata masih sempet nyampe GI sebelum film mulai.


So, Architecture 101. Sebuah film romantis yang buagus banget. Ga nyangka ya, dua kali nonton film Korea, keduanya keren-keren meski genrenya beda banget. Ceritanya seorang wanita dateng ke arsitek, minta dibikinin rumah. Mereka ternyata temen kuliah dulu, waktu ikut matkul Architecture 101, padahal si cewek jurusan Musik. Dan tentu aja bukan cuma temen, tapi si cewek adalah first love-nya si cowok, dan vice versa.

Aduuh, kenapa mesti datang sekarang ya, gitu mungkin yg ada di pikiran cowoknya, begitu cinta pertamanya nongol lagi, disaat dia mau nikah bentar lagi ama pacarnya. Situasi pengerjaan desain dan pembangunan rumah membuat mereka jadi deket lagi, dan sepertinya ada harapan (bagi penonton seperti saya) kalo mereka bakal bersama. Ternyata engga sih. Yg juga bikin gw bingung. Loh kok, ga balikan? Gitu yg gw tanyakan di akhir film. Yg dijawab dengan bijak sekali oleh adit, karena ada masa lalu yang ga bisa diperbaiki, seperti halnya pintu rumah si cowok yg rusak.

Lebih lanjutnya, bisa juga dibaca reviewnya adit, atau review iip tentang film ini. Juga review dari ahlinya, om asliga di sini. Wow, padahal aslinya gw pengen nonton ini karena tokoh ceweknya (yg jaman kuliah) cakep banget, ga taunya filmnya emang bagus banget.

Abis nonton itu kita makan dulu di KFC, dimana akhirnya gw bisa ngerasain rasa Chilly Krunchy itu, emang beda sih. Dan kurang puas karena baru makan satu. Nanti2 ke KFC lagi ah. Dan karena nonton bareng ini, akhirnya gw ngerasain juga naek kereta yg terakhir jam 22.47. Karena mau naek yg dari Sudirman udah abis, kita naek taksi dulu ke Gondangdia, baru naek kereta yg terakhir itu. Sampe rumah jam 12 kurang. Capek dan mata kayaknya masih sakit, tapi puas banget hari itu.