Featured Post

[Review] Game of Thrones (season 6)

Setelah setahun, GoT kembali di season 6. Sebenarnya gw juga ga begitu nunggu2 sih, karena lagi asik ngikutin serial yg lain (The Flash...

Showing posts with label nulisajalah. Show all posts
Showing posts with label nulisajalah. Show all posts

Thursday, February 02, 2012

Kacamata?

Cuplikan dari cerita "Kacamata" yang muncul di buku The Coffee Shop Chronicles.

Gadis itu mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan kafe itu, mencari-cari. Dilihatnya beberapa pasangan, ada yang mesra saling suap-suapan, ada yang sepertinya sedang bertengkar, kemudian ada juga seorang laki-laki yang asyik dengan bukunya duduk sendiri, beberapa pasangan lagi, seorang gadis lain yang jelas sedang menunggu seseorang juga, seorang bapak-bapak yang kelihatannya salah tempat, dan dia sendiri. Hmm, belum datang rupanya. Dia mengalihkan pandangannya ke pintu masuk kafe, menunggu hingga orang itu muncul.

Gadis itu datang lima belas menit lebih awal dari waktu yang mereka sepakati. Lima belas menit yang terasa lama. Dia masih belum memesan apa-apa, menunggu hingga orang yang dicarinya bergabung dengannya.

“Maaf, boleh duduk di sini?”

Gadis itu menoleh, ke laki-laki yang tiba-tiba sudah berada di depan mejanya. Laki-laki yang tadi membaca buku sendirian. Rambutnya agak pendek, dan kacamatanya tebal.



===========================
(awalnya) ditulis untuk seru-seruan FFberantai :D
kemudian berlanjut hingga dibukukan dan masuk ke toko buku :D

Thursday, January 19, 2012

Sepucuk Surat (Bukan) Dariku

Dear Zoe,

Maaf karena aku pergi tanpa memberitahumu.

Terima kasih karena telah memperbolehkanku tinggal di rumahmu selama dua bulan ini. Maaf jika kepergianku terlalu mendadak. Aku tidak bisa mengatakan padamu alasannya, tapi aku tidak ingin merepotkanmu lebih jauh lagi. Jangan berusaha mencariku, karena aku hanya akan mendatangkan masalah buatmu.

Sekali lagi maaf, dan selamat tinggal.


Anthony.


~

Zoe menunjukkan surat itu pada kedua petugas yang mendatangi rumahnya.

“Jadi, bisa kalian jelaskan ada apa sebenarnya dengan Anthony?”

Kedua petugas itu berpandangan. Inspektur Johnson, yang memiliki pangkat lebih tinggi, menjelaskan.

“Maaf Nona Zoe, tapi kami yakin Anthony adalah seorang pembunuh berantai yang sudah membunuh 10 orang selama setahun terakhir ini.”

Zoe menahan napas.

“Ya Tuhan! Betulkah itu? Anthony orang yang ramah dan humoris. Mana mungkin dia-”

“Begitulah yang dikatakan orang-orang yang dulu mengenalnya. Mereka juga tidak menyangka kalau dia bisa melakukan hal-hal mengerikan ini.”

Zoe terdiam. Wajahnya masih menunjukkan rasa tidak percaya akan keterangan yang baru saja didengarnya.

“Kami sudah mengejarnya selama berbulan-bulan, dan akhirnya tiba di kota ini. Kelihatannya dia sudah mengetahui keberadaan kami, dan melarikan diri lagi sebelum kami sempat mendatangi Anda.”

Zoe masih terdiam. Inspektur Johnson melirik bawahannya dan mengangguk. Mereka pun berdiri.

“Nona Zoe, kecil kemungkinan dia akan kembali ke sini, tapi jika dia melakukannya, bisakah Anda menghubungi kami secepatnya?”

“Tentu saja, Inspektur.”

Zoe pun mengantarkan dua petugas itu keluar. Dilihatnya mobil mereka yang melaju meninggalkan rumahnya. Dia terus memandangi dari jendela hingga mobil itu lenyap dari pandangannya.



Tanpa terburu-buru, Zoe masuk ke kamarnya, menggeser lemari pakaiannya, dan mendapati pintu tersembunyi di baliknya. Dia membukanya, dan mendapati ruangan sempit dimana Anthony sudah menunggunya.

“Kau benar. Mereka datang mencarimu.”

-END-

Tuesday, January 17, 2012

Ada Dia di Matamu

“Katakan padaku, Romola.” ucap Pangeran Theo dengan tenang tapi tegas.

Putri Romola terkesiap. “Apa maksudmu, suamiku?”

“Kita sudah menikah selama dua bulan, dan tak pernah kau menatap mataku secara langsung. Apa yang kau sembunyikan?”

Romola menggelengkan kepalanya, dan mulai terisak. Perlahan Theo mengangkat wajah Romola dan menatap langsung matanya. Dipandanginya dalam-dalam.

Setelah sekitar semenit, Theo menghela nafas dan melepaskan Romola.

“Jadi begitu rupanya. Itu sebabnya kau tak pernah bisa memandang mataku. Ada orang lain di sana, orang yang selalu ada dalam pikiranmu. Katakan, siapa dia, Romola?”

Romola berusaha menahan tangisnya dan menatap Theo. “Akan kutunjukkan padamu.”

Kemudian Romola pun membawa Theo ke luar istana ke sebuah kubah besar dimana mereka menyimpan berbagai hewan peliharaan di sana. Dia berhenti di sebuah kandang. Ada seekor kodok di dalamnya.

Theo memandangi kodok itu lama, kemudian menoleh ke Romola.

“Apa maksudnya ini, Romola?”

“Dialah yang kaucari. Orang yang selalu ada di mataku, yang selalu ada di benakku.”

“KODOK INI??”

Romola mengangguk.

“Dia adalah kekasihku. Tadinya dia adalah seorang pemuda yang tak kalah tampan darimu. Kemudian hampir setahun yang lalu, seorang penyihir mengutuknya menjadi seekor kodok. Kutukannya baru akan hilang jika seorang putri menciumnya, tepat setahun sesudahnya.”

Theo yang cerdas pun menyimpulkan.

“Jadi kau sengaja menikahiku yang seorang pangeran ini, supaya kau bisa menjadi seorang putri, kemudian mencium kodok itu, dan mengubahnya kembali menjadi pemuda kekasihmu? Ya, masuk akal.”

“Maafkan aku, Theo. Bukannya aku bermaksud mempermainkanmu, tapi aku sungguh mencintainya. Jadi tolong, jangan ceraikan aku dulu. Paling tidak sampai kutukan itu lenyap.”

“Romola, mestinya kau menjelaskan hal ini padaku sejak awal. Aku akan dengan senang hati membantumu untuk dapat membebaskan kekasihmu.”

“Terimakasih, Theo.”

“Lalu, apa yang terjadi jika usahamu tidak berhasil?”

“Dia akan tetap menjadi kodok, dan akan kehilangan semua ingatannya sewaktu menjadi manusia. Kalau itu terjadi, aku hanya bisa melupakannya dan melanjutkan hidupku.”

Dengan penuh pengertian, Theo merangkul Romola.

“Jangan kuatir, Romola. Mari berdoa semoga kau bisa mengembalikan wujudnya seperti sedia kala.”

“Terimakasih, Theo. Aku tak tahu bagaimana membalas kebaikanmu.”

“Jangan kau pikirkan hal itu. Mana mungkin aku tinggal diam menyaksikan sepasang kekasih menderita seperti ini?”

Mereka pun meninggalkan bangunan itu dan kembali ke istana. Romola pun tersenyum karena harapannya agar kekasihnya kembali normal akan segera terwujud.









Keesokan harinya, pagi-pagi sekali dimana orang-orang masih tertidur, Theo mendatangi kubah itu sendirian dan mengunjungi si kodok. Dia membuka pintu kandangnya, dan menatap kekasih Romola itu.

“Hai, kodok. Aku ingin bicara denganmu.”

Diraihnya kodok itu, dan diletakkan di tanah. Si kodok diam, menunggu Theo berbicara. Theo diam sejenak, berpikir.

Kemudian diinjaknya kodok itu hingga mati.

Dia membuka bungkusan yang dibawanya, dan memasukkan kodok lain yang persis mirip ke dalam kandang, kemudian menutupnya kembali.

“Masalah selesai.” ucapnya sambil tersenyum.



-BERSAMBUNG (Ga Jadi END)-


=================================
author's note: asal cerita dari sini
@plut0saurus: @minky_monster @WangiMS kata mas @momo_DM temanya selingkuh :| *selingkuh sama kodok* #plotNonGalau ^^

lanjutannya yg versi dian, ada di sini
Ada Dia di Matamu

Monday, January 16, 2012

Jadilah Milikku, Mau?

“Bagaimana, Kimiko?”

Kimiko tidak menjawab. Duduk bersimpuh di lantai, dia berada di tengah-tengah aula istana yang dipenuhi oleh para pengawal, sementara di hadapannya, duduk di singgasana yang megah, Pangeran Yasuhito, penguasa distrik ini.

“Kimiko, kau gadis paling cantik yang bisa kutemukan di desa ini. Kau hanya perlu mengatakan ya, dan kau akan bisa menikmati hidup yang mewah di istana ini bersamaku. Yang kuminta adalah agar kau mau menjadi milikku untuk selamanya, sebagai istriku.”

Kimiko meneguhkan hatinya, kemudian mengangkat kepalanya ke arah Pangeran Yasuhito dan menjawab.

“Maafkan aku, Pangeran Yasuhito. Permintaanmu sungguh baik hati, dan aku yakin dalam keadaan normal, tidak ada wanita yang akan sanggup menolaknya, begitupun denganku.”

Pangeran Yasuhito tersenyum puas.

“Akan tetapi, aku tidak bisa begitu saja mengabaikan fakta akan semua perbuatanmu selama ini. Sejak kau mengambil alih kekuasaan dari ayahmu, kau menerapkan kebijakan yang memberatkan rakyat. Kau memaksa rakyat bekerja berkali lipat seperti budak, untuk kemudian kau rampas semua hasil kerja mereka untuk membayar upeti yang kau naikkan seenaknya. Semua itu kau lakukan supaya kau bisa hidup bermewah-mewah seperti ini. Maaf saja Pangeran, tapi aku tidak bisa mengabaikan semua hal itu.”

Pangeran Yasuhito mulai geram.

“Apa itu berarti kau menolak tawaranku?”

“Lebih baik aku mati daripada menuruti perintahmu.” Kimiko berkata dengan tegas.

Pangeran Yasuhito bangkit dari singgasananya dan berteriak dengan marah.

“Pengawal! Penggal leher wanita ini. Dasar wanita tak tahu diri. Aku memberimu kesempatan, tapi malah kau sia-siakan.”

Seorang pengawal bergerak mendekati Kimiko yang diam tak bergerak. Dia mencabut pedangnya, dan memposisikannya di leher Kimiko, kemudian mengangkat pedangnya sebagai ancang-ancang untuk memenggal Kimiko.

Kimiko tidak memejamkan matanya. Dia sudah siap dengan keputusannya, dan sama sekali tak ada rasa takut di hatinya. Ketika pengawal itu mengayunkan pedang untuk menebasnya, dia sadar, inilah kematiannya.




Tapi pedang itu tak pernah menyentuh leher Kimiko. Pengawal itu tiba-tiba saja terpental. Berdiri di samping Kimiko, seorang pemuda berpakaian asing. Kimiko memandanginya. Diakah yang sudah membuat pengawal itu terpental dan menyelamatkan nyawanya?

Pangeran Yasuhito pun murka. “Siapa kau ini?”

Dengan tenang, orang itu membuka suara.

“Sudah cukup, Yasuhito. Semua tindakan semena-menamu akan berakhir saat ini juga.”

“Bunuh dia!”

Seluruh pengawal yang ada di ruangan itu pun mencabut pedang mereka dan bergerak untuk menyerang orang asing itu.

“Sleep.”

Hanya satu kata itu yang diucapkan pemuda itu, dan seluruh pengawal seakan terhipnotis. Mereka semua roboh ke lantai. Tidak mati, hanya tertidur.

Pangeran Yasuhito memandang tak percaya. Belum habis keheranannya, pemuda itu melesat dengan cepat dan berdiri di hadapannya.

“Hai.”

“Kau...”

Pangeran Yasuhito tidak bisa bicara lebih banyak lagi. Dengan suatu gerakan cepat, tangan pemuda itu mengoyak dadanya hingga tembus ke belakang punggungnya. Tamat sudah riwayat penguasa kejam itu.

Orang asing itu mencabut tangannya kembali dan membiarkan tubuh Yasuhito roboh ke lantai. Dia lalu berjalan menghampiri Kimiko.

“Mulai sekarang kalian bebas.” ujarnya singkat.

“Terima kasih. Kau sudah menyelamatkan kami.”

Orang itu tak menjawab dan langsung melesat pergi meninggalkan istana. Kimiko masih duduk di sana, terkejut, tak percaya dengan apa yang dilihatnya.



Dia mengenali orang itu sebagai Kogoro, pembantai yang menjadi buronan pemerintah.

-END-

====================
author's note: asal usul cerita:
@plut0saurus: @minky_monster "Jadilah milikku, selamanya." Lalu ditebas samurai :p *plot non galau*

Sunday, January 15, 2012

Aku Maunya Kamu, Titik.

Hari Kamis,
sekitar jam 10 pagi...

Prana masih terlelap di tempat tidurnya, dalam posisi telentang yang rapi, persis seperti vampir yang sedang tidur. HP yang ada di samping bantalnya bergetar pelan. Ada SMS masuk.

10: 50

Akhirnya Prana bangun juga. Dengan tingkat kesadaran yang masih 50%, dia meraih HP-nya dan melihat tanda New Message di sana. Dibukanya menu inbox.

Guys, ntar sore nonton  The Tree of Life di XXI yuk, yg jam 4 sore. Berenam. Gw, Fiska, Intan, Gunar, Prana, Akmal. Langsung ketemu di sana ya :)
Marissa – 08152213xxx

Dengan tingkat kesadaran yang naik menjadi 90%, Prana membalas:

Oke. Sori baru bales. Eh, yg laen udah pasti pada bisa?

Dua menit kemudian, SMS balasan dari Marissa:

Udah. Eh ntar gw kayaknya datengnya telat, jadi yang beli tiketnya elu ya?

Dibalas lagi oleh Prana

Beres, bos.

Prana pun merebahkan diri lagi, masih betah tidur-tiduran rupanya. Kemudian entah kesamber setan apa, dia langsung bangkit dengan tingkat kesadaran 100%. Dibukanya lagi SMS pertama dari Marissa. Hmm, siapa tahu bisa.

12:00

Prana menelpon Intan.

“Halo?”

“Halo. Kenapa Pran?”

“Tan, nanti jadi pada ikut nonton kan?”

“Iya.”

“Ada perubahan jadwal. Begini...”

15:50

Prana, sudah membeli tiket untuk jam 4, duduk di kursi empuk di depan Studio 3. Tak berapa lama kemudian, Marissa muncul.

“Hei, Pran. Udah beli tiketnya?”

“Udah.”

“Lho, yang laen belom pada dateng?”

“Oh, kayaknya mereka bakal nonton yang ntar malem deh.”

“Lho kok, kenapa?”

“Mungkin karena gw bilang ke mereka kalo tiketnya bakal gw bayarin kalo mereka mau pindah nonton yang ntar malem.”

“Hah, kenapa?”

“Karena gw maunya ama elu aja. Berdua.”

“Oh.”

Seperti yang biasanya terjadi, mereka berdua pun terdiam. Keheningan itu diinterupsi oleh pengumuman dari XXI.

Pintu teater 3 telah dibuka. Para penonton yang telah memiliki karcis, dipersilahkan memasuki ruangan.

“Jadi beli tiketnya cuma dua aja?” tanya Marissa memecahkan keheningan diantara mereka.

“Iya.”

“Oke.” Marissa pun tersenyum. “Udah agak lama juga gw nungguin lu bikin manuver kayak gini.”

Prana pun tertawa.










17:00

Mungkin, sebaiknya lain kali mereka memilih judul film yang lebih mendukung. Sudah sejam film berjalan, Prana masih tidak paham isi cerita dari The Tree of Life ini. Dia menoleh ke Marissa yang duduk di sebelahnya untuk menanyakan pendapatnya.

“Mar...”

Orangnya sudah ketiduran. Saking bosannya mungkin. Prana menghela napas. Why oh why. Tapi kemudian matanya berkonsentrasi. Bukan memikirkan filmnya. Perlahan dielusnya rambut Marissa yang wangi itu. Dia pun tersenyum geli.

-END-

----------------
author's note: maaf buat temen2 kelas 3 SMA gw, karena namanya gw pake :p Mudah2an ga ada yang nyasar kesini.
btw, itu tips lho! Bisa dicoba.

Saturday, January 14, 2012

Kamu Manis, Kataku

Margaret namanya. Dia anak baru di sekolah ini. Sejak Bu Irma memperkenalkannya di depan kelas, aku langsung jatuh cinta padanya. Kulihat dia agak pemalu, dia jarang bicara dan hanya tersenyum saja ketika teman-teman yang lain mengajaknya ngobrol. Tapi justru senyumannya itulah yang membuatku makin suka padanya.

Baiklah. Setelah pelajaran matematika, pelajaran terakhir hari ini berakhir, aku akan mendatanginya. Harus.

Begitulah, ketika bel pulang berbunyi, di saat yang lainnya buru-buru keluar kelas, aku menghampiri anak baru itu.

“Hai Margaret. Namaku Bobby. Aku cuma pengen bilang, kamu manis sekali.”

Margaret hanya memandangiku. Aku juga. Menunggu reaksinya.

“I’m sorry. I don’t speak Indonesian.”

Bagai disambar petir, aku terhenyak. Lupa memperhatikan bahwa wajah Margaret memang sedikit Indo. Padahal sudah keren-keren begini, tapi orangnya malah gak ngerti bahasa Indonesia. Aku pun tak bisa bahasa Inggris.

“Maaf.”

Aku pun berbalik, ingin lari sejauh mungkin dan menangis. Tapi tak disangka, Margaret memegang tanganku.

“Kidding.” jawabnya sambil tertawa. “Aku ngerti kok bahasa Indonesia. Makasih ya...”

Kemudian dia menghampiriku, dan mencium pipiku.

Aku membeku.

Margaret masih terus tertawa sambil melambaikan tangannya padaku sewaktu dia keluar ruangan kelas.

Ya Tuhan, mimpi apa aku semalam. Ada cewek yang menciumku. Hatiku senang bukan main.

Aku pun berlari penuh semangat, melintasi lorong kelas, hingga keluar gerbang sekolah, terus sampai aku tiba di rumah yang letaknya dekat dengan sekolah.

Aku tak sabar ingin memberitahukan kabar baik ini pada ibuku.

“Mamaaaaaaaaa....” panggilku.

Ibuku muncul dengan tergesa-gesa.

“Ada apa, Bobby?”

“Tadi ada anak baru, namanya Margaret. Aku bilang ke dia kalau dia manis sekali, trus... dia cium aku, Ma.” sahutku bersemangat.

Ibuku hanya tersenyum. Aku pun bergegas lari ke kamarku, melompat ke tempat tidur, memeluk bantal, dan tersenyum-senyum sendiri membayangkan wajah Margaret.





Di luar, ibuku mendesah,

“Dasar, anak baru kelas 1 SD sudah cium-ciuman. Mau jadi apa dunia ini?”

-END-

Saturday, November 19, 2011

just a dream

Last night, I had a dream about you, and me. We're together.
My family opposes that idea, so I abandoned them.
And so does your family. They won't let me be with you.
Soon I realize that I was the Romeo and you are Juliet.
We were happy.

And then I woke up.
I was relieved, because it's just a dream.
Because you and me, that's not right.
So much for just a dream.
A dream that in a way very beautiful,
  but also the one that I don't wish to be real.
~




Can I just have my nightmare back, where the monsters chasing me, and I turn back and kill them?

Saturday, November 12, 2011

anak dewa matahari

pada suatu ketika, di atas langit sana, terdapatlah dewa matahari dan anak-anaknya.
di antara ketiga anaknya, dewa matahari paling suka dengan anak sulungnya yang paling kuat dan patuh padanya.
dewa matahari juga sayang dengan anak bungsunya, karena dia yang paling tampan dan baik perangainya.
anak nomor dua merasa terasingkan. dia benci dengan ayahnya, dan juga saudara-saudaranya.
tapi dia memiliki pantangan untuk tidak menyakiti siapapun, manusia atau dewa.
akhirnya dia pun pergi, dia terbang semakin tinggi dan jauh. tujuannya adalah matahari.
setibanya di sana, dia memusatkan semua kebenciannya, dan menggunakannya untuk meledakkan matahari.
matahari pun meledak, dan habis tak bersisa.
dewa matahari kehilangan kekuatannya, dan kemudian mati.
dunia pun kehilangan cahaya, dan hidup dalam kegelapan.
tanpa cahaya, manusia hanya tinggal menunggu waktu untuk musnah.
anak sulung dan anak bungsu dewa matahari masih hidup. mereka mencari anak kedua, meminta penjelasan darinya.
tapi setibanya mereka di tempat dimana matahari tadinya berada, mereka hanya menemukan sisa-sisa saudaranya.
rupanya ketika matahari meledak, dia juga ikut mati bersamanya.
Kedua saudara itu pun menyesali nasib saudara mereka yang mati dalam kebencian.
tanpa dewa matahari, mereka berdua yang tersisa itu, mengambil alih tugas ayahnya.
bersama-sama, mereka membangun matahari yang baru, yang bisa menjadi cahaya bagi dunia.
butuh waktu yang lama untuk membangunnya, ditambah lagi suasana dunia yang kacau balau tanpa cahaya.
tapi mereka yakin, mereka bisa membuat matahari yang baru, dan menyelamatkan dunia dari kehancuran.
demi ayah mereka, dan demi saudara mereka yang sudah mati. 
~


ditulis sewaktu sedang kesal, dengan harapan kesalnya hilang.

Thursday, November 03, 2011

happiness

"Kid, what do you want to be?" | "Be happy. I just want to be happy, dad."
~ @DAMITCH


Setiap kali ada keputusan penting yang kuambil, aku selalu melaporkannya ke Papa. Seperti waktu aku hendak lulus SMA, kukatakan padanya kalau aku tak ingin melanjutkan ke perguruan tinggi, dan memilih untuk mengikuti beberapa les bahasa asing dan keterampilan lainnya. Dia tidak keberatan.

Begitu pula ketika dua tahun kemudian aku mengatakan padanya bahwa aku ingin menjadi penulis dan pembuat film, dan melanjutkan sekolah di bidang perfilman. Dia mendukung pilihanku sepenuhnya.

Dan kali ini, kembali aku dihadapkan pada satu keputusan yang krusial dalam hidupku. Seperti sebelumnya, kudatangi dia yang sedang duduk di teras belakang sambil membaca  salah satu koleksi bukunya. Dia masih terlihat muda, sama seperti yang kuingat sewaktu aku kecil.

"Dad?"
"What is it, Princess?"
"I want to tell something."
"Go on then."
"Remember the boy that I told you about? I'm in love with him, and I want to spend the rest of my life with him."
"It's a good news! So... what's the problem?"
"He's... different from us."

Papa terdiam. Beberapa menit kemudian barulah dia membuka suara.
"Do you remember when I asked what do you want to be, and then you said you just want to be happy? That's the most honest and beautiful answer I've ever heard. So let me ask you one thing: Are you happy right now, with your life, with him?"
"I am."
"Then you have my blessing. Do it."
"...Thanks, Dad."

"You know, I'm so happy that you still call me 'Dad', even after you realize that I am not your real father."
"You mean, not my 'biological' father. For me, you are my real dad, a great one."

Papa tersenyum.
"Give my regard to your Mom."
"I will."


Dan aku pun terbangun dari tidurku.
Papa meninggal sewaktu aku berumur 11 tahun, sebelum Mama menceritakan padaku bahwa mereka bukanlah orangtua kandungku. Meski begitu, aku masih sering bertemu dan berbicara dengannya, di dalam mimpiku. Hingga saat ini.
~~~





yak, boleh dibilang cerita ini adalah kelanjutan dari cerita sebelumnya, berjudul Keluarga, dengan selang waktu berapa belas tahun kemudian.
and of course, it's fiction.

Friday, October 21, 2011

harus ketemu

I'm a shooting star leaping through the sky
Like a tiger defying the laws of gravity
I'm a racing car passing by like Lady Godiva
I'm gonna go go go
There's no stopping me


Queen – Don’t Stop Me Now
~

SMS masuk. Dengan setengah hati kubaca isinya. Seketika aku tersengat. Kemudian melihat jam di laptop. Waduh, setengah jam lagi. Sempat tidak ya?

Semenit kemudian, aku melompat kursiku dan bergegas keluar dari ruangan kantor. Sesampainya di luar gedung, aku mencari-cari angkot yang biasa lewat. Begitu ada satu yang lewat dan berhenti, aku segera masuk. Angkot pun melaju.

Jadi, isi SMS tadi adalah pemberitahuan bahwa orang yang kucari-cari sedang ada di sebuah lokasi, yang letaknya tidak terlalu jauh dari kantor. Sayangnya, kelihatannya SMSnya terlambat sampai, mestinya sejam yang lalu. Sehingga aku mesti berburu dengan waktu untuk mendatangi orang itu. Untungnya jaraknya memang tidak terlalu jauh. Dengan angkot ini, normalnya aku akan tiba di sana dalam waktu 15 menit.

Atau, setidaknya itulah perkiraanku. Setelah sekitar tiga menit, angkot ini tidak bergerak sama sekali, aku baru sadar kalau jalan yang sedang kami lalui ini sedang macet total. Kutanya pak supirnya, kenapa bisa macet begini, dia bilang rupanya di depan sana sedang ada yang demo. Akh, kenapa juga mesti demo di waktu seperti ini.

Aku mulai panik. Begitu kulihat HP, ternyata waktunya tinggal 15 menit lagi, tapi jaraknya masih begini jauh. Aku pun keluar, dan menatap barisan kendaraan yang terjebak di jalan ini.

Dari sini ke tempat tujuanku sebenarnya tidak jauh, aku biasa mencapainya dengan berjalan kaki. Dalam setengah jam. Sementara waktu yang tersisa tinggal 15, bukan, 13 menit. Sial. Sepertinya aku harus berlari.

Dan aku pun berlari menyusuri trotoar yang panjang itu dengan sekuat tenaga. Sayangnya aku sudah tidak semuda dulu waktu masih SMA. Hanya semenit saja aku kuat berlari, sesudahnya kecepatan pun berkurang menjadi jogging, dan kemudian hanya berjalan cepat saja. Padahal dulu aku termasuk yang paling cepat dalam tes lari di sekolah. Hanya beberapa tahun saja semua stamina itu menurun drastis. Setelah berjalan lima menit, aku coba berlari lagi. Tak ada gunanya. Kurang dari semenit kemudian, aku megap-megap karena kelelahan.

Ah, apakah mesti berakhir seperti ini, karena sepertinya aku akan gagal. Tempat tujuanku masih cukup jauh, dan sekarang hanya tinggal 5 menit tersisa, dan aku sudah tidak kuat berjalan. Sial, padahal ini kesempatan yang jarang seka- HEI!

Ojek! Segera kuhampiri tukang ojek itu, kusebutkan tempat yang mesti dia capai, dan tak lupa kata kuncinya, CEPETAN BANG! Motor ojek pun melesat dengan kecepatan luar biasa, melintasi trotoar, melanggar lalu lintas sebenarnya, tapi siapa peduli, aku harus tiba di sana. Tidak boleh ada yang menghalangiku! Tidak juga dengan kerumunan demonstrasi di depan kantor departemen yang kami lewati di perjalanan kilat ini. Kami, aku dan abang ojek ini, terus melaju.

Kami pun tiba, di luar gedung mall ini. Motornya tidak bisa masuk, sehingga aku harus berhenti di sini. Setelah membayar ongkos ojeknya, kulihat lagi jam di HP. Semenit!

Ayo! Aku berlari lagi, menyusuri sisi luar bangunan mall, berlomba dengan satu menit yang singkat ini, sambil mencari sasaranku. 10 detik berlalu, belum ketemu. 20 detik, masih belum. 30 detik, ITU DIA!

Kulihat mobil berwarna hitam itu, dan seorang gadis cantik berkaos hijau yang sedang bersiap-siap membereskan barang-barangnya ke dalam.

TUNGGUUUU!! teriakku. Gadis itu menoleh padaku, yang terengah-engah dan basah oleh keringat. Perlahan aku menghampirinya. Dia menunggu dan tersenyum ramah.



Akhirnya, untuk pertama kalinya aku bisa bertemu dengannya.




Maicih level 10-nya masih ada?
Masih. Mau berapa?
Lima ada?
Dia memeriksa ke dalam mobil. Ada, katanya.

Syukurlah.
~

 *untungnya tidak seperti ini kejadiannya. dapet nitip sama temen, thanks to @zhaishishou dan @risawamura :D *

Monday, October 17, 2011

keluarga

If I could get another chance
Another walk, another dance with him
I'd play a song that would never ever end
How I'd love, love, love to dance with my father again, ooh


Luther Vandross – Dance with My Father

~

Jumat sore. Padahal aku sudah berencana ingin pulang cepat hari ini, tapi tambahan pekerjaan mendadak membuatku tertahan hingga maghrib tiba. Pukul setengah tujuh, barulah aku bisa meninggalkan kantor, dan berjalan menuju stasiun.

Aku tiba di stasiun pukul 18.45. Jadwal kereta menuju tempat tinggalku semestinya pukul 18.55. Tapi pengumuman dari pihak stasiun menyebutkan bahwa kereta akan terlambat karena gangguan sinyal. Seperti halnya penumpang lain, aku juga kecewa karena aku sudah tidak sabar untuk berada di rumah.

Kereta pun akhirnya tiba, pukul 19.30. Dikarenakan keterlambatan tadi, penumpang pun menumpuk dan aku mesti berdesak-desakan di dalam kereta yang penuh sesak. Sejam kemudian, kereta pun sampai di stasiun tujuanku. Kuambil beberapa menit untuk menghirup udara segar yang tak kudapatkan sedari tadi berada di dalam kereta.

Aku melanjutkan perjalanan pulang dengan mengendarai sepeda yang kutitipkan di stasiun tadi pagi. Kukayuh sepedaku melalui jalan yang tak terlalu ramai, kemudian masuk ke kompleks perumahan tempat tinggalku. Setelah sepuluh menit bersepeda, aku tiba di depan pekarangan rumahku. Kulihat lampunya sudah menyala. Mereka sudah di rumah, pikirku.

Dan sambutan pertama yang kuterima sewaktu aku tiba di depan pintu adalah

“Papaaaaaaa!”

Anak perempuan berusia 7 tahun itu berlari dan memelukku. Kurangkul dia erat-erat.

“Halo, Tuan Putri… Kangen sama Papa ya?”
“Papa, ajarin aku piano lagi ya, ya, yaaaa?”
“Iya, abis Papa mandi ya?”
“Okeee.”

Dan dia pun berlarian lagi masuk ke belakang.

Demi malaikat kecil inilah, aku berusaha pulang cepat hari ini. Aku hanya bisa bertemu dengannya mulai dari Jumat sore hingga Minggu malam, karena dia kusekolahkan di asrama. Meskipun aku lelah luar biasa karena perjalanan lewat kereta tadi, semua itu tak seberapa ketika kulihat senyum manisnya menyambutku pulang.

Kemudian, seorang wanita muncul dan menyambutku.

“Kok lama banget pulangnya?”
“Kerjaan numpuk. Mana keretanya telat sejam pula. ”
“Dia sudah nunggu kamu daritadi lho.”
“Iya, makasih ya kamu udah jagain dia sebelum aku pulang.”

Kami pun saling tersenyum.



Dia bukanlah istriku. Kami tidak pernah menikah. Tapi kami memiliki keinginan yang sama: memiliki seorang putri.

Dan malaikat kecil kami, dia bukan putri kandung kami. Kami mengadopsinya beberapa tahun lalu, saat dia masih bayi. Suatu saat dia akan tahu, nanti. Dia juga akan tahu kalau kami berdua sangat menyayanginya, dan akan selalu menyayanginya setelah saat itu tiba.

Jadi disinilah kami sekarang, tiga orang yang tidak terikat oleh ikatan yang resmi maupun hubungan darah. Meskipun kami bukan suami istri maupun orangtua sungguhan, tapi kami tinggal bersama sebagai satu keluarga, dan kami bahagia. Itu yang terpenting.



Kemudian aku akan memainkan piano untuk putriku, mengajaknya untuk ikut menekan tuts-tutsnya, sambil menyanyikan lagu kesukaannya. Lalu kami bertiga akan menyanyi dan menari bersama, sampai kami lelah dan tertidur di depan TV yang menyala.


Dan aku berharap kami bisa memiliki kebahagiaan ini selama mungkin.
~

again, ini untuk nulisbuku hari ke-7. ini dongeng lho, yg bagian betulannya paling pas naek keretanya doang.

Sunday, October 16, 2011

Tak Sendirian

And now she wakes to another grey day
In the Big Blue World
And her room's a tiny cage for a golden bird
O where did love go?


(Maaya Sakamoto – Another Grey Day in the Big Blue World)

~
Gadis itu terbangun di rerumputan yang hijau
Dia tertidur di taman sejak subuh tadi
Ini kesekian kalinya dia kabur dari rumahnya
Ah, mungkin kurang tepat kalau itu disebut rumahnya
karena bukan keluarga yang ditemuinya di sana
Hanya sekumpulan orang asing yang kebetulan memiliki hubungan darah dengannya
Orang asing yang dia panggil ayah dan ibu,
tapi tak pernah memberinya kasih sayang yang cukup
Dan ketika dia sudah tak tahan menerima segala omelan, dia pun pergi

Gadis itu menatap langit,
berharap menemukan cahaya matahari yang menyilaukan di sana
Dia mendapatinya tertutup oleh awan kelabu
Mendung
semendung suasana hatinya
sekelabu hari-harinya selama ini

Gadis itu berjalan tanpa arah
Sementara awan kelabu di atas sana semakin tebal
Hujan pun hanya tinggal hitungan menit saja

Gadis itu menatap sekelilingnya
Orang-orang berjalan berdampingan, bergandengan tangan
Sementara dia sendirian di tengah keramaian itu
Cinta,
kenapa dia tak bisa mendapatkannya,
di saat semua orang memilikinya?

Perlahan dia mulai menangis
Bersamaan dengan hujan yang mulai turun,
mengiringi air matanya yang mengalir deras

Gadis itu hanya berdiri di sana,
tak mempedulikan hujan yang mengguyur tubuhnya
dan terus menangis.

Hujan masih turun, tapi dia tak lagi merasakan butiran-butirannya menerpanya
Sebuah payung menaunginya
Kakaknya datang menjemput,
seperti biasanya.

“Ayo pulang.”

Biasanya dia tak akan berpikir dua kali untuk mematuhinya,
tapi kali ini…
“Buat apa? Toh keadaan tidak akan menjadi lebih baik. Hari-hariku akan tetap kelabu seperti biasanya.”

“Mungkin akan tetap kelabu, tapi kamu tidak akan sendirian melaluinya. Aku juga akan ada di sana.”

Seiring hujan yang mereda, reda pula suasana hati gadis itu
Dia tidak sendirian.

~

ditulis dalam rangka menyemarakkan #11projects11days dari @nulisbuku
yakali aja masuk.

Thursday, October 13, 2011

janji

Pembicaraan sewaktu makan siang, beberapa tahun yang lalu

"Eh, bikin janji yuk, 10 tahun dari sekarang, kalo kita berdua masih single, kita nikah aja ya, daripada seumur hidup ga laku-laku. Gimana?"
"Haaaah... Janji macam apa ini? Aku kan ga berminat menikah."
"Tapi aku mau, jadi kalo nanti aku belom dapet2, kamu yang tanggung jawab ya?"
"Oke, fine."

Dan kami pun berjabat tangan untuk meresmikan perjanjian itu.

Sejak kenal kamu sewaktu aku mulai kuliah, dengan segera kita menjadi teman baik. Lucu sebenarnya, karena pertemuan kita terjadi karena pacarmu waktu itu adalah kakak dari pacarku. Jadi waktu itu, kita itu semacam saudara ipar.

Pembicaraan sewaktu makan siang tadi terjadi hampir setahun setelahnya, sewaktu kita berdua sama-sama single, putus dari pacar-pacar kita yang kakak beradik itu. Tapi kita sudah telanjur menganggap masing-masing sebagai saudara, sehingga pacaran di antara kita itu haram hukumnya.

Setelah itu, kamu beberapa kali pacaran dengan orang lain. Sementara aku juga sempat beberapa kali melakukan pendekatan, tapi tidak ada yang benar-benar berhasil. Kita sudah jarang bertemu, tapi kita tetap sering ngobrol lewat telpon atau chat lewat ym.

Lima tahun setelah kita membuat perjanjian, toh kita bertemu lagi, dalam keadaan single. Kita sama-sama menertawakan keadaan masing-masing.

"Ah, toh masih ada lima tahun lagi untuk berusaha."
"Iya, setelah itu aku yang mesti terperangkap sama kamu."

Sempat-sempatnya kita menertawakan hal itu.

Butuh waktu setahun setelahnya bagiku untuk memastikan hal itu. Bahwa aku mencintaimu. Itu sebabnya semua pendekatanku ke cewek-cewek lain tidak ada yang berhasil, karena aku tidak pernah benar-benar bisa mencintai mereka tanpa bayang-bayangmu di pikiranku.

Aku pun tahu sejak setahun lalu, kamu hanya sekali berpacaran, dan sekarang sudah putus lagi. Mestinya ini kesempatanku untuk menyatakan perasaanku padamu. Tapi aku ingat tentang perjanjian kita. Artinya, 4 tahun lagi, jika kita masih single, kita toh akan menikah. Aku menahan diri.


....or at least I tried. Tiga hari setelahnya, aku mendatangimu. Aku terlalu tegang hingga tak sempat berbasa-basi.

"I know it hasn't been 10 years, but... I love you."
Anehnya kamu tidak kaget.
"Do you have any idea how long I've been waiting for you to say that?"
Aku tak bisa berkata apa-apa.

Rupanya sejak kita membuat perjanjian itu, sebenarnya kamu sudah merasakan sesuatu padaku, tapi, seperti itulah caramu menyampaikannya. Membuat perjanjian itu untuk menutupinya. Itu sebabnya semua hubunganmu selalu berakhir. Dan diam-diam, kamu pun menunggu 10 tahun itu tiba, seraya mengharapkanku datang lebih awal.

"I was such a fool."
"Not anymore."

Kami pun berciuman.





*dongeng ini, completely fictional. Semoga bisa menyenangkan pembaca. Pesan moral: buatlah janji seperti itu dengan orang yang kamu sukai. Siapa tahu manjur.*




"Now what? We still have four years to get married."
"Will you wait that long?"
"No."
"Yeah, I thought so."


Wednesday, October 12, 2011

rumah terkutuk

Rumah itu rumah biasa yang memiliki 2 lantai, terletak di sebuah gang, di antara rumah-rumah lainnya. Keluarga yang menghuninya terdiri dari sepasang suami istri dan anak mereka yang berumur 8 tahun. Dari sinilah cerita dimulai.

Suasana rumah yang tadinya datar-datar saja, berubah drastis pada suatu malam. Sang suami menemukan buku harian istrinya, membacanya, dan mengetahui bahwa istrinya mencintai orang lain. Dibakar rasa cemburu yang berlebih, sang suami murka. Ketika istrinya pulang, tanpa ampun, dia memukulinya, dan dalam puncak amarahnya, sang istri pun tewas. Belum puas, sang suami juga menenggelamkan anaknya di bak mandi. Kemudian dia pergi, membawa mayat istrinya dalam bungkusan plastik.

Rumah itu pun tak berpenghuni lagi.

Setelah sekitar 2 tahun, pengelola bangunan kemudian berhasil merapikan rumah itu, dan menjualnya ke keluarga lain. Penghuni kali ini juga keluarga biasa, dengan satu anak remaja. Lima bulan setelah mereka tinggal, mereka semua hilang. Penyebabnya adalah anak kecil yang mengeong seperti kucing, dan wanita berambut panjang berbaju putih yang merangkak turun melewati tangga. Mereka adalah anak dan istri yang 2 tahun lalu dibunuh oleh si suami. Mereka adalah penghuni rumah itu sebelumnya.

Tahun demi tahun berganti. Beberapa kali rumah itu mendapat penghuni baru. Kesemuanya selalu mengalami nasib yang sama. Beberapa bulan setelah mereka menempati rumah itu, mereka tewas, atau menghilang. Kutukan rumah itu terus berlangsung.

Akhirnya suatu saat, setelah berpuluh orang menjadi korban kutukan rumah itu, seseorang mampu berpikir logis. Dia menghubungi kepolisian, dan memberikan usul.
"I know how to end the curse. We have to burn that house."
Dia berhasil. Rumah itu pun dibakar sampai habis.
Dan berakhirlah riwayat rumah itu.




*berdasarkan film Ju-On.





Beberapa minggu setelah rumah itu musnah, beberapa orang mengaku melihat hantu wanita berambut panjang itu (dan anaknya), di beberapa tempat di daerah itu. Kutukan belum berakhir.

Tuesday, October 11, 2011

thank you

Dua tahun kita bersama, kamu sudah memberiku banyak kenangan indah
Dua tahun kita bersama, kamu mengajariku bagaimana cara mencintai seseorang
Dua tahun kita bersama, kamu membuatku menjadi manusia yang lebih baik

Thank you, thank you so much.

Kemudian kamu mengajakku menemui orangtuamu
Kamu ingin aku menikahimu
Saat itulah baru aku tersadar,
aku terlalu jauh masuk ke dalam hatimu
Aku menolak permintaanmu
Aku tidak bisa menikah denganmu

-Why not?
It's not gonna work. I know it. I'm not gonna be a good husband for you.
-Yes you will.
No, I won't. You deserve someone better.

Dan dengan berat hati, kita pun berpisah.
Kita tak pernah bertemu lagi sesudahnya
Meskipun sesekali aku mengawasimu dari kejauhan
Hingga aku yakin bahwa kamu baik-baik saja tanpaku


I'm sorry dear, and thank you... for everything.
I will always love you.












Setelah dua minggu menenangkan diri, kutelpon sebuah nomor yang sudah lama tak kuhubungi.

- Who is this?
This is No. 19, sir.
- Nineteen? I thought you're retired.
I've decided to return. Any assignment?
- Of course. How long can you get here?
Immediately, sir.

Kubuka lemari pakaian, dan kuambil pistol yang tersembunyi di sela-sela pakaian.
Masih berfungsi.

Damn, I miss killing people.

Monday, October 10, 2011

kamu dan aku, di tengah hujan

Waktu kamu bilang ingin hujan-hujanan, aku pun menyanggupi. Sore itu sebelum pulang, kita duduk di kantin, memandangi langit yang mendung, menunggu hujan turun. Sementara orang-orang justru bergegas pulang sebelum hujan itu tiba.

Kamu dan aku, duduk berdampingan, berbagi earphone untuk mendengarkan lagu dari iPodmu. Kamu yang sebelah kiri, aku sebelah kanan.

Kemudian, aku pun merasakannya.
"It's coming. Three minutes from now."
"Wow, how did you know that?"
"I can hear it, I can feel it. I know when it's coming."
"That's quite amazing."
"I don't know. It just feels natural to me."

Kamu dan aku, masih duduk berdampingan, iPod sudah dimatikan, dan kita berkonsentrasi menunggu saat itu tiba. Samar-samar terdengar suara gemuruh dari kejauhan. Seiring suaranya yang semakin keras, butir-butir hujan pun berjatuhan dengan derasnya. Aku pun berdiri, menarik tanganmu dan membawamu pergi menyambut guyuran hujan di depan sana.

Kamu dan aku, kita berlari di tengah hujan yang deras itu.
Dan ketika kita lelah, kita pun berjalan saja,
masih di tengah hujan, bergandengan tangan.
Kita tersenyum dan tertawa seperti anak kecil.
Kita tak mempedulikan sekujur badan dan pakaian yang basah kuyup.
Biarlah, biar kita menikmati hujan ini selagi kita bisa

Kamu dan aku, kita bernyanyi di tengah hujan

Aku selalu bahagia saat hujan turun
karena aku dapat mengenangmu untukku sendiri
Aku bisa tersenyum sepanjang hari
karena hujan pernah menahanmu disini untukku


(Utopia - Hujan)




Besoknya, kamu terkena demam dan harus beristirahat di rumah. Aku yang sudah terbiasa dengan hujan, tidak kenapa-napa.

Saturday, October 08, 2011

jendela itu pun tertutup rapat

Lima tahun yang lalu, jendela yang tadinya tertutup itu, perlahan membuka
Minggu demi minggu, jendela itu semakin terbuka lebar
Sampai akhirnya jendela itu terbuka sepenuhnya
Membuat segala sesuatu dengan leluasa hilir mudik menyeberanginya

Setelah beberapa bulan, jendela itu perlahan mulai menutup
Dan tidak butuh waktu lama, hingga jendela itu hanya terbuka sedikit saja
Sampai akhirnya suatu saat, jendela itu pun tertutup rapat
Tidak ada yang bisa masuk dan keluar

Jendela itu masih tertutup hingga sekarang
Tidak hanya tertutup, jendela itu juga dipalang dengan kayu
sehingga tidak memungkinkan untuk dibuka kembali





I'm not sure the window will open again, but I know it would take some divine intervention to make it happen.





Beberapa tahun kemudian, cuaca sedemikian buruknya
Petir menyambar-nyambar, berusaha menghancurkan penghalang di jendela itu
Gagal.

Thursday, October 06, 2011

sini aku ajarin

Beberapa hari yang lalu, sekali-kalinya aku dapet kesempatan untuk main ke rumahnya Dian, temen kuliah. Ngerjain tugas kelompok. Bertiga sebenarnya, tapi temen kita yg satu lagi pergi duluan karena ada urusan, jadilah tinggal kita berdua saja di rumahnya. Tugasnya akhirnya selesai, jam setengah 2.

Eh Gus, makan yuk. Udah laper kan?
-Banget.
Yuk, ke kantin deket sini.
-Lho emangnya di sini ga ada makanan?
Cuma nasi, ga ada lauknya.
-Tapi di kulkas tadi ada telor.
Iya, tapi ga ada yg masak. Pembantu lagi mudik.
-Kamu aja gitu ga bisa?
Aku.... aku.... ga bisa.
-Ga bisa apa?
Masak.
-Tapi cuma telor lho...
Iya, ga bisa.
Aku melongo.
-Masa sih kamu ga bisa masak? Sama sekali?
Aku ga pernah nyentuh dapur sama sekali.
Aku melongo lagi.
-Ini tidak bisa dibiarkan. Dian, kamu cewek, sudah 21 tahun. Mau jadi apa kamu kalo ga bisa masak?
Dian menunduk.
-Sudah, sudah. Sini aku ajarin cara bikin telor yang gampang.
Kamu bisa masak?
-Bisa dong. Sebagai orang yang mempersiapkan diri untuk tidak menikah, memasak itu salah satu skill dasar yang mesti dimiliki.
Wow, bisa masak apa aja?
-Yah, standar banget sih. Masak mie, telor, telor campur mie, dan nasi goreng.
Eh itu udah lumayan sih.
-I know. Tapi kita kembali ke inti masalah. Ayo ke dapur!

Dan selama setengah jam berikutnya, aku mengajari dia cara bikin telor dadar. Jadi, aku sekalian praktek, dan dia nyontoh aku. Mulai dari ambil mangkok, ambil telor, pecahin telornya. *Dia panik karena telornya langsung pecah berantakan. 3 telor pecah sia-sia sebelum akhirnya dia bisa mecahin telor yang ke-4 dengan sempurna.*

Trus ambil bawang merah, ambil pisau, ambil tatakan, dan mulai ngiris bawang. *Dia mencoba mengikuti, tapi karena tampaknya dia bakal ngiris jarinya sendiri, tugas ngiris bawangnya aku ambil alih sekalian.*
Kemudian campurin irisan bawang merahnya ama adonan telor, trus diaduk2 pake sendok. *Yang ini keliatannya dia ga ada masalah*

Sampai waktu menggoreng pun aku terus pantau dan bimbing dia biar hasilnya bagus.



Kami pun duduk di meja, berhadapan, dengan sepiring nasi dan telor dadar hasil masakan kami, plus saos yang diratain ke telurnya.

-Sudah siap, mencoba masakanmu sendiri untuk yg pertama kalinya?
Siap.

Dan sewaktu dia menelan suapan pertama, kulihat wajahnya berbinar ceria. Aku ikut tersenyum senang. Kami berhasil. It's a start.





*ah maaf, sepertinya saya harus mengklarifikasi terlebih dahulu kalo cerita ini fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama, yakinlah, saya memang sengaja menggunakan nama Dian untuk tokoh ini. Sungkem sama @harigelita dan @DianOnno karena sudah make nama Dian*







epilog.
-Sepertinya kita perlu sering-sering masak bareng seperti ini lagi deh. Biar kamu bisa masak. Dan aku juga mau belajar masak yg laen-laen sih, jadi biar kita sama-sama belajar. Menurut kamu gimana?
Ehm, boleh.
katanya sambil tersenyum malu. :))

Wednesday, October 05, 2011

Anak itu.

1993

Anak itu duduk di sebuah ayunan sendirian.
Umurnya baru 7 tahun. Sejam sudah berlalu sejak waktu pulang sekolah, tapi dia tidak pulang ke rumahnya.

Dia datang ke sebuah TK tempatnya dulu, yang letaknya agak jauh dari sekolahnya.
Dia datang ke sana, bukan karena tempat itu memberinya banyak kenangan menyenangkan. Dia datang ke sana karena saat itu tidak ada orang di sana.

Anak itu duduk di sebuah ayunan sendirian.
Tangannya menggenggam sebongkah kecil batu. Dia menggenggamnya erat-erat.
Anak itu lapar. Tapi dia belum mau pulang. Dia masih ingin berada di sana.

Anak itu masih duduk di sebuah ayunan di TK itu.
Dia memandangi kumpulan awan di atas sana, yang untuk sementara menutupi matahari, yang membuatnya mampu memandangi langit saat ini.

Dia tidak mengerti. Dia kesal. Dia marah. Dan dia menangis.

Dia tidak mengerti kenapa dunia begitu jahat padanya. Dia tidak mengerti kenapa orang-orang yang disebutnya teman sering mengejeknya. Dia tidak mengerti kenapa mereka jahat padanya.

Anak itu sudah tidak menangis. Tapi dia masih tidak mengerti. Dan dia masih kesal dan marah.

Kemudian semilir angin yang berhembus membuatnya merasa nyaman. Sejuk.

Dia memejamkan mata. Dan tertidur.

......................................................




"I know that everything must have been difficult for you right now, but have a faith. You're gonna survive this. You're gonna be fine."

Anak itu tidak mengerti sedikitpun apa yang dikatakan orang ini. Dia juga tidak pernah melihat orang ini sebelumnya. Dia hanya memandanginya tanpa berkata apa-apa.





.......................................................

Anak itu terbangun.

Dia masih duduk di sebuah ayunan di TK itu.
Tangannya sudah tidak lagi menggenggam bongkahan batu.
Dia masih sendirian di sana. Dia masih lapar.

Tapi dia sudah tidak kesal. Dia sudah tidak marah.

Hari sudah sore.
Dia harus segera pulang.
Ibunya pasti sudah menunggunya di rumah.

Tuesday, October 04, 2011

not completely gone

Selasa, malam
- We should definitely meet!
Agree. Kapan ya?
- Hmm, nanti ya aku cari waktu yg tepat. Kukabari besok.
Oke :))
Rabu
Dia belum muncul dan ngasihtau kapan mau ketemuan.
Cek profilnya. Last update kemaren.

Kamis
Masih belum ada.
Cek profilnya lagi. Last update hari Selasa.
Hmm, kemana ya orangnya? Aku mulai kuatir.

Jumat, malam
- Haiiii
Kamuu, kok ngilang sih?
- Aduh maaf, kemaren2 ada masalah, ga sempet online bahkan.
Jadi, kapan kita bisa ketemu?
- Yeah, ummm, about that... I'm afraid that it would be very difficult for you to see me. I'm leaving this town. In fact, I already am.
Yah, kok mendadak?
- Begitulah. Tapi jangan kuatir, kita masih bisa terus kontak seperti sekarang kok.
:(( Sedih ga bisa ketemu kamu
- Cup cup. Tanpa ketemu pun, aku tahu kamu cantik :)
Ah :)

Oke, maybe I can't see him, but he's still with me. That would be enough.







*seandainya bagian ini sudah cukup, mungkin kita tidak perlu berpikir macam-macam ya? Karena...

Jumat sore, beberapa jam sebelumnya...

Si gadis berjalan menyusuri pepohonan menuju rumahnya, sambil bersenandung kecil. Tentunya dia tak sadar, bahwa, 500 meter darinya, seorang laki-laki memperhatikannya.
"Cantik. You are... so pretty," batinnya. Dia tersenyum.




*apakah ini sebuah twist? mungkin. tapi... harap bersabar dulu. Kita mundur lagi beberapa hari sebelumnya.

Selasa, malam.

Ide bahwa sebentar lagi dia akan dapat bertemu dengan gadis yang disukainya, membuatnya senang bukan kepalang. Dia pun pulang mengendarai motornya dengan bahagia. Terlalu bahagia mungkin, karena di tikungan yang tajam itu, dia tidak sempat memperhatikan truk yang melaju, agak lambat sebenarnya. Tapi impact dari tubrukan motornya ketika menghantam truk itu, sudah cukup untuk mengantarnya ke alam lain. Dia tewas seketika.


*ah, I know.