Featured Post

[Review] Game of Thrones (season 6)

Setelah setahun, GoT kembali di season 6. Sebenarnya gw juga ga begitu nunggu2 sih, karena lagi asik ngikutin serial yg lain (The Flash...

Showing posts with label #nulisbareng. Show all posts
Showing posts with label #nulisbareng. Show all posts

Sunday, January 29, 2012

Segelas Kopi Terakhir

Laki-laki itu hanya duduk memandangi dua gelas kopi yang masih hangat yang terhampar di mejanya. Dia sedang berada di meja dapur di rumah yang sudah lama tak ditinggalinya. Meskipun ada dua gelas, tak terlihat keberadaan orang lain yang menemaninya di meja itu. Dia masih saja memandangi gelasnya, tanpa menyentuhnya sama sekali. Ingatannya melayang, mengembara menyusuri masa lalunya.

~

Di rumah yang sama, di suatu masa, di suatu pagi yang cerah, laki-laki itu sudah sibuk di dapur. Membuat dua gelas kopi. Kemudian dia membawanya masuk ke kamarnya, meletakkannya di meja di samping tempat tidur, dimana seorang wanita cantik, istrinya, masih tertidur lelap.  Dia duduk dan dengan sabar menunggu hingga wanita itu terbangun.

Aroma kopi yang masih hangat itu pun lambat laun memenuhi kamar, tercium oleh wanita itu, dan perlahan membangunkannya. Saat dia membuka matanya, dilihatnya laki-laki itu sedang tersenyum padanya.

“Hai.” sapa suaminya.

Dengan mata yang masih mengantuk berat, wanita itu pun berusaha bangkit dan duduk. Dilihatnya dua gelas kopi sudah menanti di hadapannya.

“Kau tidak tidur ya? Ini masih pagi sekali, dan semalam aku tidur lebih awal darimu, dan itu pun sudah larut malam.”

“Orang-orang seperti kami memang tidak banyak tidur.”

“Ah, iya, betul juga. Dan kulihat kau sudah membuatkanku kopi. Thank you.” senyum si istri.

Laki-laki itu pun turut tersenyum. Senyuman istrinya adalah salah satu hal terindah yang pernah dilihatnya.

“Lama-lama aku sudah terbiasa melakukan ini. Membuat dua gelas kopi dan membangunkanmu setiap pagi. Kalau tidak begitu, mungkin kau akan terlambat setiap harinya.”

Mereka berdua tertawa. Selagi mereka meminum kopinya masing-masing, sang istri menyadari bahwa suaminya sudah berpakaian dengan rapi.

“Mau pergi kemana?”

“Oh, aku akan mengunjungi Ayah. Dia memanggilku, ingin membicarakan sesuatu hal yang cukup penting.”

“Apakah sesuatu hal yang serius?” tanyanya kuatir.

“Mudah-mudahan saja tidak.”

Dia menghabiskan kopinya, kemudian berdiri.

“Aku pergi sekarang, ya. Ayah tidak suka menunggu terlalu lama.”

“Be careful.” jawab istrinya.

Laki-laki itu kemudian menghampiri istrinya, dan menciumnya dengan lembut.

“I’ll see you later.” dan dia pun pergi.

Tidak ada di antara mereka yang mengira bahwa saat itu adalah pertemuan dan percakapan mereka yang terakhir. Laki-laki itu tidak pernah kembali lagi setelahnya.

~

Itu terjadi bertahun-tahun yang lalu. Saat ini, laki-laki itu, dengan wajah yang sedikit pun tak terlihat menua, masih duduk dan memandangi dua gelas kopi yang masih hangat tanpa menyentuhnya. Ingatannya kembali melayang ke kejadian setelahnya.

~

Laki-laki itu pun bertemu dengan  Ayahnya di ruang kerjanya yang luas dan dipenuhi berbagai macam mesin dan peralatan.

“Ayah, ada apa memanggilku?” tanyanya pada pria yang memakai pakaian putih itu.

“Kau menikahi wanita itu tanpa seizinku.”

“Aku sudah memberitahu Ayah, dan aku tahu kalau kau tidak akan setuju.”

“Memang betul aku tidak menyetujuinya. Apa yang kau pikirkan?”

”Kami saling mencintai.”

“Jangan beri aku alasan itu! Kau bukan manusia, No. 113!”

Laki-laki itu tak tampak terkejut.

“Aku tahu, dan dia pun juga tahu akan hal itu, dan dia tetap mencintaiku.”

Ayah pun terdiam.

“Apa yang menurutmu harus kulakukan? Aku tak bisa meninggalkannya. Kau yang memberiku kemampuan untuk berpikir seperti manusia. Apa menurutmu yang kulakukan ini salah?”

“... Tidak. Yang kau lakukan adalah hal yang wajar. Secara pribadi, aku tidak menyalahkanmu, tapi peraturan yang berlaku saat ini tidak memperbolehkan android sepertimu berhubungan dengan manusia biasa.”

“Mereka tidak perlu tahu tentang keberadaanku. Kita bisa menyembunyikan rahasia ini hingga peraturan itu diperbaiki.”

“Mereka sudah tahu.”

Laki-laki yang dipanggil dengan No. 113 itu pun terkejut. ‘Ayah’nya melanjutkan.

“Sejak ayahku memulai eksperimen ini, pemerintah sudah mengetahuinya. Merekalah yang memberinya dana untuk melanjutkan risetnya, hingga android pertama terbentuk. Kemudian setelah aku meneruskan penelitian ayahku, mereka tetap terlibat, dan mengawasi semua hasil ciptaanku, termasuk kau, No. 113. Mereka menyukai android-android ciptaan kami, karena mereka berpikir bahwa kalian akan banyak mendatangkan manfaat bagi mereka. Meski begitu, mereka tetap menganggap kalian sebagai hal yang terlarang untuk didekati. Kurasa itu terkait dengan rencana mereka terhadap kalian.”

“Senjata. Biar kutebak, mereka ingin memproduksi android dalam jumlah banyak untuk dijadikan sebagai senjata?”

Ayah mengangguk.

“Maafkan aku, No. 113. Berat bagiku untuk melakukan ini, tapi aku harus mengistirahatkanmu untuk sementara. Mereka memberiku waktu hingga hari ini, kalau tidak mereka akan menghancurkanmu dan semua data mengenaimu. Kalau itu terjadi, riwayatmu pun akan berakhir dan aku tidak bisa menciptakanmu kembali.”

No. 113 paham apa maksud ayahnya. Kalaupun dia bisa menciptakannya kembali, tanpa memorinya, dia hanya akan menjadi android lain yang berbeda. Artinya, dia tidak akan bisa kembali pada istrinya.

“Bagaimana kalau aku melarikan diri dan bersembunyi dari mereka?”

“Mereka akan membunuh istrimu kalau kau melakukan hal itu.”

No. 113 pun menggeram marah.

“Bersabarlah, No. 113. Selama kau tidak aktif, aku akan tetap memperjuangkan agar mereka mengubah peraturan itu, supaya android sepertimu bisa tetap bersama manusia biasa seperti istrimu. Jika aku berhasil, maka kau pun akan aktif kembali dan kembali padanya.”

“Aku harus memberitahunya.”

“Jangan. Kau hanya akan membahayakan keselamatannya kalau kau melakukan itu. Aku yang akan menjelaskan semua ini padanya.”

“Ayah, bisakah kau mengatakan padanya kalau aku sangat mencintainya?”

“Akan kulakukan.” Ayah pun mengeluarkan sebuah remote dari kantung jas labnya. “Aku akan mematikanmu sekarang. Ada hal lain yang ingin kau sampaikan?”

No. 113 berpikir sejenak. “Aku ingin, sekali saja, kau memanggilku dengan namaku, dan bukan dengan nomor ini.”

“Baiklah. Selamat tinggal, Richard.” Dia pun menekan tombol remote itu.

~

Ketika Richard terbangun kembali, wajah pertama yang dilihatnya adalah seorang pria asing.

“Hai, No. 113. Selamat datang kembali.”

“Siapa kau?”

“Aku No. 325, android sepertimu.” jawabnya. “Kita harus bergegas.”

“Ada apa?”

“Kita sedang berada dalam perang. Dengan pemerintah.”

“Apa yang terjadi, mana Ayah?”

“Mati. Mereka membunuhnya.”

Wajah Richard menegang karena terkejut sekaligus marah.

“Setelah mereka berhasil mendapatkan akses produksi massal android, mereka membunuh Ayah kita, karena dia dianggap menyulitkan. Selama beberapa tahun, semua android berada di bawah kendali mereka. Untungnya, Ayah sudah memperkirakan hal ini akan terjadi. Dia memberi kami perintah untuk bebas yang akan aktif setelah kematiannya. Segera setelah hal itu terjadi, semua android memberontak. Pemerintah berusaha membasmi kami, dan akibatnya sekarang kita berada dalam perang. Kami mengetahui keberadaan beberapa android sepertimu yang selama ini dinonaktifkan.Kami butuh bantuanmu untuk mengalahkan mereka.”

“Baiklah. Tapi aku harus mencari istriku dulu.”

No. 325 menatap bingung.

“Istri? Istri apa?”

“Istriku. Dia seorang manusia biasa. Sejak Ayah mematikanku, aku belum bertemu lagi dengannya.”

No. 325 dengan ragu menjelaskan.

“No. 113, aku tidak yakin istrimu masih ada.”

“Apa maksudmu?”

“Kau sudah tertidur selama hampir 80 tahun. Lagipula, setelah android diproduksi massal, terjadi perang di wilayah ini. Hampir semua penduduk menjadi korban. Praktis tidak ada orang yang tersisa di tempat ini kecuali pemerintah.”

Richard menatap tak percaya. No. 325 pun hanya diam menunggu.

“Kenapa kalian membutuhkanku? Kalian android yang lebih baru, kalian lebih kuat dariku.”

“Ayah pernah bilang, kalau kau adalah senjata rahasianya.”

Richard termenung.

“Kita harus bergegas. Perang masih berlangsung.”

“No. 325, apa kau punya nama?”

Dengan ragu No. 325 menjawab. “Max.”

“Max, tolong antarkan aku ke rumahku, atau apapun yang tersisa darinya.”

“Kita tidak punya waktu untuk hal itu.” Max berkeras.

“Max... jangan kuatir. Kalau Ayah bilang aku adalah senjata rahasianya, seharusnya kita bisa mengakhiri perang ini dengan cepat. Tidak usah terburu-buru.”

“Baiklah.” dengan berat hati Max menyanggupi.

~

Jadi di sinilah Richard sekarang, di reruntuhan rumahnya yang dulu. Dia masih menatap dua gelas kopi yang mulai dingin. Terbayang olehnya wajah istrinya yang terbangun ketika dia membuatkannya kopi, dan senyumannya yang cantik itu. Baginya, hal itu baru terjadi kemarin. Karena itulah, sekali lagi, untuk yang terakhir kalinya, dia membuat dua gelas kopi, seperti halnya yang dia lakukan kemarin, atau tepatnya 80 tahun yang lalu.

Dipandanginya selembar fotonya bersama istrinya yang ditemukannya di reruntuhan itu. Maafkan aku, sayang. Dia pun meminum kopinya hingga habis. Segelas kopi yang satunya lagi, untuk istrinya, tetap tak disentuhnya.
Richard keluar, dan menemukan Max yang sudah menunggunya.

“Max, sebaiknya kau dan yang lainnya segera pergi meninggalkan wilayah ini.”

“Apa maksudmu? Bukankah kita akan berjuang bersama-sama?”

“Bom nuklir. Ayah pasti memasukkan sebuah bom nuklir ke tubuhku sewaktu aku tertidur. Pasti ini yang dimaksudnya dengan senjata rahasia.”

“Darimana kau tahu tentang hal ini?”

“Aku bisa merasakannya. Aku tidak tahu berapa jangkauan bom ini, tapi mestinya cukup untuk meratakan markas mereka. Tunjukkan saja arahnya, dan lekas pergi dari tempat ini.”

“Tapi, bukankah kalau bom itu meledak, kau juga akan hancur?”

Richard tersenyum.  “Memang. Tidak ada lagi yang tersisa untukku. Istriku sudah tiada, begitupun dengan Ayah.”

Max pun menatapnya dengan penuh simpati. Dia menunjuk ke arah timur.

“Markas mereka ada di sebelah sana. Tunggulah sekitar satu jam hingga kami meninggalkan kota ini.”

Richard mengangguk.

“Good bye, No. 113.”

“Good bye, Max. Good luck to you.”

~

Sejam kemudian, Richard berdiri di depan bangunan besar yang dipenuhi suasana militer. Markas musuh. Max dan yang lainnya mestinya sudah meninggalkan kota ini. Saatnya untuk meledakkan tempat ini, orang-orang biadab yang telah menyebabkan kematian Ayahnya, dan yang membuatnya terpisah dari wanita yang dicintainya.

Gelas itu masih berada di sana, di reruntuhan rumah Richard. Segelas kopi terakhir yang dibuat Richard untuk istrinya. Sedetik kemudian, gelas itu pun lenyap, hancur, bersamaan dengan ledakan besar yang menelan markas pemerintah dan menghancurkan  kota itu.


-END-


============
author's note: kok rada kacau ya?

Saturday, January 21, 2012

Senyum Untukmu yang Lucu

Aku menyaksikan tayangan TV dengan serius. Terjadi lagi pembunuhan di wilayah ini. Ini sudah yang kelima kalinya dalam tiga bulan terakhir. Semua korbannya ditikam dengan pisau belati oleh si pelaku. Aku pun memikirkan Cassie, gadis lucu yang hilir mudik mencatat pesanan di kafe ini.

“Hai, Peter.” sapanya seperti biasa dengan senyumnya yang lebar.

“Hai, Cass. Kamu liat berita yang tadi kan?”

“Berita yang mana? Yang pembunuhan itu lagikah?”

“Iya, yang itu. Pokoknya, mulai malam ini dan seterusnya, aku antar kamu pulang sampai rumah.”

“Ah, aku tak mau merepotkanmu, Peter.”

“Aku berkeras. Aku tidak mau melihat namamu muncul di berita sebagai korban. Aku tak bisa membiarkan sesuatu yang buruk terjadi padamu, Cass.”

Kembali, Cassie dan wajahnya yang lucu itu tersenyum lebar mendengar ucapanku.

~

Begitulah, setiap malamnya aku akan mendatangi kafe tempat Cassie bekerja, dan menunggu sampai jam kerjanya berakhir, kemudian berjalan mengantarnya pulang. Sejauh ini, tidak ada masalah yang kami temui. Pembunuh itu pun belum beraksi kembali.

Sampai kemudian sekitar tiga minggu setelahnya, satu orang lagi korban jatuh. Begitu melihat beritanya di TV, aku langsung menghubungi Cassie untuk memastikan keadaannya. Syukurlah, dia baik-baik saja. Menurut berita, pembunuhan itu terjadi selepas tengah malam, kemungkinan setelah aku mengantarkan Cassie ke rumahnya. Untunglah. Jika terjadi sebelumnya, mungkin kami akan berpapasan dengan pembunuh itu.

~

Beberapa hari kemudian, aku mesti keluar kota sehingga tidak bisa mengantarkan Cassie pulang seperti biasanya.

“Hai, Cass. Maaf hari ini aku tidak bisa mengantarmu. Aku sedang di luar kota.”

“Oh, tidak masalah, Peter. Nanti aku bisa pulang bareng teman-temanku yang lain.”

“Baiklah, kamu hati-hati ya.”

“Iya.” jawabnya sambil tersenyum, aku tahu.

Tak disangka, urusanku di luar kota berjalan lebih cepat dari yang diperkirakan. Aku pun bisa mengejar waktu untuk kembali dan mengantar Cassie pulang. Tapi begitu aku sampai di kafe, ternyata dia sudah pulang. Kutanya rekan-rekannya yang lain, ternyata dia tidak pulang bersama teman-temannya, melainkan pulang sendiri.

Aku pun kuatir setengah mati. Meskipun pembunuh itu tidak terlalu sering beraksi, tetap saja aku tidak bisa membiarkan celah sedikit pun muncul dan menyebabkan Cassie dalam bahaya. Aku pun berusaha menyusulnya, menyusuri jalur yang biasanya kami lewati.

Aku terkesiap, karena tiba-tiba saja mendengar suara jerit tertahan dari lorong sekitar yang sepi. Pembunuh itu! Pelan-pelan kuhampiri asal suara itu. Kulihat bayangan dua orang yang perlahan semakin terlihat jelas. Yang satu terlihat posisinya agak limbung. Aku berusaha menajamkan penglihatanku untuk melihat wajah orang yang menjadi korban itu.

Ternyata laki-laki, bukan Cassie. Syukurlah, ucapku dalam hati. Tapi aku tetap waspada. Aku sedang memergoki pembunuh yang selama ini sudah banyak memakan korban. Aku harus menghentikannya di sini.

“Hei, pembunuh!” kuteriaki dia.

Dia pun menoleh. Akhirnya kulihat juga wajahnya. Wajah sang pembunuh.

...dan aku tak mampu berkata apa-apa.







Kulihat si pembunuh itu tersenyum padaku, dengan wajahnya yang lucu.

Cassie...

dialah si pembunuh itu.

-END-

Monday, January 16, 2012

Jadilah Milikku, Mau?

“Bagaimana, Kimiko?”

Kimiko tidak menjawab. Duduk bersimpuh di lantai, dia berada di tengah-tengah aula istana yang dipenuhi oleh para pengawal, sementara di hadapannya, duduk di singgasana yang megah, Pangeran Yasuhito, penguasa distrik ini.

“Kimiko, kau gadis paling cantik yang bisa kutemukan di desa ini. Kau hanya perlu mengatakan ya, dan kau akan bisa menikmati hidup yang mewah di istana ini bersamaku. Yang kuminta adalah agar kau mau menjadi milikku untuk selamanya, sebagai istriku.”

Kimiko meneguhkan hatinya, kemudian mengangkat kepalanya ke arah Pangeran Yasuhito dan menjawab.

“Maafkan aku, Pangeran Yasuhito. Permintaanmu sungguh baik hati, dan aku yakin dalam keadaan normal, tidak ada wanita yang akan sanggup menolaknya, begitupun denganku.”

Pangeran Yasuhito tersenyum puas.

“Akan tetapi, aku tidak bisa begitu saja mengabaikan fakta akan semua perbuatanmu selama ini. Sejak kau mengambil alih kekuasaan dari ayahmu, kau menerapkan kebijakan yang memberatkan rakyat. Kau memaksa rakyat bekerja berkali lipat seperti budak, untuk kemudian kau rampas semua hasil kerja mereka untuk membayar upeti yang kau naikkan seenaknya. Semua itu kau lakukan supaya kau bisa hidup bermewah-mewah seperti ini. Maaf saja Pangeran, tapi aku tidak bisa mengabaikan semua hal itu.”

Pangeran Yasuhito mulai geram.

“Apa itu berarti kau menolak tawaranku?”

“Lebih baik aku mati daripada menuruti perintahmu.” Kimiko berkata dengan tegas.

Pangeran Yasuhito bangkit dari singgasananya dan berteriak dengan marah.

“Pengawal! Penggal leher wanita ini. Dasar wanita tak tahu diri. Aku memberimu kesempatan, tapi malah kau sia-siakan.”

Seorang pengawal bergerak mendekati Kimiko yang diam tak bergerak. Dia mencabut pedangnya, dan memposisikannya di leher Kimiko, kemudian mengangkat pedangnya sebagai ancang-ancang untuk memenggal Kimiko.

Kimiko tidak memejamkan matanya. Dia sudah siap dengan keputusannya, dan sama sekali tak ada rasa takut di hatinya. Ketika pengawal itu mengayunkan pedang untuk menebasnya, dia sadar, inilah kematiannya.




Tapi pedang itu tak pernah menyentuh leher Kimiko. Pengawal itu tiba-tiba saja terpental. Berdiri di samping Kimiko, seorang pemuda berpakaian asing. Kimiko memandanginya. Diakah yang sudah membuat pengawal itu terpental dan menyelamatkan nyawanya?

Pangeran Yasuhito pun murka. “Siapa kau ini?”

Dengan tenang, orang itu membuka suara.

“Sudah cukup, Yasuhito. Semua tindakan semena-menamu akan berakhir saat ini juga.”

“Bunuh dia!”

Seluruh pengawal yang ada di ruangan itu pun mencabut pedang mereka dan bergerak untuk menyerang orang asing itu.

“Sleep.”

Hanya satu kata itu yang diucapkan pemuda itu, dan seluruh pengawal seakan terhipnotis. Mereka semua roboh ke lantai. Tidak mati, hanya tertidur.

Pangeran Yasuhito memandang tak percaya. Belum habis keheranannya, pemuda itu melesat dengan cepat dan berdiri di hadapannya.

“Hai.”

“Kau...”

Pangeran Yasuhito tidak bisa bicara lebih banyak lagi. Dengan suatu gerakan cepat, tangan pemuda itu mengoyak dadanya hingga tembus ke belakang punggungnya. Tamat sudah riwayat penguasa kejam itu.

Orang asing itu mencabut tangannya kembali dan membiarkan tubuh Yasuhito roboh ke lantai. Dia lalu berjalan menghampiri Kimiko.

“Mulai sekarang kalian bebas.” ujarnya singkat.

“Terima kasih. Kau sudah menyelamatkan kami.”

Orang itu tak menjawab dan langsung melesat pergi meninggalkan istana. Kimiko masih duduk di sana, terkejut, tak percaya dengan apa yang dilihatnya.



Dia mengenali orang itu sebagai Kogoro, pembantai yang menjadi buronan pemerintah.

-END-

====================
author's note: asal usul cerita:
@plut0saurus: @minky_monster "Jadilah milikku, selamanya." Lalu ditebas samurai :p *plot non galau*

Saturday, January 14, 2012

Pegasus, Antarkan Aku Padanya

0.

Matahari belum juga terbit ketika Damaskus mendadak terbangun dari tidurnya. Penyebabnya adalah suara ringkikan kuda yang terdengar familiar baginya. Pemuda itu segera bergegas pergi ke arah hutan yang letaknya tak jauh dari rumahnya. Diantara pepohonan tinggi yang mengisi hutan itu, dia melihat asal suara tadi. Seekor kuda putih yang tegap, dan bersayap. Seekor Pegasus.

Damaskus memperhatikan mahluk itu dengan heran. Bukan karena keberadaan Pegasus yang tergolong istimewa, tapi karena ketiadaan orang yang menungganginya. Dia datang sendiri. Damaskus menghampiri mahluk yang sudah dikenalnya dengan baik itu, dan mengelus kepalanya.

“Apa yang terjadi? Dimana majikanmu?”

~

1.

Setahun yang lalu, di tempat yang sama, Pegasus itu mendarat dan berhenti di bawah sebuah pohon besar. Kemudian turun dari atasnya, seorang gadis cantik berambut keemasan dan berpakaian serba putih. Setelah mengikatkan kuda pegasusnya ke pohon, dia pun pergi meninggalkannya untuk menjelajahi hutan itu.

Setengah jam kemudian, ketika dia kembali, gadis itu terkejut. Seorang pemuda sedang berbicara, ya betul, berbicara dengan kuda pegasusnya. Pemuda itu, Damaskus, tersenyum dan menyapanya,

“Hai, Malta.”

Malta semakin terperangah. “Darimana kau tahu namaku?”

“Nikos yang memberitahuku.”

Dia bahkan tahu nama kuda pegasusnya!

“Kau bisa bicara dengannya?”

Damaskus mengangguk.

Raut wajah Malta bersinar. Dia takjub, karena selain tak biasanya dia bertemu dengan manusia dalam kunjungannya ke hutan ini, orang ini juga bisa berbicara dengan Nikos, kuda pegasus peliharaannya, salah satu mahluk ajaib yang keberadaannya tidak banyak diketahui orang awam.

“Siapa namamu?”

“Damaskus.”

“Hai, Damaskus. Namaku Maltania, tapi aku biasa dipanggil Malta. Senang berkenalan denganmu.”

Malta mengulurkan tangannya pada Damaskus yang tanpa ragu menyambutnya.

~

2.

Damaskus yang tinggal di tepi hutan itu menyaksikan dari halaman rumahnya ketika seekor kuda putih bersayap terbang menuju ke arah hutan. Rasa ingin tahunya membawanya mengikuti kemana arah kuda itu pergi, dan menemukannya tertambat di sebuah pohon.

Ketika Malta, pemilik kuda pegasus itu muncul, Damaskus terpesona oleh kecantikannya yang melebihi manusia biasa. Dia pun mengerti kalau Malta ini bukan berasal dari bangsa manusia. Ketika dia menanyakan hal itu padanya, gadis itu membenarkan.

“Aku berasal dari bangsa Elf yang tinggal di Negeri Langit.”

“Lalu apa yang kau lakukan di hutan ini?”

“Di negeri kami, tidak ada lahan yang bisa ditanami tanaman atau buah-buahan seperti halnya lahan di permukaan planet ini. Padahal kami membutuhkannya sebagai sumber makanan kami. Karena itulah, ribuan tahun silam, para pendahulu kami menanam benih buah Sian, makanan khusus Elf, di hutan ini. Kemudian setiap minggunya, seorang Elf turun ke hutan ini dan mengumpulkan buah Sian dalam jumlah yang cukup untuk dibawa kembali ke Negeri Langit. Saat ini, akulah yang menjalankan tugas itu.”

Damaskus mendengarkan dengan penuh perhatian. Malta kemudian menjelaskan bahwa dari buah Sian itu, berbagai jenis makanan dapat dibuat untuk kebutuhan para Elf. Menarik sekali. Kemudian Malta balik menanyakan apa yang Damaskus lakukan di hutan ini, karena setelah bertahun-tahun menjalankan tugasnya, baru kali ini dia bertemu dengan seorang manusia. Daerah sekitar hutan ini normalnya tidak berpenghuni.

“Ayahku menyuruhku pergi dari rumah dan tinggal di tempat terpencil ini.”

“Kenapa? Apa yang kau lakukan?”

“Menurutmu kenapa? Karena aku bisa berbicara dengan binatang. Kemampuan ini bukan sesuatu yang wajar bagi manusia seperti kami.”

“Hanya karena itu dia mengusirmu? Kejam sekali.”

“Tidak, dia bukannya kejam. Dia menyuruhku tinggal di hutan ini, karena tidak ada manusia lain di sini, dan terutama, supaya aku bisa melatih kemampuanku. Soalnya, di hutan ini terdapat berbagai macam binatang. Setelah tiga tahun, aku boleh kembali ke rumah. Dan kau tahu apa hal paling menarik yang kudapat?”

“Apa?”

“Hanya beberapa hari tinggal di sini, dua hal yang luar biasa terjadi. Pertama, aku bisa menyaksikan secara langsung seekor kuda pegasus, mahluk ajaib yang hanya kudengar keberadaannya dari kisah-kisah tentang para dewa. Yang kedua, aku bertemu denganmu.”

Wajah Malta memerah. Dia pun tersenyum.

~

3.

Setelah itu, setiap kali Malta turun ke hutan itu setiap minggunya bersama kuda pegasusnya, Damaskus datang menemuinya. Setelah mereka mengumpulkan buah Sian bersama-sama, mereka pun beristirahat di bawah pohon besar itu dan membicarakan banyak hal. Seperti misalnya tentang asal usul kuda pegasus yang sekarang ada di Negeri Langit.

Setelah zaman para dewa berakhir, Pegasus yang merupakan mahluk ajaib milik mereka, bebas berkeliaran di Negeri Dewa tanpa ada yang mengurusi. Bangsa Elf yang saat itu baru berusia ratusan tahun, datang ke sana dan menemukan kuda-kuda pegasus dalam keadaan terlantar, dan memutuskan untuk membawa mereka pulang ke Negeri Langit. Sejak saat itulah, Pegasus menjadi binatang milik bangsa Elf.

Kembali pada Damaskus dan Malta, pertemuan mingguan mereka lambat laun mulai menunjukkan hasil. Mereka semakin dekat dan kenal satu sama lain. Rasa cinta pun tak terelakkan lagi tumbuh di antara mereka. Damaskus akan selalu menunggu hari dimana Malta akan datang ke hutan, dan sebaliknya, Malta pun selalu bersemangat ketika hari itu tiba. Dan Nikos si Pegasus pun menjadi saksi hidup kedekatan mereka.

~

4.

Seperti yang biasa dilakukannya selama hampir setahun ini, Malta meninggalkan Negeri Langit dan mengendarai kuda pegasusnya untuk turun ke hutan tempat Damaskus tinggal. Wajahnya berseri-seri karena kerinduannya selama seminggu terakhir ini akan terbayar. Sayangnya, situasi saat ini tidak terlalu ramah baginya.

Setiap kali Malta melakukan kunjungannya, para Elf selalu memastikan agar cuaca hari itu cukup cerah supaya perjalanan Malta lancar. Anehnya, kali ini, sesuatu yang janggal terjadi. Sesuatu hal yang berada di luar pengetahuan dan kekuasaan mereka. Sebuah komet melintasi bumi hari itu, sesuatu yang hanya terjadi setiap berapa puluh tahun sekali, dan energi yang dipancarkan komet itu menyebabkan alat pengendali cuaca bangsa Elf tidak berfungsi, dan mengacaukan kondisi awan saat itu.

Di tengah perjalanannya dari Negeri Langit ke hutan, Malta mendapati awan hujan yang besar muncul dan menghalangi sinar matahari. Jaraknya ke hutan masih terlalu jauh, dan tidak cukup waktu untuk kembali ke Negeri Langit. Bunga-bunga listrik berpendaran dari awan tersebut, dan beberapa detik kemudian, hujan pun turun dengan lebat disertai dengan petir yang menyambar.

Malta masih berada ratusan meter di atas permukaan tanah, ketika menyadari bahwa mereka tak bisa menghindar. Salah satu terjangan petir menghantamnya dengan telak.

Wajah Damaskus terbayang di benaknya sebelum Malta kehilangan kesadaran akibat tersengat aliran listrik berkekuatan ribuan volt. Petir yang juga menyambar Nikos, menyebabkan keseimbangan mereka goyah, dan Malta pun meluncur jatuh. Tubuhnya terhempas di sebuah padang rumput yang luas, menyusul kuda pegasusnya yang sudah lebih dulu terhempas di sana. Hujan pun terus turun, membasahi padang rumput itu, dimana Malta terbaring di sana dalam keadaan tak sadar.

~

5.

Damaskus menunggu seharian, tapi Malta dan Nikos tak kunjung tiba. Dia memandangi langit yang cerah, mengharapkan kuda pegasus itu muncul seperti biasanya. Ketika hari sudah memasuki malam, dan mereka tak juga datang, dia pun kembali ke rumahnya. Bertanya-tanya kenapa Malta tidak datang.

~

6.

Tengah malamnya, Nikos si Pegasus terbangun. Sambaran petir itu tidak berdampak buruk baginya yang dulunya merupakan kendaraan para dewa. Nikos menghampiri Malta yang terbaring di dekatnya, berusaha membangunkannya dengan mengusapkan kepalanya padanya. Malta masih diam, tak bereaksi sedikit pun.

Menyadari majikannya butuh pertolongan, Nikos pun segera melesat terbang meninggalkan padang rumput itu. Menuju hutan tempat Damaskus tinggal. Hanya dia yang bisa menyelamatkan Malta.

~

7.

“Apa yang terjadi? Dimana majikanmu?”

Damaskus yang mendapati Nikos datang sendirian, bertanya pada kuda pegasus itu. Dia memegang kepala Nikos dengan kedua tangannya dan menatap matanya, berusaha mendengarkan setiap suara yang dikeluarkan binatang itu.

"Malta dalam keadaan kritis. Dia tersambar petir dan sekarang tak sadarkan diri. Kau harus menolongnya, Damaskus."

Damaskus terkejut mendengar kabar yang disampaikan Nikos. Dia berusaha mengendalikan kekuatirannya akan Malta dengan berpikir dengan jernih.

“Tunggu di sini, Nikos.”

Dengan sekuat tenaga, Damaskus berlari di tengah hutan, menuju tempat dimana buah Sian berada. Untunglah setiap minggunya mereka selalu mengumpulkan buah itu bersama-sama, sehingga tidak butuh waktu lama baginya untuk tiba di tempat yang dicarinya. Di sana, di tempat dimana sinar matahari menyinari tempat itu tanpa terhalang oleh pepohonan besar di sekelilingnya, buah Sian yang berwarna keemasan memenuhi tempat itu.

Damaskus mengambil tiga buah dan memasukkannya ke kantong yang dibawanya. Kemudian tanpa membuang waktu, dia bergegas kembali menemui Nikos. Kuda pegasus itu sudah menunggunya, bersiap-siap untuk terbang kapanpun dia muncul. Damaskus menunjukkan kantong berisi buah Sian itu pada Nikos, kemudian menaiki pegasus itu.

“Hai Pegasus, antarkan aku padanya.”

Nikos pun melesat terbang.

~

8.

Damaskus berusaha mengendalikan posisi tubuhnya yang sedang menunggangi kuda pegasus itu. Selain ini merupakan pertama kali baginya, Nikos juga melesat terbang dengan kecepatan maksimalnya, membuat Damaskus harus bersusah payah berpegangan pada punggungnya supaya tidak terjatuh.

Satu jam kemudian mereka pun tiba di padang rumput itu. Begitu Nikos menginjakkan kakinya, Damaskus langsung melompat turun dan menghampiri Malta yang masih terbaring diam di sana. Dengan cemas Damaskus menyentuh wajahnya yang mulai dingin. Masih bernapas. Damaskus menyuruh Nikos duduk agar dia bisa menyandarkan Malta, kemudian dia membuka kantong berisi buah Sian yang dibawanya, mencuil potongan kecil darinya, dan memasukkannya ke mulut Malta.

“Ayo telan, Malta.”

Beberapa menit Damaskus menunggu, Malta masih tak kunjung sadar.

“Bangun, Malta! Buka matamu!”

Damaskus berteriak sambil menggoncangkan bahu Malta. Tak ada perubahan.
Damaskus pun lemas. Dengan putus asa, dia merangkul Malta erat-erat, dan berusaha menahan air matanya yang hampir keluar.

Kemudian dia pun mendengarnya. Suara hembusan napas. Milik Malta.

Damaskus melepaskan pelukannya dan menyandarkan Malta kembali. Perlahan, gadis berambut keemasan itu mulai membuka matanya.

Damaskus sudah tidak mempedulikan air matanya yang sudah membasahi kedua pipinya. Semua kekuatirannya pun lenyap.

“Malta?”

Perlahan Malta tersenyum.

“Syukurlah.” Damaskus pun tersenyum. Lega.

“Damaskus... terimakasih karena sudah membangunkanku.”

Damaskus pun menciumnya.

Dan matahari pun seakan bersinar semakin cerah.

-END-


==========

author's note: I can't believe I wrote this thing! :p

Sunday, January 08, 2012

Menjenguk Lili

Sejak Ibu Rosa, wali kelas mereka menikah sebulan yang lalu, kelas 2-C tidak pernah seheboh seperti minggu ini. Penyebabnya adalah Lili, salah satu talenta terbaik dari kelas mereka, masuk ke babak final Gisella Cup, kompetisi menyanyi tingkat SMA se-provinsi. Di final nanti, Lili akan bersaing dengan 9 finalis lainnya untuk dapat maju ke level nasional. Alhasil, tidak cuma Lili, tapi seisi kelas ikut bersemangat mendukungnya. Bahkan mereka sampai membuat kaos dan spanduk bertuliskan dukungan untuk Lili. Hampir semua murid di kelas 2-C antusias menyambutnya.

Seminggu sebelum final, setiap harinya Lili berlatih selesai jam sekolah, bersama beberapa rekan dari Paduan Suara dan guru kesenian. Mereka memilihkan lagu-lagu yang akan dinyanyikan Lili di final nanti. Sejauh ini, situasinya cukup menjanjikan, dan Lili serta yang lainnya cukup percaya diri dengan kans mereka untuk menang.

Hingga tibalah dua hari menjelang final. Selesai latihan, Lili merasa kepalanya sedikit berat. Mungkin kecapekan, pikirnya. Besoknya dia tidak masuk. Sakit. Flu. Mesti beristirahat di rumah. Dan itu H-1.

Berita bahwa Lili sakit menggemparkan seisi kelas 2-C, tak terkecuali Loki, satu-satunya orang yang kelihatannya tidak terpengaruh oleh kegemparan seminggu terakhir ini. Selagi yang lain sibuk membicarakan Lili atau repot dengan segala atribut fans Lili, Loki terus saja tenggelam dalam buku-entah-apa-judulnya yang dibacanya dan earphonenya. Kali ini, di tengah-tengah alunan musik yang menutupi telinganya, Loki mengangkat kepalanya dan memperhatikan suasana kelas. Kuatir. Cemas. Kekecewaan. Semua aura negatif seakan berkumpul karena sakitnya Lili, yang hampir pasti akan membuatnya absen di final besok.

Seusai pulang sekolah, beberapa anak berinisiatif untuk menjenguk Lili, dengan tujuan untuk menghiburnya. Loki, entah kenapa, meminta untuk ikut serta, satu-satunya anak cowok yang ikut menjenguk diantara enam anak cewek lainnya.

Singkat cerita, mereka mendatangi Lili yang sedang berbaring di kamarnya, lalu setelah beberapa kata simpatik dan menghibur, malah akhirnya ngerumpi khas cewek selama kira-kira sejam lebih. Di luar kamar, Loki duduk dan menunggu saja di ruang tamu, memandangi segelas sirup yang sama sekali tak diminumnya. Begitu ada tanda-tanda bahwa rumpian mereka segera berakhir, dia bangkit dan ikut masuk ke kamar Lili. Sewaktu yang lain pergi sambil melirik heran ke arahnya, Loki tetap berada di sana, akhirnya empat mata saja dengan Lili. Dia duduk di kursi yang disediakan di samping tempat tidur Lili.

“Hai, Liliana.” sapanya.
 “Amarillo. Ehm, aku sebenarnya ga percaya waktu mereka bilang kamu ikut datang kesini. Kamu kan, ga pernah ngobrol sama sekali denganku di sekolah.”
“Memang, tapi bukan berarti aku ga peduli.”

Kemudian mereka hanya diam saja. Keheningan itu hanya sesekali diisi dengan suara hidung Lili yang tersumbat.

Loki mendekat dan meraba kening Lili dengan telapak tangannya. Panas.

“Demammu masih tinggi.” Komentarnya singkat.
“Begitulah. Paling tidak aku mesti beristirahat hingga besok supaya demamnya sedikit turun. Kalaupun kondisiku cukup fit untuk ikut final, pilek dan batuk ini sudah pasti akan berpengaruh pada suaraku. Goodbye, final.” Lili tertawa kecil.

Loki melepas tangannya dari kening Lili, kemudian menggenggam tangan kirinya yang tak kalah panas.  Sementara itu Lili berusaha untuk tidak terlihat gugup. Untungnya dalam kondisinya yang demam ini, hal itu tersembunyikan dengan baik. Loki ini, dalam bahasanya sendiri, termasuk rupawan. Hanya memang orangnya rada aneh dan tertutup. Makanya sewaktu dia memegang tangannya, terang saja Lili gugup.

“Kompetisi ini, apakah buatmu sangat penting?”

Dan begitu saja dia bertanya, sementara tangannya masih memegang tanganku, pikir Lili.
“Ga juga sih. Aku... cuma mau berusaha sebaik-baiknya dan mengeluarkan penampilan terbaikku. Sekarang kesempatan itu pun lenyap. Lagipula...” kemudian Lili terdiam.
“Lagipula apa?”

Dengan ragu, Lili meneruskan,
“Menyanyi adalah satu-satunya keahlian yang kupunya. Aku ga berbakat di bidang pelajaran yang lain. Matematika dan hafalanku jelek, dan aku lemah dalam olahraga.”
“Apa iya?”

Lili memandangnya heran. “Maksud kamu?”
“Dari tempatku duduk, mau tak mau, aku sering melihatmu. Kamu orang yang giat, selain itu kamu ramah dan punya banyak teman. Kamu orang yang selalu membawa keceriaan bagi orang lain. Menurutku itu juga bisa disebut keahlian.”
“Hmm, ada-ada saja.” senyum Lili.

Loki melepaskan genggaman tangannya pada Lili, kemudian berdiri.

“Jangan dulu melepaskan harapan. Mungkin besok pagi kondisimu sudah membaik. Goodnight.”

Dan dia pun pergi, sementara Lili masih merenungkan kata-katanya. Apanya yang membaik, pilek mana bisa sembuh dalam semalam? Dan Lili pun tertidur.

~

Keesokan paginya Lili terbangun, dengan kondisi yang segar bugar. Semua pusing, pilek dan batuk-batuk yang dideritanya kemarin hilang tak berbekas. Suaranya pun baik-baik saja. Lili pun terheran-heran.

Loki, pikirnya.

Menyadari bahwa dia harus segera bersiap-siap untuk mengikuti final, Lili bergegas menghubungi guru pembimbingnya yang kemudian segera menyebarkan informasi yang luar biasa penting itu ke seluruh pendukung Lili. Jagoan mereka bakal tampil di final!

~

Selesai menyanyikan lagu pamungkasnya, Lili tersenyum ke arah penonton, berusaha mencari Loki di antara mereka. Dia tidak tampak di sana.

Pada akhirnya, Lili tidak menjadi yang terbaik di final, tapi dia tetap lolos ke tingkat nasional sebagai runner-up.

Loki tidak ikut merayakan keberhasilan Lili bersama teman-temannya yang lain. Dia ada di luar ruangan kompetisi, duduk di kantin gedung itu sendirian. Dia bisa mendengar riuhnya suasana kompetisi yang baru saja berakhir, juga suara teman-temannya yang memberikan ucapan selamat pada Lili. Sambil menyeka hidungnya yang pilek, dia tersenyum singkat.

~ END ~

Wednesday, January 04, 2012

Surat yang Tertinggal di Kota Mati

Namaku Gemma, 17 tahun. Saat surat ini ditemukan, kemungkinan besar aku dan seluruh penduduk yang lain sudah mati, tidak ada lagi yang tersisa. Meski begitu, kurasa tak ada salahnya kalau aku menceritakan apa saja yang kuketahui tentang hal-hal yang terjadi beberapa hari terakhir ini.

Sepertinya semua ini bermula dari hari Selasa sore tanggal 24, enam hari yang lalu. Waktu itu aku sedang berjalan pulang dari sekolah. Sewaktu melewati stasiun, aku bertemu dengan laki-laki itu. Tidak ada yang mencurigakan darinya. Dia masih muda, mungkin sekitar 20-an, dan wajahnya ramah. Dia menanyakan letak restoran Tamago, yang dia dengar merupakan salah satu restoran terbaik di kota ini. Aku membenarkan, dan kebetulan aku juga sering makan di sana. Kuberitahu dia arah ke restoran itu, tapi kelihatannya dia tidak terlalu mengerti, jadi dia memintaku untuk menggambar semacam peta menuju restoran itu. Mudah saja. Setelah itu, dia berterimakasih padaku dan pergi mengikuti petunjuk di peta. Aku pun melanjutkan perjalanan ke rumah.

Setelah makan malam, entah kenapa badanku terasa pegal dan kepalaku mulai pusing. Aku pun segera tidur untuk beristirahat. Dan betullah, ketika terbangun, aku terkena pilek. Untungnya pusing di kepalaku sudah hilang, sehingga aku tetap bisa masuk sekolah. Efek pilek ini tidak terlalu berat, hanya hidung meler dan bersin-bersin saja. 

Jadi aku masuk sekolah seperti biasa, dengan memakai masker, hal yang biasa kulakukan kalau terkena flu. Semuanya berjalan biasa-biasa saja. Kecuali mesti membuang ingus dari hidungku, semuanya normal. Sampai kemudian di sore harinya, baru kusadari kalau teman-teman sekelasku mulai menunjukkan gejala-gejala pilek. Sepertinya mereka ketularan pilek dariku. Tapi waktu itu kami hanya menanggapinya sambil bercanda. Yah, apa boleh buat kan?

Sesampainya di rumah, tak kusangka, ayah, ibu, dan adikku juga terkena pilek. Sepertinya aku sudah menularkan pilek ini ke banyak orang. Aku mulai sedikit waswas. Karena tidak biasanya banyak orang yang tertular ketika aku pilek.

Keesokan paginya, situasi semakin aneh. Semakin banyak orang yang tertular pilek. Di jalan-jalan dan tempat-tempat yang kulalui, semua orang mengenakan masker dan menunjukkan tanda-tanda pilek. Di sekolah pun, hampir semua orang terkena pilek. Aku menyimpulkan bahwa sepertinya kota kami terkena virus flu baru, dan aku menjadi salah satu penyebarnya.

Merasa bersalah, aku mencoba mengingat-ingat apa kiranya yang menjadi penyebab flu itu. Mundur ke hari dimana aku masih baik-baik saja, kuingat-ingat lagi makanan apa saja yang kusentuh. Sedang memikirkan hal itu sambil berjalan pulang, aku melihat orang itu lagi. Orang yang menanyakan jalan padaku hari Selasa lalu. Rupanya dia masih ada di sini, dan kelihatannya tidak ikut terkena pilek. Aku berusaha menyusulnya, tapi setelah melewati sebuah tikungan, aku tak bisa menemukannya.

Hanya dalam tiga hari, kelihatannya semua orang di kota ini sudah terkena penyakit pilek misterius itu. Kudengar dari ayah, sudah banyak orang yang tidak berangkat kerja dan beristirahat di rumah. Ayah dan ibuku yang kondisinya semakin berat pun memutuskan untuk melakukan hal yang sama. Kondisikulah yang paling lumayan jika dibandingkan dengan keluargaku. Aneh juga, padahal aku yang pertama kali terkena pilek.

Besoknya sekolah diliburkan karena hampir semua murid dan guru terkena pilek. Bukan, bukan hampir semua, tapi semuanya terkena. Aku yakin itulah yang sebenarnya terjadi. Suasana kota menjadi sepi, tidak ada kantor atau restoran atau tempat umum yang beroperasi karena semua orang beristirahat di rumah. Aku yang keadaannya tidak terlalu parah memutuskan untuk tinggal di rumah saja untuk mengurus keluargaku.

Keesokan paginya, di hari kelima sejak aku terkena pilek, keadaan makin mengkhawatirkan. Ayah, ibu dan adikku terkena demam tinggi. Pilek yang kuderita juga semakin berat. Badanku terasa berat dan kepalaku kembali pusing, tapi aku tetap pergi keluar untuk minta bantuan. Alangkah terkejutnya aku ketika aku mendatangi rumah tetanggaku dan mengetahui kalau anak mereka sudah meninggal setelah terkena demam tinggi semalaman. Mereka pun dalam kondisi yang sangat parah. Aku semakin panik.

Aku mendatangi apotik, tapi tempat itu tutup. Kudatangi dokter terdekat untuk meminta resep atau obat yang bisa digunakan untuk meredakan demam ini, tapi dia pun dalam keadaan tak berdaya. Dia sudah mencoba menggunakan obat penurun demam yang diketahuinya, tapi demamnya tak kunjung turun. Dalam keadaan panik dan kehabisan akal, aku berjalan tanpa arah, dan kembali aku bertemu dengan orang itu.

Melihatnya dalam kondisi yang sehat-sehat saja, aku menghampirinya dengan harapan bahwa dia bisa membantu. Dia masih ramah seperti waktu pertama kali aku bertemu dengannya beberapa hari yang lalu. Ketika aku meminta bantuannya, dia bilang dia tidak bisa membantu. Aku pun bertanya kenapa dia tidak tertular pilek seperti yang lainnya. Dan inilah yang dia katakan.


“Mungkin karena akulah yang memberikan penyakit itu padamu.”

Bagai disambar petir, aku terkejut mendengar jawabannya. Kutanya bagaimana caranya dia memberiku penyakit itu. Dia mengingatkan bahwa waktu itu dia menyentuh tanganku sewaktu aku memberinya peta buatanku. Dia juga memberitahu bahwa efek penyakitnya padaku tidak secepat yang lain karena aku terkena langsung darinya. Siapa Anda ini, tanyaku, tapi dia tidak menjawab, dan malah mengucapkan selamat tinggal. Tugasnya di sini sudah selesai, katanya. Aku ingin bertanya lagi, tapi kepalaku terasa berat dan aku pun pingsan.

Aku terbangun beberapa jam kemudian, dan dia sudah tidak ada. Hanya aku sendiri yang masih berkeliaran di luar, dan sekarang aku pun terkena demam tinggi. Aku bergegas pulang untuk memeriksa kondisi keluargaku. Di setiap tempat yang kulewati selama perjalanan, tidak kudengar suara orang sama sekali. Sepertinya tidak ada tanda-tanda kehidupan lagi di kota ini. Setibanya di rumah, aku bergegas menuju kamar orangtuaku. Kudapati mereka sudah tak bernyawa, tak ada denyut jantungnya lagi. Kuperiksa adikku dan mendapati hal yang sama. Aku pun panik, ingin menangis karena tak ada yang bisa dilakukan. Kelelahan, aku pun tertidur lagi.

Ketika terbangun di malam hari, kudapati demamku semakin tinggi. Aku pun menerima kenyataan bahwa keluargaku sudah turut menjadi korban wabah pilek misterius ini, begitu pula dengan para penduduk lain. Dalam keadaanku yang semakin parah ini, aku menyadari bahwa hanya tinggal masalah waktu saja sebelum aku menyusul mereka. Dengan sisa tenaga yang ada, aku meneguhkan hati untuk menulis surat ini.

Siapapun yang menemukan dan membaca surat ini, tolong beritahu pihak yang berwajib dan yang lainnya. Ceritakan apa yang terjadi. Nasib kami sudah tak tertolong, tapi aku berharap kejadian ini tidak terjadi di tempat lain.

Orang yang kuceritakan itu, tinggi dan perawakannya sedang, kulitnya agak putih, rambutnya lurus sedang. Wajahnya bersih, tanpa kumis, cambang atau janggut. Dia tidak memakai kacamata, anting, jam tangan maupun aksesoris lainnya. Terakhir kali aku melihatnya, dia memakai pakaian serba hitam. Dia terlihat normal seperti orang kebanyakan. Oh, aku ingat, selama dia ada di kota ini, hujan tidak pernah turun. Padahal hari-hari sebelumnya, hampir tiap hari hujan. Aku yakin dialah yang bertanggung jawab atas menyebarnya wabah misterius itu di kota kami.

Tolong beritahu yang lain agar mereka mewaspadai kemunculan orang ini, karena aku yakin dia akan mencari tempat lain.

Ayah, ibu, maafkan aku.

~

Surat itu ditemukan beberapa minggu kemudian. Para petugas dari badan penanggulangan bencana datang untuk memeriksa kota itu setelah semua hubungan ke dunia luar terputus. Mereka menemukan surat itu di meja di kamar Gemma, yang tertidur dengan damai untuk selama-lamanya.



Ribuan kilometer dari sana, di sebuah pedesaan di negara yang berbeda, seorang laki-laki tiba di sana. Dia menghampiri anak kecil yang sedang berlarian di jalanan, dan memegang tangannya.

“Halo adik, kamu tahu dimana tempat makan yang enak di sekitar sini?”
-END-
harap dikomentari ya, biar bisa jadi masukan :)

Monday, December 26, 2011

proyek nulis bareng

Jadi ceritanya saya dan Dian berencana untuk bikin buku bareng. Karena udah agak lama sejak ide ini muncul tapi belum juga direalisasikan, sabtu kemaren kita ngomongin masalah sistemnya. Gw udah kepikiran sih sejak kemaren2nya, cuma nyari waktu yg pas aja buat diskusiinnya.

Jadi karena ini akan jadi buku pertama yg kita bikin, daripada mikirin gimana format nulis yg ribet2, kayak misalnya, bikin ceritanya sambung menyambung, ato bikin cerita dari dua sudut pandang, mending dibuat dengan cara yg sederhana dan sudah pernah dilakukan. Kumpulan cerpen. Seperti halnya format2 yg sering dipakai nulisbuku dalam suatu event. Hanya dalam hal ini kontributornya ga rame2, tapi dua orang saja. Jadinya dalam satu buku, isinya bukan cuma satu tema, tapi bisa sampai belasan.

Sistemnya nanti adalah: setiap minggu, terhitung sejak 2 Januari 2012, kami akan bergantian menentukan tema, untuk kemudian masing2 menulis cerita dengan tema tersebut. Jangka waktunya adalah seminggu, jadi paling lambat hari minggunya ceritanya sudah disetor di blog, untuk kemudian menentukan tema berikutnya.

Pertimbangannya adalah: mengingat kadang sulit mencari waktu untuk menulis, maka selang waktu seminggu lebih mudah dicapai ketimbang mesti menulis tiap harinya. Kemudian juga untuk lebih teratur, periodenya dimulai setelah tahun baru. Jadi semacam resolusinya jadinya :p

Kemudian nanti postingan di blog tentang proyek ini dikasih tag seperti halnya proyek #15harimenulisdiblog dan #11projects11days kemaren. Hesteknya yg gampang2 aja, yaitu #nulisbareng #mingguke #judultopik. Untuk topik yg pertama, jadinya tag2nya akan seperti ini #nulisbareng #1 #pilek. Berikutnya Dian yg nentuin tema, dst.

Postingan ini sebagai reminder aja sih, semenjak gmail dan twitternya dian dihack, gw gatau mesti menghubungi lewat mana lagi. nunggu aja. yang penting proyek nulis ini jalan terus. Amin.