Featured Post

[Review] Game of Thrones (season 6)

Setelah setahun, GoT kembali di season 6. Sebenarnya gw juga ga begitu nunggu2 sih, karena lagi asik ngikutin serial yg lain (The Flash...

Showing posts with label #7HariMendongeng. Show all posts
Showing posts with label #7HariMendongeng. Show all posts

Tuesday, May 15, 2012

Batalnya Rencana Bandung Bondowoso

Peperangan pecah di Prambanan. Kerajaan Prambanan yang dipimpin Prabu Boko yang bertubuh raksasa diserbu pasukan kerajaan Pengging yang dipimpin Bandung Bondowoso yang memiliki kesaktian luar biasa. Tanpa kesulitan berarti, Bandung membinasakan Prabu Boko dan mengalahkan Prambanan.

Saat dia melihat seorang gadis cantik luar biasa yang ternyata adalah putri Prabu Boko, Bandung Bondowoso pun terpikat. Segera saja dia mendatangi gadis bernama Loro Jonggrang itu dan mengutarakan niatnya untuk memperistri Jonggrang.

"Wahai, Loro Jonggrang, jadilah istriku."

Jonggrang yang tidak suka dengan Bandung Bondowoso, apalagi dia sudah membunuh ayahnya dan mengambil alih kerajaannya, takut untuk menolaknya secara langsung. Dia mempertimbangkan bahwa dengan kekuatan yang dimilikinya, bisa-bisa Bandung mengamuk dan menghancurkan seluruh kerajaan beserta rakyatnya jika dia ditolak. Karena itulah, dia datang dengan suatu ide.

"Maaf, tuanku Bandung Bondowoso, untuk dapat meminangku, kau harus mampu menyelesaikan satu syarat yang kuminta."

"Sebutkan saja!" tantang Bandung.

"Kau harus mampu membuat seribu candi, dalam satu malam."

Sempat terkejut, Bandung tak hilang akal dan menyanggupi tugas itu. Segera dia memanggil pasukan mahluk gaibnya, dan memerintahkan mereka untuk membangun seribu candi.

Bangsa jin tentu saja berbeda dengan manusia, apalagi mereka di bawah kendali Bandung Bondowoso yang memiliki kekuatan sakti. Mereka bisa mengerjakan tugas-tugas berat yang tak bisa dikerjakan manusia biasa dengan mudah. Dalam sekejap, belasan candi pun selesai dibuat.

Sementara Bandung Bondowoso mengawasi pasukan jinnya bekerja, entah dari mana asalnya, seseorang menyapanya.

"Hai, Bandung Bondowoso."

Bandung menoleh dan melihat seorang laki-laki dengan pakaian yang tak dikenalnya.

"Siapa kau? Bagaimana bisa melewati para pengawalku?"

Orang itu menjawab dengan tenang.
"Siapa aku tidaklah penting. Dan jangan coba-coba menggunakan kekuatanmu padaku, karena itu tidak akan berhasil."

Bandung mengerenyit. "Apa maumu?"

"Aku ingin menanyakan satu hal. Jawab dengan jujur, apakah kau betul-betul mencintai Loro Jonggrang, atau hanya ingin memuaskan nafsumu saja padanya?"

Pertanyaan itu membuat Bandung tertegun.
"Memangnya kenapa?" tanyanya balik.

"Karena dia tidak mencintaimu, bahkan cenderung membencimu atas apa yang sudah kau lakukan pada kerajaaannya. Dia tidak akan mau menikahimu. Kau boleh saja membangun candi-candi ini sampai selesai, tapi dia akan berusaha menggagalkan usahamu sehingga kau tidak berhasil membangun seribu candi. Dan kalaupun kau berhasil, dia akan mencari cara supaya kau tidak bisa menikahinya. Melihat bagaimana teguhnya pendiriannya, aku yakin dia lebih memilih mati daripada menjadi milikmu saat ini."

Bandung Bondowoso tersentak mendengar penjelasan orang asing itu.

Orang itu menjelaskan lebih lanjut.
"Karena itulah, kalau kau mencintainya, dan ingin melakukan hal yang benar, kau akan menyuruh pasukan jinmu berhenti dan menyuruh mereka pulang. Kemudian kau akan meminta maaf pada Loro Jonggrang, dan pergi dari kerajaan ini, untuk kemudian memperbaiki dirimu. Barulah kau boleh datang lagi kesini untuk meminangnya."

Bandung terdiam. Dia mencoba memahami penjelasan orang asing itu. Loro Jonggrang gadis yang sangat cantik. Tapi apakah dia mencintainya? Atau hanya terpikat pada kecantikannya?

Dia pun mengaku.
"Sejujurnya, aku tidak yakin apakah aku mencintainya atau tidak."

"Itu hal yang wajar. Kau baru melihat dan bertemu dengannya hari ini. Kau harus mengenalnya lebih jauh untuk memastikan apakah kau mencintainya atau tidak."

"Lalu apa yang harus kulakukan?" tanya Bandung.

"Lakukan sesuai yang kuminta tadi. Pergilah untuk saat ini, perbaiki dirimu, dan datanglah lagi dengan baik-baik."

Bandung Bondowoso menghela napas. Dia menghadap ke arah pasukan jinnya yang masih giat membangun candi.
"Wahai anak buahku, hentikan apa yang kalian lakukan. Tugas kalian sudah selesai hari ini."

Ratusan jin yang memenuhi tempat itu saling menatap kebingungan. Tidak biasanya majikan mereka bersikap sebaik ini. Biasanya dia tidak pernah bicara kecuali memberikan perintah saja.

"Pulanglah! Kembalilah ke alam kalian."

Meskipun tidak terlalu paham situasinya, ratusan jin itu patuh. Dengan segera mereka pun lenyap, meninggalkan proses pembangunan candi yang baru setengahnya jadi.

Di dalam istananya, Loro Jonggrang terkejut melihat situasi di luar sana. Kenapa mereka tiba-tiba menghentikan tugasnya dan pergi? Dilihatnya baru ada sekitar seratus candi yang sudah jadi.

"Batalkan rencana. Sepertinya kita tidak membutuhkannya lagi," perintahnya pada dayang-dayangnya.

Para dayang pun meletakkan kembali lesung padi yang sudah mereka siapkan. Mereka berencana untuk menumbuk lesung itu ketika para jin hampir menyelesaikan candi ke 900.

Lara Jonggrang melihat Bandung Bondowoso datang menghampirinya. Sambil tetap waspada, dia menyambutnya.

"Ada apa gerangan, tuanku Bandung Bondowoso? Kulihat kau belum menyelesaikan syarat yang kuajukan."

"Tidak perlu. Dengan ini aku menarik kembali permintaanku untuk menikahimu. Setelah kupikir lagi, yang kulakukan ini tidaklah pantas. Karena itulah, aku ingin meminta maaf."

Loro Jonggrang tak mampu berkata apa-apa mendengar perubahan sikap Bandung Bondowoso yang cukup drastis itu.

"Kami akan meninggalkan kerajaan ini, dan menyerahkannya kembali padamu."

Setelah mengucapkan itu, Bandung Bondowoso pun berbalik pergi.

"Tunggu!" panggil Jonggrang.
"Terimakasih atas kebaikanmu, Bandung Bondowoso."

Bandung tersenyum kecil.
"Kalau ada kesempatan lagi, aku ingin kembali lagi ke sini, dan bukan sebagai musuh. Apakah kau keberatan?"

Jonggrang menjawab, "Kurasa itu tidak masalah."

Mereka pun saling berpamitan.
"Selamat tinggal, Loro Jonggrang."
"Selamat tinggal, Bandung Bondowoso."

Dan dengan demikian, Bandung Bondowoso pun pergi meninggalkan kerajaan Prambanan beserta seluruh pasukannya.

Bandung berpapasan lagi dengan orang asing tadi.
"Aku sudah melakukan hal-hal yang kausarankan tadi."

Orang itu mengangguk.
"Kau sudah melakukan hal yang benar," ucapnya singkat.

Bandung bertanya sekali lagi.
"Sekedar bertanya, bagaimana kalau tadi aku tetap berkeinginan untuk memiliki Loro Jonggrang?"

"Bila demikian halnya, aku akan langsung menghancurkanmu saat ini juga, untuk menghindari permasalahan yang akan muncul nanti."

Bandung bergeming mendengar ucapan orang itu. Selama beberapa menit mereka saling memandangi lawannya.

"Aku tidak tahu kenapa, tapi kau sepertinya bukan tipe orang yang hanya menggertak. Siapa kau sebenarnya?" tanya Bandung.

Orang itu memandangi Bandung lama sebelum akhirnya menjawab.
"Aku datang dari dunia lain, dunia dimana mereka mengenalmu, dan apa yang terjadi antara kau dengan Loro Jonggrang. Aku datang kemari untuk mencoba memperbaiki masalah yang terjadi."

Bandung terheran-heran mendengar jawaban orang itu. Dia tidak bertanya apa-apa lagi dan melanjutkan perjalanannya.

Orang itu menyaksikan kepergian Bandung Bondowoso dan pasukannya.
"Jaka Tarub dan Bandung Bondowoso sudah. Sekarang tinggal Sangkuriang dan Malin Kundang."

Dia berpaling ke lokasi pembangunan candi-candi yang baru setengah jadi.
"Mudah-mudahan mereka tidak keberatan kalau nantinya Candi Prambanan tidak sampai selesai dibangun semuanya."

-end-

improvisasi dari legenda Loro Jonggrang
#7HariMendongeng hari ke-6 tema: remake

Sunday, May 13, 2012

Runtuhnya Kerajaan Kancil

Dahulu kala, kancil dikenal sebagai binatang yang cerdik, sehingga mampu mengelabui lawan-lawannya, seperti buaya atau hewan buas lainnya. Tapi pernah juga giliran mereka yang dikerjai mahluk lain yang inferior, seperti ketika sekelompok kura-kura mengalahkan mereka dalam suatu lomba lari. Sejak saat itu, kancil pun semakin berhati-hati agar tidak dikuasai rasa sombong, dan mempertajam kecerdasannya.

Ratusan tahun berlalu, bangsa kancil tumbuh menjadi bangsa yang maju pesat. Kecerdasan mereka menjadi yang terbaik di seluruh kerajaan hutan. Mereka tidak lagi menjadi binatang yang diremehkan. Singa, buaya, harimau, dan lain-lainnya pun tak berani memangsa mereka.

Bangsa kancil dengan mantap membuat kerajaannya sendiri, dengan struktur yang rapi, mulai dari raja hingga tukang masak. Semua dibekali dengan kecerdasan dan keahlian di bidangnya masing-masing. Hingga suatu saat terdapat anomali. Seekor kancil lahir dengan kecerdasan di bawah rata-rata.

Namanya Kiko. Fisiknya biasa saja, sama dengan tubuh kancil kebanyakan. Tetapi, dia agak sedikit lambat. Jika membaca, dia membutuhkan waktu dua kali lebih banyak jika dibandingkan dengan kancil yang lain. Jika dia berlari, maka dia membutuhkan waktu yang lebih lama daripada yang lain. Dan hal-hal lainnya. dia menyadari hal itu. Bahkan teman-temannya pun merendahkannya.

Pada suatu hari dia membolos dari sekolah. Dia merasa kesal dengan perlakuan teman-temannya. Di waktu senggangnya, dia berjalan-jalan sendirian menyusuri hutan yang bertahun-tahun dihuninya. Dia terus berjalan, merasakan udara segar dan terlena akan keindahan alam. Sehingga tanpa terasa dia memasuki kawasan hutan yang tidak dikenalnya dan mulai tersesat semakin dalam.

Kiko berhenti sejenak. Dia mendengar suara percakapan dari kejauhan. Biarpun kecerdasannya rendah, dia memiliki pendengaran yang sangat baik.

"Sudah cukup kita membiarkan kancil-kancil itu bebas. Kita harus menjaga reputasi kita sebagai penguasa hutan ini. Kita harus menyerang mereka."

Oh tidak, rupanya itu bangsa singa yang sedang mengadakan rapat. Kiko diam terpaku di tempatnya, tak berani bergerak sedikit pun, kuatir kalau singa-singa itu menyadari kehadirannya.

"Tapi mereka terlalu cerdik untuk kita kalahkan. Kita tidak bisa mengalahkan mereka. Kita butuh bantuan."
"Aku tahu pihak yang tepat untuk kita mintai bantuan. Ayo, kita pergi menemui mereka."

Dan rapat itu pun selesai, singa-singa itu pergi. Kiko akhirnya bernapas lega. Dia harus segera memberitahukan rencana bangsa singa itu ke raja kancil.

Kiko berbalik dari tempatnya bersembunyi. Kembali menyusuri jalan yang tadi diambilnya. Untung saja kali ini dia tidak tersesat terlalu dalam sehingga tidak perlu menghabiskan waktu seharian untuk menemukan jalan pulang.

Sejak tadi dia terus berpikir. Pihak manakah yang akan dijadikan sekutu oleh para singa itu. Dia sama sekali tidak bisa berpikir jernih. Dia hanya merasa harus cepat menyampaikan pesan ini kepada raja kancil.

Tibalah dia di wilayah kerajaan kancil. Dengan cepat dia menuju kediaman raja kancil. Dia disambut oleh pengawal pribadinya.

"Kau dilarang memasuki daerah ini. Mulailah berbalik dan berjalan menuju arah datangmu," tegas pengawal itu.

"Maafkan aku pak pengawal, tapi aku memiliki pesan penting untuk raja kancil," desak Kiko.

"Apa itu?"

"Aku tidak bisa memberitahunya di sini. Aku harus mengatakan langsung padanya."

Pengawal itu menggelengkan kepalanya.
"Tetap tidak bisa. Raja bukanlah kancil yang bisa kau temui sesukamu. Cepat pergi dari sini!" perintah pengawal itu.

Kiko tertunduk lesu. Berita penyerangan itu harus tetap disampaikan. Pada saat hendak pulang, dia berpapasan dengan rombongan raja yang baru saja pulang dari kegiatannya. Dengan percaya diri dia menghentikan rombongan itu.

"Tuanku raja yang mulia. Aku ingin menyampaikan suatu kabar penting kepadamu," ucap Kiko sambil setengah membungkuk.

Rombongan itu terhenti. Raja kancil tertarik dengan berita yang akan disampaikan oleh Kiko.

"Bukankah kamu kancil yang tak begitu cerdas itu? Kabar penting apa yang ingin kau sampaikan?" tanya raja.

Kiko mengabaikan ejekan sang raja, dan langsung melaporkan percakapannya yang didengar di hutan tadi.

"Bangsa singa ingin menyerang kita."

"Oh, akhirnya. Setelah sekian lama menunggu, akhirnya mereka punya nyali juga." Raja berkomentar dengan santai.

"Tapi mereka kelihatannya yakin akan menang, Yang Mulia. Mereka meminta bantuan dari pihak lain."

"Siapa?"

"Aku tidak tahu. Mereka tidak menyebutkannya."

"Yah, tidak masalah siapa. Biarkan mereka datang, kita akan membuat perangkap untuk menjebak mereka."

Dengan segera, raja mengumpulkan bawahannya dan merencanakan siasat untuk menghadapi serangan bangsa singa. Tidak butuh waktu lama untuk menetapkan rencana dan pembagian tugas untuk para kancil. Semua kancil pun diikutsertakan untuk keberhasilan rencana itu. Hampir semua tepatnya. Karena menilai Kiko lambat dan kurang cerdas, Raja takut Kiko akan membuat rencana mereka tak berjalan dengan sempurna. Oleh karena itulah dia menyuruh Kiko untuk mengungsi ke tempat yang aman sementara perang berlangsung.

Kiko lagi-lagi merasa tersingkirkan dengan perintah raja kancil. Padahal dia ingin membantu apa saja yang bisa dilakukannya selama penyerangan itu. Dengan langkah gontai dia berjalan menuju hutan, menyembunyikan dirinya dalam kegelapan hutan yang tak tersentuh oleh cahaya bulan.

Dan kejauhan dia bisa mendengar suara auman singa sedang bersiap-siap menyerang wilayah kerajaan kancil. Di tengah-tengah auman itu, dia mendengar suara ribut yang lain.

Ternyata sekutu mereka adalah manusia!

Kiko panik. Manusia yang dia tahu, memiliki persenjataan lengkap dan canggih. Bangsa kancil tidak akan bisa menahan mereka dengan mudah.

Dia pun bergegas kembali ke kerajaan kancil dan menghadap Raja.

"Ada apa lagi, bukankah kau sudah kusuruh bersembunyi?" tanya Raja dengan kesal.

"Yang Mulia, saya tahu siapa sekutu bangsa singa dalam perang ini. Ternyata mereka adalah manusia!"

Raja tersentak, tapi tak butuh waktu lama baginya untuk kembali tenang.
"Perlu ada sedikit modifikasi pada strategi perang kita."

"Yang Mulia! Bukankah manusia itu sangat berbahaya, jauh lebih berbahaya daripada bangsa singa? Mungkin kita mesti melarikan diri, menghindari pertempuran ini." usul Kiko dengan panik.

Raja pun semakin kesal.
"Hai bocah, bukan tugasmu untuk berpikir dengan kecerdasanmu yang kurang itu. Serahkan pertempuran ini pada kami. Kalau kau mau melarikan diri, pergi saja. Jangan ganggu kami yang sedang sibuk ini."

Antara takut dan kesal karena Raja membentaknya, Kiko pun menuruti nalurinya untuk bertahan, yaitu kembali bersembunyi ke tempat yang aman. Dia kembali ke hutan, menunggu hingga perang berakhir, sambil berharap bangsa kancil bisa memenangkannya.

Malam berganti siang. Suara hantaman peperangan pun terhenti. Kiko tidak sedikit pun berhenti berharap. Semoga bangsanya bisa memenangkan pertempuran.

Dia kembali menyusuri jalan yang lalui tadi. Dia tidak lagi mendengar suara auman atau celotehan tajam manusia. Lingkungan sekitarnya hening. Dia hanya bisa mendengar gemerisik dedaunan yang disentuh oleh angin. Sebuah suara pun tak terdengar ketika dia memasuki wilayah kerajaan kancil.

Keempat kakinya terhenti saat melihat mayat teman, kerabat, kenalan, dan kancil-kancil lainnya bertebaran mulai dari jalan masuk sampai ke dalam istana. Air matanya menetes perlahan.

Jika saja bangsanya tidak terlalu sombong dan gegabah. Mereka bisa saja meminta bantuan kepada penghuni hutan lainnya untuk membantu mempertahankan diri. Atau seperti yang disarankannya tadi, mereka bisa melarikan diri untuk merencanakan strategi selanjutnya.

Tapi nasi telah menjadi bubur. Takdir telah digariskan. Tidak bisa diulang ataupun dihapus. Kiko hanya bisa terus tertunduk sedih sambil meratapi kehilangan terbesarnya.

Sekarang hanya tinggal dia yang tersisa dari kerajaan kancil di hutan itu. Dia harus bertahan hidup, karena dia punya tugas penting. Dia harus melanjutkan keturunan kerajaan kancil. Dia harus mencari bangsa kancil lainnya, dan memperingatkan mereka tentang betapa berbahayanya manusia.

-end-

#7HariMendongeng hari ke-4 tema: Kancil
duet dengan @alizarinnn

Saturday, May 12, 2012

Memori yang Berharga

Kaito yang terluka parah dan sekarat setelah melalui pertempuran yang tak seimbang dengan lawan-lawannya, terselamatkan nyawanya berkat pertolongan Flora yang kebetulan menemukannya. Dengan kemampuan yang dimilikinya, gadis itu menyembuhkan luka-lukanya, dan kemudian mengajak Kaito untuk ikut bersamanya ke kerajaannya.

Setelah Kaito menyatakan setuju untuk ikut, mereka pun memulai perjalanan untuk kembali ke kerajaan dimana Flora berasal, dengan menyusuri bagian lain hutan itu.

"Apa yang sedang kau lakukan di sini, Flora?" tanya Kaito,"sewaktu kau menemukanku di tengah hutan ini."

Flora menjawab, "Aku sedang mencari sesuatu."

"Apa kau berhasil menemukannya?"

Flora menggeleng. Dia sudah menjelajahi seisi hutan ini, selama bertahun-tahun, dan tetap tidak menemukan benda yang dicarinya. Sesuatu yang berharga. Harta karunnya. Sesuatu yang lepas darinya sejak lama, dan tak pernah berhasil ditemukannya hingga saat ini.

"Bagaimana kalau kita mencarinya sekali lagi, sebelum kembali ke kerajaanmu?" usul Kaito.

Flora menoleh padanya dan tersenyum tipis.
"Percuma, aku sudah berjam-jam di hutan ini mencarinya, sebelum aku menemukanmu. Mungkin bukan hari ini. Lain waktu aku akan mencoba mencarinya lagi."

"Tapi kau mencarinya seorang diri. Kali ini, aku akan membantu mencarinya. Mungkin aku bisa melihat hal-hal yang terlewat olehmu."

Flora menghentikan langkahnya.
"Kau benar. Tidak ada salahnya kita mencoba lagi."

"Seperti apa benda yang sedang kau cari ini?"

"Bola kristal kecil, transparan."
Dengan ragu, Flora menambahkan, "Bola itu berisi memori yang sangat berharga untukku. Memori dari orang yang sangat berarti dalam hidupku."

"Kau yakin benda itu ada di hutan ini?"

Flora mengangguk.
"Beberapa tahun yang lalu, aku dan beberapa temanku mengunjungi hutan ini untuk bermain. Ketika aku hendak menunjukkan bola kristal itu pada mereka, tiba-tiba saja bola itu terlepas dari genggamanku, dan lenyap begitu saja. Kami sudah berusaha mencarinya, tapi tak mendapatkan hasil."

"Baiklah, mari kita mencarinya sekali lagi," tegas Kaito.

Mereka pun memeriksa seisi hutan, di antara semak-semak dan pepohonan yang memenuhinya. Dan seperti yang sudah-sudah, mereka tidak berhasil menemukannya. Matahari pun mulai terbenam, dan malam tiba.

Flora mengeluarkan dua botol air dari dalam tasnya, dan memberikan salah satunya pada Kaito. Mereka sedang beristirahat setelah sekitar dua jam mencari bola kristal milik Flora.

"Jadi, siapa orang yang sangat berarti ini?"

"Ibuku." jawab Flora.
"Dia meninggal sewaktu aku masih kecil, dalam usahanya untuk melindungi kerajaan kami dari serangan musuh. Dia berhasil mengusir mereka, tapi dia menggunakan kekuatannya hingga melebihi batas."

Kaito mendengarkan dengan seksama.
"Aku tidak tahu bagaimana bola ini berfungsi, tapi apakah tidak ada cara khusus untuk menemukannya? Seperti mantra misalnya?"

"Ada semacam mantra, tapi aku sudah mengucapkannya ratusan kali, dan tak ada hasilnya."

"Seperti apa bunyinya?"

"O magic orb, I call upon thee." Flora menyebutkan mantranya.

"O magic orb, I call upon thee." Kaito mengulangi.

Kemudian, secara tak terduga, sepercik sinar muncul dari kejauhan, dan melayang mendekati mereka.

Flora tertegun. Takjub, tapi masih berusaha memahami apa yang sebenarnya terjadi. Bola kristal yang dicarinya selama bertahun-tahun, datang sendiri menghampirinya, melayang-layang di hadapannya, bersinar terang. Dia meraih bola itu, dan menggenggamnya erat-erat, tak ingin kehilangan benda berharga itu untuk kedua kalinya.

Bola itu berpendar, dan sinarnya membentuk sesosok bayangan manusia. Seorang wanita yang tak kalah cantiknya dengan Flora, darinyalah kecantikan Flora berasal. Sosok ibunya muncul kembali. Meskipun tidak nyata, hanya berupa proyeksi dari bola kristal itu, tapi dia muncul kembali, di hadapan mereka berdua.

Kemudian proyeksi berganti menjadi wanita itu yang menggendong seorang bayi, Flora. Ibunya berusaha menenangkannya dengan menyenandungkan suatu lagu. Kaito takjub menyaksikan dan mendengarkan potongan memori yang terasa sangat nyata. Sementara itu, Flora mulai menitikkan air matanya. Kerinduan akan ibunya, terobati sudah.

*

Mereka melanjutkan kembali perjalanan, dimana hari sudah mulai gelap. Flora sudah menyimpan baik-baik bola kristal itu.

"Terimakasih, Kaito. Aku tidak tahu bagaimana hal itu terjadi, tapi keberadaanmu telah sangat membantu mengembalikan bola itu padaku."

"Kau sudah menyelamatkan nyawaku. Rasanya yang kulakukan belumlah seberapa dibandingkan apa yang sudah kau lakukan padaku."

Flora tersenyum mendengar ucapan Kaito. Mungkin bukan kebetulan aku bertemu dengannya di tempat ini.

"Kita sudah sampai."

Mereka sudah keluar dari belantara hutan, dan tiba di sebuah lahan yang sepi. Kembali Kaito dibuat takjub dengan penampakan yang ada di depannya.

Seekor kuda pegasus.

"Kerajaanku masih jauh dari tempat ini. Kita akan terbang ke sana."

-end-

#7HariMendongeng hari ke-2 tema: Harta Karun

Friday, May 11, 2012

Sang Penolong

Pada suatu masa, terdapatlah seorang pendekar yang tangguh bernama Kaito. Tapi dia bukan seorang prajurit ataupun ksatria, melainkan pembantai yang selalu menghabisi lawan-lawannya. Pada awalnya, orang-orang dunia hitam senang menggunakan jasanya, untuk membantu mereka menyingkirkan lawan-lawannya yang sama-sama berkecimpung di dunia hitam. Lama-kelamaan mereka mulai kuatir dengan reputasinya yang semakin terkenal dan berbahaya, yang berpotensi menghancurkan mereka dari dalam.

Mereka, para kliennya, mengirim sepuluh orang pembantai tangguh lainnya untuk melenyapkan Kaito. Di suatu hutan yang sepi, mereka mengepungnya.

"Apa-apaan ini?" tanya Kaito.

Salah satu pembantai menjawab, "Waktumu sudah habis, Kaito. Mereka tidak menginginkan jasamu lagi."

"Begitu ya? Lalu mereka mengirim kalian semua sekaligus untuk menghabisiku. Ya, aku sudah memperkirakan hal ini bakal terjadi."

Kesebelas orang itu bersiap-siap memasang kuda-kuda untuk bertempur. Masing-masing siaga memegang pedangnya. Begitu salah satu meneriakkan aba-aba, mereka semua pun bergerak dan pertarungan dimulai.

Kaito pendekar yang tangguh. Dengan cepat dia berhasil melukai beberapa lawannya. Tapi lawan-lawannya juga tangguh. Mereka berhasil mendesaknya, dan sedikit demi sedikit berhasil melukainya. Kondisi Kaito yang menurun semakin menguntungkan mereka. Pertempuran pun berakhir ketika salah satu dari mereka berhasil menikam Kaito di dadanya, disusul dengan tikaman dari lawan-lawannya yang lain.

Mereka memandangi Kaito yang terbaring sekarat, kemudian pergi meninggalkannya sendirian di hutan itu. Tugas berhasil diselesaikan.

Kaito yang tinggal meregang nyawa, memandangi pepohonan rindang di atasnya. Dengan napas yang tersengal-sengal, dia merenungi nasibnya.

Dia paham akhir macam apa yang akan didapatnya sejak memilih dunia hitam sebagai jalan hidupnya. Dia akan mati oleh pedang lain. Hal itu adalah sesuatu yang tak terbantahkan. Sudah tak terhitung berapa banyak orang yang sudah dibunuhnya. Mungkin mereka sudah tak sabar menantinya di alam sana untuk membuat pembalasan atas perbuatannya.

Kaito memejamkan matanya, menanti saat kematiannya tiba.

*

Dia tak ingat sudah berapa lama waktu berlalu, ketika didengarnya sebuah suara yang lembut.

"Jangan kuatir. Aku akan menyembuhkanmu."

Siapa itu? Seorang wanita, dia menyimpulkan dari suara yang didengarnya.

Kaito merasakan tangan wanita itu menyentuh dahinya. Darinya timbul hawa yang hangat, yang perlahan mengalir masuk ke dalam tubuhnya.

"Jangan!"

Kaito menggenggam tangan wanita itu, mencegahnya meneruskan apa yang sedang dia lakukan.

"Tidak perlu berisik. Biar aku menyembuhkanmu," kembali suaranya yang halus berucap.

"Kau tidak mengerti. Kau tidak tahu siapa aku. Aku bukan orang baik-baik."

"Aku tidak peduli kau ini siapa."

"Aku seorang pembantai! Aku sudah membunuh banyak orang. Biarkan aku mati!"

Wanita itu diam sejenak. Disingkirkannya tangan Kaito yang mencekalnya, dan dia kembali menempelkan telapak tangannya ke dahi Kaito.

"Aku, tidak bisa membiarkan seseorang mati di depan mataku. Tidak selagi aku memiliki kemampuan untuk menolongnya. Lagipula..." Dia tersenyum, "kau bukan orang jahat. Aku bisa merasakannya."

Kaito tak berkata apa-apa. Dia bisa merasakan tambahan energi yang perlahan diserap oleh tubuhnya. Dalam beberapa menit, dia kembali pulih, dan semua lukanya lenyap.

Sekarang dia bisa melihat wajah penolongnya, seorang gadis muda yang cantik. Wanita tercantik yang pernah dilihatnya selama ini.

"Terimakasih."

Gadis itu tersenyum. "Apa rencanamu selanjutnya?" tanyanya.

"Aku tidak tahu. Yang jelas, aku harus bersembunyi. Kalau mereka tahu aku masih hidup, mereka pasti akan kembali lagi untuk membunuhku."

"Kalau begitu, ikutlah denganku. Kau bisa tinggal di kerajaan kami."

Kaito menatap tak percaya. "Kau serius?"

"Tentu saja. Kau bisa membangun kembali hidupmu dari awal, untuk menebus kesalahanmu di masa lalu."

Apakah ini betul-betul nyata? Tak hanya menyelamatkannya, gadis ini juga memberinya kesempatan untuk lepas dari dunia hitam yang selama ini lekat dengannya.

Dengan kondisi yang sudah fit, Kaito bangkit dan berdiri.
"Namaku Kaito. Siapa namamu?"

"Flora."

Flora. Nama orang yang sudah menyelamatkan hidupku. Pahlawanku. Aku berhutang nyawa padanya. Selamanya, aku akan mengabdikan hidupku untuknya dan melindunginya.

"Flora, dengan senang hati aku akan ikut denganmu."


- bersambung -


#7HariMendongeng hari ke-1 tema: Pahlawan