Featured Post

[Review] Game of Thrones (season 6)

Setelah setahun, GoT kembali di season 6. Sebenarnya gw juga ga begitu nunggu2 sih, karena lagi asik ngikutin serial yg lain (The Flash...

Showing posts with label opini. Show all posts
Showing posts with label opini. Show all posts

Thursday, May 21, 2015

pandji dan jkt48

Kemarin, pandji ngetwit sesuatu tentang fans JKT48, yg nyindir.

"Kadang gue berpikir, yg suka nonton JKT48 nanti pas tua suka ikutan Aerobik. Untuk alasan yg sama."

Ini bukan yg pertama emang, sebelumnya juga dia pernah nyebut kalo yg suka nonton theater ato show itu mesum. Ya jelas ada lah yg ga suka dengan pernyataan dia. Sampe mendiskreditkan pandji yg standupnya katanya ga lucu. Dan kemarin kejadian lagi, Desy yg nanggepin twitnya Pandji. Karena berpotensi tubir, gw twit ke desy biar jangan dilanjutin. Untung ga lanjut sih.

Tuesday, December 09, 2014

[Opini] Pencabutan Kurikulum 2013

Beberapa hari yg lalu, ada kabar baik dari Menteri Pendidikan kita yg baru, Anies Baswedan. Bahwa kurikulum 2013 akan dicabut, kecuali untuk sekolah2 yg sudah melaksanakan selama satu tahun lebih, yg akan jadi contoh. Sementara sisanya akan kembali menggunakan kurikulum 2006.

Gw ga tau detilnya kurikulum 2013 ini seperti apa, ato yg 2006 juga seperti apa, tapi disebutkan kalo kurikulum baru ini membuat kerjaan guru makin banyak, dan imbasnya jam belajar murid di sekolah bertambah. Dan, masalah utamanya adalah, kurikulum 2013 ini langsung diterapkan tanpa pertimbangan dulu, makanya terkesan buru2, sementara guru2 dan sekolah belum siap.

berita di sini: http://news.metrotvnews.com/read/2014/12/05/328266/mendikbud-anies-baswedan-putuskan-hentikan-kurikulum-2013

Gw belom tau apakah penghentian kurikulum baru ini pengaruh juga ke masalah UN juga ato engga, mengingat dari taun lalu, banyak diberitakan kalo murid2 stress karena tekanan mesti lulus UN dengan standar nilai yg cukup tinggi. Mudah2an ini juga ditindaklanjuti ya.

Nah, di saat mayoritas kita mengamini keputusan ini, masih ada yg ga setuju. M Nuh, menteri pendidikan sebelumnya, tentunya, pengennya kurikulum buatan dia tetap dilanjutkan. Ga usah dihiraukan, karena pak mantan mentri ini kerjanya ga bagus, anak2 tambah stres gara2 kebijakan dia.

Lalu ada juga opini2 yg ga setuju, beranggapan kalo anak2 di sini manja, masa dengan jam belajar segitu ngeluh. Ditambahkan dengan opini lain, negara lain teknologinya udah maju, masa kita masih ngeluh sama jam belajar? Nah, yg inilah yg mau gw bahas.

Sebetulnya jumlah jam belajar di sekolah ga bisa dijadikan acuan kalo tingkat pendidikannya maju ato engga. Waktu itu gw juga sempet browsing2, jam belajar di negara2 lain tuh berapa lama sih? Kalo SMA di Indonesia kan dari jam 7 sampe jam 4 sore. Negara2 lain mungkin cuma sampe siang. Ada sih yg lebih, tapi itu Cina, yg emang strict banget. Jumlah jam belajar yg sedikit bisa efektif, kalo memang digunakan untuk pelajaran2 yg sesuai. Sementara di kita, dijejali sama semua pelajaran. Materi terlalu banyak, dan dituntut dapet nilai bagus. Berat lah.

Trus masalah ketinggalan teknologi. Iya memang negara kita emang ketinggalan, tapi apa lantas tanggung jawab mengejar ketinggalan itu ditimpakan ke anak2 sekolah secara pukul rata gitu? Ya ga bagus lah, kasian. Di antara murid2 di sekolah, ga semuanya akan berminat dengan pengembangan teknologi, hanya sebagian saja. Masa yg lainnya mesti dibebankan juga padahal mereka ga mau? Kecuali kalo negara ini seperti salah satu distrik di dunia The Hunger Games, dimana tugas utamanya menangani satu bidang tertentu (teknologi). Kalo begitu nanti semua orang aja ngurusin teknologi, ga ada yg ngurusin bidang lain jadinya, kayak dokter, polisi, guru, dsb.

Sistem pendidikan yg saya harapkan
Tujuannya diluruskan dulu, untuk memberikan pengetahuan dasar dan lanjut (tapi tidak mendalam) tentang ilmu-ilmu dasar. Dan tidak ada sistem kelulusan dengan batas nilai tertentu. Kalo sudah sekolah 3 tahun, ya luluskan lah, jangan dihalangi. Masalah dia nanti diterima kuliah ato engga, dia sendiri yg harus berusaha memenuhi standar jurusan yg dia minati. Di sekolah juga, murid diarahkan untuk menentukan minat dan bakatnya, biar tau nanti mau lanjut kuliah di jurusan apa, atau mungkin lanjut ke bidang lain di luar jalur pendidikan formal. Berikan mereka kebebasan untuk menentukan masa depannya, jangan dipersempit dengan pilihan2 tertentu. Ga semua orang harus jadi dokter atau insinyur. Dunia socmed sudah menunjukkan pada kita bahwa banyak yg berhasil di bidang2 lain, yg bikin komik, bikin film, penyanyi, advertising, dan bidang2 industri kreatif lain. Biarkan masalah ketinggalan teknologi kita serahkan pada anak-anak yang memang berminat dengan bidang itu, sehingga mereka pun bisa mengerahkan kemampuannya dengan maksimal. Mengenai pengetahuan yang lebih mendalam, itu sebaiknya diletakkan di level perguruan tinggi, dimana pesertanya memang mereka yg sudah menentukan pilihan. Jadi, kalo mau dikasih jam belajar ato materi yg berat pun ga papa, karena memang itu pilihan mereka. Sekolah hanya memberikan materi dasar dan lanjut, tapi bisa juga ngasih fasilitas atau wadah yg lebih untuk murid2 yg berminat, misalnya bikin unit/klub sains. Jadi, begitu masuk kuliah, bekalnya udah lumayan. Tapi sekali lagi, sifatnya ga wajib, melainkan sebagai ekstrakurikuler.

Tentunya mesti diikuti juga dengan perbaikan kualitas sarana pendidikan, ya fasilitas, dan tenaga pengajar. Kesejahteraan guru supaya ditingkatkan, biar mereka kerjanya juga lebih nyaman, dan bisa lebih fokus ngajar.

Tentang pelajaran agama, yg kadang menjadi permasalahan. Jangan dijadikan pelajaran wajib yg dijadikan standar kelulusan, soalnya untuk yg agama bukan mayoritas, repot ngurus nilainya. Sekolah memfasilitasi pelajaran agama, tapi jangan dipaksakan.

Intinya, sekolah jangan bikin murid tertekan, tapi buat mereka supaya ingin belajar, bukan untuk mengejar nilai, tapi karena ingin tahu dan ingin bisa.

-OoO-

kepikiran sama adek2 idol, yg sekolahnya sering bolos. Mau nasehatin supaya sekolahnya yg rajin, tapi kalo emang impian mereka di bidang lain, ya biarkan mereka mengejar impiannya di bidang lain itu.

Tuesday, June 05, 2012

The Coffee Shop Chronicles: A Milestone




Awal Oktober tahun lalu, semangat menulis saya tumbuh, setelah ada event #15harimenulisdiblog. Yang ditulis pun bebas, yang penting blognya diupdate dengan tema tertentu. Dari situlah saya mulai nulis beberapa cerita fiksi. Masih belum terstruktur, masih pendek2 banget. Tapi paling ga, bisa mulai nulis sesuatu yg laen daripada jurnal atau opini2 tentang suatu hal.

Tak berapa lama setelah event ini selesai, saya kembali mendapat informasi tentang event lain, yaitu #11projects11days yang diselenggarakan self-publisher nulisbuku. Dibuat dalam rangka ulangtahun nulisbuku, nantinya tulisan2 yg masuk akan dipilih untuk dipublish ke buku, sebagai kumpulan cerita. Mumpung eforia dari event yg kemaren masih ada, dan mesin di otak masih anget-angetnya, saya coba juga ikut event ini. Excited, meskipun baru ikut di hari ke-6, dan cuma nulis 3 kali.

Dari 3 tulisan yang dikirim, 2 ternyata masuk dan dibukukan, di Lagu Pilihan 1 dan Don't Stop Me Now. Ini jadi momentum pertama saya, dimana untuk pertama kalinya, tulisan saya masuk dalam sebuah buku. Ga peduli biarpun itu hanya sebagai salah satu dari banyak nama, dan diterbitkannya lewat self-publisher. Tetap sebuah momen penting. Yang membuat saya semakin bersemangat nulis. Apalagi karena ada teman yang juga sama-sama suka menulis.

Untuk menjaga konsistensi menulis, saya dan temen saya sempat membuat semacam target mingguan minimal satu tulisan dengan tema tertentu mulai awal tahun 2012. Yang kemudian tidak perlu lagi karena kami menemukan event yang lebih mampu mengasah konsistensi menulis, yaitu #15haringeblogFF. Another milestone. Event ini bukan cuma menambah dan melatih skill menulis, tapi yang juga tak kalah penting, saya jadi mengenal lebih banyak lagi orang-orang yang juga suka menulis.

"Kalau ingin semangat menulis, bergaullah dengan orang-orang yang juga senang menulis." kata-kata mutiara dari adit_adit. Betul sekali, karena terasa sekali bedanya sebelum dan sesudah 15hari ini. Dengan mengenal lebih banyak penulis, kita bisa melihat-lihat seperti apa tulisan mereka, bisa mempelajari beberapa aspek darinya, dan mengikuti perkembangan terbaru tentang event-event menulis yang sedang berlangsung. Dan event 15hari ini benar-benar berjasa besar karena sudah menciptakan semacam komunitas menulis yang sampai sekarang masih cukup terjaga. Sekali lagi, terimakasih masmin momo_DM dan yumin WangiMS.

Beberapa hari setelah event 15hari itu selesai, sempat ada FFberantai, yang bertema Tuan Arsitek dan Nona Penulisnya adit_adit. Tadinya saya cuma mengikuti, membaca2 ceritanya, sebelum kemudian FFberantai itu dibuka untuk umum, untuk bebas menambahkan cerita, tak perlu tentang dua tokoh itu, tapi cukup berlatar tempat yang sama, sebuah coffee shop, dan menyebutkan karakter2 lain di sana. Jadi, mirip film2 yg isinya kumpulan cerita dan karakter, seperti Valentine's Day.

Why not? Toh lagi ga ada bahan buat nulis. Saya pun ikut nambahin tulisan di sana, dan seneng juga karena direspon positif oleh penulis2 sebelumnya. Iya, dasarnya cuma iseng dan asik2 aja meramaikan suasana. Ga terlalu kaget juga kalo kemudian direncanakan untuk dipublish lewat nulisbuku. Apapun kegiatan menulis waktu itu, selalu ada kemungkinan untuk diterbitkan menjadi buku. Begitu pikir saya.

Yeah, semakin nambah lagi daftar buku yang ada nama saya di dalamnya. Selain 2 buku 11projects tadi, ada juga Dear Mama 6, kumcer tentang Ayah (yg diterbitkan terbatas), 15haringeblogFF 1, dan ini, The Coffee Shop Chronicles. More books, more accomplishments.

Tapi tentu saya terkejut sewaktu di bulan April, Adit mengabarkan kalau buku TCSC ini bakal diterbitin lagi, untuk dipublish secara luas, di toko-toko buku. Wow! Now this is what I call great news.

Setelah diskusi lewat email, tentang hal-hal yang mesti diedit, penentuan judul (yg akhirnya tetap, ga diganti), dan ngirim semacam biodata untuk dicantumin di bukunya, buku TCSC yg baru ini pun terbit juga di bulan Mei. Dengan cover yang keren banget.

Sudah sampai disitu? Belum. Karena kabar mengejutkan lainnya adalah, akan ada launching buku ini, di Gramedia Depok. Dan para penulisnya diundang hadir. Wow! Excited, and nervous. Dan kemarin minggu, momen itu pun terwujud. 9 penulis duduk di depan, sementara Mas Byotenega menjadi moderator dan memberikan pertanyaan pada para penulis. Buat Adit dan mbak Yuska yg udah nulis beberapa buku, mungkin sudah ga asing dengan acara seperti ini. Tapi buat saya yg baru pertama kali masuk buku yg terbit secara luas, momen seperti ini bikin nervous. Pasti ketauan waktu giliran saya ngomong kalo saya grogi, hehe.

Sewaktu mulai menulis, momen seperti ini jelas belum masuk bayangan. Ga secepat ini. Karena rencana saya adalah ikut macam-macam event nulis, masuk dalam beberapa antologi, kemudian kalo sudah siap, menulis novel sendiri (atau duet) dan diterbitkan lewat nulisbuku dulu, sambil diajukan juga ke penerbit2 major.

Boleh dibilang, salah satu faktor yang menyebabkan buku ini bisa diterbitkan secara luas, adalah: Luck. Terutama bagi saya yg cuma kebetulan numpang satu cerita di buku ini. Cuma luck? Tentu saja tidak. Juga kerja keras dari editor dan koordinator TCSC ini, mbak Adit dan mbak Wangi. Dan juga usaha dari masing-masing penulisnya yang sudah mengambil kesempatan untuk ikut menulis dari event mendadak FFBerantai bulan Februari lalu.

Intinya, kita ga pernah tau kapan tulisan kita akan masuk ke sebuah buku yang kemudian akan nongol di toko buku. Makanya, teruslah berpartisipasi. Terus mencoba. Sambil tentunya terus belajar biar tulisannya makin bagus.

Temen saya yg tadi pernah bilang, seorang penulis baru dibilang berhasil kalau bukunya bisa diterbitin oleh penerbit major. Lalu dengan The Coffee Shop Chronicles diterbitkan, apakah artinya target untuk saya sudah tercapai? No. Not yet, but it's a good start. A milestone.

Karena hanya menjadi salah satu penulis dari kumpulan cerita belum bisa dibilang cukup, sampai nantinya kita membuat sendiri novel (buku) kita. Dan untuk sampai ke sana, saya masih harus banyak belajar. Level saya masih belum seberapa dibanding penulis2 di Cerita Sahabat atau Perkara Mengirim Senja, misalnya. Masih ada beberapa kekurangan yang harus diperbaiki. Misalnya, saya belum terbiasa nulis panjang2, lalu kurang bisa menentukan nama karakter yang oke, kurang bisa menggambarkan detail/suasana pada cerita, kurangnya riset dan keterbatasan pemilihan kata. Semua itu adalah hal-hal yang mesti diperbaiki dengan terus berlatih dan belajar.
~end~


para penulis TCSC yang kemarin hadir pas launching. 
atas: @momo_DM, @iipche, @_raraa, @danissyamra, @minky_monster
bawah: @Indaah_Lestari, @ririntagalu, @adit_adit, @desvianwulan, @yuska77


hanya tiga penulis di TCSC yg cowok. Semuanya kemarin hadir.


Friday, May 11, 2012

Kenapa Kita Perlu Menonton Film Sampe Selesai

Sampe selesai itu maksudnya, sampe credit dan musik yang mengiringinya bener-bener abis. Yang ada di bioskop2 lokal yang gw temuin, begitu film masuk credit, lampu studio dinyalain, dan penonton pada buru2 keluar. Jarang banget gw liat ada orang yang nontonin creditnya sampe abis. Makanya seringnya gw keluar terakhir sendirian. Pengen juga sih kalo nontonnya ama temen2 yg juga pecinta film, yang tinggal sampe akhir film.

Kemaren setelah nonton The Avengers, gw baca di wikipedia, kalo ternyata di akhir filmnya ada after credit scene. Oh, yg Thanos itu pikir gw, checked. Tapi di wiki ternyata ditulis ada 2 scene. Yang pertama yg Thanos itu, yg satunya lagi di paling akhir. Yg bikin kesel adalah, udah gw tungguin creditnya, tapi blom sampe selesai, layarnya udah item aja, suara jalan terus. Yah, ini namanya ngusir penonton biar keluar, kalo gambarnya dipotong gitu.

Btw, temen gw yg kebetulan nonton The Avengers di Singapur bilang, dia nonton scene yg terakhir itu. Kenapa? Karena bioskop di sana beda dengan kita. Begitu credit dimulai, lampu studio ga langsung dinyalain, masih tetep mati, makanya penonton ga langsung pergi. Mereka baru nyalain lampu setelah film bener2 selesai. Wow, keren banget yak.

Jadi, kenapa kita sebaiknya nonton sampe abis?
1. Karena ada after scene, yg letaknya mungkin di tengah-tengah credit, ato di akhir credit, seperti di film Avengers, ato film2 Marvel lainnya. Sayang kan kalo keburu pergi, padahal masih ada scene.

2. Karena kita berhak. Dengan membayar tiket masuk bioskop, kita berhak untuk menikmati dan menonton keseluruhan durasi filmnya, dan itu termasuk bagian creditnya.

3. Biar tau nama-nama aktornya. Sering ga sih nonton film, trus wah, ini karakter yg ini kok keren banget. Yg maen siapa yak? Makanya, liatlah credit bagian cast-nya biar tau yg meranin siapa.

4. Biar bisa denger soundtracknya (yg keren2). Original score dari Danny Elfman, Alexandre Desplat (di film2 Harry Potter), lagunya Linkin Park (di Transformers), Taylor Swift yg 'Safe and Sound'(The Hunger Games),  semuanya itu disetel pas credit. Apalagi dengan audio bioskopnya yg menggelegar, suaranya bakal terdengar lebih oke.

Sekarang coba bayangin kita di posisi komposer atau band yg bikin soundtrack untuk suatu film. Tentunya kita pengen lagu kita didenger ama orang2 yg nonton kan? dan bukannya buat ditinggal pergi aja pas credit.

Karena itu, mantengin filmnya sampe abis, adalah termasuk menghargai karya orang lain. Sikap yg perlu kita biasakan, kalo kita juga ingin karya kita dihargai orang.

Monday, March 12, 2012

Relativitas Mimpi

"Semalam saya bermimpi." Dalam mimpi dimana gw ketemu dengan orang yg gw kenal, ada semacam memori, kalo gw udah pernah ketemu dia sebelumnya, dulu, bertahun2 yg lalu. Yang jadi masalah apakah hal itu bener2 pengalaman gw, ataukah hanyalah mimpi yang terjadi di masa lalu, ato bagian dari mimpi yg sekarang tapi seolah-olah seperti dejavu?

Memori yg serasa dejavu itu adalah, waktu gw kecil, ya kira2 umur 10an lah, ketika mau pergi ke rumah kerabat, gw nyasar karena perginya sendiri, dan di tengah jalan, akhirnya numpang naik mobil seorang wanita, hingga kemudian nyampe ke rumah kerabat gw. Setelah dipikir2 lagi, hal itu bukan kejadian nyata, tapi bagian dari mimpi. Dan bukan mimpi yang terjadi dulu, tapi gw yakin betul itu mimpi yg semalem juga. Jadi, dejavu-nya, boongan dong? Iya mesti boongan, soalnya masa wanita yang ditemui waktu gw anak2 itu sama dengan orang yang sekarang gw temuin, ga bertambah tua gt?

Betullah, bahwa pengalaman seperti itu termasuk fenomena dejavu. Oke, setelah baca di wikipedia, yang dimaksud adalah seperti ini. Dejavu berasal dari overlapping (campuraduk) antara short-term memory dan long-term memory, yg menyebabkan anomali pada memori. Hasilnya, kita menyangka bahwa sesuatu hal sudah terjadi dan kita alami sebelumnya di masa lalu, tapi begitu disuruh menjelaskan detailnya, kita ga bisa.

Memang biasanya contoh2 fenomena dejavu saat kita membandingkan hal yang kita alami sekarang, dengan hal yg 'kita kira' sudah alami dulu, yg padahal mungkin cuma mimpi, ato false memory. Nah, kalau di mimpi, dimana segala sesuatunya bersifat relatif dan ga menentu, fenomena seperti ini mungkin bisa lebih sering terjadi. Beberapa kali memang seperti itu, dalam mimpi gw, seakan2 mimpi ini merupakan lanjutan dari mimpi lainnya, padahal mimpi lainnya itu ga ada, dan baru terjadi pada saat yg bersamaan dengan mimpi yg ini.

Ribet ya, mimpi aja pake dibahas, hehe :D ga usah terlalu serius juga kali mimpi dipelajari. Kecuali situ nabi, ato mimpinya menjadi kenyataan, semua itu hanyalah mimpi.

Sunday, March 04, 2012

tentang 'fuckyou'

Alkisah, semalem, dalam momen pertandingan Liverpool vs Arsenal, Mr A yg salah satu selebtweet dengan jumlah follower diatas 10rb, ngetwit kira2 begini:

"Liverpool sama Arsenal seri aja deh, yg penting MU menang."

Twit yg normal2 saja, ga ada masalah. Kemudian orang2 pun, seperti biasa, ngereply/mention. Salah satunya, sebut saja O, ngeRT komen: setuju. Kemudian, temennya O, mbak R, ngeRT komen O dengan fuckyou. Di sinilah permasalahan dimulai.

"@R: fuckyou RT @O: setuju RT @MrA Liverpool sama Arsenal seri aja deh, yg penting MU menang."

Mr A merasa ucapan fuckyou itu ga pantes diucapin oleh mbak R, yg notabene berkerudung (bukan jilbab yah, saya pernah dikasihtau kalo jilbab itu beda dengan kerudung. jilbab itu bener2 nutup, yg lebar2 gitu deh. Kalo kebanyakan cewe sekarang sih menurut penjelasan yg saya denger, baru berkerudung, belom berjilbab) Apalagi mungkin Mr A merasa tersinggung karena mbak R ngucapinnya dengan mention dia juga, jadi kesannya ngumpat ke dia.

Mr A pun ngebahas masalah ini, ngetwit terbuka tentang gimana orang yg berkerudung ternyata ada juga yg ngomong kasar kayak gitu. Pake acara nunjukin segala pula dengan ngeRT komen mbak R tadi. Alhasil, para followernya, manusia2 biasa yg banyak yg gatel pengen ngomen ato nimbrung tiap2 ada isu sensitif, keluar semua deh. Kebanyakan (ga semua) sih jadinya pada ngehujat mbak R. Dalam istilah dunia pertwitteran, mbak R dibully sama follower2nya Mr A.

Setelahnya, Mr A yg ada acara, buat nonton konser, off dari twitter. Tapi arus ngebully yg dilancarkan orang2 ke mbak R masih lanjut aja. Mbak R pun akhirnya ngeladenin satu2 komen yg masuk ke tab mentionnya, kebanyakan yg ngebully, tapi ada juga beberapa yg bela dia. Akhirnya mungkin semalem entah jam berapa reda juga, dan tadi pagi masih ada bekas-bekas pertempuran sedikit.

Pembahasan:
Siapa yg salah sih sebenarnya?

Mari kita liat ke akar permasalahan, yaitu ketika mbak R ngeRT twit RTan O dengan fuckyou. Mbak R setelahnya menjelaskan kalo O itu adalah abangnya (ato temen, sama aja lah intinya), dan dia ga bermaksud kasar ato gimana, melainkan hanya bercanda. Wajarkah? Menurut saya sih wajar2 aja.

In my opinion, ngomong fuck itu udah ga sevulgar dulu waktu orang2 masih awam dengan istilah itu. Kalo sering nonton film dengan rating R (bahasa cursing sering dipake) ato dengerin lagu2 rap ato hiphop yg banyak mengandung kata 'fuck', niscaya fuck itu ga akan terdengar kasar. Biasa aja. Sama aja dengan penggunaan kata 'anjing' yg dulu dipercaya sebagai umpatan, tapi sekarang maknanya lebih ke arah partikel tambahan ato pelengkap kata ato adjektif, ato begitulah kira-kira.

Masalahnya mbak R kurang berhati-hati. Bagi dia dan O mungkin ngucapin fuck ga masalah, tapi dia ga memperhitungkan pendapat Mr A, yg kebetulan kebawa dimention juga. Mr A yg memiliki pandangan berbeda, menganggap cewek berkerudung seperti mbak R ga pantes ngomong kayak gitu. Iya, dalam hal ini mbak R teledor. Ga bisa kita menyamaratakan opini semua orang, bahwa gapapa ngomong fuck ke siapa aja. Mungkin mestinya kalo dia mau komen dengan fuckyou itu, dia ga usah ikut mention Mr A, ato minimal tanda "@"nya dihilangkan. Ketiadaan satu karakter itu niscaya akan memberi perbedaan yg besar.

Okeh, itu kesalahan dari mbak R. Bagaimana dengan Mr. A. Tersinggung boleh, tapi pantaskah nyebarin dan ngepublish akun mbak R itu, yg berpotensi terjadinya bully masal oleh puluhan ribu followernya? Menurut saya enggak. Kalo kita tersinggung ato bermasalah dengan ucapan seseorang, kenapa ga konfirmasi ato minta penjelasan dulu ke ybs? Sukur2 kan cuma salah paham, ga perlu timbul keributan ala twitwar dan bully seperti ini. Dan kalopun emang itu maksudnya menghina, yaudah ga usah ditanggepin dan stop disitu. Itu kan masalahnya personal, ga usah disebar2in dan defame nama ybs ke orang2 lain.

Jadi, tidak sempat untuk konfirmasi, atau tidak peduli? Kalo ga sempat ya mestinya ga usah ngepublish nama mbak R ato ngebahas masalah itu kan, urusin aja konsernya :p Ya, menurut saya Mr A ini semalam ga peduli. Kemudian sewaktu mbak R dibully, apakah dia ga tau ato ga peduli? Menurut saya, dia ga peduli. Lempar api aja, trus dengan nyamannya meninggalkan arena pertempuran.

Itulah kenapa, saya ga terlalu suka dengan selebtweet dgn puluhan ribu follower. Beberapa diantara mereka menurut saya arogan. Makanya saya jarang follow mereka, meskipun masukin ke dalam list. Dan jarang pula mention mereka, biasanya cuma retweet untuk twit2 yg menurut saya bagus. Mungkin ini sindrom superstar yg sering dialami orang2. Jadi kurang manusiawi ke orang2 biasa. Cuma peduli sama temen2nya dia. Seperti halnya wakil DPR pada rakyat jelata. Oke, cukup, saya malah jadi subjektif :p

Yang juga bersalah adalah orang2 yg ikut nimbrung masalah yg bukan urusan mereka. Begitulah soalnya. Masih banyak orang2 yg udah ikut twitter, tapi belom cerdas. Asal ada isu dikit aja, pengennya nyamber, ga dipikir2 ato dicari kebenaran duduk perkaranya dulu.

Kesimpulannya, tidak bisa menyalahkan satu pihak saja, karena masing2 (mbak R, Mr A, dan para followernya yg ngebully mbak R) berpartisipasi dalam kadar yg berbeda2 sehingga menyebabkan 'keributan kecil' ini terjadi. Bagusnya sih masing2 pihak mengambil pelajaran dari kejadian ini, biar bisa lebih mengendalikan diri.

- buat mbak R, lain kali agar berhati2 kalo ngomong, disesuaikan dengan orang yg jadi lawan bicara ato yg terlibat dalam pembicaraannya.

- buat Mr A, agar lebih peduli, ga asal ngejudge tanpa konfirmasi dulu ketika dirasa ada ucapan orang yg menyinggungnya. Agar lebih bijak dalam berucap. Mungkin ga masalah kalo dia yg jadi target bully, karena dia tau cara nanganin dan nyuekinnya, tapi hati2lah jangan sampe bikin orang lain jadi target bully. Sampeyan bisa bikin orang susah karena sebuah kesalahpahaman.

- buat para followernya yg masih belom cerdas, yah, meskipun rada pesimis, agar ga usah asal nimbrung kalo ga ngerti konteks permasalahannya. dan kalopun ngerti, ga usah memperkeruh suasana dengan ikut2an bully. selebtweet yg kalian follow itu ga selalu benar. merekapun kadang melakukan kesalahan.

yg terakhir, buat semuanya, tak ada salahnya belajar untuk meminta maaf. Ketika ucapan ato perbuatan kita menyinggung perasaan orang lain, introspeksilah. Kalo kita emang salah, minta maaflah dan perbaiki sikap. Kalo kita merasa ga bersalah, tetep minta maaf karena perbedaan pendapat kita menyinggung orang lain. Minta maaf itu ga sulit kan, asal diucapkan dengan sungguh-sungguh :)

Friday, January 27, 2012

tentang #15HariNgeblogFF

Pertama kali dengar event ini kalo ga salah karena diretweet sama nulisbuku, twitnya momo_DM. Iya, saya masih inget siapa itu momo_DM, yg namanya selalu muncul di setiap judul #11projects11days nya nulisbuku waktu itu. Rupanya seperti membangkitkan kembali masa2 nulis blog yg waktu itu sempet muncul juga melalui #15harimenulisdiblog yg diadakan sama hurufkecil, cuma mungkin ga setenar ajang yg itu karena penggagasnya bukan selebtweet.

Waktu itu masih mikir2 sih mau ikutan ato engga, soalnya kalo mesti bikin cerita tiap hari (meskipun FF) rasanya cukup berat (pengalaman waktu 15harimenulisdiblog). Lagipula sejak tahun 2012 ini saya dan dian (plut0saurus) juga ada kegiatan menulis tiap minggunya. Takutnya nanti susah konsennya (dan memang sih) kalo mesti ikut yg ini juga. Tapi untuk jaga2, retweetan itu saya favoritin dulu, biar inget.

Ga taunya malah dian duluan yg nulis buat FF ini dengan serial Joni-nya. Apa boleh buat, saya pun ikut nulis juga, meskipun di hari Kamis, hari pertama itu, otak serasa seret banget buat nulis FF, yg akhirnya malem2 baru kelar. Tapi untungnya dan ajaibnya di hari2 berikutnya, seretnya menghilang, dan makin lancar nyari ide dan nulisnya, hingga akhirnya bisa total bikin FF selama 15 hari tanpa bolos :D

Sekarang saya mau nyebut kekurangan yg sering saya keluhkan tentang proyek ini. Pertama, kedua admin kurang berpengalaman mengadakan kegiatan seperti ini, yg mengandalkan peserta ngirim linknya dengan mention mereka. Mention yg tercampur dengan mention2 lainnya yg ga berhubungan ama FF, dan hasilnya adalah, seringkali mention peserta yg isinya link FF kelelep sama mention2 lain, dan ujung2nya ga kebagian dishare. Saya sering seperti itu, meskipun kemudian saya akal2in dengan ngulang ngirim link lagi, sampe akhirnya dishare ama adminnya, hehe.

Kemudian kadang adminnya available di waktu2 share, tapi kok ga ngeshare postingan para peserta, dan saya yg udah nyetor pun kesel sama adminnya, pengen tujes-tujes rasanya :p

Rasanya juga aneh karena kedua admin terlalu sibuk sehingga ga sempet bikin FF mereka sendiri. Kadang ikut prihatin (selebihnya cuek :p). Memang periode nulis yg tiap hari dan kewajiban admin yg mesti baca satu2 hasil FF punya peserta membuat waktu menjadi serasa sempit. Makanya mungkin lebih baik kalo tiap periode/tema FF dilakukan selang 3 hari. Jadi ada 1 hari buat nulis, dan sisanya buat baca2 blog yg lain dan ngasih komen. Jujur, saya ga sempet berkunjung ke semua blog peserta, paling cuma beberapa, sekitar 10 diantaranya mungkin, makanya salut juga sama admin yg bisa (dan mesti) melakukannya.

Momen yg saya tunggu tiap harinya, dan yg bikin saya seneng adalah ketika kedua admin ngeRT twit saya yg ada link FFnya, dan ngasih komen singkat, seperti sweet, keren dsb :D (hehe, maklum gila pujian), tapi kadang juga ga dikasih komen, cuma hestek #maribaca. Jelas saya lebih suka kalo admin ngasih komen singkat itu ketimbang cuma hestek, karena dengan begitu saya merasa tulisan saya diapreasiasi.

Meski begitu, dari pengalaman saya, 15haribikinFF ini lebih terapresiasi dengan baik ketimbang 15harimenulisdiblog yg waktu itu, dimana adminnya, hurufkecil, terlampau sibuk dan hasilnya ada beberapa hari yg terbengkalai. Di event ini, setiap hari, kedua adminnya sudah berkomitmen semaksimal mungkin dengan hasil yang sangat bagus malah.

Saya juga mau komentar tentang peserta2 lain yang kelihatan sangat antusias, terlihat dengan banyak yg saling komen di blog2 lain, termasuk ke blog saya (meskipun ga banyak sih). Saya pun sering ngeliat postingan2 FF yg laen, seringnya sih buat bocoran kalo lagi susah nyari ide :p, dan beberapa kali komen di sana. Beberapa ada yg berkunjung balik ke blog saya dan ngasih komen.

Thanks to this event, traffic blog saya emang naik, hehe, bahkan lebih tinggi ketimbang waktu 15harimenulisdiblog dulu. Dan yang komen juga jadi lebih banyak, dari yg biasanya sepi2 aja.

Terakhir, sekali lagi terimakasih karena dengan kegiatan ini, saya jadi lebih sering nulis dan makin lancar ngalirin idenya. Padahal sebelumnya sempet ragu apa bisa ato engga ngikutin sampe akhir, dan nyatanya bisa :D Saya juga bisa menaklukkan tantangan #MenolakUntukGalau dari hari pertama, ga peduli judulnya segalau apa :D


Saran:
utk kegiatan serupa di kemudian hari, baiknya bikin akun khusus, seperti PosCinta, buat menghandle segala mention dari peserta dan share linknya. Kemudian waktunya dibikin ga terlalu padat, misalnya 3 hari sekali untuk satu tema. Trus kalo perlu tiap peserta diharuskan untuk minimal baca dan ngasih komen ke 5 ato 10 peserta lain. Biar makin semangat gitu :D

Wednesday, January 25, 2012

Kelakuan Kucing waktu Tidur

Kelakuan kucing yang normal: tidur di keset rumah.


Kelakuan kucing yang bosen idup: tidur di tengah jalan.


Eh, bangun dia :)) 

Thursday, December 29, 2011

strategi naek KRL di pagi hari

Jadwal KRL Commuter Line semakin amburadul. Mau ngatain BEGO, kayaknya udah keseringan. Tapi baru sejak Natal kemarin, gw coba cara baru naek kereta buat berangkat.

Normalnya, gw berangkat dari rumah setengah 6, dan naek kereta CL tujuan Jakarta Kota yang jam 5.50. Nah, kelihatannya sejak minggu lalu, utk jadwal jam segitu, ada perubahan. Yg jam 5.50 udah bukan ke Kota lagi, melainkan ke Tanah Abang - Angke. Anehnya, di jalur sebelah padahal ada juga kereta CL ke Tanah Abang, tapi sampe Jatinegara. Ga ngerti juga sih ngaruhnya apa bedanya yg sampe Angke ama Jatinegara. Yg gw pikirin: Penting ga sih trayek ke Angke sama Jatinegara? Penting ga sih dibandingin ama orang2 yg berangkat kerja ke jalur Kota? Siapa sih yg berangkat kesana? Emangnya ga bisa apa keretanya sambung lagi dari Tanah Abang? Dulu2 juga kayaknya ga ada masalah. Iseng amat sih ganti2 jadwal.

Tapi sudahlah, karena postingan ini sebenarnya bukan tentang itu. Jadi hari Minggu kemaren, pas Natal itu, pas gw lagi nunggu di stasiun di pagi hari, gw kebetulan denger obrolan orang2 deket gw. Barulah saat itu gw menyadari ide cukup brilian yg keliatannya sudah banyak diterapkan orang2, tapi gw baru tau. Apakah itu?

Mereka berencana untuk naek kereta CL yg ke Tanah Abang, padahal aslinya tujuan mereka ya yg ke arah Kota. Lalu gimana? Lalu turun lah di Tebet, baru abis itu lanjut naek kereta CL yg ke arah Kota darisana. Mengutip ocehan mereka "Lumayan bisa duduk sampe Tebet." Dan gw yg kebetulan denger (nguping, eavesdropping, apalah istilahnya) sepakat dengan mereka, dan mengikuti rencana mereka.

Penjelasannya seperti ini: 5.50 kereta CL ke Kota, diganti jadi Tanah Abang-Angke. Kereta yg ke Kota baru bakal ada jam 6.04. Sementara itu, jam 5.57 ada kereta ke Tanah Abang, yang berangkatnya dari Depok. Ketimbang nunggu yg jam 6.04 dengan kemungkinan besar dalam kondisi penuh abis, mending naek yg ke tanah abang toh, lebih lega. Kemudian nanti tinggal switch di stasiun Tebet.
Kenapa ga di Manggarai? Kan trayek Kota dan TanahAbang misahnya disana? Karena di Manggarai ribet, banyak jalurnya. Lebih aman switchnya di Tebet, satu stasiun sebelum Manggarai.
Lalu apakah kalo naek dari Tebet, keretanya jadi kosong? Ya engga juga sih, mungkin masih penuh, tapi paling ga kita ga lama2 merasakan penuhnya, pas di Cikini paling udah berkurang banyak.

Percobaan pertama pas hari Minggu kemaren sih, pas gw naek kereta ke TanahAbang yg dari Depok itu, kosong. Jadinya asik aja duduk2. Sementara kalo nungguin kereta ke Kota yg dari Bogor, kemungkinan rada penuh dan ga kebagian duduk. Asoy banget kan kalo pake strategi ini.

Tapi itu kalo hari libur. Makanya hari ini, sekali lagi gw terapkan hal itu. Hasilnya, perjalanan dari Depok-Tebet lumayan ga berdesak-desakan. Turun di Tebet, sekitar 5 menit kemudian, kereta ke Kota nyusul. Rada penuh sih, tapi masih bisa masuk. Asal cari pegangan aja biar ga kedorong, soalnya berdirinya di deket pintu gitu. Dan kalo orang2 pada mau turun di Cikini ato Gondangdia, ikut turun dulu, baru naek lagi. Soalnya orang2 suka ga sabaran dan dorong2 keluar.

Begitulah, ternyata dari jadwal yg ngehe ini, masih bisa diakali sedikit biar perjalanan jadi lebih nyaman.

Saturday, December 10, 2011

Keluhan tentang Tampilan Baru Twitter

Sejak Jumat kemarin, tampilan Twitter web gw berubah. Istilahnya sih, yg gw denger dari orang2, redesign. Bisa dilihat di gambar berikut. Sekarang jadinya tetep 2 kolom, cuma bagian twit ditaroh di sebelah kanan. Kolom kiri isinya keterangan tentang profil, follower, trending topic dsb, yang statik.


Yang jelas gw ga suka dengan tampilan baru ini. Poin2nya ada di bawah. Kesannya twitter cuma memperhatikan masalah penampilan, tapi melupakan fungsionalitasnya. Buat apa tampilan dirombak terus, tapi fitur edit retweet (RT manual), ato quote yg notabene ada di aplikasi2 laennya, malah ga dimunculin.

Adapun hal-hal di tampilan twitter baru yg gw gak suka:

1. Yg ditebelin sekarang itu full namenya, bukannya nama akun (username). Misal tadinya yg ditebelin itu @pipis, sekarang Pribadi Prananta. Hello, kita mana apal nama orangnya, yg kita peduli mah username kalii.

2. Detil twit, seperti misalnya siapa yg reply, retweet, image, conversation dsb ditampilin di situ juga, kebawah, padahal tadinya udah ada slotnya sendiri di sebelah kanan. Yg sekarang itu jadi menuh2in tempat dan distracting.

3. Space buat nulis twit baru juga mengecil. Letaknya ga diatas update, tapi di bawah profil. Kecil pokoknya. Jelek.

4. di twit, sekarang jadinya yg ada nama akun orang (mention) dikasih warna abu2, jadi susah diliatnya, boi. mending yg biasa napa, warna biru gitu. Begitupula hashtag jadi susah keliatan karena warnanya kurang jelas.

5. message, sekarang ga ada pagenya sendiri, cuma pop up. dan sekarang ga ada keterangan, ada berapa DM yg ada. yg kemaren kan ada.

Tapi ini masih subjektif sih, lagipula mungkin karena kaget aja, belom terbiasa. Tapi kayaknya untuk poin nomer 1 dan 4 itu paling telak, susah untuk gw suka dengan desain baru ini kalo kedua hal itu ga dikembalikan seperti semula.

Wednesday, November 02, 2011

win-win solution: strategi penerbit

Akhirnya saya paham.

Awalnya kan beberapa minggu lalu, nulisbuku bikin event #11days11projects itu, dimana kita diajak untuk ikut serta bikin cerita berdasarkan lagu tema yang berbeda tiap harinya. Nah, berhubung sekarang sudah masuk bulan November, satu demi satu hasil event itu diumumkan. Sehari dari tanggal 1 sampai 11, masing-masing 1 tema sesuai hari ke-1 dst sampai hari ke-11. Selain diliatin gambar cover buku yg bakal dibikin, juga daftar isi bukunya, karya2 yg dimasukkan ke sana dan pengarangnya.

Yang bikin gw takjub adalah, banyak sekali karya yang dimasukin ke bukunya. Sampe2 hari pertama itu ada dua buku, begitu pula hari kedua. Kesimpulan yg saya ambil, kalo ga semuanya, maka hampir semua karya yg masuk ke redaksi nulisbuku untuk ajang #11days11projects ini akan dipublikasikan. Pertanyaannya adalah: mengapa? Karena saya kira maksimal hanya 20/30 per temanya. Ini sampe 80an.

Sepertinya saya paham. Dengan mempublikasikan banyak karya yg masuk, maka para pengarangnya akan tertarik karena karya mereka dipublish, dan ujung2nya mereka akan berminat untuk membeli buku dimana karya mereka ada di sana. Bayangkan kalo ada 80 pengarang yg karyanya masuk. Minimal kira-kira ada 80 buku yang akan terjual, kepada para pengarang itu. Dan itu baru untuk hari pertama. Hari-hari berikutnya kemungkinan juga seperti itu. Strategi yang bagus dari pihak nulisbuku. Dengan menerbitkan karya2 dari puluhan orang, yang berminat dan sukarela, penjualan buku tersebut juga cukup terjamin.

Lalu sebagai salah satu pengarang yang berpartisipasi, apakah kita merasa dimanfaatkan ato kecewa? Tidak perlu. Mungkin tidak semua strategi nulisbuku itu bisnis semata, tapi juga sebagai wadah untuk karya-karya kita. Ada manfaatnya untuk kita. Karya kita bisa dipublikasikan dan dibaca oleh puluhan orang lain, minimal sesama pengarang. Win-win solution, yes?

Sunday, August 28, 2011

Experimental Photographer

Beberapa waktu lalu ada teman yang minta saya jadi seksi dokumentasi untuk sebuah acara miliknya. Dan mendadak saja saya menjadi fotografer. Experimental Photographer tapinya, alias Fotografer Coba-Coba.

Adapun, ini beberapa ciri saya sebagai fotografer super amatir. Siapatau nanti ada lagi yg minta saya buat jadi seksi dokumentasi.

1. Saya selalu mengambil gambar dengan format landscape, ga pernah portrait.
2. Dan sering pula, ga benar2 landscape, tapi pake angle, kisaran 0-45 derajat, kayak scene di film2nya Michael Bay.
3. Expecting a lot of pictures about food. Yes, food. Saya hobi motoin makanan, entah kalo diliatin doang, mungkin bisa bikin kenyang.
4. Favorit saya yang lain adalah foto candid, pokoknya yang natural. Jadi ga usah ada aba-aba ato berpose madep kamera, karena saya sendiri yg menentukan kapan mau nekan tombol.
5. Sehubungan dengan nomer 4, bersiap-siaplah kalo dalam foto2 saya, selalu ada yg blur ato goyang, karena ga semuanya berpose, banyak yg lagi jalan kena kefoto juga.
6. Resolusi yang saya pake nanti ga gede2 banget, maksimal 1600x1200. Ga suka file gambar yg sizenya sampe 2-3 mega dan resolusi 2000an pixel ke atas, padahal gambarnya banyak yg ga bagus hasilnya. Berat2in doang pas dibuka.
7. Setelah kemaren2 maen2 dengan setingan kamera untuk ganti theme sepia atau tungsten, memutuskan untuk ga neko2. Pake mode Auto saja. Editnya nanti bisa di Photoshop.

Biarpun kesannya cuma coba-coba, ternyata saya dapat pengakuan lho, dari yg punya acara. Berikut:

@risawamura: @minky_monster G'morning, mo blg skali lagi, trimakasih byk ya atas jepretan2 d tgl 24 kmrn! Nice shot! Really! ;)