Featured Post

[Review] Game of Thrones (season 6)

Setelah setahun, GoT kembali di season 6. Sebenarnya gw juga ga begitu nunggu2 sih, karena lagi asik ngikutin serial yg lain (The Flash...

Showing posts with label #8HariReviewFilm. Show all posts
Showing posts with label #8HariReviewFilm. Show all posts

Sunday, February 12, 2012

#8HariReviewFilm

Tepatnya bukan 8 hari berturut-turut bikin review film sih, tapi bikin review dari 8 film terakhir yang ditonton, berturut-turut. Pengennya sih kayak yg di situs2 review film di adithiarangga itu, tapi kok kayaknya kalo gw review, plotnya dibeberin semua sejelas-jelasnya. Mungkin emang itu tipe gw nulis review, hehe.

Anyway, selain There Be Dragons dan Signs, enam film lainnya adalah film2 imdb top 250. Jadi serasa pekan film-film klasik gini. Jadi, film-film yang direview antara lain:

1. There Be Dragons (2011)
perjalanan hidup dua orang sahabat yang bersebrangan jalan, yang satu menjadi pendeta, yang satu menjadi pemberontak.
2. The Lives of Others (2006)
kisah menyentuh tentang perwira tinggi SS yang memata-matai sepasang kekasih, untuk kemudian menjadi bersimpati pada mereka.
3. M (1931)
perburuan pembunuh anak-anak yang sedang merisaukan warga kota, memaksa kaum mafia untuk bertindak.
4. Signs (2002)
sebuah keluarga yang mesti bersatu dalam menghadapi ancaman datangnya mahluk ET yang terutama mengancam rumah mereka.
5. The Bridge on the River Kwai (1957)
kisah epic tentang pembangunan jembatan di sungai Kwai, oleh tentara Inggris yang menjadi tahanan Jepang pada perang dunia II.
6. Witness for the Prosecution (1957)
seorang pengacara senior mesti membuktikan bahwa kliennya yang dituduh membunuh, tidak bersalah, dengan istrinya sebagai saksi.
7. The Grapes of Wrath (1940)
kisah memilukan tentang perjuangan seorang laki-laki dan keluarganya selama masa Great Depression berlangsung di Amerika.
8. Judgment at Nuremberg (1961)
kisah epic tentang bagaimana pengadilan terhadap 4 hakim era Nazi yang didakwa karena ikut berperan serta dalam kejahatan kemanusiaan.

Sesudah ini, kayaknya gw ga akan sering2 nulis review. Capek juga boi soalnya. Mending langsung nonton aja, trus lanjut nonton film berikutnya.

Review Film: Judgment at Nuremberg (1961)


Director: Stanley Kramer
Cast:
Spencer Tracy
Burt Lancaster
Richard Widmark
Maximilian Schell
Marlene Dietrich
Judy Garland
Montgomery Clift

Plot:

Tiga tahun setelah Perang Dunia II berakhir, pengadilan militer diadakan di Nuremberg, Jerman, untuk mengadili 4 hakim yang bertugas pada saat Hitler berkuasa. Pengadilan diselenggarakan oleh Amerika yang saat itu menduduki Jerman setelah perang usai. Hakim Dan Haywood (Tracy) dipercaya untuk memimpin sidang tersebut, dan diterbangkan ke Jerman.

Empat hakim itu didakwa karena turut berperan serta membantu Nazi melakukan kejahatan kemanusiaan, dimana jutaan orang menjadi korban akibat eksekusi di kamp konsentrasi dan pelanggaran HAM lainnya. Mereka adalah Emil Hahn, Fredrich Hoffstatter, Werner Lammpe, dan Ernst Janning (Lancaster). Seorang konsel, Hans Rolfe (Schell), menjadi pengacara pembela mereka, terutama mewakili Janning yang menolak untuk berbicara selama persidangan.


Pihak penuntut yang dipimpin Colonel Lawson (Widmark) dalam argumennya menekankan bahwa para hakim ini, yang mestinya paham tentang hukum dan keadilan, mesti dihukum seberat-beratnya karena membiarkan, dan turut membantu terjadinya pembunuhan massal pada era Hitler. Sementara argumen dari Rolfe menyebutkan bahwa Janning semata-mata hanya menjalankan peraturan yang sedang berlaku, karena percaya bahwa hal itu demi kepentingan negara.

Saksi pertama yang diajukan adalah Dr Wieck, yang dulu adalah mentor dari Janning. Berbeda dengan Janning, ketika Hitler mulai berkuasa, Wieck memilih untuk tidak berpartisipasi dan mengundurkan diri dari jabatannya sebagai hakim. Dari kesaksiannya ini, Hakim Haywood mengenal lebih jauh orang seperti apa Ernst Janning ini. Janning adalah seorang hakim yang dikenal baik di masyarakat, menjalankan tugasnya dengan baik, dan menjadi semacam panutan. Karena itulah, fakta bahwa Janning menjadi bagian dari kejahatan perang ini membuatnya penasaran dan ingin mempelajari tentang Jerman lebih lanjut.

Haywood kemudian bertemu dengan Mrs. Bertholt (Dietrich), orang yang sebelumnya menempati rumah besar yang saat ini ditinggali Haywood selama dia berada di Jerman. Suaminya yang juga kalangan militer di Jerman, dieksekusi oleh pengadilan yang juga dituntut oleh Lawson.


Saksi selanjutnya yang dihadirkan Lawson adalah salah satu korban sterilisasi, yang membuat mereka tidak bisa memiliki keturunan. Rudolph Petersen (Clift), ketika dalam sebuah tes untuk membuat lisensi mengemudi, mendapat pertanyaan tentang kapan ulang tahun Hitler. Setelah mengatakan tidak tahu dan tidak peduli, Petersen kemudian dinyatakan perlu disterilisasi, dan dipindahkan ke sebuah rumah sakit. Akan tetapi Rolfe dengan cerdik menunjukkan bahwa Petersen termasuk golongan terbelakang, yang menurut peraturan mesti disterilisasi. Dari sini terlihat bagaimana Rolfe seringkali menekan dan meruntuhkan mental saksi untuk melakukan pembelaannya.

Pada waktu sidang reses, Haywood sering menghabiskan waktu dengan Mrs Bertholt. Mereka menjadi cukup dekat, meskipun Haywood sadar bahwa dia harus tetap menjaga pendiriannya agar tetap netral. Mrs Bertholt bersimpati pada Janning, dan berpotensi untuk mempengaruhi keputusan Haywood.

Di antara 4 hakim terdakwa itu, Janning yang pendiam, tidak terlalu berpihak pada rekan-rekannya. Dia terutama bersebrangan dengan Hahn yang bigot dan mendukung Nazi. Dua orang lainnya meskipun pasif tapi mengambil keuntungan dari kekuasaan Nazi. Sementara Janning, diliputi rasa bersalah karena sadar apa yang telah dilakukannya.

Lawson berhasil menemukan Irene Hoffman (Garland), korban kasus Feldenstein, dimana pemilik bangunan Feldenstein yang merupakan seorang Yahudi, dihukum mati karena dianggap memiliki hubungan dengannya yang waktu itu masih remaja. Kasus Feldenstein dijadikan contoh oleh Nazi sebagai pencemaran ras Arya mereka. Meski bimbang dan takut, Irene yang sekarang bernama Irene Wallner -menikah- akhirnya setuju untuk bersaksi.

Lawson kemudian menunjukkan arsip film dokumenter yang menggambarkan korban-korban kamp konsentrasi, dimana ribuan mayat hasil eksekusi mesti disingkirkan. Pemandangan yang mengerikan untuk dilihat. Pihak pembela berargumen mereka tidak mengetahui kalau situasi akan menjadi separah itu.



Rolfe menghadirkan seorang saksi dalam upayanya mendiskreditkan Feldenstein, dalam rangka menjustifikasi hukuman atasnya. Tidak terlalu berhasil, Rolfe kemudian menyerang saksi Irene Hoffman habis-habisan, berkali-kali menanyakan dengan nada keras apa saja yang sudah dilakukan Feldenstein padanya, mengarah ke hubungan seksual yang tak pantas. Irene pun teguh, mengatakan tidak ada yang terjadi.

Melihat situasi yang tak adil untuk Irene, Janning angkat bicara dan menginterupsi Rolfe. Janning kemudian membuat pernyataan sebagai saksi. Dalam pernyataannya yang cukup panjang, dia mengaku bersalah, dan bahwa mereka sepenuhnya sadar apa yang terjadi dengan pembantaian jutaan orang yang menjadi korban. Dia membeberkan seburuk apa rekan-rekannya, dan menambahkan bahwa dialah yang paling buruk, karena meskipun mengetahui semua itu, tapi dia tetap menjadi bagian dari mereka.

Dengan Janning sendiri menyatakan bersalah, pernyataan pembelaan dari Rolfe kemudian menuntut bahwa kesalahan akibat kekejaman Nazi selayaknya tak hanya tanggung jawab orang-orang jerman saja, tapi seluruh dunia karena telah membiarkan dan menyebabkan hal itu terjadi. Sementara Lawson mendapat tekanan dari atasannya agar tidak menuntut hukuman yang terlalu berat, karena pihak Sekutu membutuhkan bantuan Jerman saat itu untuk menghadapi ancaman perang dari Rusia.

Dalam keputusannya, Hakim Haywood menekankan beberapa pernyataan dari Rolfe dan Janning, dimana beberapa diantaranya mengandung kebenaran. Keempat terdakwa dinyatakan bersalah dan dihukum seumur hidup. Keputusan ini mengecewakan banyak pihak, termasuk rakyat Jerman, dan militer Amerika yang butuh dukungan Jerman. Meski begitu, Lawson justru berpendapat bahwa Haywood terlah mengambil keputusan yang tepat.


Sebelum kepulangannya ke Amerika, Haywood mencoba menghubungi Mrs Bertholt, tapi teleponnya tak dihiraukan. Rolfe mendatangi Haywood, mengatakan bahwa Janning ingin bertemu dengannya. Rolfe juga menyatakan pendapatnya bahwa dalam beberapa tahun hakim-hakim itu akan dibebaskan, mengikuti perubahan situasi yang ada. Haywood setuju, bahwa hal itu mungkin, karena logis.
"but to be logical is not to be right." jawabnya ke Rolfe.

Haywood pun bertemu dengan Janning di ruang tahanannya. Janning mengaku memiliki respek yang tinggi padanya, dan mengatakan bahwa dia tidak menyangka bahwa situasi akan menjadi sedemikian mengerikannya. Haywood menjawab, sewaktu Janning pertama kali menjebloskan orang tak bersalah ke kematian, dia sudah tahu.

Pada credit penutup, disebutkan bahwa semua tahanan yang menjadi terpidana pengadilan Nuremberg dan mendapat hukuman seumur hidup, tidak ada yang menjalani hukuman itu sampai tuntas. Membuktikan perkiraan Rolfe sebelumnya.

Komentar:

EPIC pokoknya. Film berdurasi 3 jam lebih ini, dari awal sampai akhir membuat kita tersedot untuk terus mengikutinya. Yang menjadi topik diskusi untuk penonton adalah, seberat apa hukuman untuk para hakim itu yang seharusnya pantas? Menurut gw sih, memang keputusan hakim Haywood yang memberikan hukuman seumur hidup itu memang sudah tepat (meski kemudian mereka dibebaskan lebih awal).

Dan gw masih ga suka dengan pengacara, yang sering memojokkan pihak2 yang bersebrangan dengan mereka. Liat aja Rolfe yang teriak-teriak ke saksi (meskipun karena itu Maximilian Schell menang Oscar), atau Lawson yang menghina Janning.

Perlu dipertanyakan juga kepentingan Amerika yang menyelenggarakan sidang, apa mereka memang berkompeten untuk mengadili Jerman, dimana mereka sendiri mungkin tidak lebih baik. Nyatanya begitu ada perang baru muncul dan mereka butuh bantuan Jerman, pihak militer inginnya hakim2 itu dihukum ringan. Ga jelas kan pendiriannya Amerika ini.

Anyway, stellar cast. Banyak bintang2 yang bayarannya lebih rendah dari biasanya, demi bisa berkontribusi di film ini, karena menurut mereka film ini penting.
myRating: 9.5.

Friday, February 10, 2012

Review Film: The Grapes of Wrath (1940)


Director: John Ford
Cast:
Henry Fonda
Jan Darwell
John Carradine

Plot:

Tom Joad (Fonda), yang baru bebas dari penjara, pulang ke rumahnya dan mendapatinya dalam keadaan terlantar. Dia bertemu dengan Casy (Carradine), bekas pendeta yang menjelaskan bahwa semua ladang di daerah itu sudah diambil alih oleh bank. Akibat Great Depression yang melanda Amerika kala itu, orang-orang dipaksa untuk meninggalkan rumah dan ladang yang dimilikinya dan pindah ke tempat lain untuk mencari pekerjaan.


Tom bertemu dengan keluarga besarnya, ibunya, Ma Joad (Darwell), ayahnya, adik, sepupu, paman, serta kakek-neneknya tinggal di rumah pamannya. Mereka pun tak berapa lama meninggalkan tempat itu, karena sudah diminta untuk pergi oleh orang2 suruhan bank. Dengan menggunakan sebuah mobil semi truk yang kurang begitu kuat, mereka semua, termasuk Casy, melakukan perjalanan. Mobil yang tampaknya kelebihan muatan itu membawa mereka menuju tempat dimana ada pekerjaan, dimana disebutkan terdapat lowongan untuk 1000 orang untuk memetik jeruk.

Dalam perjalanan, mereka kehilangan satu persatu kakek, dan nenek Tom yang kondisinya tak cukup kuat. Meski begitu, mereka berhasil tiba dari Oklahoma ke California.

Pemukiman pertama yang mereka datangi hanyalah camp-camp berisi orang-orang seperti mereka, tak ada pekerjaan dan tak ada uang dan makanan. Tak berapa lama ada orang yang menawarkan pekerjaan untuk memetik buah. Salah satu rombongan Tom, yang kemudian diikuti Tom dan Casy, mempertanyakan keabsahan orang itu, karena curiga mereka tidak menawarkan kontrak dan upah yang jelas. Terjadi keributan, dimana ada orang yang tertembak, dan Casy dibawa pergi karena mengaku bersalah.


Tom dan keluarganya melanjutkan perjalanan, dan menemukan tempat pemukiman dimana mereka diberi pekerjaan dengan upah yang cukup kecil, dan mendapat rumah kecil untuk tinggal. Tom mendapati situasi yang mencurigakan, dimana petugas sering sekali melakukan pemeriksaan dan mendata nama mereka. Suatu malam, dia menyusup keluar, dan bertemu kembali dengan Casy, yang rupanya sekarang tergabung dalam gerakan buruh untuk menentang tindakan semena2 perusahaan yang memberi upah rendah.

Pertemuan itu tak berlangsung lama, karena petugas menemukan mereka dan memukuli Casy, yang kemudian mati. Tom pun membalas, sehingga seorang petugas mati. Tom bisa melarikan diri dan kembali ke keluarganya, dan menyadari bahwa mereka harus segera pergi. Dengan menyembunyikan Tom yang dicari-cari karena telah membunuh seorang petugas, mereka berhasil meninggalkan tempat itu.

Berikutnya, di saat situasi makin suram untuk mereka, harapan datang. Sebuah pemukiman milik pemerintah bersedia menampung mereka, dengan menyediakan pekerjaan dan situasi yang kondusif, dimana yang membuat peraturan adalah warga pemukiman itu sendiri. Akhirnya, Tom dan keluarganya bisa merasa sedikit nyaman. Meskipun pada suatu kesempatan, orang-orang perusahaan sempat mencari-cari masalah dengan memancing keributan, tapi berkat koordinasi yang baik antar warga, mereka berhasil mencegahnya.


Tom pun terpanggil untuk bergabung dengan gerakan untuk memperjuangkan keadilan bagi masyarakat, seperti yang Casy katakan padanya. Keluarganya pun, tak berapa lama juga pergi melanjutkan perjalanan, dengan Ma Joad yang semangatnya kembali muncul karena tindakan Tom.

Komentar:

Depressing banget. Gw sebenarnya ga terlalu suka sering2 nonton film seperti ini, atau yg mirip2 itu The Pursuit of Happyness, yg menggambarkan suasana Great Depression. Sedih banget, karena situasi yang ditunjukkan cukup akurat dan sesuai dengan kejadian sebenarnya.

Orang-orang berada dalam keadaan tanpa pekerjaan, tanpa uang, dan kalaupun ada, mesti menerima diberi upah yang kecil sekali. Gak manusiawi. Bahkan orang tua dan anak-anak pun mesti bekerja. Pokoknya depressing banget deh.

Dan film yang aslinya adaptasi dari buku ini, padahal sudah mengubah beberapa aspek. Di bukunya, plotnya lebih hopeless lagi. Ah. Pokoknya dengan nonton ini, jadi merasa bersyukur dengan kondisi yang kita punya sekarang, yang jauh lebih baik dibandingkan situasi mereka yang berada pada Great Depression.
myRating: 9.

Thursday, February 09, 2012

Review Film: Witness for the Prosecution (1957)


Director: Billy Wilder
Cast:
Charles Laughton
Tyrone Power
Marlene Dietrich

Plot:

Sir Wilfrid (Laughton), pengacara kelas atas, yang baru saja keluar dari rumah sakit dan butuh perawatan karena kondisi fisiknya yang mulai menurun, kedatangan seorang calon klien. Leonard Vole (Power) dituduh telah membunuh Mrs French, seorang wanita tua yang tergila-gila padanya.

Leonard yang bertemu Mrs French secara 'kebetulan', kemudian sering mampir ke rumah wanita itu, meskipun dia sudah beristri. Awalnya, Leonard memang mengharapkan wanita itu memberinya sedikit uang untuk membiayai paten alat buatannya. Pada hari kejadian, wanita itu ditemukan tewas, dan Leonard menjadi tersangka utama. Satu-satunya alibi yang dimilikinya berasal dari kesaksian istrinya yang mengatakan bahwa dia tiba di rumah pada sekitar waktu kematian korban.


Awalnya kasus ini tidak terlihat terlalu sulit karena ketiadaan motif yang dimiliki Leonard. Situasi berubah ketika diketahui Mrs French meninggalkan warisan 80,000 pound pada Leonard. Motif pun mengarah padanya. Sir Wilfrid pun tertarik untuk menangani kasus ini, terlepas dari protes perawatnya yang memintanya untuk beristirahat. Leonard berada dalam posisi sulit karena kesaksian dari seorang istri tidak akan diperhitungkan.

Istri Leonard, Christine Vole (Dietrich) kemudian mendatangi Sir Wilfrid secara terpisah. Sir Wilfrid terkesan dengan sikap Christine yang tenang dan dingin, yang memberitahunya kalau dia sebenarnya masih memiliki suami sewaktu Leonard menikahinya. Mereka bertemu di Jerman sewaktu Leonard masih bertugas sebagai tentara. Dia menikahi Christine dan membawanya ke Amerika, memberinya kewarganegaraan baru. Leonard tidak mengetahui kalau Christine masih berstatus istri dari orang lain.

Pada sidang pengadilan Leonard Vale, Sir Wilfrid berhasil menyanggah bukti-bukti yang berasal dari keterangan saksi dari pihak penuntut, yang berasal dari polisi dan pembantu Mrs French. Yang mengejutkannya adalah, istri Vole, Christine, dipanggil sebagai saksi, dengan menyebutkan bahwa dia bukan istri Leonard karena masih terikat dengan pernikahannya yang dulu. Tidak terhitung sebagai istri, Christine dipersilahkan untuk bersaksi.


Yang lebih mengejutkan adalah, Christine memberikan kesaksian yang memberatkan Leonard, yang menjelaskan bahwa Leonard tiba di rumah bukan pada waktu kematian korban, tapi sesudahnya, dan bahwa Leonard mengatakan "I've killed her." Kesaksian yang bertolak belakang dari yang sebelumnya diberikannya ini membuat Sir Wilfrid dan Leonard bingung. Ketika Leonard berdiri sebagai saksi, pihak penuntut menyerangnya habis-habisan dan situasi menjadi tidak menguntungkan baginya.

Di sela-sela hari persidangan, Sir Wilfrid mendapat telpon dari seorang wanita, yang memintanya bertemu untuk memberikan bukti-bukti mengenai Christine. Setelah membayar sejumlah uang, SIr Wilfrid pun mendapat beberapa surat yang ditulis Christine untuk selingkuhannya yang bernama Max, yang menyebutkan kalau dia akan memberikan kesaksian palsu supaya Leonard dihukum mati dan uang 80 rb pound itu jatuh ke tangannya.

Di persidangan keesokan harinya, Sir Wilfrid membeberkan surat-surat itu, meruntuhkan kesaksian Christine, dan dengannya menyebabkan alibi Leonard menjadi sah. Leonard pun diputuskan bebas. Sir Wilfrid merasa tidak puas karena ada sesuatu yang menurutnya janggal.

Dan betullah. Christine pun mengakui, kalau dia merancang sandiwara untuk memberi kesaksian palsu dan surat-surat itu, supaya Leonard tidak terbukti bersalah. Dia dan Leonard dengan tenangnya mengakui kalau memang Leonard-lah yang membunuh Mrs French, dan karenanya tidak bisa diajukan lagi ke pengadilan untuk kasus yang sama. Ketika Sir Wilfrid bertanya, kenapa Christine rela mesti terkena kasus perjuri (karena memberikan kesaksian palsu) demi Leonard yang bersalah, dia menjawab dengan sederhana, karena dia mencintainya.


Situasi pun kelihatan memihak Leonard, hingga kemudian seorang wanita datang dan merangkulnya. Selingkuhan yang lain. Kesal karena ternyata cuma dimanfaatkan, dan hendak ditinggalkan demi wanita lain, Christine dengan dingin menikam Leonard hingga mati.

Sir Wilfrid dan lainnya ikut menyaksikan, dan menganggap bahwa Leonard pantas menerimanya. Sir Wilfrid, yang tadinya berencana untuk berlibur ke Bermuda, membatalkan rencananya, untuk menangani kasus Christine, sebagai pembelanya.

Komentar:

Wow. Dari jalannya cerita persidangan, lalu dari saksi satu ke saksi lainnya, benar-benar seru dan menegangkan, apalagi ketika tiap kali twist muncul dan mematahkan kesaksian yang diberikan.

Yang tak kalah penting adalah karakternya. Sir Wilfrid di awal-awal memberikan beberapa kalimat yang cerdas, dan bersama dengan perawatnya, menghasilkan beberapa scene yang menghibur. Beberapa kali Sir Wilfrid curi2 kesempatan untuk mengisap cerutunya dan meminum brandy.

Yang mungkin mengejutkan mungkin fakta bahwa Leonard ternyata memang bersalah. Dia benar-benar aktor yang hebat, sampai-sampai berhasil mengelabui mata Sir Wilfrid. Tapi memang jika kita mengikuti ceritanya, mungkin akan terbersit pertanyaan: jika Leonard tidak bersalah, lalu siapa pelakunya?

Kemudian bintang dari film ini adalah Marlene Dietrich yang menjadi Christine, si istri yang demi suaminya, rela memberikan kesaksian palsu dan mesti menjalani sidang perjuri karenanya. Christine sampai menyamar menjadi wanita buruk rupa dan mengarang surat-surat itu, agar rencananya berhasil.

Yang juga menarik dari film ini, karena merupakan adaptasi dari karya Agatha Christie. Bukan novel sih, tapi stage drama. Tapi tetep aja menarik untuk ditonton, karena film ini jadi salah satu dari sedikit karya Agatha Christie yang berhasil difilmkan.
myRating: 9.

Monday, February 06, 2012

Review Film: The Bridge on the River Kwai (1957)

 
Director: David Lean
Cast:
William Holden
Alec Guinness
Jack Hawkins
Sessue Hayakawa

Plot:

Film ini memiliki dua karakter utama, yaitu Colonel Nicholson (Guinness) dan Commander Shears (Holden). Shears yang sudah lebih dulu menjadi tawanan Jepang di sekitar Thailand, suatu hari mendapati Nicholson, dan puluhan anak buahnya menjadi tawanan baru di sana, sebagai akibat dari perintah dari atasan mereka untuk menyerahkan diri ke Jepang. Tak berapa lama, para tawanan Inggris itu pun merasakan perlakuan berat Colonel Saito (Hayakawa), yang mewajibkan semua tawanan, termasuk para officer (yg memiliki pangkat), untuk ikut serta membangun jembatan di atas sungai Kwai, yang nantinya akan dilalui kereta.



Nicholson pada awalnya menentang hal ini, karena menurut Konvensi Geneva, para officer tidak boleh dijadikan sebagai budak untuk melakukan pekerjaan berat. Saito mengabaikannya, dan menghukum Nicholson dan officer lainnya di tempat isolasi. Tanpa pimpinannya, pengerjaan jembatan oleh para tahanan berjalan tak terkendali dan amburadul, sehingga memaksa Saito untuk membujuk Nicholson untuk menerima tawarannya. Karena mereka berdua sama-sama keras kepala, butuh waktu sekitar sebulan hingga akhirnya Saito menyerah dan menyetujui syarat Nicholson bahwa para officer tidak ikut melakukan kerja berat.

Nicholson yang mengambil alih pengerjaan jembatan itu, dibantu oleh para officernya yang mengerti tentang struktur bangunan, dengan cepat membuat beberapa perubahan, dan hasilnya pengerjaan jembatan berjalan dengan lancar. Akan tetapi, anak buahnya mempertanyakan sikap Nicholson yang terlalu bersemangat untuk menyelesaikan jembatan itu tepat waktu, karena hal itu hanya akan membantu pihak musuh. Nicholson beralasan, bahwa mereka perlu melakukan ini, untuk menjaga moral agar tetap tinggi, dan untuk membuktikan pada pihak musuh, bahwa mereka bisa menghasilkan sesuatu yang jauh lebih baik dari musuh.

Seiring pengerjaan jembatan yang berjalan baik, Nicholson pun semakin santai berada di sana, dengan Saito dan tentara2 Jepang lainnya pun melunak sikapnya. Jembatan pun selesai sebelum deadline, dan mereka sempat berpesta setelahnya.



Sementara itu, Shears, setelah berkali-kali menunda, akhirnya mencoba untuk kabur (kira2 bersamaan sewaktu Nicholson diisolasi). Meski tentara Jepang percaya kalau dia tenggelam, nyatanya Shears selamat, kemudian dengan bantuan penduduk lokal, berhasil tiba di markas tentara Inggris di Ceylon. Rencananya, Shears akan pulang ke Amerika.

Akan tetapi, rencananya gagal setelah Major Warden (Hawkins) memintanya untuk ikut serta dalam operasi commando untuk meledakkan jembatan di sungai Kwai. Selain karena Shears mengetahui medan, juga karena Warden dan atasannya di militer Amerika mengetahui kalau Shears memalsukan pangkatnya sebagai commander. Shears tak punya pilihan selain menyanggupi.

Jadilah Shears, Warden, dan satu orang lagi Joyce melaksanakan operasi ke sekitar sungai Kwai. Dalam sebuah konfrontasi dengan tentara Jepang, kaki Warden tertembak, dan menyulitkannya berjalan. Mereka pun tiba di lokasi, di jembatan yang sudah jadi, dan memasang posisi untuk meledakkan jembatan ketika kereta tiba keesokan harinya.



Sayangnya, rencana terancam karena air sungai surut, yang menyebabkan tali yang tersambung ke detonator bom terlihat. Nicholson yang sedang mengecek jembatan yang dibuatnya bersama tahanan Inggris yang lain, melihatnya. Dia mengajak Saito untuk memeriksa tali itu, hingga mereka mendekati tempat dimana Joyce bersembunyi.

Joyce bergerak dan menikam Saito. Nicholson berteriak meminta bantuan sambil berusaha mencegah Joyce meledakkan bom. Shears pun menyusul. Akhirnya Joyce dan Shears mati tertembak serangan tentara Jepang, sementara Nicholson mati akibat lemparan mortar Warden, dan jatuh menimpa detonator, meledakkan jembatan dan kereta pun anjlok.

Salah satu anak buah Nicholson yang menyaksikan insiden ini, hanya bisa menyesali dan berkata "Madness! Madness!"

Komentar:

Salah satu film perang yang luar biasa, yang menceritakan aspek lain tentang perang. Film ini kuat di penggambaran karakternya. Pertama, Colonel Saito, yang sangat keras dan membanggakan semangat Bushido-nya. Dia terus kukuh dengan sikapnya, tapi ketika disadarinya situasi tidak berjalan baik baginya, dia harus mengalah. Jika jembatan gagal dibangun tepat waktu, maka hukuman mati baginya. Karena itulah, dengan mencari alasan atas perayaan kemenangan Jepang atas Rusia, dia memberi Nicholson kelonggaran.

Nicholson sendiri yang paling konsisten dari awal hingga akhir. Dan yang mengagumkan sekaligus sulit dipercaya adalah, sikapnya yang bersemangat untuk menyelesaikan pembangunan jembatan itu sebaik mungkin. Meskipun pada aslinya jembatan itu untuk musuh, Nicholson tidak melakukannya demi mereka, melainkan untuk tentara Inggris itu sendiri. Mau tak mau gw harus salut dengan karakter ini, meskipun di situasi nyata, orang seperti dia tidak benar-benar ada.

Sementara Shears pada dasarnya adalah orang yang hanya ingin terbebas dari semua masalah ini, meskipun dengan begitu dia mesti kembali ke tempat tahanan di Thailand itu. Warden orang yang efektif dan taat pada peraturan dan misinya. Sewaktu kakinya terluka, dia berkeras agar Shears melanjutkan operasi tanpa dia.

Momen itu jadi salah satu yg berkesan. Shears, menolak perintah Warden, dan berargumen.
"I'm not gonna leave you here to die, Warden... because I don't care about your bridge, and I don't care about your rules. If we go on, we go on together."

Momen lainnya adalah di akhir film. Mendapati Joyce mati tertembak, Nicholson berkata "What have I done?' Sedangkan setelah jembatan hancur dan Nicholson mati, Warden beralan "I had to do it." Sedangkan reaksi anak buah Nicholson yang menyaksikan, "Madness." mengacu pada keras kepalanya masing-masing pihak yang menyebabkan tragedi itu.

IMO sih, sayang banget itu jembatan udah bagus2 pake diledakin segala, mending kalo mau nyerang sih, nyerang langsung ke tentara Jepangnya aja.
my Rating: 9.

Sunday, February 05, 2012

Review Film: Signs (2002)


Director: M. Night Shyamalan
Cast:
Mel Gibson
Joaquin Phoenix
Rory Culkin
Abigail Breslin

Plot:

Suatu pagi, Graham Hess (Gibson), mendapati ladangnya diutak atik, dan menghasilnya crop circle berbentuk lingkaran-lingkaran aneh dalam ukuran besar. Tadinya dia mengira ini adalah ulah orang iseng, tapi setelah berkonsultasi dengan polisi, dia tidak yakin apa penyebabnya.


Graham adalah bekas pendeta, yang setelah kematian istrinya akibat kecelakaan mengerikan, kehilangan keyakinannya dan berhenti jadi pendeta. Dia tinggal bersama kedua anaknya, Morgan (Culkin)  dan Bo (Breslin), serta adiknya Merrill (Phoenix). Mereka mendapati bersamaan dengan munculnya crop circle, perilaku anjing mereka menjadi liar, dan di suatu malam, ada penyusup yang berada di sekitar rumah mereka, kemudian kabur tanpa sempat terlihat sosoknya.

Setelah melihat berita bahwa kemunculan crop circle ini juga terjadi di daerah, bahkan di belahan dunia lain, mereka pun ikut yakin bahwa hal ini adalah pertanda akan kemunculan mahluk asing (extraterrestrial). Hal ini makin diperkuat dengan sinyal aneh yang ditangkap radio mereka, dan video kemunculan mahluk ET di Brazil. Pertanda bahwa alien akan melakukan invasi.


Dalam suatu percakapan dengan Merrill, Graham mengaku bahwa ada dua jenis manusia berdasarkan cara mereka menyikapi kejadian. Yg pertama, jenis yang percaya akan adanya keajaiban, dan bahwa pertolongan akan datang. Yg kedua, yang percaya bahwa apapun yg terjadi, mereka harus menghadapinya sendirian. Graham, yang sudah kehilangan keyakinannya, masuk ke grup yang kedua.

Graham kemudian mendapat telepon singkat dari Ray, orang yang menabrak istrinya  dalam kecelakaan maut itu. Graham mendatangi rumah Ray, yang sedang bersiap-siap untuk pergi dengan mobilnya. Selain meminta maaf atas kematian istrinya, Ray juga mengatakan bahwa dia akan pergi ke danau karena percaya mahluk ET itu takut air, dan bahwa di rumahnya ada satu mahluk yang terperangkap di dapur.

Graham pun memeriksanya, dan kaget dengan sikap tiba-tiba mahluk asing itu yang seakan hendak menyerangnya, memotong 2 jari mahluk itu dengan pisau. Graham bergegas pulang, dan setelah berunding dengan yang lainnya, memutuskan untuk bertahan di rumah dari mahluk asing. Mereka membentengi rumah dengan menutup semua pintu dan jendela dan memalangnya dengan kayu.

Mahluk2 itu tetap berusaha masuk, lewat loteng. Graham dan yang lainnya pindah ke basement dan bertahan di sana. Morgan sempat mengalami serangan asma, dimana Graham, dengan sekuat tenaga berhasil meredakannya. Di pagi harinya, mereka mendengar berita bahwa para alien sudah meninggalkan bumi, kemungkinan karena para penduduk bumi sudah menemukan cara untuk membasmi mereka. Sayangnya, masih ada satu mahluk di rumah itu.


Dia menyandera Morgan, dan menyemprotkan gas beracun padanya. Saat itulah, Graham teringat pesan terakhir istrinya sebelum mati: menyuruhnya untuk melihat (See) dan menyuruh Merrill untuk mengayunkan (swing away). Dan dia menyadari bahwa segala sesuatu yang terjadi pada keluarganya, semua dipersiapkan untuk saat ini, untuk menghadapi mahluk asing itu.

Graham melihat stik baseball di dekat Merrill, dan mengulangi pesan istrinya ke Merrill. Merrill segera menggunakannya untuk memukuli mahluk itu, hingga kemudian menyebabkan gelas-gelas di sekitar rumah menumpahkan air, yang ternyata merupakan kelemahan mahluk asing itu, dan membunuhnya.

Selain pesan kematian istrinya, kelakuan Bo yang sering menaruh gelas berisi air di sekitar rumah, dan Morgan yang menderita asma, ternyata memiiki alasan tertentu. Morgan selamat dari gas beracun itu, karena tak terhirup oleh paru-paru akibat asma yang dideritanya. Graham pun menemukan keyakinannya lagi, dan kembali menjadi pendeta.

Komentar:

Salah satu film yang menjadi ciri khas Shyamalan. Misteri dan kemunculan mahluk selain manusia. Meskipun dalam hal ini, keberadaan mahluk asingnya sudah cukup jelas diberitahu di awal-awal. Adapun crop circle yang ditampilkan itu ide yang bagus, membuat penonton tertarik.

Tapi buat gw bukan aspek mahluk asingnya yang paling menarik, melainkan bagaimana Graham harus membawa keluarganya melalui masa-masa sulit, terutama setelah kematian istrinya, dan hilangnya keyakinannya. Tema keluarga menjadi bagian penting dari film ini. Graham yang sedang bimbang banyak terbantu oleh adiknya, Merrill dan Morgan yang cerdas.

Tema lainnya yang juga menarik dari Shyamalan adalah segala hal yang menjadi jelas di akhir, bahwa segala sesuatu ada tujuannya. Seperti twist yang juga dilakukannya di The Sixth Sense dan Unbreakable.

Kalau ada yang mengurangi kenikmatan gw menonton, mungkin karena udah terlebih dulu nonton Scary Movie ke-3 atau 4, yg ada parodi tentang film Signs ini. Dan seperti biasa, Shyamalan ikut mejeng di film ini, sebagai Ray si pengendara mobil yg nabrak istrinya Graham.

my Rating: 8.

Friday, February 03, 2012

Review Film: M (1931)



Director: Fritz Lang
Cast:
Peter Lorre
Otto Wernicke
Gustaf Gründgens

Plot:

Anak-anak kecil menghilang dan dibunuh. Kasus serial killer ini membuat seisi kota waswas. Akibatnya polisi meningkatkan pengawasannya. Setiap orang menjadi paranoid, dan serba mencurigai tiap kali ada orang yang mendekati anak-anak. Yang juga jadi korban dari situasi ini adalah kalangan mafia (pencuri dsb) yang operasi mereka terhambat karena polisi jadi makin sering patroli.


Menyikapi hal ini, pimpinan mafia setempat, Safecracker (Grundgens) mengadakan rapat dengan anak buahnya, untuk mencari cara untuk menemukan child murderer ini, supaya usaha mereka bisa kembali berjalan normal. Di lain tempat, kepolisian juga memikirkan hal ini, di bawah kendali Inspektur Lohmann (Wernicke).

Orang2 mafia kemudian memutuskan untuk menggunakan sindikat pengemis, untuk memata-matai seisi kota, karena keberadaan mereka yg tidak diperhatikan orang2. Cara ini terbukti berhasil. Seorang pengemis buta yg juga penjual balon, mengenali siulan khas si pembunuh (Lorre), yg juga dia dengar sewaktu korban terakhir menghilang. Segera dia memberitahu ini pada rekan2nya yg lain.

Ketika Beckert, si pembunuh, menyadari bahwa dia dibuntuti, dia panik, dan membatalkan rencananya untuk menculik seorang anak. Untuk menandai si pembunuh, seorang pengemis menuliskan huruf M di tangannya dengan kapur, kemudian secara sengaja menepuk pundak jaket Beckert dengan alasan dia buang kulit jeruk sembarangan. Alhasil, di pundak Beckert, terdapat tanda M yang membuatnya dikenali oleh sindikat mafia.


Mereka terus mengikuti Beckert, hingga dia bersembunyi di sebuah gedung yang dikunci. Para pengemis melapor ke Safecracker, dan mereka pun mendatangkan armada untuk mencari si pembunuh ke seluruh pelosok gedung. Di saat bersamaan, polisi pun sudah menemukan petunjuk yg sama ke arah Beckert sebagai pelakunya.

Orang2 mafia pun berhasil menemukan Beckert, dan membawanya pergi ke markas mereka. Tapi karena polisi segera datang ke lokasi karena petugas gedung yang mereka sekap menyalakan alarm, mereka buru2 pergi, dan lupa dengan salah satu rekan mereka yg masih tertinggal di sana, yang akhirnya tertangkap polisi.

Franz, anggota yang tertangkap itu, kemudian diinterogasi oleh Lohmann, yang berhasil membuatnya buka mulut tentang pencarian si pembunuh, dan apa yang kalangan mafia hendak lakukan padanya.

Mereka menggelar semacam pengadilan untuk pembunuh itu. Para mafia itu berpendapat bahwa orang seperti Beckert terlalu berbahaya, dan tak bisa dimaafkan karena telah membunuh anak2. Meski begitu, Beckert berdalih, dan memberikan semacam pernyataan yang dramatis, bahwa dia tak bisa mencegah dirinya. Keinginan membunuh dalam dirinya merupakan penyakit yang tak bisa disembuhkannya. Seorang pengacara yg membelanya pun membenarkan, bahwa dia mesti dirawat di institusi kejiwaan.


Kalangan mafia, dan juga para orangtua yg menjadi korban, yg jadi bagian dari pengadilan itu, tak setuju. Mereka tetap berkeras untuk mengeksekusi si pembunuh. Tapi sebelum hal itu terjadi, polisi keburu datang. Gagallah rencana mereka. Film ini berakhir ambigu, dengan pengadilan yang sebenarnya, hendak membacakan vonis untuk Beckert, belum diketahui apakah dia akan dihukum ato dirawat kejiwaan. Di akhir film, ada peringatan dari seorang ibu korban, yang mengingatkan penonton bahwa apapun vonisnya, para korban tidak akan kembali, dan orangtua mesti memperhatikan anaknya baik-baik.

Komentar:

Wow. Meskipun sedikit kecewa karena di awal genre serial killernya berubah jadi chasing si pembunuh ini, tetep seru. Dan kita jadi dibikin jadi dukung para mafia dan pengemis untuk menangkap si pembunuh. Polisi? Beh. Nyatanya orang2 mafialah yang berhasil menemukan si pembunuh lebih dulu.

Sementara kesan pembunuh yang di awal begitu menyeramkan dan misterius, yg ditandai hanya dengan bayangannya, dan siulan khas itu, begitu dia tertangkap, hilang sudah kesan mengerikan itu. Beckert terlihat pathetic, menyedihkan setelah dia tertangkap. Tapi memang dia sendiri yang bilang, kalo itu memang penyakit yang dideritanya.

Kemudian di akhir film, penonton akan terbagi menjadi dua kubu, yaitu yang setuju kalau Beckert dihukum mati, ato dirawat dengan alasan tidak waras. Jujur, gw lebih pilih ke kubu hukuman mati. Gila atau tidak, dia sudah membunuh beberapa orang, anak kecil malah. Dan terlampau berbahaya. Seperti yang dikatakan orang2 mafia, siapa yg bisa menjamin kalau dia dirawat dia ga akan kabur dan mengulangi perbuatannya?

my Rating: 9.

Tuesday, January 31, 2012

Review Film: The Lives of Others (2006)



Director: Florian Henckel von Donnersmarck
Cast:
Ulrich Mühe
Sebastian Koch
Martina Gedeck
Ulrich Tukur

Plot:

Captain Wiesler (Muhe) adalah interogator ulung dari Stasi (polisi rahasia GDR, Jerman Timur). Atasannya, Grubitz (Tukur) yg juga rekan kuliahnya dulu, memberinya tugas untuk memata-matai (nguping) Dreyman (Koch), seorang sutradara/penulis yang cukup kritis. Perintah ini berasal dari Pak Mentri yang kepincut sama pacarnya Dreyman, seorang aktris teater terkenal Christa-Maria Sieland (Gedeck). Supaya bisa dapetin Sieland, pak mentri yg bejat ini menyalahgunakan kekuasaannya dengan maksud menyingkirkan Dreyman.

Mulailah kediaman Dreyman dan Sieland disadap. Sepertinya tidak ada hal lain yang terjadi di sana kecuali Dreyman dan Sieland yg saling cinta. Kemudian salah satu teman Dreyman, yang tertekan karena perlakuan tak adil pemerintah Jerman Timur, bunuh diri. Hal ini membuat Dreyman terguncang. Dia memainkan 'Sonata for a Good Man', partitur yang menjadi kado ulangtahun dari temannya yg bunuh diri itu padanya. Wiesler yang ikut mendengarkan pun tersentuh.

Wiesler yang tadinya tak berperasaan ini menjadi bersimpati dengan pasangan itu. Secara kebetulan dia bertemu dengan Sieland di sebuah bar, dan dengan tulus memuji talentanya, dan memintanya untuk menjadi dirinya sendiri, dan dengan demikian mencegah Sieland untuk pergi menemui pak mentri yang memaksanya dalam hubungan intim.


Dreyman berniat untuk membuat artikel yang membahas tentang mengapa bunuh diri di Jerman Timur tidak pernah terdata, sementara semua data lainnya lengkap ada. Wiesler yang mengetahui hal ini berniat melaporkannya ke Grubitz, tapi urung melakukannya setelah mengetahui perlakuan buruk apa yg akan diterima Dreyman jika ia ditangkap.

Dreyman dan beberapa rekannya merencanakan untuk mempublish artikel tentang bunuh diri itu, mengira rumah Dreyman bebas dari pengawasan. Sebelumnya mereka mengetes apakah rumah itu disadap dengan pura2 membicarakan tentang menyelundupkan orang ke Jerman Barat. Wiesler yang sudah bersimpati, tanpa mengetahui bahwa rencana itu bohongan, membiarkannya, dan berakibat mereka mengira bahwa mereka aman.

Dengan mesin tik baru (supaya tidak bisa dikenali) Dreyman menyelesaikan artikelnya dan berhasil terbit di Der Spiegel, majalah Jerman Barat. Grubitz yg mendapat perintah dari atasannya pun didesak untuk mencari siapa penulisnya. Kebetulan, pak mentri yang mulai kesal karena Sieland menolak perintahnya, menyuruhnya menangkap aktris itu. Setelah diinterogasi secara maraton, dia memberitahu kalau Dreyman-lah yang menulis artikel.

Grubitz dan anak buahnya merazia rumah Dreyman, tapi gagal menemukan mesin tik yg menjadi barang bukti, karena Sieland memang tidak menceritakan hal itu. Grubitz memanggil Wiesler untuk menginterogasi Sieland, yg mengenalinya sebagai orang yg ditemuinya di bar tempo hari. Dengan persuasif, Wiesler berhasil membuat Sieland memberitahu letak mesin tik itu disembunyikan.

Wiesler yg masih bersimpati dengan pasangan itu, bergegas ke rumah Dreyman mendahului Grubitz dan yg lain, untuk mengamankan mesin tik itu. Ketika Stasi memeriksa rumah itu tepat di lokasi yg dimaksud, tentu saja mereka tak menemukannya. Rencana Wiesler untuk melindungi mereka hampir berhasil. Sayangnya, Sieland yg merasa bersalah keluar ke jalan dan tertabrak sebuah truk, dan mati. Grubitz pun membatalkan penyelidikan atas Dreyman, tapi mengingatkan Wiesler kalau dia tahu bahwa Wiesler melindungi mereka.


Weisler dimutasikan ke bagian yang rendah, menyortir surat, hingga 20 tahun ke depan. Untungnya, baru 4 tahun, masa Perang Dingin berakhir, dan Tembok Berlin dirobohkan. Tidak ada lagi Jerman Timur yg terpisah. Mereka bebas.

Beberapa tahun setelahnya, Dreyman yg bertemu dengan pak mentri bejat itu akhirnya tahu kalau selama ini sebenarnya rumahnya dalam pengawasan, bahkan bug2 itu masih terpasang di rumahnya. Karenanya dia heran kenapa dia tidak tertangkap oleh Stasi. Setelah mencari informasi tentang hasil penyadapan atas dirinya, barulah dia tahu kalau petugas yang menyadapnya memalsukan laporan untuk melindunginya. Merasa berutang budi, dia pun berusaha mencari Wiesler, dan melihatnya dari pinggir jalan sebagai pengantar surat.

Dreyman tidak menyapanya. Tapi 2 tahun kemudian, dia membuat buku berjudul 'Sonata for a Good Man', sama dengan judul lagu yang menginspirasinya. Wiesler yang melewati toko buku melihatnya, dan membaca isinya, dan mengetahui kalau buku itu didedikasikan untuknya, agen HGW XX/7. Dia pun membelinya, dan ketika kasir menanyakan apakah dia ingin bukunya dibungkus ato tidak, dia menjawab "No, it's for me" dan tersenyum.

Komentar:

Film yang Luar Biasa! Transformasi Wiesler yang di awal begitu dingin, menjadi orang yang bersimpati dan tersenyum bahagia di akhir film benar-benar dalem. Meskipun dalam kenyataannya, film ini fiksi belaka, tidak ada agen Stasi yang memiliki kesempatan untuk memalsukan laporannya, thus perubahan sifat ini tidak ada di situasi nyata.

Directornya mungkin berharap bahwa bahkan dalam situasi yang buruk sekalipun, rasa kemanusiaan dalam diri seseorang mungkin tumbuh, dan itulah yg terjadi pada Wiesler. Selain itu, suasana dalam filmnya terkadang menegangkan dan juga mengharukan, seperti sewaktu Wiesler mendengarkan sonata itu dimainkan.

Sonata yang berperan cukup besar dalam perubahan sikapnya. Sonata for a Good Man, dikatakan mampiu membuat siapapun yang mendengarnya menjadi tersentuh hatinya. Bahkan Lenin disebutkan ga kuat dengerin sonata itu lama2 karena takut jadi orang baik. Dan sonata itu jadi judul buku yg ditulis Dreyman, karya pertamanya setelah Jerman Bersatu. Dreyman sempat mengalami kesulitan menulis setelah kematian Sieland.

Dan scene terakhir film ini benar2 juara. Waktu Wiesler membuka buku itu, dan membaca tulisan 'Dedicated to HGW XX/7, in gratitude', terbayang betapa bahagianya Wiesler menyadari bahwa keberadaannya berarti bagi orang lain. Dan sewaktu dia mengatakan "No, it's for me" literally memang karena buku itu ditulis untuknya, sebagai ucapan terimakasih Dreyman karena sudah melindunginya.

my Rating: 9.5

Review Film: There Be Dragons (2011)


Sutradara: Roland Joffe
Cast:

Charlie Cox
Wes Bentley
Dougray Scott
Olga Kurylenko


Plot:
Seorang jurnalis (Scott) yg ditugaskan untuk membuat artikel tentang Josemaria Escriva, calon peraih gelar saint dari Vatikan, mengetahui bahwa Escriva ternyata adalah teman ayahnya. Robert, si jurnalis, kemudian mengunjungi ayahnya lagi setelah 8 tahun untuk mencari tahu lebih banyak.

Ayah Robert, yaitu Manolo Torres, ternyata memang teman Josemaria sejak kecil. Mereka memiliki pandangan yang berkebalikan. Itu sebabnya mereka mengambil jalan hidup yang berbeda ketika dewasa. Manolo (Bentley) yang tidak puas karena ayahnya mati karena desakan kaum buruh, bergabung dengan kaum militer dan menyusup ke kalangan pemberontak, untuk membocorkan rencana mereka ke militer. Sementara Josemaria (Cox), yang mendapat pencerahan, menjadi pendeta.

Josemaria tumbuh menjadi pendeta yang berdedikasi tinggi. Dia mendapat inspirasi lagi untuk menerapkan cinta pada Tuhan dalam kehidupan sehari-hari, dan bukan hanya di gereja. Josemaria kemudian perlahan membangun gerakan yang sekarang dikenal dengan Opus Dei. (Jauh dari kesan ekstrim yang digambarkan di The Da Vinci Code)





Perjuangan Josemaria sungguh berat karena Spanyol waktu itu sedang mengalami Perang Sipil, dimana ada berbagai kubu yang bertikai, dan pendeta seperti dirinya diburu oleh para pemberontak. Dia mesti mengadakan kebaktian atau konsultasi dengan jamaahnya secara diam-diam, dan berkali-kali berpindah tempat karena hampir ketahuan. 



Sementara Manolo yg menyusup ke pihak pemberontak, jatuh cinta pada aktivis dari Hungaria, Ildiko (Kurylenko), yg lebih memilih komandan mereka. Cemburu karena cintanya ditolak, selain memberitahukan rencana pemberontak ke militer, Manolo juga melimpahkan kesalahan ke Ildiko dengan memasang radio sebagai barang bukti pengkhianatan. 



Komandan yg tak tega menghabisi Ildiko akhirnya malah bunuh diri, sementara Ildiko, yang tengah hamil (anak komandan), kehilangan keinginan untuk hidup dan ingin menyusul komandan untuk mati juga. Setelah anaknya lahir, pada suatu peperangan dalam keadaan terjepit, Manolo menembak Ildiko, memberinya hal yang diinginkannya, kematian.

Manolo yang saat ini tengah menunggu ajal kemudian memberitahu Robert kalau dialah anak Ildiko. Meskipun awalnya kesal, Robert pun berdamai dengan Manolo. Manolo juga gembira karena bisa berdamai dengan Josemaria, sahabatnya.

Josemaria selamat dari upaya pembunuhan oleh kaum pemberontak karena Manolo mencegahnya. Dia pun berhasil mendirikan Opus Dei, dan kemudian setelah kematiannya, diberi gelar Saint (orang suci) oleh Vatikan.

Komentar:

Yang tadinya gw pikir ini film perang (karena posternya), ternyata lebih dari sekedar itu. Ini sebuah epic yang rentang waktunya mulai dari masa kecil Josemaria dan Manolo, lalu sewaktu mereka dewasa dan menjalani pilihan hidup yang berbeda, hingga bertahun2 kemudian sewaktu Manolo di ambang kematiannya.

Ceritanya cukup dalam, dan banyak aspek yang ada di film ini, mulai dari agama, perang, pengkhianatan, penebusan dosa (redemption), hubungan ayah-anak, dsb. Ditambah lagi dengan cerita yang dibagi jadi 3 point of view, dari Manolo, Josemaria, dan Robert di masa kini. Yang kurang mungkin aksen bahasa Inggris patah2 yang diucapkan para pemerannya. Tapi overall ini film yang bagus.

my Rating: 7.5