Featured Post

[Review] Game of Thrones (season 6)

Setelah setahun, GoT kembali di season 6. Sebenarnya gw juga ga begitu nunggu2 sih, karena lagi asik ngikutin serial yg lain (The Flash...

Tuesday, January 31, 2012

Review Film: The Lives of Others (2006)



Director: Florian Henckel von Donnersmarck
Cast:
Ulrich Mühe
Sebastian Koch
Martina Gedeck
Ulrich Tukur

Plot:

Captain Wiesler (Muhe) adalah interogator ulung dari Stasi (polisi rahasia GDR, Jerman Timur). Atasannya, Grubitz (Tukur) yg juga rekan kuliahnya dulu, memberinya tugas untuk memata-matai (nguping) Dreyman (Koch), seorang sutradara/penulis yang cukup kritis. Perintah ini berasal dari Pak Mentri yang kepincut sama pacarnya Dreyman, seorang aktris teater terkenal Christa-Maria Sieland (Gedeck). Supaya bisa dapetin Sieland, pak mentri yg bejat ini menyalahgunakan kekuasaannya dengan maksud menyingkirkan Dreyman.

Mulailah kediaman Dreyman dan Sieland disadap. Sepertinya tidak ada hal lain yang terjadi di sana kecuali Dreyman dan Sieland yg saling cinta. Kemudian salah satu teman Dreyman, yang tertekan karena perlakuan tak adil pemerintah Jerman Timur, bunuh diri. Hal ini membuat Dreyman terguncang. Dia memainkan 'Sonata for a Good Man', partitur yang menjadi kado ulangtahun dari temannya yg bunuh diri itu padanya. Wiesler yang ikut mendengarkan pun tersentuh.

Wiesler yang tadinya tak berperasaan ini menjadi bersimpati dengan pasangan itu. Secara kebetulan dia bertemu dengan Sieland di sebuah bar, dan dengan tulus memuji talentanya, dan memintanya untuk menjadi dirinya sendiri, dan dengan demikian mencegah Sieland untuk pergi menemui pak mentri yang memaksanya dalam hubungan intim.


Dreyman berniat untuk membuat artikel yang membahas tentang mengapa bunuh diri di Jerman Timur tidak pernah terdata, sementara semua data lainnya lengkap ada. Wiesler yang mengetahui hal ini berniat melaporkannya ke Grubitz, tapi urung melakukannya setelah mengetahui perlakuan buruk apa yg akan diterima Dreyman jika ia ditangkap.

Dreyman dan beberapa rekannya merencanakan untuk mempublish artikel tentang bunuh diri itu, mengira rumah Dreyman bebas dari pengawasan. Sebelumnya mereka mengetes apakah rumah itu disadap dengan pura2 membicarakan tentang menyelundupkan orang ke Jerman Barat. Wiesler yang sudah bersimpati, tanpa mengetahui bahwa rencana itu bohongan, membiarkannya, dan berakibat mereka mengira bahwa mereka aman.

Dengan mesin tik baru (supaya tidak bisa dikenali) Dreyman menyelesaikan artikelnya dan berhasil terbit di Der Spiegel, majalah Jerman Barat. Grubitz yg mendapat perintah dari atasannya pun didesak untuk mencari siapa penulisnya. Kebetulan, pak mentri yang mulai kesal karena Sieland menolak perintahnya, menyuruhnya menangkap aktris itu. Setelah diinterogasi secara maraton, dia memberitahu kalau Dreyman-lah yang menulis artikel.

Grubitz dan anak buahnya merazia rumah Dreyman, tapi gagal menemukan mesin tik yg menjadi barang bukti, karena Sieland memang tidak menceritakan hal itu. Grubitz memanggil Wiesler untuk menginterogasi Sieland, yg mengenalinya sebagai orang yg ditemuinya di bar tempo hari. Dengan persuasif, Wiesler berhasil membuat Sieland memberitahu letak mesin tik itu disembunyikan.

Wiesler yg masih bersimpati dengan pasangan itu, bergegas ke rumah Dreyman mendahului Grubitz dan yg lain, untuk mengamankan mesin tik itu. Ketika Stasi memeriksa rumah itu tepat di lokasi yg dimaksud, tentu saja mereka tak menemukannya. Rencana Wiesler untuk melindungi mereka hampir berhasil. Sayangnya, Sieland yg merasa bersalah keluar ke jalan dan tertabrak sebuah truk, dan mati. Grubitz pun membatalkan penyelidikan atas Dreyman, tapi mengingatkan Wiesler kalau dia tahu bahwa Wiesler melindungi mereka.


Weisler dimutasikan ke bagian yang rendah, menyortir surat, hingga 20 tahun ke depan. Untungnya, baru 4 tahun, masa Perang Dingin berakhir, dan Tembok Berlin dirobohkan. Tidak ada lagi Jerman Timur yg terpisah. Mereka bebas.

Beberapa tahun setelahnya, Dreyman yg bertemu dengan pak mentri bejat itu akhirnya tahu kalau selama ini sebenarnya rumahnya dalam pengawasan, bahkan bug2 itu masih terpasang di rumahnya. Karenanya dia heran kenapa dia tidak tertangkap oleh Stasi. Setelah mencari informasi tentang hasil penyadapan atas dirinya, barulah dia tahu kalau petugas yang menyadapnya memalsukan laporan untuk melindunginya. Merasa berutang budi, dia pun berusaha mencari Wiesler, dan melihatnya dari pinggir jalan sebagai pengantar surat.

Dreyman tidak menyapanya. Tapi 2 tahun kemudian, dia membuat buku berjudul 'Sonata for a Good Man', sama dengan judul lagu yang menginspirasinya. Wiesler yang melewati toko buku melihatnya, dan membaca isinya, dan mengetahui kalau buku itu didedikasikan untuknya, agen HGW XX/7. Dia pun membelinya, dan ketika kasir menanyakan apakah dia ingin bukunya dibungkus ato tidak, dia menjawab "No, it's for me" dan tersenyum.

Komentar:

Film yang Luar Biasa! Transformasi Wiesler yang di awal begitu dingin, menjadi orang yang bersimpati dan tersenyum bahagia di akhir film benar-benar dalem. Meskipun dalam kenyataannya, film ini fiksi belaka, tidak ada agen Stasi yang memiliki kesempatan untuk memalsukan laporannya, thus perubahan sifat ini tidak ada di situasi nyata.

Directornya mungkin berharap bahwa bahkan dalam situasi yang buruk sekalipun, rasa kemanusiaan dalam diri seseorang mungkin tumbuh, dan itulah yg terjadi pada Wiesler. Selain itu, suasana dalam filmnya terkadang menegangkan dan juga mengharukan, seperti sewaktu Wiesler mendengarkan sonata itu dimainkan.

Sonata yang berperan cukup besar dalam perubahan sikapnya. Sonata for a Good Man, dikatakan mampiu membuat siapapun yang mendengarnya menjadi tersentuh hatinya. Bahkan Lenin disebutkan ga kuat dengerin sonata itu lama2 karena takut jadi orang baik. Dan sonata itu jadi judul buku yg ditulis Dreyman, karya pertamanya setelah Jerman Bersatu. Dreyman sempat mengalami kesulitan menulis setelah kematian Sieland.

Dan scene terakhir film ini benar2 juara. Waktu Wiesler membuka buku itu, dan membaca tulisan 'Dedicated to HGW XX/7, in gratitude', terbayang betapa bahagianya Wiesler menyadari bahwa keberadaannya berarti bagi orang lain. Dan sewaktu dia mengatakan "No, it's for me" literally memang karena buku itu ditulis untuknya, sebagai ucapan terimakasih Dreyman karena sudah melindunginya.

my Rating: 9.5

No comments:

Post a Comment