Featured Post

[Review] Game of Thrones (season 6)

Setelah setahun, GoT kembali di season 6. Sebenarnya gw juga ga begitu nunggu2 sih, karena lagi asik ngikutin serial yg lain (The Flash...

Thursday, January 19, 2012

Aku Benci Kamu Hari Ini

Sore hari, di lapangan sekolah, di saat murid-murid yang lainnya sudah pulang, sekelompok anak masih asyik bermain sepakbola. Terlalu bersemangat, seseorang menendang bola dengan keras sekali, sehingga bola tidak mengarah ke gawang, dan terus melesat keluar lapangan, mengenai seorang murid perempuan.

“Ah!” Astrid, murid perempuan itu, menjerit kesakitan. Buku yang sedang dibacanya terjatuh dari pangkuannya.

Diego, anak yang tadi menendang bola, menghampiri Astrid yang merupakan teman sekelasnya, dan berkata dengan datar.

“Ini salahmu sendiri, siapa suruh membaca buku di tempat seperti ini. Kamu kan lihat sendiri anak-anak sedang bermain.”

Muka Astrid memerah karena marah. Air matanya hampir meledak. Dia berdiri, mengambil bola yang mengenainya, dan melemparkannya sekuat tenaga ke arah Diego, yang sama sekali tidak mengelak ketika bola mengenai badannya.

“Aku benci kamu!” teriak Astrid, yang kemudian memungut bukunya dan berlari meninggalkan Diego.

Diego yang sama sekali tidak merasa sakit ketika bola itu mengenai badannya, mengambil kembali bola itu dan bergegas kembali ke lapangan.

“Dasar cewek.”

~

Setelah sampai di rumah dan mandi, Diego berbaring di kamarnya, menatap langit-langit. Terbayang olehnya wajah Astrid yang marah tadi sore, dan berteriak padanya.

“Aku benci kamu!”

Astrid duduk persis di depannya di kelas. Meski begitu mereka hampir tidak pernah mengobrol. Lalu kenapa, wajahnya tak mau hilang dari benaknya? Ekspresinya yang marah itu terus membekas di kepalanya.

~

Tiga jam kemudian, Diego masih berbaring di sana, masih memikirkan wajah Astrid yang marah padanya.

“Diego, makan malam dulu!” panggil ibunya dari luar.

Diego tertegun, baru menyadari kalau hari sudah cukup larut. Dia pun keluar, menuju meja makan, dimana ibunya menunggunya. Diego duduk, dan hanya memandangi makanan di depannya yang tak disentuhnya sama sekali.

“Kamu kenapa, nak?” tanya ibunya.

“Ibu, tadi sore ada anak perempuan yang marah padaku karena bola yang kutendang mengenainya. Padahal itu salahnya sendiri karena membaca di dekat lapangan tanpa memperhatikan sekitarnya.”

 “Sudahkah kamu minta maaf ke dia?” tanya ibunya.

“Tidak. Dia yang salah.”

Ibunya menghela napas.

“Diego, tak peduli dia salah atau tidak, kamu mestinya-“

“Dan aku tak bisa berhenti memikirkannya.”

Oh, pikir ibunya. Kelihatannya anakku sedang jatuh cinta.

“Apa yang harus kulakukan, bu?”

“Kamu harus minta maaf ke dia sesegera mungkin. Besok.”

Diego mengangguk.

~

Jam setengah enam pagi. Astrid baru saja terbangun ketika ayahnya memanggilnya.

“Astrid!”

Dengan malas-malasan Astrid keluar menghampiri ayahnya. “Kenapa, Pa?”

“Ada anak cowok di luar nungguin kamu. Kamu kenal dia gak?”

Astrid mengintip dari jendela dan terkesiap. Diego! Kenapa dia ada di sini, pagi-pagi sekali pula. Astrid pun keluar menghampiri Diego yang berdiri di depan pagar rumahnya.

“Diego, ada apa?”

Diego memandangnya dengan serius.

“Astrid, aku minta maaf atas kejadian kemarin.”

“Oh, baiklah. Tapi kamu kan bisa minta maaf nanti di kelas.”

“Aku tak bisa berhenti memikirkannya semalaman. Karena itu aku datang sepagi mungkin. Apa kamu memaafkanku?”

“Tentu saja.”

“Terimakasih, Astrid. Permisi.”

“Hei, mau kemana?”

“Berangkat ke sekolah.”

“Kenapa tidak tunggu sebentar, biar kita bisa berangkat bersama?”

“Baiklah.”

~

Sejam kemudian, mereka pun berjalan bersama menuju sekolah.

“Hei, Diego?”

“Ya?”

“Kamu tidak sejahat yang kukira.” ucap Astrid sambil tersenyum.

-END-


=================
author's note: sengaja bikinnya dipercepat, biar bencinya ga lama-lama :)

2 comments:

findingnem0 said...

:)

minky_monster said...

:)
Kamu seperti Astrid, dan aku Diego-nya,
karena tiap kali kamu marah, aku ga bisa tidur karena kepikiran terus :p

Post a Comment