Featured Post

[Review] Game of Thrones (season 6)

Setelah setahun, GoT kembali di season 6. Sebenarnya gw juga ga begitu nunggu2 sih, karena lagi asik ngikutin serial yg lain (The Flash...

Wednesday, January 04, 2012

Surat yang Tertinggal di Kota Mati

Namaku Gemma, 17 tahun. Saat surat ini ditemukan, kemungkinan besar aku dan seluruh penduduk yang lain sudah mati, tidak ada lagi yang tersisa. Meski begitu, kurasa tak ada salahnya kalau aku menceritakan apa saja yang kuketahui tentang hal-hal yang terjadi beberapa hari terakhir ini.

Sepertinya semua ini bermula dari hari Selasa sore tanggal 24, enam hari yang lalu. Waktu itu aku sedang berjalan pulang dari sekolah. Sewaktu melewati stasiun, aku bertemu dengan laki-laki itu. Tidak ada yang mencurigakan darinya. Dia masih muda, mungkin sekitar 20-an, dan wajahnya ramah. Dia menanyakan letak restoran Tamago, yang dia dengar merupakan salah satu restoran terbaik di kota ini. Aku membenarkan, dan kebetulan aku juga sering makan di sana. Kuberitahu dia arah ke restoran itu, tapi kelihatannya dia tidak terlalu mengerti, jadi dia memintaku untuk menggambar semacam peta menuju restoran itu. Mudah saja. Setelah itu, dia berterimakasih padaku dan pergi mengikuti petunjuk di peta. Aku pun melanjutkan perjalanan ke rumah.

Setelah makan malam, entah kenapa badanku terasa pegal dan kepalaku mulai pusing. Aku pun segera tidur untuk beristirahat. Dan betullah, ketika terbangun, aku terkena pilek. Untungnya pusing di kepalaku sudah hilang, sehingga aku tetap bisa masuk sekolah. Efek pilek ini tidak terlalu berat, hanya hidung meler dan bersin-bersin saja. 

Jadi aku masuk sekolah seperti biasa, dengan memakai masker, hal yang biasa kulakukan kalau terkena flu. Semuanya berjalan biasa-biasa saja. Kecuali mesti membuang ingus dari hidungku, semuanya normal. Sampai kemudian di sore harinya, baru kusadari kalau teman-teman sekelasku mulai menunjukkan gejala-gejala pilek. Sepertinya mereka ketularan pilek dariku. Tapi waktu itu kami hanya menanggapinya sambil bercanda. Yah, apa boleh buat kan?

Sesampainya di rumah, tak kusangka, ayah, ibu, dan adikku juga terkena pilek. Sepertinya aku sudah menularkan pilek ini ke banyak orang. Aku mulai sedikit waswas. Karena tidak biasanya banyak orang yang tertular ketika aku pilek.

Keesokan paginya, situasi semakin aneh. Semakin banyak orang yang tertular pilek. Di jalan-jalan dan tempat-tempat yang kulalui, semua orang mengenakan masker dan menunjukkan tanda-tanda pilek. Di sekolah pun, hampir semua orang terkena pilek. Aku menyimpulkan bahwa sepertinya kota kami terkena virus flu baru, dan aku menjadi salah satu penyebarnya.

Merasa bersalah, aku mencoba mengingat-ingat apa kiranya yang menjadi penyebab flu itu. Mundur ke hari dimana aku masih baik-baik saja, kuingat-ingat lagi makanan apa saja yang kusentuh. Sedang memikirkan hal itu sambil berjalan pulang, aku melihat orang itu lagi. Orang yang menanyakan jalan padaku hari Selasa lalu. Rupanya dia masih ada di sini, dan kelihatannya tidak ikut terkena pilek. Aku berusaha menyusulnya, tapi setelah melewati sebuah tikungan, aku tak bisa menemukannya.

Hanya dalam tiga hari, kelihatannya semua orang di kota ini sudah terkena penyakit pilek misterius itu. Kudengar dari ayah, sudah banyak orang yang tidak berangkat kerja dan beristirahat di rumah. Ayah dan ibuku yang kondisinya semakin berat pun memutuskan untuk melakukan hal yang sama. Kondisikulah yang paling lumayan jika dibandingkan dengan keluargaku. Aneh juga, padahal aku yang pertama kali terkena pilek.

Besoknya sekolah diliburkan karena hampir semua murid dan guru terkena pilek. Bukan, bukan hampir semua, tapi semuanya terkena. Aku yakin itulah yang sebenarnya terjadi. Suasana kota menjadi sepi, tidak ada kantor atau restoran atau tempat umum yang beroperasi karena semua orang beristirahat di rumah. Aku yang keadaannya tidak terlalu parah memutuskan untuk tinggal di rumah saja untuk mengurus keluargaku.

Keesokan paginya, di hari kelima sejak aku terkena pilek, keadaan makin mengkhawatirkan. Ayah, ibu dan adikku terkena demam tinggi. Pilek yang kuderita juga semakin berat. Badanku terasa berat dan kepalaku kembali pusing, tapi aku tetap pergi keluar untuk minta bantuan. Alangkah terkejutnya aku ketika aku mendatangi rumah tetanggaku dan mengetahui kalau anak mereka sudah meninggal setelah terkena demam tinggi semalaman. Mereka pun dalam kondisi yang sangat parah. Aku semakin panik.

Aku mendatangi apotik, tapi tempat itu tutup. Kudatangi dokter terdekat untuk meminta resep atau obat yang bisa digunakan untuk meredakan demam ini, tapi dia pun dalam keadaan tak berdaya. Dia sudah mencoba menggunakan obat penurun demam yang diketahuinya, tapi demamnya tak kunjung turun. Dalam keadaan panik dan kehabisan akal, aku berjalan tanpa arah, dan kembali aku bertemu dengan orang itu.

Melihatnya dalam kondisi yang sehat-sehat saja, aku menghampirinya dengan harapan bahwa dia bisa membantu. Dia masih ramah seperti waktu pertama kali aku bertemu dengannya beberapa hari yang lalu. Ketika aku meminta bantuannya, dia bilang dia tidak bisa membantu. Aku pun bertanya kenapa dia tidak tertular pilek seperti yang lainnya. Dan inilah yang dia katakan.


“Mungkin karena akulah yang memberikan penyakit itu padamu.”

Bagai disambar petir, aku terkejut mendengar jawabannya. Kutanya bagaimana caranya dia memberiku penyakit itu. Dia mengingatkan bahwa waktu itu dia menyentuh tanganku sewaktu aku memberinya peta buatanku. Dia juga memberitahu bahwa efek penyakitnya padaku tidak secepat yang lain karena aku terkena langsung darinya. Siapa Anda ini, tanyaku, tapi dia tidak menjawab, dan malah mengucapkan selamat tinggal. Tugasnya di sini sudah selesai, katanya. Aku ingin bertanya lagi, tapi kepalaku terasa berat dan aku pun pingsan.

Aku terbangun beberapa jam kemudian, dan dia sudah tidak ada. Hanya aku sendiri yang masih berkeliaran di luar, dan sekarang aku pun terkena demam tinggi. Aku bergegas pulang untuk memeriksa kondisi keluargaku. Di setiap tempat yang kulewati selama perjalanan, tidak kudengar suara orang sama sekali. Sepertinya tidak ada tanda-tanda kehidupan lagi di kota ini. Setibanya di rumah, aku bergegas menuju kamar orangtuaku. Kudapati mereka sudah tak bernyawa, tak ada denyut jantungnya lagi. Kuperiksa adikku dan mendapati hal yang sama. Aku pun panik, ingin menangis karena tak ada yang bisa dilakukan. Kelelahan, aku pun tertidur lagi.

Ketika terbangun di malam hari, kudapati demamku semakin tinggi. Aku pun menerima kenyataan bahwa keluargaku sudah turut menjadi korban wabah pilek misterius ini, begitu pula dengan para penduduk lain. Dalam keadaanku yang semakin parah ini, aku menyadari bahwa hanya tinggal masalah waktu saja sebelum aku menyusul mereka. Dengan sisa tenaga yang ada, aku meneguhkan hati untuk menulis surat ini.

Siapapun yang menemukan dan membaca surat ini, tolong beritahu pihak yang berwajib dan yang lainnya. Ceritakan apa yang terjadi. Nasib kami sudah tak tertolong, tapi aku berharap kejadian ini tidak terjadi di tempat lain.

Orang yang kuceritakan itu, tinggi dan perawakannya sedang, kulitnya agak putih, rambutnya lurus sedang. Wajahnya bersih, tanpa kumis, cambang atau janggut. Dia tidak memakai kacamata, anting, jam tangan maupun aksesoris lainnya. Terakhir kali aku melihatnya, dia memakai pakaian serba hitam. Dia terlihat normal seperti orang kebanyakan. Oh, aku ingat, selama dia ada di kota ini, hujan tidak pernah turun. Padahal hari-hari sebelumnya, hampir tiap hari hujan. Aku yakin dialah yang bertanggung jawab atas menyebarnya wabah misterius itu di kota kami.

Tolong beritahu yang lain agar mereka mewaspadai kemunculan orang ini, karena aku yakin dia akan mencari tempat lain.

Ayah, ibu, maafkan aku.

~

Surat itu ditemukan beberapa minggu kemudian. Para petugas dari badan penanggulangan bencana datang untuk memeriksa kota itu setelah semua hubungan ke dunia luar terputus. Mereka menemukan surat itu di meja di kamar Gemma, yang tertidur dengan damai untuk selama-lamanya.



Ribuan kilometer dari sana, di sebuah pedesaan di negara yang berbeda, seorang laki-laki tiba di sana. Dia menghampiri anak kecil yang sedang berlarian di jalanan, dan memegang tangannya.

“Halo adik, kamu tahu dimana tempat makan yang enak di sekitar sini?”
-END-
harap dikomentari ya, biar bisa jadi masukan :)

4 comments:

findingnem0 said...

Plot nya keren :) *merasa terintimidasi karena beneran blank. Ihiks*

minky_monster said...

kalo tentang tata bahasanya, kira-kira udah cukup belom? Atau ada yg mesti diperbaiki ato bisa ditambah barangkali?

Tenang, kalo blank sampe sabtu, nanti aku bantuin biar dapet ide :)

Anonymous said...

Ceritanya bagus,,sepertinya pria misterius adalah orang yang ditugaskan untuk mengurangi populasi penduduk

minky_monster said...

iya, memang! pertanyaannya kemudian adalah: siapa yg memberi tugas.

Post a Comment