Featured Post

[Review] Game of Thrones (season 6)

Setelah setahun, GoT kembali di season 6. Sebenarnya gw juga ga begitu nunggu2 sih, karena lagi asik ngikutin serial yg lain (The Flash...

Saturday, October 03, 2009

review 3 Doa 3 Cinta (2009)

Film ini pertama kali kedengaran (oleh gw) waktu FFI (Festival Film Indonesia) taun lalu. Waktu itu gw sama sekali baru denger judulnya, dan perasaan blom pernah diputer, tapi heran kok dapet nominasi di hampir semua kategori. Makanya gw mikir, ni apa-apain sih, kok film kayak 3 Doa 3 Cinta, Fiksi, Under the Tree, film2 yg blom diputer, kok dapet nominasi banyak gini. Begitulah, namanya juga film festival, diputernya terbatas, itupun baru setelah FFI digelar, alias Januari 2009 baru ditayangkan secara terbatas di bioskop. Tapi biar gitu, film ini memasang Nicolas Saputra dan Dian Sastrowardoyo, pasangan legendaris di film 'Ada Apa Dengan Cinta', sebagai pemeran utamanya.

Setelah akhirnya gw tonton film ini, hmmm, bagi yg ingin menonton film ini dengan harapan bisa melihat Dian Sastro, siap-siap saja buat kecewa, soalnya meskipun nama dan wajahnya muncul di poster, Dian Sastro bukanlah peran pembantu, melainkan hanya pemeran pembantu. Dan perannya pun mungkin kurang mengenakkan bagi para fansnya, yaitu seorang penyanyi dangdut kelas kampung yg tampil dengan goyangan seksinya. Tapi betul bahwa Nicolas adalah pemeran utamanya, salah satu pemeran utama lebih tepatnya. Karena sesuai judulnya, terdapat 3 pemeran utama yang memiliki permasalahannya masing-masing.

Plot:
Huda (Nicolas Saputra), Rian, dan Syahid, adalah tiga orang murid pondok pesantren yang bersahabat. Masing-masing memiliki karakter yang berbeda. Ryan yang datang dari kota besar orangnya agak ngeyel dan paling nakal diantara ketiganya, meskipun nakalnya masih batas wajar. Syahid yang datang dari keluarga miskin paling fanatik terhadap agama. Sedangkan Huda boleh dibilang yang paling normal, dan dianggap Romo Kyai pemilik pesantren sebagai orang yg paling tepat untuk menggantikannya memimpin pesantren.

Huda ditinggal ibunya ketika dia berusia 10 tahun di pesantren, dan setelah itu ibunya tak pernah lagi menengoknya. Dia diasuh oleh Romo Kyai dan sudah dianggap anak sendiri, dan dijadwalkan untuk dinikahkan dengan putrinya, untuk kemudian menjadi penerusnya. Romo Kyai dan istrinya memiliki keterbatasan sehingga mereka tidak bisa memiliki anak lagi, itu sebabnya Romo berharap Huda bisa menjadi penggantinya.

Huda sendiri sebenarnya memiliki keinginan lain. Dia ingin mencari ibunya yang diketahuinya berada di Jakarta, dari surat yg terakhir dikirim oleh ibunya setahun silam, tapi dia tidak mengatakannya pada Romo karena takut tidak diijinkan pergi. Huda kemudian bertemu dengan Donna (Dian Sastrowardoyo), penyanyi dangdut yang manggung di pasar malam di kota itu. Donna aslinya kerja di Jakarta dan katanya kesini untuk ziarah kubur. Mengetahui hal ini, Huda meminta bantuan kepada Donna, dengan memberikan uang tabungannya, untuk mencari alamat ibunya.

Awalnya Donna hanya memanfaatkan Huda dan mengambil uangnya tanpa benar-benar mencari alamat itu. Kemudian ketika mereka semakin dekat dan Huda membantunya dengan meminjamkan handycam milik Ryan untuk membuat video audisinya (untuk keperluan casting), Donna pun benar-benar membantu Huda mencari alamat ibunya. Dia pun memberikan alamat tersebut pada Huda, tanpa memberitahunya tentang keadaan ibunya.

Tanpa memberitahu Romo Kyai, Huda pergi ke Jakarta sendiri, dan mendatangi bar/kafe tempat ibunya bekerja. Disana dia bertemu dengan Bu Mulan (Jajang C Noer), pemilik kafe sekaligus teman baik ibunya. Dia menjelaskan bahwa ibunya sudah meninggal beberapa lama, dan mengatakan bahwa alasan ibunya meninggalkannya adalah supaya dia tidak ikut merasakan beratnya kehidupan ibunya yang bekerja di bar tersebut (mengindikasikan sebagai penyanyi dangdut seperti Donna, sebuah ironi), dan bahwa ibunya tak pernah menengoknya karena dia merasa malu dan tak pantas bertemu dengan Huda yang tinggal di pesantren. Dia sengaja menitipkan Huda di pesantren supaya Huda menjadi orang yang saleh dan tidak menjadi sepertinya. Mendengar semua penjelasan itu, Huda pun berziarah ke makam ibunya dan kemudian kembali lagi ke pesantren.

Rian (Yoga Pratama) yang orangnya agak modern, menerima handycam sebagai kado dari ibunya, hadiah yang diinginkannya sebelum ayahnya wafat. Rian suka datang ke pasar malam dan menyaksikan layar tancep. Setelah pertunjukan berakhir, dia tetap tinggal dan bertemu dengan pemilik layar tancap Pak Tulus (Butet Kertaradjasa) yang mengajarinya tentang kamera serta seluk beluk pembuatan film.

Rian ingin kembali ke kota tempat asalnya dan berniat melanjutkan usaha studio foto milik ayahnya yg saat ini dikelola ibunya. Tapi niat itu batal ketika ibunya mengunjunginya di pesantren bersama seorang lelaki yang akan dinikahinya. Tidak setuju ibunya menikah lagi, Rian tidak ingin kembali ke kota asalnya dan memilih untuk ikut rombongan layar tancap Pak Tulus.
Syahid (Yoga Bagus Satatagama) adalah murid yang paling taat dan fanatik diantara ketiganya. Dia mengikuti pengajian oleh kiai beraliran keras secara diam-diam, setelah sebelumnya Huda menolak mengikuti pengajian itu karena ajarannya berbeda dengan ajaran Romo Kyai. Syahid pun punya keinginan seperti namanya, yaitu mati syahid.

Syahid memiliki masalah lain, yaitu ayahnya yang sakit ginjal, membutuhkan biaya untuk cuci darahnya (tiap hari), sementara mereka hanya berasal dari keluarga miskin. Keadaan ini memaksa Syahid untuk menjual sawah milik keluarganya kepada orang asing, yang disebutnya yahudi kafir Amerika, mencerminkan kefanatikannya terhadap agama.

Syahid juga berniat untuk melibatkan diri dalam sebuah aksi jihad yang dilaksanakan kiai aliran keras di pengajiannya, sebuah aksi yang menyiratkan sejenis aksi terorisme, dan siap menjadi salah satu pelaksananya (bom bunuh diri). Akan tetapi, ketika mengetahui bahwa orang asing yang membeli sawahnya telah membayar biaya perawatan ayahnya, Syahid menjadi ragu tentang anggapannya terhadap orang asing. Dia kemudian membatalkan niatnya untuk mengikuti aksi tersebut.

Selain 3 orang santri itu, diceritakan pula kisah lain mengenai Zaki, teman sekamar Huda, yang sudah lama dilecehkan oleh seorang kakak kelas mereka yang galak (dan rupanya sedikit berbau gay). Begitu Zaki menceritakan hal ini pada Huda dan yang lain, mereka meringkus si kakak kelas dan membongkar kelakuannya, menyebabkan dia dikeluarkan dari pondok.

Mendekati akhir film, Romo Kyai menjelaskan bagaimana Nabi bersikap pada orang non Islam, yaitu beliau melarang kaum muslim untuk melukai orang kafir dan menghargai mereka seperti manusia lainnya. Ajaran tentang kerukunan ini sekaligus menepis aliran keras yang diajarkan kiai aliran keras pada Syahid dan lainnya.

Tak lama setelahnya, polisi datang menggerebek pesantren itu dan menangkap Kyai Romo, Huda, Rian, dan Syahid dengan tuduhan terlibat kasus pemboman Bali, aksi yang menyiratkan keterlibatan kiai garis keras tadi. Cerita kemudian loncat ke beberapa tahun sesudahnya, dimana Romo Kyai baru saja wafat. Huda pun kemudian segera dinikahkan dengan Farokah, putri Kyai. Rian juga ikut datang, dan dia sekarang menjadi pemilik usaha foto (meskipun dia tidak jadi ikut dengan rombongan Pak Tulus karena ditahan polisi pada malam keberangkatannya). Syahid yang sebelumnya dipenjara karena terbukti sempat terlibat pengajian garis keras, dibebaskan (hukumannya tidak terlalu berat karena Syahid tidak terlibat dengan aksi pemboman) dan ikut hadir pada pernikahan Huda (dengan sekilas memperlihatkan rombongan dangdut Donna yang kembali ke kota itu, Donna sudah pergi dari kota itu ketika Huda kembali dari Jakarta).

Mereka bertiga kemudian mendatangi lagi sebuah tempat di belakang pondok, dimana mereka menuliskan harapan-harapan mereka pada dinding tempat itu. Huda pun kemudian meneruskan Romo Kyai dan menjadi pemimpin pesantren itu.

lanjutan review:
Film ini cukup bagus dan berbobot, dimana dalam membawakan ceritanya, film ini tidak menjelaskan dengan gamblang tentang apa yang terjadi, melainkan hanya memberikan adegan tanpa dialog atau penjelasan, dan menuntut penonton untuk memahaminya sendiri. Untuk sebuah film Indonesia yang saat ini dibanjiri film2 jenis horor murahan atau komedi seks yang membosankan, film ini tentunya merupakan salah satu film yang memberikan nuansa sendiri tentang pesantren, dengan sudut pandang yang berbeda jika dibandingkan dengan Perempuan Berkalung Sorban, film tentang pesantren juga yang mengisahkan suasana pesantren yang lebih kolot dan tertutup. Di film ini, pesantren tempat mereka belajar digambarkan lebih terbuka dan suasananya lebih nyaman.

Saya membaca sebagian komentar dari penonton lain di sebuah forum, dan sungguh saya kecewa sekali karena sebagian besar mereka belum dapat menghargai dan menangkap kelebihan film ini. Salah satu mengatakan film ini tidak jelas, endingnya blur. Mungkin dia menonton film ini dengan dangkal tanpa berusaha memahami atau mengapresiasinya. Komentar dangkal lainnya berkisar seputar Dian Sastro yang menurut saya tidak relevan. Ini mungkin akibat promosi yang keliru yang menonjolkan Dian Sastro sebagai pemeran utamanya (padahal bukan).

Permasalahan yang melanda dunia perfilman tanah air. Di saat film2 berkualitas seperti ini muncul, banyak orang yang terlalu malas berpikir sehingga tidak bisa menilai dan menghargai film ini dengan sungguh-sungguh, atau lebih memilih menonton film horor atau komedi yang menonjolkan buka-bukaan pemeran wanitanya. Mudah-mudahan saja masyarakat kita semakin dewasa sehingga bisa menerima film2 seperti 3 Doa 3 Cinta ini dan semakint tertarik untuk menontonnya, dan di lain pihak mudah-mudahan akan ada lebih banyak lagi film seperti ini, sehingga perfilman Indonesia bisa diisi film-film berkualitas.

Overall, film ini film yang bagus, yang bisa memberikan kita banyak hal, atau paling tidak, tontonan yang lebih berkualitas ketimbang film-film pasaran lain. Rating saya 9/10 untuk sebuah film Indonesia.

No comments:

Post a Comment