Featured Post

[Review] Game of Thrones (season 6)

Setelah setahun, GoT kembali di season 6. Sebenarnya gw juga ga begitu nunggu2 sih, karena lagi asik ngikutin serial yg lain (The Flash...

Showing posts with label book club. Show all posts
Showing posts with label book club. Show all posts

Wednesday, February 05, 2014

Dear Reight Book Club

Dear Reight Book Club(bers),

What are you guys reading right now? As for me, I'm just start reading Metropolis by Windry Ramadhina. I'm sure you all have your own reading.

Sewaktu tahun lalu mbak yuska ngajak beberapa orang (termasuk aku) untuk bikin klub buku, aku antusias banget. Apalagi waktu itu aku baru mulai rajin baca buku lagi dan aktifin akun goodreads. Pasti bakal seru.

Klub kita pun terbentuk. Agenda tiap bulan adalah, kita membaca satu buku yg sama, lalu nulis review tentang buku itu, lalu ngadain meeting buat bahas sama-sama (sekalian kumpul-kumpul dan makan bareng). Buku yg dibaca ditentukan secara bergiliran oleh tiap anggota. Klub buku kita juga diikutkan ke arisan buku Gagas-Bukune, jadi dalam satu periode itu (6 bulan), kita bakal dapet buku gratis dari penerbit, sekali, untuk semua anggota. Kita dapet giliran arisan kita di bulan November btw.

For a while it's fun. The meetings are fun. The books are good. Semua buku yg jadi bacaan Reight selalu bagus, selalu aku kasih rating minimal 4 bintang. Bagiku sendiri, dengan ikut Reight, aku jadi makin sering nulis review buku (yg panjang) dan makin cinta sama buku-buku. And of course, the meeting's fun. Untuk orang yg cukup antisosial sepertiku yg jarang ngumpul2 kecuali di kantor, it is really fun.

Kemudian masalah bermunculan. Prioritas, kesibukan lain, antusiasme yang berkurang. Apalagi sejak memasuki tahun baru, mbak Yuska sudah tidak aktif. Adit pindah ke lain pulau. Dan klub ini pun vakum.

And so, the fun (in this club) is over (for me). That's how I see.

Of course this is not the end. We can still read our own books, with or without the club. And there's always a chance that we could all meet again like we used to.

Thank you for all the good times we've had,
and I'm sorry if I complained a lot.

Sunday, September 22, 2013

[Review Buku] reasons




Author: Aditia Yudis
Penerbit: teen@noura
332 halaman



Buku bacaan Reight book club edisi September.

Plot:

Adeline dan Amber, dua cewek yg bersekolah di tempat yang sama, sebelumnya ga terlalu kenal satu sama lain, masing-masing punya latar belakang dan permasalahan keluarga sendiri. Dan keduanya sama-sama ingin masuk ke UI, dan kebetulan sama-sama menjadi peserta lomba karya ilmiah, dimana pemenangnya akan langsung diterima di UI.

Konflik dimulai karena Adeline menjadi pemenang dan diterima di UI. Amber ga terima dia kalah dari Adeline. Ditambah tekanan berat dari orangtuanya yang memaksakan kehendak mereka, Amber merancang rencana jahat untuk Adeline. Dia dan teman baiknya, Marina, mulai menyebarkan gosip-gosip yang jelek tentang Adeline. Adeline awalnya berusaha untuk mengabaikan, tapi ketika ulah mereka makin menjadi dan menyebar gosip bahwa ibu Adeline gila, dia marah dan tidak tinggal diam. Konfrontasi terjadi antara Adeline dan Amber, yang menyebabkan iphone milik Amber terjatuh, dan kemudian dibalas oleh Amber yang merobek buku Adeline. Amber juga meminta Adeline mengganti iphone-nya yg rusak.

Padahal keuangan Adeline sendiri pas-pasan, dia harus menabung untuk biaya kuliahnya nanti. Demi menyelesaikan konflik dengan Amber, supaya dia berhenti mengganggunya, Adeline menggunakan uang tabungannya untuk mengganti hape Amber. Masalah di antara mereka pun (sementara) tuntas, ditambah lagi karena lulus, mereka tidak akan bertemu lagi di sekolah.

Setelah itu, mereka bersiap memasuki masa kuliah dan mencoba mengatasi masalah2 yang mereka alami. Adeline berhasil membiayai kuliahnya berkat pinjaman dari Bang Rizal, sekaligus bekerja di warnet miliknya bersama Sigit, kenalan Bang Rizal. Adeline dan Sigit pun berteman akrab.

Sementara Amber akhirnya juga berhasil kuliah di UI melalui jalur tes, meskipun tidak sesuai dengan jurusan yang dikehendaki orangtuanya. Amber memutuskan untuk pindah dari rumahnya dan tinggal bersama kakaknya, Abimantra.

Masalah antara Adeline dan Amber kembali muncul, ketika orang-orang di sekitar mereka saling berinteraksi. Amber yang naksir dengan Sigit, dan Abimantra yang naksir Adeline. Hanya tinggal menunggu waktu hingga Adeline dan Amber kembali bentrok, dan menuntaskan konflik mereka yang belum selesai.

Review & Uneg-uneg:

To be honest, gw ga mengira kalo gw bakal suka sama ceritanya. Awalnya gw ragu, soalnya gw ga begitu ngefans sama gaya nulisnya adit yg biasanya mendayu-dayu di cerpennya. Bahasa yang digunakan di buku ini cukup lugas, ga bertele-tele.

Plotnya cukup padat. Selain Adeline dan Amber yang memiliki masalahnya sendiri, karakter2 pendukung yaitu Sigit dan Abimantra pun diberi masalah masing-masing, dan banyak detil-detil tentang mereka yang disajikan dengan komplit.

reasons, judul buku ini, sepertinya mengacu pada alasan-alasan di balik tindakan para tokohnya. Dimulai dari Amber yang dengan ganasnya berusaha menghancurkan Adeline. Itu terjadi karena dia sendiri tertekan oleh sikap orangtuanya yang pilih kasih. Mereka selalu membandingkannya dengan Abimantra, kakaknya, dan apapun prestasi yang diraih Amber, tidak pernah cukup buat mereka. Perlakuan orang tua yang seperti ini berbahaya sekali lho, bisa menyebabkan anaknya melakukan hal-hal mengerikan. Sudah ada contohnya di cerita lain, misalnya Loki yang merasa diabaikan Odin, dan Sasuke yang dibanding-bandingkan dengan Itachi. Hasilnya rusak kan.

Sedangkan Adeline yang sepanjang cerita sebenarnya sudah oke, mendekati akhir cerita kemudian ikut terpengaruh oleh pertikaiannya dengan Amber. Demi membalas perlakuan Amber, Adeline mengiriminya email dengan mengatasnamakan Sigit. Yang ga jelas alasannya mungkin si Marina itu. Cuma ngikut-ngikut dan ngomporin Amber.

Jadi, Adeline dan Amber punya masalah dan alasannya masing-masing, tapi menurut gw si Amber ini keterlaluan. Ga seharusnya masalah yang kita miliki menyebabkan kita menyakiti orang lain yg ga terlibat. Apalagi dia tahu kondisinya Adeline yg sama-sama sulit, bukannya bersimpati, malah menindas. Dan ada satu titik dimana Adeline kepikiran untuk bunuh diri. Kejam banget.

Setelah konflik mereka sempat reda, lalu berjuang dengan masalahnya sendiri, gw kira Amber bakal berubah. Ternyata belom. Begitu ketemu Adeline lagi, dia (dan Marina) masih sama jahatnya. Halaman 242, kalimatnya Marina, "Ngapain sih orang itu muncul lagi. Gue kira udah mampus deh, waktu kita kerjain dulu." Gw emosi baca bagian ini. (Kalo mungkin, gw akan nulis nama Amber, Marina, dan orangtuanya Amber di Death Note.)

Masalahnya Amber ini sendiri berasal dari orangtuanya yang brengsek. Orangtua yang ga memberi anaknya pilihan untuk menentukan masa depannya, dan ga menghargai anaknya.

Coba dipikir lagi deh. Mereka kesal dan ga puas gara2 Amber gagal masuk UI karena kalah di lomba karya ilmiah. Gw pengen bilang: YAELAHBROOO banget ini. Lomba itu kan cuma salah satu jalur untuk masuk ke UI. Seperti yg disebutkan, masih ada jalur lain, yaitu jalur undangan (istilahnya dulu PMDK) dan jalur tes (smptn). Lagian, jalur tes itu lebih bergengsi menurut gw, lebih mencerminkan kualitas si anak. Eeh, mereka malah mempermasalahkan hal ini. Masalah yang sebenarnya ga perlu dibesar-besarkan. Gara2 itu, Amber nyari sasaran pelampiasan pada Adeline, dan malah sibuk menghancurkan Adeline ketimbang belajar buat ujian masuk.

Haduh. Padahal kalo mereka bersikap normal, dan berpikiran jernih kalo masih ada jalur seleksi, masalah dengan Adeline tidak akan pernah ada. Tapi kalo begitu buku ini jadi ga ada isinya sih, haha.

Rating: 4/5

Point-point untuk General Discussion:

1. First Impression
Gw kirain ceritanya bakal boring dan mendayu-dayu, plus tadinya gw ga suka sama nama karakternya Abimantra. Aneh. Untungnya tidak.

2. How did you experience the book?
Buku yg gw beli ternyata cacat. Halamannya ada yg lompat dan ilang. Makanya gw putuskan untuk langsung baca hari ini sampe abis, soalnya kalo dikirim ulang utk dituker sama yg baru, takutnya makan waktu lama. Ada 16 halaman yg hilang di buku yg gw punya, dari halaman 155-170. Untungnya waktu itu udah pernah dikirimin draftnya sama adit, jadi di bagian yg hilang itu gw baca softcopynya, trus lanjut baca bukunya lagi. Setengah hari, bukunya selesai dibaca.

3. Characters
Karakter utama di buku ini dua cewek bernama Adeline dan Amber, yg melalui masa-masa akhir di SMA hingga kuliah di semester awal. Karakter pendukung, Sigit dan Abimantra. Lainnya, Marina, Rani, orangtuanya Amber, ibunya Adeline, dan Bang Rizal. Tiap karakter dibangun dengan baik. Karakter yg gw ga suka cuma Amber, Marina, sama orangtuanya Amber.

4. Plot
Linear.

5. POV
diceritakan dengan pov orang ketiga, yang silih berganti membahas Adeline dan Amber, sesekali membahas Abimantra dan Sigit.

6. Main Idea/Theme
Banyak yg bilang kalo temanya adalah impian, tapi menurut gw bukan. This is not about dream. This is about war. Perseteruan. Kalo tentang impian mereka yg pengen masuk UI, di pertengahan cerita udah selesai masalahnya, tapi malah lanjut, dengan perang di antara Amber dan Adeline. Perang bikin masing-masing pihak mengeluarkan sisi terburuk mereka, termasuk Adeline.

Gw jadi inget sama novelnya adit yg lain, Bittersweet Love. Ceritanya agak mirip, dua cewek yg saling bermusuhan karena keadaan.

7. Quotes
Ehm, menurut gw, quote yg "there is some good in this world" itu ga termasuk, karena itu kan quote Tolkien dari buku lain, yg dimasukin di sini.
Kalimat2 di buku ini sendiri ga banyak yang bisa dijadiin quote sih,  tapi ada satu yg gw tandain.
"Lain kali, kalau ada yang berani menindas lo seperti itu, cerita ya ke gue. Gue enggak suka yang kayak gitu." Sigit.

Trus ada satu lagi nih.
Setiap orang pernah melakukan kesalahan. Meski begitu, setiap orang punya hak untuk mendapatkan maaf dan diberikan kesempatan kedua.
Err, lucu juga nih si Adeline membatin begitu, padahal dia ga ngasih kesempatan itu buat Abimantra.

8. Ending
Cukup memuaskan karena Adeline dan Amber (sepertinya) berdamai.

9. Questions
Hmm, ga ada

10. Benefits
Pelajaran yang bisa diambil:
Orangtua tidak boleh memaksakan kehendak pada anaknya.
Anak juga sebaiknya memiliki sikap dan pendirian yang teguh akan pilihannya.
Jangan melampiaskan masalah yang kita miliki ke orang lain yang tidak terlibat.
Tindakan penindasan harus dilawan, dan sebaiknya dilaporkan. Tapi jangan dibalas dengan cara2 kotor.

11. Lain-lainnya
- Penggunaan elemen2 fandomnya adit di buku ini, misalnya Star Trek, The Hobbit dll, tadinya gw pikir bakal mengganggu. Ternyata engga, karena banyak juga yg jadi bagian dari plot.
- Typo di buku ini ga terlalu banyak, palingan ada beberapa yg kurang spasi.
- Ada yg lebih mengganggu sih, yaitu penggunaan ", kan," yg ditaruh di tengah2 dialog. Penempatan tanda komanya menurut gw aneh. Tiap kali nemu ini, serasa mesti berhenti jalan sejenak, lalu lanjut lagi. Contoh: "Bukan bermaksud menguping, tetapi ini, kan, wilayah publik"
- Tentang dialog dimana Adeline ngomong aku-kamu sementara lawan bicaranya (Sigit) ngomong gue-lo, menurut gw ga masalah. Karena memang ada orang2 yg konsisten seperti itu.
- Overused word: kedai kopi. Ga ada istilah lain apa ya, lama2 bosen denger kata kedai kopi untuk menggambarkan Starbucks.
- Dan benar, ada dialog Amber-Marina yang kaku, padahal mereka ngomongnya gue-lo.


-OoO-

Monday, August 26, 2013

[Review Buku] The Ocean at the End of the Lane



alias: Samudra di Ujung Jalan Setapak
Author: Neil Gaiman
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
264 halaman


Buku bacaan book club edisi Agustus. Buku pertama Neil Gaiman yg gw baca. Beliau dikenal sebagai penulis di genre fantasi.

Plot:

Karakter utama di buku ini adalah seorang anak laki-laki (tak disebutkan namanya). Dia tidak memiliki teman, suka membaca buku-buku, dan suka kucing. Ayahnya menyewakan salah satu kamar di rumahnya yang besar, dan suatu ketika, orang yang tinggal di sana adalah seorang penambang opal. Si penambang membawa mobil ayahnya hingga ke ujung jalan setapak, dan kemudian bunuh diri di dalamnya. Si anak dan ayahnya dipanggil ke sana, dan saat itulah si anak juga berkenalan dengan Lettie Hempstock, anak perempuan yang tinggal di rumah di ujung jalan itu, serta ibunya, Mrs Hempstock, dan neneknya, Mrs Hempstock tua.

Kejadian aneh bermunculan setelah kematian si penambang itu. Si anak bermimpi mulutnya kemasukan sesuatu, dan setelah terbangun, dia mendapati uang logam di dalam mulutnya. Kejadian aneh lain terjadi pada orang2 di sekitar, uang bermunculan secara tiba-tiba. Tidak ada yang bisa menjelaskannya kecuali Lettie, dan keluarga Hempstock yang bukan orang sembarangan. Mereka mengetahui banyak hal. Menurut Lettie, hal itu dipicu oleh si penambang opal, yang dengan tindakan bunuh dirinya, mengundang mahluk2 dari dunia lain.

Lettie membawa si anak menyeberangi lahan pertaniannya yang luas ke dunia lain, dunia dimana langitnya berwarna oranye, dimana mereka bertemu dengan mahluk kain kanvas yang berkibar-kibar dan robek, yang mengaku sebagai penguasa tempat itu. Dialah yang menyebabkan kejadian-kejadian aneh tadi. Dengan keahliannya, Lettie mengikat mahluk itu, menahannya agar tidak mengganggu orang-orang.

Tapi ini bahkan bukan akhir cerita. Karena sebuah kesalahan yang dilakukan si anak, mahluk itu berhasil mengikutinya, dan mewujudkan diri dalam bentuk wanita muda pengurus rumah bernama Ursula Monkton. Dengan cepat, Ursula Monkton menguasai keluarganya, dan mengurung si anak. Tipu daya Ursula begitu berbahaya hingga ayahnya yang terhasut bahkan mampu melakukan hal-hal mengerikan.

Si anak mesti meminta bantuan pada Lettie dan keluarga Hempstock, karena merekalah satu-satunya yang bisa mengatasi masalah ini. Masalah dengan Ursula Monkton, dan mahluk-mahluk pemangsa yang jauh lebih berbahaya daripadanya. Masalah yang menyebabkan salah satu dari mereka mengorbankan dirinya, untuk menjaga yang lain tetap hidup.

Review:

Bagus banget. Mungkin gw mesti baca buku ini lagi, biar tambah ngerti isinya. Buku ini memasukkan keberadaan dunia lain (ato disebutnya negeri) yang gw ga terlalu paham, karena ga bisa ngikutin deskripsinya. Ada negeri lain yang bisa dilewati dari pertanian Hempstock. Buku ini menyajikan misteri-misteri yang belum dijelaskan, seperti siapa sebenarnya keluarga Hempstock, kenapa mereka tidak bertambah tua, dan apa peran mereka terhadap negeri ini, dan negeri lain. Mungkin itu juga yang dirasakan si anak, ga terlalu mengerti tentang semua yang terjadi. Setidaknya sampai dia menyelami samudra Lettie. Ini juga hal lain yang bikin takjub. Samudra yang berisi segala macam pengetahuan, yang mengaliri seluruh tubuh dan membuat kita mengetahui segalanya, tapi jika terlalu lama berada di sana, menurut Lettie, dapat membuat kita hanyut dan melebur di dalamnya.

Mungkin sengaja dibikin misterius ya, ga dijelasin secara gamblang tentang hal2 tadi. Kalo dijelasin nanti malah ga jadi istimewa lagi.

Buku ini bukan buku untuk anak-anak, karena ada hal-hal berat dan mengerikan di dalamnya. Kalo cuma keberadaan mahluk2 dari dunia lain, mungkin masih bisa dicerna anak2 ya. Tapi masalah perselingkuhan ayah si anak dan Ursula, bunuh diri si penambang tua, dan yang paling mengerikan buat gw adalah sewaktu si ayah yg di bawah kendali Ursula (ato tidak ya?) mencoba menenggelamkan si anak di bak kamar mandi. Itu ngeri banget si ayah sampe begitu.

Momen terbaik buat gw adalah waktu si anak memutuskan untuk nyebrang lahan Hempstock yg terlindungi, untuk menyerahkan diri ke mahluk2 pemangsa. Soalnya kalo ga gitu, mereka bakal terus memakan apapun hingga dunianya lenyap. Abis itu Lettie nyusul dia dan melindungi si anak dari serangan mahluk2 tadi, dan akibatnya dia terluka. Ga mati, menurut keluarga Hempstock, tapi butuh istirahat di dalam samudra. Entah apa sebenarnya yg terjadi sama Lettie, kapan dia bakal keluar lagi. Tapi coba liat si anak tadi. Dia bisa mengambil keputusan yang penting. Mengorbankan diri demi menyelamatkan dunia.

Anyway, di awal disebutkan si anak yang sekarang sudah dewasa, baru dateng dari pemakaman. Pemakaman siapa ya? Gw masih belom tahu.

Rating: 4/5.

Point-point untuk General Discussion:

1. First Impression
Covernya bagus, anak perempuan yang terjun ke dalam air. Sepertinya itu Lettie ya. Karena sudah dengar reputasinya Neil Gaiman, harapannya ceritanya bagus. Dari sinopsisnya juga, sepertinya ceritanya seru.

2. How did you experience the book?
Hmm, review di atas tadi cukup menjelaskan.

3. Characters
Karakter si anak dan Lettie yang menonjol, abis itu Mrs Hempstock tua, Mrs Hempstock, Ursula Monkton. Tapi semua karakternya dibangun dengan baik sih, sampe yg kecil2 seperti ibu sama adiknya si anak itu, juga si penambang opal. Karakter si anak hebat juga, dia lebih dewasa daripada umurnya, ga takut untuk menentang yg menurutnya salah. Mungkin hasil dari membaca buku-buku yang banyak itu. Dan dia suka kucing. Ini salah satu bagian yg gw suka, interaksinya dengan kucing2 di buku ini. Keberadaan Lettie sepertinya berandil besar pada sifat si anak. Lettie, yang berwujud anak-anak, tapi apakah dia memang anak-anak?

Menarik untuk mencerna apa arti Lettie bagi si anak, dan apa arti si anak bagi Lettie. Mereka bukan sekedar teman, tapi bagi si anak, Lettie adalah kakak yang akan melindunginya dari apapun.

4. Plot
Plotnya merupakan flashback. Sepertinya lagi trendy ya penceritaan seperti ini. Karakter utama yg lebih dewasa, mengingat2 kejadian di masa silam. Uniknya, si karakter dewasa ini sepertinya hanya bisa mengingat masa lalunya ketika dia berada di dekat kolam samudra itu. Soalnya disebutkan kalo dia ga inget udah pernah dateng ke rumah Hempstock sebelumnya. Dan begitu dia pergi, memorinya hilang lagi.

5. POV
diceritakan dengan pov orang pertama dari si anak (si Pencerita yg sepertinya mewakili Neil Gaiman).

6. Main Idea/Theme
Menurut gw, tema utamanya adalah anak-anak. Hal-hal yang bisa dilakukan dan dialami oleh anak-anak, tapi tidak oleh orang dewasa. Di beberapa bagian buku ini juga disebutkan, bahwa tidak ada di antara kita yang menjadi dewasa, bahwa kita sebenarnya hanyalah anak-anak, badan kita saja yang tumbuh. Mungkin karena pikiran anak2 masih jernih, dan belum dicemari oleh hal-hal lain, yg menyebabkan mereka bisa melihat segala sesuatu seperti apa adanya. Dan itu sebabnya, Lettie yg usia entah sudah ratusan tahun, tetap berwujud sebagai anak-anak.

7. Quotes
Sepertinya banyak yg ambil quote tentang anak mengambil jalan berbeda dengan orang dewasa. Kalo quote yg gw pilih sih diantaranya:

Aku tidak pernah menanyakan pada anak-anak lain di kelas, kenapa mereka tidak datang ke pestaku. Aku tidak perlu bertanya. Mereka toh bukan teman-temanku. Mereka hanyalah anak-anak yang kebetulan satu sekolah denganku. (hal 19)

"Mereka makhluk-makhluk sederhana, dan yang mereka inginkan adalah uang, hanya uang, tidak lebih." kata si mahluk kain kanvas. (hal 63)

"Seandainya aku mati di sini, maka aku akan mati sewaktu menunggunya (Lettie), dan mati dengan cara begitu lebih baik daripada dirobek-robek hingga berkeping-keping olehmu..." si anak ke mahluk pemangsa. (hal 203)

"Membosankan, mengetahui segalanya. Kau mesti melepaskan semua itu kalau ingin bermain-main di sini." Lettie (hal 212)

Aku sama sekali tidak ingin mati. Tetapi aku tak bisa membiarkan semua ini dimusnahkan, padahal aku berkuasa untuk menghentikannya. (hal 227)

"Tidak ada yang tetap sama. Entah itu cuma sedetik kemudian atau seratus tahun. Semuanya selalu bergolak dan berputar. Dan orang-orang juga berubah seperti halnya samudra." Mrs Hempstock tua (hal 237-238)

"Tidak ada dua orang yang mengingat hal-hal yang sama persis, entah mereka mengalaminya atau tidak. Walaupun dua orang berdiri bersebelahan, ingatan mereka bisa berpulau-pulau jauhnya." Mrs Hempstock tua (hal 250)

8. Ending
Endingnya menyimpan pertanyaan tentang Lettie, dan juga bikin merenung di bagian epilog.

9. Questions
Pemakaman siapa sih yg di awal cerita?
Si anak suka membahas cerita dari buku2 lain yg dia baca. Apa maksudnya ya?

10. Benefits
Ada hal-hal yang bisa dijadikan renungan, sifat-sifat baik yang dimiliki anak2, apakah kita sebagai orang dewasa masih memilikinya?
Sebagai cerita fantasi, memberikan suplemen berbeda yang menarik.
Memberi nilai tentang persahabatan, kepercayaan, dan pengorbanan.


-o0o-

Friday, July 12, 2013

[Review Buku] Notasi



Author: Morra Quatro
Penerbit: GagasMedia
294 halaman


Buku ini merupakan buku pertama yang dibahas dalam book club Reight yang baru terbentuk bulan ini. Sewaktu diadakan polling tentang buku yg akan dibahas, gw belom pernah baca buku2 Morra sebelumnya, jadi ga begitu kenal gaya nulisnya. Waktu itu pun sebenarnya milih yg lain juga, berdasarkan satu-satunya parameter andalan gw: jumlah halaman. Jadi, gw milih yg paling tebel aja, hahaha. Dan itu bukan buku ini sebenarnya. Tapi gpp lah, itung2 baca jenis buku baru.

Review:

Nalia, menjelang pernikahannya dengan Faris, mengunjungi Jogja dan kampus UGM-nya ketika/setelah Merapi meletus. Ternyata, masih ada kenangan yang masih menghantuinya. Kenangan tentang masanya berkuliah di sana, awal2 ketika dia yang kedokteran gigi bertemu dengan anak2 teknik elektro, dan seseorang yang menempati hatinya setelah itu, Nino. Orang yang kemudian menghilang darinya setelah puncak ketegangan di tahun 1998 berlalu, dan masih menghantuinya hingga sekarang.

Ceritanya bagus, dan gw ga nyangka kalo isinya tentang pergerakan mahasiswa gitu. Di awal2 menarik untuk dibaca, sewaktu rombongan anak2 fkg mulai berseteru sama anak teknik, dan kemudian di tengah2 itu Nalia malah deket sama Nino. Semakin seru dan menegangkan di tengah2, apalagi ketika masuk ke bagian demo segala macem. Mengingatkan kita akan tragedi dan peristiwa penting waktu itu.

Anyway, kenapa judulnya Notasi ya?
lalu satu hal yg cukup mengganggu, banyak typo berupa kurang spasi, kata-kata atau titik yg langsung nyambung ke kata berikutnya.

Rating: 4/5.

Point-point untuk General Discussion:

1. First Impression
Covernya seperti cover2 Gagas lain, selalu bagus. Ga ada bayangan ceritanya tentang apa. Kalo dari judulnya, Notasi, mungkin ada hubungannya dengan musik. Gataunya bukan, kan.

2. How did you experience the book?
Karena gw bacanya pelan-pelan, ya dinikmati aja halaman demi halaman. Udah mulai asyik begitu masuk flashback dan ketemu konflik antara Naila dan anak2 radio teknik. Berikutnya ngalir terus dan makin seru.

3. Characters
Tokoh utamanya Naila dan Nino, ditambah temen2 mereka seperti Tengku, Farel, Ve, dll. Semua karakternya baik2, terutama Nino yg kalem dan damai. Awalnya kan anak2 teknik agak musuhan sama fkg, tapi ga berapa lama udah ilang konfliknya, karena keadaan, dan mungkin juga karena dijembatani Naila dan Nino yg deket.

4. Plot
Menarik dan bikin gw larut bacanya. Bacanya 2 hari, ga langsung baca dari awal sampe akhir. Alur utamanya diceritakan dalam flashback. Terbagi jadi 3 bagian, dimana bagian 3 alurnya menjadi lambat dan gw ga begitu suka yg ini, karena Nino-nya udah ilang dan cuma muncul lewat surat-suratnya.

5. POV
diceritakan dengan pov orang pertama dari Naila. Yang bikin gw agak susah membayangkan Naila ini rupanya seperti apa, secantik apa dia.

6. Main Idea/Theme
Cinta yang belum tuntas, dan masa-sama menegangkan di tahun 98 yang dialami mahasiswa di Jogja.

7. Quotes
kalimat yg udah nongol di cover, dan kemudian diulang2 lagi oleh Nino, "suatu hari aku akan kembali", atau "suatu saat aku pasti kembali"

8. Ending
Awalnya, gw mengira endingnya itu mengada-ada. Kok bisa-bisanya dia ketemu Nino lagi, tapi setelah baca penjelasan Nino, oh iya mungkin sih. Tapi sayang banget kenapa mereka ga ketemu lebih awal.

9. Questions
Judul Notasi itu jadi sebenarnya maknanya apa?
Siapa orang yang menjadi dasar untuk karakter Naila?

10. Benefits
Memberi gambaran yang terjadi ketika peristiwa tahun 98 terjadi, dari sisi mahasiswa yg aktif, terutama yang di UGM. Karena yang gw tau palingan yg di Jakarta doang, itupun ga terlalu inget banyak. Juga ngasih gambaran tentang kondisi mahasiswa di jaman itu, tentang persaingan antar BEM.

-oo-