Featured Post

[Review] Game of Thrones (season 6)

Setelah setahun, GoT kembali di season 6. Sebenarnya gw juga ga begitu nunggu2 sih, karena lagi asik ngikutin serial yg lain (The Flash...

Thursday, April 04, 2013

Pelecehan di Tempat Umum yang Semakin Merajalela

Siang tadi, saya membaca sekilas info di twitter, tentang pelecehan di dalam krl commuter line. Segera saya menyimak timeline dari korban, yang menuturkan kejadian yang baru saja terjadi padanya. Diceritakan, dalam situasi di dalam gerbong yang penuh, seorang bapak2 yg berada di belakangnya, (maaf) dengan sengaja mengeluarkan kemaluannya dan menempelkannya ke bagian belakang tubuh korban. Dan sekali lagi, korban menekankan, kemaluan si bapak ini benar2 dikeluarkan, dan bukannya dari balik celana.

Saya cukup shock. Masih mencerna mungkin maksudnya beda, tapi setelah mendapat respon dari banyak orang, juga korban2 lain yang pernah menerima pelecehan serupa. Terus terang, saya tidak menyangka kalo orang2 sakit jiwa ini bisa bertindak sejauh ini, sampe mengeluarkan kemaluannya di tempat umum. Makin parah. Kasus yg biasa saya dengar adalah sengaja berdesak-desakan, dan nempelin badan ke korban, sedangkan yang tadi saya baca, semakin gila, selain ada yang grepe2, ada yang meremas payudara korban, dan yang paling parah ya dari timeline tadi, sampe mengeluarkan kemaluannya.

Yang tak kalah parah, adalah kurangnya kepedulian dari penumpang lain. Mbak tadi mengaku, sudah berteriak dan memarahi pelaku, dan pelaku ciut lalu ngumpet, tapi penumpang yang lain tidak ada yang bereaksi untuk membelanya. Kacau.

Btw, kereta yang menjadi tkp korban tadi adalah kereta commuter line jurusan bekasi-kota, di waktu pagi hari ketika kereta penuh. Hmm, saya belum pernah naik jurusan itu, jadi ga bisa berpendapat. Soalnya selama ini saya belum menemui kejadian seperti itu selama naik kereta commuter jurusan depok-kota atau depok-tanahabang, atau tanahabang-serpong. Dan memang saya sendiri jarang naik kereta di jam2 sibuk pagi hari ato sore. Thanks to jadwal kerja yang pake shift. Jadi ga bisa menyimpulkan apakah kereta2 tersebut aman ato tidak.

Tapi sewaktu saya kebetulan naik kereta yg penuh di jam2 itu (dulu sering), ya situasinya memang memungkinkan untuk berdesak-desakan, dan berpotensi penumpang wanita badannya didesak oleh penumpang pria dari belakang. Saya sendiri selalu berusaha utk tidak berada dalam kondisi tersebut, misalnya dengan memakai tas di depan, jadi setidaknya badan ga bersenggolan langsung. Atau ga berada pas di belakang penumpang lain (cowok atau cewek), kalo bisa badan diarahin ke samping ato serong, pokoknya ga pas di belakangnya. Mungkin bisa juga sekaligus mengamati keadaan sekitar, untuk memastikan tidak ada potensi pelecehan. Nah, mungkin itu kira2 yang bisa kita lakukan sebagai penumpang pria.

Kemudian penumpang wanita, yang berpotensi menjadi korban, mungkin usaha2 yg bisa dilakukan untuk meminimalisir hal2 seperti itu, diantaranya,
-tidak berdiri di area dekat pintu, tapi masuk ke dalam, ke sela-sela tempat duduk. Karena area dekat pintu itu yang paling banyak orang berdesakan.
-masuk di gerbong khusus wanita. tapi siap dengan masalah lain, kejudesan ibu2 yg egois. yah, katanya sih begitu. Tapi mungkin gerbong wanita juga terbatas ya kapasitasnya.
-bepergian bersama teman. Bisa teman pria (atau suami), ato teman wanita. Gunanya untuk saling menjaga dan mengawasi. Apalagi kalo benar kejadian, pasti akan ada yang membela.
-mempersiapkan mental. Berani. Jika tanda2 ke arah pelecehan muncul, ambil tindakan tegas, teriak bila perlu.
-mempelajari self-defense. bisa bela diri, ato bawa pepper spray ato apalah, saya juga kurang ngerti macem2 bendanya. tapi intinya untuk menumbuhkan mental berani tadi.

Yang jelas, kalo sudah kejadian, ya seperti yg dikatakan orang2, mesti berani dan lawan itu pelakunya, teriak, permalukan dia di depan orang lain, apalagi kalo bisa nangkep basah dia, orang2 mestinya ga akan diem aja. Bisa sekalian diusut dan dilaporin.

Sekarang kenapa orang2 cuma diem aja sewaktu itu terjadi. Ada kemungkinan. Pertama, kalo berprasangka baik, mereka ga tau apa yang terjadi, dan emang ga merhatiin (mungkin karena pikiran stres, ngantuk, dll), dan ketika korban teriak, masih ga tau ada apa. Makanya, kalo bisa nangkep basah si pelaku, mestinya jadi dorongan dan bukti yg kuat sehingga orang2 pada belain.
Kemungkinan berikutnya, yg menyedihkan adalah, ya karena orang2 udah apatis dan cuma mikirin diri sendiri. Tapi saya percaya, masih banyak orang yang peduli. Saya juga harus peduli kalo mendapati situasi seperti itu. Mudah2an diberi keberanian untuk membela yang benar.

Adapun penyebab perilaku asusila itu, beberapa menyebut itu adalah penyakit, kelainan pada pelaku yang eksibisionis (pamer kemaluan ato gesek2 di depan umum). Hmm memang harus dihukum biar kapok sih.

Adapun ciri2 potensial korban pelecehan ini, biasanya berpenampilan menarik. Tapi tidak menutup kemungkinan si pelaku nyerang korban tanpa pandang bulu. Jadi walopun udah berpakaian sopan pun tetap aja kena jadi korban.

Kalau tadi perilaku asusila itu kelainan, Sekarang saya jabarkan apa yang terjadi di sisi orang normal. Kadang2 kita melihat penumpang wanita yang menarik. Menarik bisa berarti cantik, atau menurut kita seksi. Jika dia cantik, normalnya pria akan kagum, dan beberapa kali meliriknya/curi pandang. Sekarang kalo si wanita penampilannya seksi (dan mungkin juga didukung wajah yang cantik). Tentu seksi menurut tiap orang beda2. Kalo menurut saya, badan langsing, lalu pake blus lengan pendek yang ketat, dan rok mini/celana panjang ketat.
Yang biasanya saya lakukan adalah ngeliatin, tapi ga terus-terusan apalagi eye contact dengan orangnya. (karena biasanya cewek reseh kalo diliatin, dianggapnya kurang ajar). Melihat sekilas, tidak terlalu lama, dan menoleh ke arah lain, tapi sambil mengingat2 rupa wanita tadi. Yah, kira2 sama lah ama kelakuan cewe2 yg ngeliat cowok yg dianggapnya hot. Imajinasi, ngebayangin macem2 lah. Kayaknya wajar ya, namanya juga manusia yg punya nafsu. Bedanya, beberapa orang ada yg kemudian ngomongin hal itu (imajinasinya) terbuka, beberapa ada yang menyimpannya sendiri di kepala (seperti saya), untuk kemudian diingat2 lagi di kesempatan lain.

Bagian terakhir ini sebagai gambaran, apa yg di benak orang2 normal. There's a difference between thinking about it, and actually doing itu. Pengendalian diri yang membedakan orang normal dengan yg kelainan tadi, yg ga bisa menahan dirinya hingga terjadi kasus2 pelecehan seperti tadi.

No comments:

Post a Comment