Featured Post

[Review] Game of Thrones (season 6)

Setelah setahun, GoT kembali di season 6. Sebenarnya gw juga ga begitu nunggu2 sih, karena lagi asik ngikutin serial yg lain (The Flash...

Wednesday, January 29, 2014

[Review] Sherlock (Season 3)


Cast:
Benedict Cumberbatch as Sherlock Holmes
Martin Freeman as John Watson

with
Mark Gatiss as Mycroft Holmes
Amanda Abbington as Mary Morstan
Una Stubbs as Mrs Hudson
Louise Brealey as Molly Hooper
Rupert Graves as Greg Lestrade
Jonathan Aris as Anderson
Yasmine Akram as Janine

and
Lars Mikkelsen as Charles Magnussen

and also
Andrew Scott as Jim Moriarty

Setelah 2 tahun berlalu, akhirnya Sherlock muncul lagi. Selama itu, demam Benedict Cumberbatch muncul di mana-mana, terutama kalangan fangirls. Sherlock yg tadinya hipster berubah jadi mainstream karena semua orang udah suka. Okay, fine.

Season 2 berakhir di episode The Reichenbach Fall, dimana Sherlock dinyatakan tewas setelah terjun dari gedung, untuk alasan yg gw ga begitu ngerti, supaya anak buahnya Moriarty ga bunuh temen2 Sherlock (John, Mrs Hudson, Lestrade). Episode yg menyisakan tanda tanya dan ga masuk akal buat gw, karena Moriarty ga punya alasan untuk bunuh diri, because he's winning.


Anyway, selama dua tahun 'kematian' Sherlock, banyak yg berubah. John Watson pindah dari Baker Street untuk move on, dan sekarang dia sudah tunangan dengan Mary Morstan. Anderson, anak buahnya Lestrade yg waktu itu gencar nuduh Sherlock, menyesali tindakannya dan berhenti jadi polisi, dan sekarang malah bikin fans club Sherlock yg ngebahas teori bagaimana cara Sherlock memalsukan kematiannya. Anderson percaya kalau Sherlock masih hidup.

Ya tentu saja Sherlock masih hidup. Terakhir, dia menjalani misi undercover di Eropa Timur, sebelum dijemput oleh Mycroft, kakaknya yg juga petinggi MI-6, eh atau apalah nama dinas rahasianya. Sudah waktunya bagi Sherlock untuk kembali. Dan orang pertama yg mesti ditemui Sherlock adalah rekannya, John Watson yg hendak melamar Mary.


Kemunculan Sherlock yg mengejutkan tidak langsung disambut baik oleh John. Dia marah karena Sherlock tidak mengabari kalo masih hidup. Anyway, setelah Sherlock menyelamatkan John yang diculik oleh seseorang tak dikenal, lalu bersama-sama menggagalkan percobaan teroris yg hendak meledakkan kereta di bawah gedung parlemen, hubungan mereka kembali normal.

Secara umum, episode satu ini isinya tentang kembalinya Sherlock. Lanjut ke episode dua, pernikahan John dan Mary.


Sherlock menjadi best man untuk John dan mesti ngucapin pidato. Tanpa diduga, dia bisa menangani masalah itu, dengan cara yg aneh sih, nyeritain kasus2 yg mereka tangani baru-baru ini, beberapa kasus yg kelihatannya ga nyambung, tapi ternyata berkaitan dengan ancaman pembunuhan yg bakal terjadi di acara wedding itu. Salah seorang teman lama John, atasannya di militer, yg jarang muncul di muka umum menjadi targetnya. Dalam suasana yg santai dan penuh humor (ketegangannya sedikit sekali di episode ini), trik dan pelakunya pun terungkap.

Episode 3, nah. Barulah kasus sebenarnya, yang levelnya langsung naik tinggi. Sherlock berhadapan dengan Charles Augustus Magnussen. Magnussen yg formalnya adalah seorang pemilik surat kabar terkemuka, memiliki pengaruh yang kuat. Dia mengetahui rahasia-rahasia para anggota parlemen, dan semua orang yg ingin dia ketahui, dan dengan itu mempermainkan nasib orang-orang yang dia ancam. Beberapa anggota parlemen mengalami nasib buruk setelah rahasianya berada di tangan Magnussen.


Kasus ini awalnya hanya merupakan kasus level tinggi untuk Sherlock, tapi ketika Mary terlibat, dan rahasia mulai terbongkar, kasus ini menjadi personal. Baik untuk Sherlock, John, ataupun Mary. Magnussen mengetahui rahasia Mary yg ternyata bukan orang biasa, melainkan assassin. Dan hal ini sudah direncanakan dengan matang oleh Magnussen untuk mencapai target utamanya, yaitu Mycroft.

"Mycroft's pressure point is his junkie detective brother, Sherlock.
Sherlock's pressure point is his best friend, John Watson.
John Watson's pressure point is his wife.
I own John Watson's wife, I own Mycroft."


Episode ini episode yg mengecewakan buat gw. Sherlock tidak bisa mengalahkan Magnussen. Magnussen mungkin tidak lebih cerdas dari Sherlock, tapi daya ingatnya luar biasa. Semua hal yang diketahuinya tersimpan di dalam kepalanya, dia mengingat semuanya, berkebalikan dengan Sherlock yg daya ingatnya tidak begitu bagus. Menghadapi jalan buntu seperti itu, apa yg dilakukan Sherlock? He shot Magnussen. Aaargh... so disappointing.

Atas perbuatannya membunuh Magnussen, walaupun hal itu tentunya melegakan bagi Mycroft dan MI6 (ancaman mereka lenyap), Sherlock tetap diberi hukuman untuk undercover untuk misi berbahaya. Tapi baru saja pesawatnya terbang, dia sudah dipanggil kembali. Sebabnya adalah...
Jim Moriarty is back. He is still alive.


-OoO-

Mengenai karakter, seperti halnya sejak awal serial ini muncul, orang-orangnya asik-asik. Mary di sini (sebelum aslinya ketauan) asik banget, funny, jauh sama Mary di versi filmnya Guy Ritchie. Mycroft jadi sering muncul. Hal yg juga lucu adalah Sherlock yg berusaha nyebut first namenya Lestrade, dan selalu salah. Mulai dari Graham, Gavin, sampe Jeff. (It's Greg!)

Mengenai Sherlock, well, sepertinya pertemanannya dengan John sudah membuatnya menjadi lebih manusiawi. Sherlock sudah ga begitu menyebalkan sekarang, dia jadi lebih baik ke semua orang, termasuk Molly. But the thing is, hal ini membuat kemampuannya memecahkan kasus berkurang. Sherlock tidak lagi super. Dia sering membuat kesalahan dan lambat menyelesaikan kasus. Puncaknya adalah ketika Magnussen muncul. Sherlock is completely defeated. Dan lebih menyedihkan adalah, ketika Sherlock ga bisa mengalahkan Magnussen, solusinya adalah dengan membunuhnya. Menyedihkan, karena hal seperti itu bukanlah tugasnya, tapi tugas assassin seperti Mary.

"People like Magnussen should be killed, that's why there are people like me."

Dengan skill yg menurun seperti itu, bagaimana mungkin Sherlock akan berhadapan dengan Moriarty yg bangkit dari kematian? Oh I know, why don't we just kill him. Because that's the only way. Bah. We don't need Sherlock. We need more assassin like Mary.


Anyway. Magnussen. The best thing ever happened since Moriarty. Apa jadinya kalo Magnussen dan Moriarty bekerja sama (if it is even possible)? Mereka bakal jadi duo maut yg ga terkalahkan. Yah, tapi biasanya sesama penjahat jenius yg terlalu pede ga bakal sudi untuk kerja sama dengan penjahat lain, bisa-bisa malah saling menjatuhkan. Atau mungkin Magnussen berencana untuk bergabung dengan Sherlock, Moriarty, dan Adler dalam The Not-Really-Dead Club. Siapa tahu.

Btw, bagaimana Sherlock memalsukan kematiannya juga belum diketahui, yang ada cuma teori-teori dari Anderson. Mungkin penjelasannya baru akan terkuak season berikutnya, bersamaan dengan kembalinya Moriarty. Harusnya sih.

No comments:

Post a Comment