Featured Post

[Review] Game of Thrones (season 6)

Setelah setahun, GoT kembali di season 6. Sebenarnya gw juga ga begitu nunggu2 sih, karena lagi asik ngikutin serial yg lain (The Flash...

Friday, October 07, 2011

untunglah pesan itu belum sampai padanya

Sewaktu kuliah dulu, aku sempat melakukan satu kesalahan fatal: jatuh cinta dengan pacar teman sendiri. Keduanya padahal teman baikku, dan seringkali kita pergi bersama-sama, berempat, dengan seorang teman lagi. Waktu itu pengalaman cintaku masih kurang, dan pengendalian emosi masih belum ada sama sekali. Jadinya aku kerap tersiksa, karena perasaan cemburu yg tidak pada tempatnya.

Dan pernah hal itu mencapai puncaknya. Aku ga inget persisnya gimana, tapi Rani (nama samarannya) kayaknya nyuekin aku dari pagi. Aku sapa ga dibales, dan tampangnya bosen gitu. Aku jadi agak kesel, dan ditambah lagi dengan sifatku yg agak parah, yg menganggap sesuatu terlalu serius, atau mungkin juga karena sudah beberapa hari aku merasa dicuekin sama dia, kemarahan sampai pada puncaknya.

Kutulis di sebuah kertas dengan huruf kapital:
WE'RE NO LONGER FRIENDS. I DON'T WANT TO TALK TO YOU EVER AGAIN.
Kertas itu kemudian kulipat2, lalu aku temui temenku yg satu lagi, Dimas (juga nama samarannya) yang kosannya deket sama kosan Rani. Kubilang ke dia
"Dim, nitip ini dong, kasihin ke Rani, jangan dibaca ya."
"Oh, oke"
Dia ga nanya macem-macem.

Aku nitipin pesan lewat Dimas itu siang2. Sekitar jam 3, aku sms Dimas, nanyain udah dikasih apa belom pesannya. Dia bilang belom sempet ke kosannya Rani, ntar katanya, mau nyuci dulu. Yaudah. Kemudian sesorean itu aku tenggelam memikirkan kemungkinan2 yang akan terjadi setelah pesan itu dibaca sama Rani. Memperkirakan reaksinya, dan menyiapkan respon apa yg mesti kulakukan kalo itu terjadi.

Dan sore pun tiba, waktunya berbuka (waktu itu lagi bulan Ramadhan). Aku masih di kampus, nunggu jatah makanan buka gratis yg suka ada di kampus. Pas mau pulang, masih di sekitar kampus, tanpa disangka, aku ketemu mereka, Rani dan pacarnya yg juga temenku. Dia keliatan lagi seneng, dan moodnya bagus banget.

"Hei, ikut yuk."
Dan dia nyapa, ngajakin makan bareng.
Now, I know I already told myself that I would never speak to her again, but I just can't resist it, not after she gave me a nice greeting.
"Engga, gw mau pulang aja."

Dan mereka pun berlalu, sementara aku masih disana, berjalan dengan gontai, dan batin pun bergejolak.
Dasar bodoh. WHAT WERE YOU THINKING?! Masa aku mau ngorbanin persahabatanku dengan mereka hanya karena prasangka2 tolol yg belum terbukti benar?

Untung aku masih bisa berpikir cepat. Kutelpon Dimas, nanyain lagi udah dikasih belom kertas berisi pesan tadi siang,
"Belom, ini gw bentar lagi mau ke tempat dia."
"Jangan, Dim. Batalin. Buang aja kertasnya, apa robek2 gitu."
"Lho emangnya kenapa?"
"Lu baca aja sendiri kalo mau, pokoknya jangan kasih ke dia ya..."

Setelah itu aku pun lega, untunglah pesan itu belum sampai padanya. Aku terselamatkan.

Kami tetap berteman dekat selama setahun kedepan, sebelum akhirnya masing-masing punya kesibukan lain, dan terpisah.

*kali ini dengan berat hati mesti saya jelaskan kalo ini bukan fiktif.

Sometimes I wonder. I never spoke about my feelings to her, but does she ever know that I was once in love with her? Somehow I think she knew, or at least consider that possibility. Bukankah ada yg pernah bilang: cewek pasti tau kalo ada cowok yg suka padanya. Entahlah.

No comments:

Post a Comment